
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Hijau Kemot dikejar oleh Jangka Kolor dan Kucang Tongol personel Pasukan Domba Merah.
Jangka Kolor dan Kucang Tongol dikejar oleh Katak Songong dan Tarik Cebong personel Pasukan Beruang Biru.
Katak Songong dan Tarik Cebong dikejar oleh Cumi Bentol dan Talang Jenglot personel Pasukan Domba Merah.
Sedangkan Greges Epot personel Pasukan Domba Merah terbang dengan arah menghadang laju terbang Hijau Kemot.
Jadi, tiga personel Pasukan Beruang Biru dikeroyok oleh lima personel Pasukan Domba Merah. Kondisi itu semakin diperburuk dengan Arda Handara yang terbang menuju ke pusat bertempuran berkelompok tersebut. Hal yang sama dilakukan oleh Sanda Kolot dari arah yang lain. Dia terbang tanpa ada yang mengejar.
Berbeda dengan Arda Handara, dia masih dikejar oleh Galang Ocot yang juga nantinya akan membawa kapten yang sedang beramasalah itu ke pusat pertempuran.
Hijau Kemot harus mengerem kecepatan terbangnya karena Greges Epot muncul menghadangnya tepat di jalur terbangnya.
Sess! Bdas!
“Aaak!” jerit Greges Epot.
Penghadangan Greges Epot disikapi dengan gerakan cepat Hijau Kemot mengambil bola apa saja di jaring dan melemparkannya kepada penghadangnya. Ternyata bola yang diambil dan dilempar adalah bola emas, yang ketika dilempar, kecepatannya satu setengah kali lebih cepat dari bola lainnya. Greges Epot tidak berdaya dihantam dadanya oleh bola emas.
Karena itulah Greges Epot menjerit kesakitan dengan tubuh terlempar mundur meninggalkan tongkat terbangnya.
Namun, pada saat yang sama, karena Hijau Kemot melambatkan terbangnya dan fokus kepada Greges Epot, Jangka Kolor dan Kucang Tongol sudah sampai di dekat Hijau Kemot dengan masing-masing tangan telah terangkat siap melempar bola merah. Itu jarak lempar yang sangat dekat. Menurut rumus ilmu nujum, Hijau Kemot mustahil bisa mengelak, terlebih yang melempar ada dua orang.
Melihat kondisi putrinya terpojok, Gubernur Ilang Banyol dan para istrinya jadi cemas. Yang mereka cemaskan adalah bagaimana jika wajah cantik Hijau Kemot ditimpuk bola dan ada kerusakan. Bisa repot karena tidak ada bengkel perbaikan wajah cantik yang rusak.
Sets! Bdak!
“Akk!” jerit Hijau Kemot.
Yang terjadi ceritanya seperti ini.
Melihat Hijau Kemot dalam ancaman yang sulit untuk selamat dari hantaman dua bola, Arda Handara yang sudah dekat dengan area udara pertempuran itu, memutuskan untuk menyelamatkan sang calon bini.
Krek!
Kali ini, Arda Handara memutar kepala kerbau tongkatnya dengan pegangan yang kuat. Laksana menghilang. Itulah yang terjadi terhadap Arda Handara. Saat itu juga, tubuh Hijau Kemot tahu-tahu terpental karena tersambar bayangan merah yang melesat melintas di tengah-tengah para penerbang.
Dan setengah kejap berikutnya.
Set set! Dak dak!
“Akh!” jerit Kucang Tongol saat bola merah Jangka Kolor justru menghantam wajahnya.
“Akk!” jerit Jangka Kolor saat bola merah Kucang Tongol juga menghantam wajahnya.
__ADS_1
Kecepatan tingkat tiga yang dipergunakan oleh Arda Handara demi menyelamatkan Hijau Kemot dari timpukan, membuat semua penonton terdiam takjub.
“Tongkat Kerbau Merah!” ucap seorang penonton berusia seratus tahun lebih. Ia langsung teringat kepada penerbang manusia normal di masa puluhan tahun lalu. Ia adalah saksi hidup yang pernah menonton kecepatan penerbang Hagara ketika masih menjadi penerbang di kala muda.
Bukan hanya penonton yang terkejut, Galang Ocot, Katak Songong dan Tarik Cebong juga jadi terpaku dalam terbangnya. Namun, tidak bagi para pesonel Pasukan Domba Merah, karena mereka sudah pernah melihat kecepatan tingkat tiga Tongkat Kerbau Merah milik Arda Handara. Kondisi itu menjadi sangat menguntungkan bagi Pasukan Domba Merah.
Jauhnya jarak tonton, membuat para penonton masih bisa melihat sosok berbaju merah Arda Handara yang melesat terlalu cepat, nyaris tidak kentara. Mereka bisa melihat ketika Arda Handara yang secepat kilat menyenggol tubuh Hijau Kemot dari belakang, membuat gadis berbibir hijau itu terpental jauh dan meluncur jatuh menuju lautan kapas.
Namun, pada saat yang sama, terjadi hal konyol. Hilangnya Hijau Kemot yang menjadi target sasaran Jangka Kolor dan Kucang Tongol, justru membuat lemparan bola mereka saling mengenai wajah teman.
Tak ayal lagi, Jangka Kolor dan Kucang Tongol terlempar jatuh dari tongkat terbangnya.
“Hijau Kemot Pasukan Beruang Biru guguuur! Jangka Kolor, Greges Epot dan Kucang Tongol Pasukan Domba Merah guguuur!”
Teriakan Hakim Langit itu seolah menyadarkan para penonton dari keterpukauannya terhadap kehebatan penerbang baru.
“Yeaaa!” sorak para pendukung Pasukan Domba Merah, meski ada tiga anggota tim kesayangan mereka yang gugur.
Sess! Sess! Daks! Daks!
“Akk! Akk!” jerit Katak Songong dan Tarik Cebong nyaris bersamaan.
Keterpakuan Katak Songong dan Tarik Cebong dimanfaatkan oleh Cumi Bentol dan Talang Jenglot dengan langsung melemparkan bola emas.
Meski Katak Songong dan Tarik Cebong lebih dulu tersadar dari kelengahannya, tetapi sudah terlambat. Kecepatan bola emas membuat orang lengah tidak akan selamat. Katak Songong terpental saat lehernya terhantam keras. Mudah-mudahan tulang lehernya tidak ada yang bergeser posisi. Adapun Tarik Cebong terhantam di punggung. Upaya kaburnya terlambat.
“Katak Songong dan Tarik Cebong Pasukan Beruang Biru guguuur!” teriak Hakim Langit lebih bersemangat. “Tinggallah Galang Ocot sendirian! Apakah dia akan menyerah atau memilih gugur sampai kempus terakhir berbunyi? Kita lihat nasib buruknya hari ini!”
“Hahaha …!” tawa para penonton mendengar kata “kempus” yang berarti “kentut” disebut oleh Hakim Langit.
“Serahkan Galang Ocot kepadaku!” teriak Arda Handara keras membahana sambil berputar berbalik arah.
Cumi Bentol dan Talang Jenglot segera terbang menjauhi kedatangan Galang Ocot.
“Pangeran Handara! Pangeran Handara! Pangeran Handara …!” teriak para pendukung Pasukan Domba Merah mengelu-elukan Arda Handara.
“Aaa!” teriak Galang Ocot marah.
Kini Galang Ocot dan Arda Handara terbang saling mendatangi dengan kecepatan biasa.
Galang Ocot telah menyiapkan bola emas di tangannya. Sepertinya itu akan menjadi lemparan pamungkasnya. Sementara Arda Handara juga menyiapkan bola emas di ketapel Ki Ageng Naga.
Kedua penerbang saling mendatangi dan saling mendekat. Perhatian penonton semua tertuju kepada kondisi yang akan menjadi bentrokan pamungkas dalam pertandingan itu. Cumi Bentol dan Talang Jenglot terbang santai juga menjadi penonton.
“Heeeaaaa!” teriak nyaris semua penonton dengan nada rendah panjang yang naik ke tinggi, yang pada puncaknya Galang Ocot melempar dan Arda Handara melempas karet pelontar Ki Ageng Naga.
Sess! Sess! Bluarr!
__ADS_1
Dengan berusaha fokus, Galang Ocot melemparkan bola emasnya yang melesat dengan diselimuti lidah api kuning.
Arda Handara pun melepaskan tembakan bola emas dari Ki Ageng Naga. Bola emas itu melesat dengan bersinar emas menyilaukan mata. Lagi-lagi membuat Raja Titah Bang-or dan para penonton terperangah terpukau dengan sepasang bibir mungil mereka yang terbuka lebar, seperti pintu yang dilewati maling.
Kejap berikutnya, terjadilah ledakan dahsyat yang menggema keras, seolah mengguncang Kolosom Awan, ketika dua bola emas itu bertemu di pertengahan jarak. Kembang api indah tercipta di udara siang. Seandainya itu tergelar pada malam hari. Namun, hanya seandainya.
“Yeee …!” sorak-sorai seluruh penonton menyaksikan kembang api emas di udara.
Jika Arda Handara terus terbang melintas, maka berbeda dengan Galang Ocot. Dia terlempar jauh berputar-putar liar bersama tongkatnya. Galang Ocot berusaha bertahan untuk tetap terbang bersama tongkatnya dan tidak jatuh.
“Kenaaa!” teriak sebagian besar penonton tiba-tiba seiring Sanda Kolot yang terbang melintas di dekat Galang Ocot.
Set! Dak!
“Aaak!” jerit Galang Ocot ketika wajahnya dieksekusi oleh Sanda Kolot yang melintas dan menimpuknya dengan bola merah.
Tanpa ampun, Galang Ocot berpisah dengan tongkat terbangnya lalu meluncur jatuh ke lautan kapas.
“Juara Babak Penerbang Langit adalah Pasukan Dombaaa Meeeraaah!” teriak Hakim Langit dengan keras membahana karena mengandung tenaga dalam yang tinggi.
“Hoyeee!” sorak para pendukung Pasukan Domba Merah sambil berdiri semua.
Plok plok plok …!
Mereka bertepuk tangan dengan irama cepat, seperti sedang menepuki burung botak balapan lari.
“Pasukan Domba Merah! Pasukan Domba Merah!” sebut para penonton berulang-ulang.
Arda Handara, Sanda Kolot, Cumi Bentol, dan Talang Jenglot yang masih bertahan di udara, terbang di sepanjang sisi lapangan terbang sambil melambai kepada penonton. Bahkan Arda Handara dan Sanda Kolot terbang berdampingan begitu mesra sambil saling memandang dan tertawa senang.
Di saat para penonton begitu bahagia melihat kemesraan yang ditunjukkan Arda Handara dan Sanda Kolot, Putri Babi-or justru menderita pestidak syndrome, yaitu suatu kondisi “perih dan sakit hati mendadak” bagi seorang bujang atau gadis.
“Pangeran Handara, aku gila kepadamu!”
“Pangeran Handara, aku cinta padamu sampai lahir!”
“Pangeran Handara, matilah untukku!”
“Kolooot, jangan dekat-dekat dengan calon menantuku!”
“Pangeran Handara nomor jawuuu!”
Itulah berbagai teriakan “gila” dari sejumlah penonton dan pendukung Pasukan Domba Merah.
Dari kursi penonton, Eyang Hagara hanya tertawa melihat capaian yang telah diraih oleh Arda Handara.
“Sudah waktunya untuk kembali, Arda,” ucap Eyang Hagara pelan kepada dirinya sendiri. (RH)
__ADS_1