
*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*
Perwira Genap Seribu didorong berlutut di depan Adipati Surina Asih. Kondisinya dalam keadaan terikat kuat oleh sarung warna putih milik Setan Ngompol.
Sebelumnya ketika di pasar, para prajurit kadipaten harus jatuh bangun dan terluka ketika diperintahkan meringkus perwira mereka. Genap Seribu mengamuk seperti sapi mau disembelih, tapi kakinya tidak diikat.
Akhirnya, Setan Ngompol menggunakan sarung pusakanya untuk meringkus Kepala Keamanan itu.
Adipati wanita itu menatap dingin kepada Genap Seribu. Sedikit pun dia tidak berusaha tertawa melihat kondisi prajuritnya yang mengenaskan dan lucu itu.
“Kenapa seorang Kepala Keamanan kalian perlakukan sedemikian ini?” tanya Adipati Surina Asih.
“Lapor, Gusti Adipati. Perwira Genap Seribu telah menjadi gila karena kekasihnya mau menikah dengan orang lain!” jawab Jalak Ulung.
“Lepaskan aku! Aku harus membunuh lelaki yang merebut bidadariku!” teriak Genap Seribu sambil berusaha melepaskan diri dari belitan sarung Setan Ngompol, tetapi sia-sia.
Plak!
“Diam dulu kau, Anak Muda!” hardik Setan Ngompol setelah menepak kepala Genap Seribu.
“Siapa kekasihnya?” tanya Adipati Surina Asih yang tidak terkejut atas apa yang terjadi dengan punggawanya itu. Sebab, ia juga melihat tingkah aneh yang ditunjukkan oleh Genap Seribu selama beberapa bulan belakangan.
“Putri Adipati Siluman Merah, Gusti,” jawab Jalak Ulung.
“Oh iya, Gusti Adipati. Tadi di pasar ada rombongan Gusti Permaisuri Geger Jagad yang lewat dan sempat hendak diserang oleh Perwira Genap. Karena hal itu, Gusti Permaisuri Geger Jagad memerintahkan untuk mencopot Perwira Genap dari jabatannya. Gusti Permaisuri memerintahkan hamba untuk menyampaikannya kepada Gusti Adipati,” ujar salah satu prajurit yang sebelumnya berkomunikasi dengan Permaisuri Dewi Ara di pasar.
“Permaisuri Geger Jagad keluar dari Istana?” tanya Adipati Surina Asih setengah tidak percaya.
“Benar, Gusti. Permaisuri bersama dengan putranya dan pendekar Pengawal Bunga,” jawab Jalak Ulung.
“Apakah putranya bertubuh pendek?” tanya Adipati Surina Asih, karena dia mengenal Pangeran Arda Handara.
Surina Asih adalah bibi dari Prabu Dira atau kakak dari ibunya sang prabu.
“Benar,” jawab Jalak Ulung.
Jawaban itu otomatis meyakinkan Adipati Surina Asih bahwa apa yang dikatakan oleh para prajurit itu benar adanya. Dengan demikian, Adipati Surina Asih tidak ragu untuk mengambil keputusan.
__ADS_1
“Cabut tanda perwiranya!” perintah Adipati Surina Asih.
Jalak Ulung lalu mengambil tanda keperwiraan Genap Seribu yang terselip di balik sabuknya. Tanda perwira itu berwujud lencana perak bercetak burung rajawali membentangkan sayap selebar sejengkal. Pada satu sisinya ada lubang yang dijadikan tempat ikatan rumbai benang berwarna merah.
Lencana keperwiraan itu lalu diserahkan kepada Adipati Surina Asih.
“Lepaskan aku! Aku mau pergi menyelamatkan bidadariku!” teriak Genap Seribu.
Melihat kegilaan Genap Seribu, Adipati Surina Asih teringat dengan masa-masanya ketika dia juga hilang akal alias gila. Kegilaan Surina Asih terkisah di novel sebelumnya yang berjudul “8 Dewi Bunga Sanggana”.
“Genap Seribu, mulai saat ini kau sudah diberhentikan sebagai seorang perwira dan jabatanmu secara resmi aku cabut. Kau mengerti?” tandas Adipati Surina Asih.
“Lepaskan aku, Gusti Adipati. Bidadariku pasti dipaksa menikah. Aku ingin pergi menyelamatkan bidadariku!”
“Gunduli kepalanya. Kemudian beri dia kuda dan biarkan dia pergi ke Jalur Bukit!” perintah Adipati Surina Asih.
Maka, dengan menggunakan keris milik Genap Seribu, Jalak Ulung lalu mencukur habis rambut si pemilik keris. Kepala yang awalnya amburadul, dalam waktu singkat menjadi terang, meski tidak sebersih kamar mandi hotel. Masih ada kumpulan rambut-rambut kecil yang tidak dicukur habis. Anggap saja itu cukuran model zebra cross Citayam Fashion Week.
Siang itu juga, tanpa basa basi formalitas lagi, Genap Seribu langsung memacu kencang kuda yang diberikan kepadanya.
Kebahagiaannya yang selama tiga purnama terpupuk sehingga tumbuh mekar indah harum mewangi, seketika hancur oleh tsunami cinta.
Genap Seribu naik kuda seperti seorang ksatria cengeng yang wajib menyelamatkan cintanya. Agar terlihat lebih dramatis, ia membiarkan air mata dan air liurnya terbang ke belakang karena terlalu cepatnya dia melaju.
Untuk keluar dari Kadipaten Makmur, ia harus melewati dua desa. Dengan berkuda kencang seperti itu, diperkirakan Genap Seribu akan tiba di Kadipaten Jalur Bukit pada waktu senja.
Ketika tiba di batas luar Kadipaten Makmur, Genap Seribu melihat rombongan kuda Permaisuri Dewa Ara sedang singgah di sebuah kedai sederhana. Namun, Genap Seribu tidak mengenali lagi rombongan itu. Dia tetap menggebah kencang kudanya, seolah tidak mau kehabisan waktu.
Permaisuri Dewi Ara sengaja mampir ke kedai meskipun dia dan rombongannya belum lapar. Ia hanya ingin menikmati kenangan masa lalu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, yaitu rasa minum wedang di kedai pinggir jalan sambil menikmati angin sejuk dari alam.
“Silakan, silakan, Kisanak Nisanak Pendekar,” sambut pemilik kedai ramah. Dia seorang lelaki separuh baya. Saat itu dia seorang diri tanpa ada seorang teman atau pelanggan.
“Apakah ada wedang dingin gula aren, Ki?” tanya Dewi Ara.
“Ada, Pendekar,” jawab pemilik kedai. “Apakah para pendekar ingin makan juga?”
“Tidak usah, minum saja,” jawab Pangeran Bewe Sereng.
__ADS_1
“Baik,” ucap pemilik kedai ramah dengan senyum yang selalu mekar. Ia lalu segera ke bagian dapur kedai.
Sementara itu, dengan tangan kiri memegang keranjang uyut-uyutnya, tangan kanan Arda Handara membuka-buka penutup nampan-nampan yang berisi berbagai penganan.
“Ah, kue-kuenya tidak ada yang seenak di dapur Istana!” kata Arda Handara dengan bibir dimanyunkan.
Mendengar kata-kata anak itu, pemilik kedai melirik sejenak kepada Arda Handara yang tidak mau diam.
“Jangan samakan makanan Istana dengan makanan di desa. Ini hanya masalah di tenggorokan, hasil akhirnya tetap sama,” kata Dewi Ara.
“Cobalah satu saja, Gusti Pangeran,” kata Lentera Pyar.
“Sest!” desis Setya Gogol sambil mencolek lengan Lentera Pyar dan memberinya isarat mata ketika gadis itu memandangnya.
Isarat itu membuat Lentera Pyar diam.
Sementara itu, pemilik kedai yang sedang membuatkan minuman bersikap seolah tidak mendengar desisan isarat Setya Gogol.
Arda Handara yang tidak mau duduk, berjalan ke dapur dan melihat-lihat seperti seorang turis dari negeri jauh.
“Paman, kau menjual burung?” tanya Arda Handara kepada pemilik kedai. Sebab ia melihat ada tiga ekor burung dara dikurung seperti ayam di halaman belakang kedai.
“Tidak, itu burung peliharaan Paman,” jawab pemilik kedai, tetap tersenyum.
Permaisuri Dewi Ara membiarkan putranya.
“Burung apa namanya, Paman?” tanya Arda Handara sambil berjalan ke belakang kedai dan jongkok di dekat kurungan, memerhatikan burung merpati tersebut.
“Buru dara,” jawab pemilik kedai.
Mendengar jenis burung yang disebut oleh pemilik kedai, Pangeran Bewe Sereng jadi menengok memandang kepada pemilik kedai yang bersikap biasa saja.
“Burung Paman bisa mematuk?” tanya Arda Handara.
“Hahaha! Pasti bisa, Nak,” jawab pemilik kedai yang didahului tawanya.
“Berarti aku tidak boleh dekat-dekat, nanti uyut-uyutku dipatuk,” kata Arda Handara sambil berdiri dan kembali masuk ke kedai. (RH)
__ADS_1