Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 31: Tantangan di Gerbang Macan Langit


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


“Tutup gerbang. Ada musuh yang datang!” teriak keras prajurit penjaga gerbang kepada rekan-rekannya yang ada di bawah dan di atas.


Para prajurit panah yang ada di atas dinding gerbang segera menarik busurnya dan mengarahkan anak panahnya ke bawah, tepatnya ke arah sosok Pangeran Bewe Sereng. Ada sebanyak sepuluh prajurit pemanah.


Di sisi bawah, sebanyak delapan prajurit tombak datang bergabung dengan dua rekannya yang telah menodong Pangeran Bewe Sereng.


Selanjutnya, sebanyak dua puluh prajurit tombak datang berkeluaran dari balik pintu dan berlari datang. Mereka mengepung posisi Pangeran Bewe Sereng.


Satu orang prajurit yang berasesoris lebih lengkap dari prajurit lainnya datang berjalan dari pintu kecil. Prajurit yang masih muda itu bertelanjang dada, maklum badannya berotot, bukan berlemak. Rambut gondrongnya sebahu. Pemuda bercelana hitam itu tidak bersenjata. Ia adalah Kepala Penjaga Gerbang Macan Langit, namanya Perwira Basahan.


Di belakang Perwira Basahan mengawal dua prajurit berpedang.


“Kisanak, siapa kau?!” seru Perwira Basahan.


“Aku Pangeran Bewe Sereng dari Pulau Kabut. Aku datang untuk menantang Raja Joko Tenang!” seru Pangeran Bewe Sereng tidak kalah lantang.


“Jika kau berniat menantang Gusti Prabu Dira, itu sama saja kau menantang semua prajurit dan pendekar di Kerajaan Sanggana Kecil ini!” teriak Perwira Basahan marah sambil menunjuk wajah lelaki berkumis biru itu.


“Sampaikan kepada Raja Joko Tenang, aku datang menantangnya bertarung!” tandas Pangeran Bewe Sereng.


“Hahaha!” tawa Perwira Basahan. “Baik, tantanganmu akan aku sampaikan kepada Gusti Prabu, agar kau cepat mati!”


“Baik, aku akan menunggu di sini!” kata Pangeran Bewe Sereng tetap tenang.


“Tapi ingat, kau telah masuk ke wilayah Kerajaan Sanggana Kecil tanpa izin, itu sudah menjadi pelanggaran berat bagimu!” kata Perwira Basahan.


“Mati pun aku tidak akan menyesal,” kata Pangeran Bewe Sereng.


“Mundur!” perintah Perwira Basahan kepada anak buahnya.


Ketiga puluh prajurit bertombak segera menarik diri dan membubarkan kepungannya. Perwira Basahan pun memberi tanda kepada pasukan panah di atas dinding gerbang.


Sepuluh pemanah itu mengendurkan senar busurnya dan mengganti status ke posisi siap dengan tetap mengawasi Pangeran Bewe Sereng.


“Bandara, melaporlah kepada Gusti Prabu tentang pangeran penantang dari Pulau Kabut ini!” perintah Perwira Basahan kepada salah satu prajurit yang berada di belakangnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Pangeran Bewe Sereng.


“Baik, Perwira!” ucap prajurit yang bernama Bandara.

__ADS_1


Bandara segera berbalik dan berlari kencang pergi masuk gerbang. Dia mengambil seekor kuda di barak yang langsung digebahnya menuju Gerbang Naga.


“Ingat, Pangeran, kau harus tetap berdiri di sini sampai jawaban dari Istana datang. Jika kau tidak patuh, maka kami akan menyerangmu!” ancam Perwira Basahan.


“Baik.”


Perwira Basahan lalu berbalik pergi yang diikuti oleh satu pengawalnya.


Sementara itu, aktivitas pemeriksaan di gerbang kecil kembali berjalan normal. Setiap orang yang masuk ke Ibu Kota harus menunjukkan tanda pengenalnya kepada prajurit dan menjelaskan apa tujuannya. Bagi warga Sanggana Kecil, mereka tidak akan dicatat khusus, kecuali mereka membawa urusan bisnis ke dalam Ibu Kota.


Namun bagi orang luar Sanggana Kecil, mereka wajib memiliki tanda pengenal khusus. Identitas diri dan tujuannya datang ke Ibu Kota harus dicatat, termasuk perkiraan durasi waktunya. Jika durasi waktunya sudah habis dan ternyata mereka belum juga keluar dari Ibu Kota, maka mereka akan dicari oleh prajurit keamanan.


Namun sayang bagi Bandara, dia tidak sempat bertemu dengan rombongan Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan para istrinya yang sempat melintas di pusat Ibu Kota. Sehingga ketika dia tiba di Gerbang Naga, dia diarahkan untuk menghadap ke Istana Mata Hati.


Setibanya di Istana Mata Hati, Bandara kebingungan. Dia hanya melihat prajurit berjaga di depan Istana tanpa melihat adanya pintu masuk. Memang ini pertama kali dia datang ke Istana Mata Hati.


“Prajurit, aku mau melapor kepada Gusti Permaisuri Mata Hati,” ujar Bandara.


“Melaporlah!” perintah prajurit yang ditanya.


“Melapor kepada siapa? Gusti Permaisuri tidak ada,” protes Bandara.


“Anggap saja ada,” jawab prajurit penjaga itu lagi.


Dengan ragu-ragu, Bandara lalu turun berlutut menghadap ke istana yang tanpa pintu.


“Lapooor, Gusti Permaisuri!” pekik Bandara lantang sambil menundukkan wajah, seolah-olah Permaisuri Mata Hati ada di depannya.


“Katakan, Prajurit!” perintah satu suara wanita, tapi tidak terlihat wujudnya.


“Ada seorang pendekar lelaki di Gerbang Macan Langit yang mengaku pangeran dari Pulau Kabut, ingin menantang Gusti Prabu!” lapor Bandara dengan lantang.


“Lancang!” bentak suara wanita itu keras.


“Hak!” pekik tertahan Bandara terkejut dengan tubuh refleks terjengkang ke belakang.


Bandara buru-buru bangun dan kembali ke posisi tubuh seperti tadi. Terlihat tangan dan kakinya gemetar. Ia benar-benar jadi ketakutan, padahal dia hanya mendengar suara yang kencang.


“Kembalilah, Prajurit. Aku sudah ada di Gerbang Macan Langit!” perintah suara itu.

__ADS_1


Terkejutlah Bandara mendengar bahwa Permaisuri Nara sudah berada di Gerbang Macan Langit yang jaraknya jauh.


“Ba-ba-baik, Gusti Permaisuri,” ucap Bandara tergagap dan suaranya bergetar.


Para prajurit penjaga depan Istana Mata Hati hanya tertawa kecil melihat nasib Bandara.


Ternyata Permaisuri Nara tidak tipu-tipu. Dalam hitungan jari, ia ternyata sudah berdiri lima tombak di hadapan Pangeran Bewe Sereng.


Terkejut Pangeran Bewe Sereng melihat keberadaan Permaisuri Nara yang tanpa awal cerita.


Perwira Basahan yang kini berdiri di atas dinding gerbang, terkejut bukan main saat mengenali sosok wanita berambut pendek dan berjubah kuning di bawah sana.


“Hormat kepada Gusti Permaisuri Mata Hati!” teriak Perwira Basahan keras agar semua prajurit anak buahnya mendengar.


Terkejut dan kocar-kacirlah para prajurit penjaga Gerbang Macan Langit. Meski belum melihat di mana posisi sang permaisuri, buru-buru mereka turun berlutut dan berteriak.


“Sembah hormat kami, Gusti Permaisuri!”


Perwira Basahan buru-buru berlari menuruni tangga dan melompat sebelum sampai ke anak tangga terbawah. Ia berlari kencang keluar dari baling dinding gerbang. Para prajurit juga segera ikut di belakang perwiranya.


“Maafkan hamba terlambat menyambut, Gusti Permaisuri!” ucap Perwira Basahan panik sambil turun berlutut lagi bersama puluhan prajurit pasukannya di belakangnya. Mereka memposisikan diri di sisi kanan Permaisuri Mata Hati.


“Kembalilah ke pos kalian masing-masing!” perintah Permaisuri Nara dengan ekspresi yang begitu dingin. Sementara wajahnya lurus menghadap kepada Pangeran Bewe Sereng.


“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap Perwira Basahan patuh.


Perwira Basahan bangkit dan memberi isyarat gerakan tangan kepada pasukannya. Puluhan prajurit itu segera bergerak mundur dengan teratur. Namun, mereka tidak kembali ke posnya masing-masing seperti semula, tetapi mereka berbaris tidak jauh dari gerbang. Demikian pula dengan Perwira Basahan.


“Hormatku, Permaisuri!” ucap Pangeran Bewe Sereng sambil menghormat dan sedikit merundukkan badannya.


“Siapa kau yang lancang sekali menantang Gusti Prabu Dira?” tanya Permaisuri Nara.


“Aku Pangeran Bewe Sereng dari Pulau Kabut. Tapi aku mau menantang Raja Joko Tenang, bukan Prabu Dira,” kata Pangeran Bewe Sereng.


“Itu satu raja yang sama,” jawab Permaisuri Nara.


“Izinkan aku mengetahui, dengan siapa aku berhadapan,” ujar Pangeran Bewe Sereng.


“Baguslah jika kau tidak mengenalku, Pangeran. Ingatlah, aku Permaisuri Nara,” jawab Permaisuri Nara. “Gusti Prabu Dira sedang tidak ada di tempat. Jika kau ingin menantangnya bertarung, maka lawanlah aku.”

__ADS_1


“Mohon maaf, Permaisuri. Aku tidak akan bertarung dengan wanita. Aku hanya ingin bertarung dengan Raja Joko Tenang,” tandas Pangeran Bewe Sereng.


“Jika seperti itu keinginanmu, maka aku akan menghukummu karena terlalu lancang menantang Gusti Prabu!” tegas Permaisuri Nara. (RH)


__ADS_2