
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Begitu spesialnya Permaisuri Dewi Ara sehingga ia patut dijemput di penginapan menggunakan kereta kuda mewah berwarna kuning keemasan. Bilik kereta kuda yang penuh dengan ukiran indah dipadu hiasan kain putih bersih, membuat kendaraan itu begitu indah seindah belahan telur rebus yang masih hangat.
Klingking! Klingking!
Itu suara lonceng yang bergerak ketika kereta kuda berjalan. Ada dua lonceng yang dipasang di sudut bawah atap bilik, kanan dan kiri.
Meski wanita yang diagungkan adalah dirinya, tetapi Dewi Ara mengajak serta Ratu Wilasin duduk bersama di dalam kereta kuda, setelah menyuruhnya mandi dan berpakaian agar tidak bau amis usai main di pelelangan ikan. Termasuk Tikam Ginting dan Bong Bong Dut diperintahkan membersihkan diri dan tampil wangi.
Bewe Sereng juga diikutsertakan. Kondisinya yang masih memendam luka tidak mencegahnya untuk berkuda jarak pendek, tetapi gerakannya ketika naik dan turun dari kuda seperti orang yang baru saja usai melahirkan. Sesekali Setya Gogol membantunya dengan hanya memegangi tangannya, bukan yang lain.
Tidak jauh jarak yang ditempuh untuk sampai ke kediaman Keluarga Jangkar Ungu. Sebuah kediaman yang atapnya tidak setinggi atap beberapa penginapan, tetapi memiliki luas yang signifikan. Ungu menjadi warna cat yang dominan. Pagar yang mengelilingi pun tidak tinggi. Sebagai kediaman penguasa kota, tidak terlihat ada prajurit atau centeng yang berjaga. Hanya ada beberapa orang yang sedang bekerja membersihkan area rumah dan melakukan perawatan terhadap tanaman hias dan binatang peliharaan. Mereka lebih terlihat seperti pelayan rumah daripada sebagai orang yang berkesaktian.
Kedatangan rombongan Dewi Ara yang hanya dikawal oleh Letus Mimpi, segera disambut oleh sejumlah lelaki berpakaian pelayan warna ungu gelap. Mereka bertugas menyambut para kudanya, bukan para tamunya.
Ketika Dewi Ara dan rombongan berturunan dari kendaraannya, dari dalam rumah yang berpekarangan luas itu muncul seorang pemuda tampan berpakaian ungu keungu-unguan. Penampilannya bersih, rapi dan asri. Pemuda itu memiliki warna kulit sawo matang, tapi tidak mengurangi ketampanannya yang berambut gondrong nyaris menyentuh bahu. Padatnya model pakaian yang dia kenakan tidak menyembunyikan karakter tubuhnya yang atletis dan kekar. Pemuda berhidung mancung dan kokoh itu sudah tersenyum ramah sejak dia belum terlihat muncul.
Ia berjalan keluar dengan dikawal oleh dua orang lelaki separuh baya lebih tiga tahun. Usianya sama, tapi tanggal lahirnya tidak janjian. Keduanya berpakaian warna serba putih. Lelaki yang berhidung pesek tapi berkumis tebal bernama Jago Jantan. Lelaki yang bermata sipit dan berkumis tipis bernama Jampang Kawe. Ada senjata kapak bergagang pendek dan bermata dua terselip di pinggang belakang mereka. Itu menunjukkan bahwa keduanya adalah pengawal, bukan pelayan.
Bersama Ratu Wilasin, Permaisuri Dewi Ara berjalan paling depan.
“Sembah hormatku kepada Gusti Permaisuri,” ucap pemuda berpakaian ungu sambil turun berlutut menghormat kepada kedua wanita cantik jelita yang datang ke kediamannya.
Jago Jantan dan Jampang Kawe juga ikut berlutut mengikuti junjungannya.
“Aku bersama Ratu Kerajaan Baturaharja, Kisanak!” kata Dewi Ara.
__ADS_1
“Oh!” kejut pemuda itu sambil mengangkat wajahnya memandang sejenak kepada Ratu Wilasin. Lalu ucapnya lagi, “Sembah hormatku kepada Ratu Baturaharja!”
“Hihihi!” tawa pendek Ratu Wilasin. Lalu perintahnya sebagai seorang ratu sungguhan, “Bangkitlah, Kisanak!”
Pemuda tampan dan kedua pengawalnya bergerak bangkit.
“Maafkan aku, Gusti Ratu. Aku tidak mendapat laporan yang baik, sehingga aku tidak tahu bahwa ada seorang ratu di kotaku ini,” ucap pemuda berpakaian ungu dengan ekspresi yang menunjukkan rasa penyesalan.
“Apakah Kisanak syahbandar di sini?” tanya Dewi Ara.
“Benar. Perkenalkan, namaku Santra Buna. Aku syahbandar di kota ini, Gusti. Aku meneruskan kekuasaan ayahku di saat dia sedang membangun kota pelabuhan di wilayah lain. Sangat terhormat bagiku bisa menjamu dua wanita cantik jelita dari Kerajaan Baturaharja,” ujar si pemuda.
“Ratu Wilasin memang ratunya Kerajaan Baturaharja, tetapi aku adalah Permaisuri Geger Jagad dari Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Dewi Ara.
“Permaisuri Geger Jagad? Salah satu Dewi Bunga Prabu Dira Pratakarsa Diwana?” sebut Santra Buna terkejut, seakan tidak percaya.
“Hahaha!” tawa rendah Santra Buna. “Ah, alangkah baiknya jika kita berbincang di dalam, Gusti Ratu, Gusti Permaisuri. Silakan, silakan, Gusti!”
Santra Buna lalu bergeser minggir, memberi jalan bagi tamu-tamu agungnya. Ia kemudian berjalan sejajar dengan kedua wanita jelita tersebut.
“Kerajaa Saggana Kecil telah muncul dan menjadi sebuah negeri yang disegani dan ditakuti. Selain memiliki balatentara yang kuat, juga memiliki raja tersakti dengan ilmu Delapan Dewi Bunga dan senjata Tongkat Jengkal Dewa. Kecantikan ratu dan para permaisurinya sudah masyhur dari tempat matahari terbit hingga terbenamnya sang surya. Kemajuan pemerintahannya pun berkembang pesat meski baru sepuluh tahun berdiri. Sebagai penguasa kota dunia, aku dituntut untuk banyak tahu, Gusti,” tutur Santra Buna sambil mengiringi para tamunya masuk ke kediamannya.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah, maka terlihatlah interior yang megah dengan warna ungu muda yang mendominasi.
Santra Buna langsung mengarahkan para tamunya ke sebuah ruangan besar yang di tengah-tengahnya ada sebuah meja papan berbentuk lingkaran dengan lubang di tengahnya seperti pola kue donat klasik.
Di atas meja sudah tergelar berbagai macam makanan, yang dari tampilannya saja sudah memberi sinyal bahwa itu semua makanan lezat. Air liur Bagang Kala dan Bong Bong Dut sudah berkumpul di balik bibir yang terpaksa mereka telan kembali.
Di ruangan itu ada selusin pelayan perempuan berseragam putih-putih seperti bunga melati, bukan seperti pocong. Merekalah orang yang telah menata makanan di atas meja bundar tersebut.
__ADS_1
Santra Buna memberi kode mata kepada para pelayannya.
“Sembah hormat kami, Gusti Permaisuri!” ucap selusin wanita tersebut sambil turun berlutut menghormat. Mereka paham kode mata dari tuannya.
“Bangkitlah!” perintah Dewi Ara.
Para wanita berpenampilan rapi dan bersih itu segera bangkit dan kembali berbaris rapi di pinggir ruangan. Mereka akan siap jika diperintahkan sewaktu-waktu.
“Silakan, Gusti Ratu, Gusti Permaisuri. Silakan, para pendekar!” ucap Santra Buna penuh keramahan.
Dewi Ara dan anggota kelompoknya lalu duduk di sepanjang pinggiran meja makan yang tidak memiliki kursi. Mereka duduk lesehan sesuai budaya lokal di Tanah Jawi itu. Satu-satunya pihak tuan rumah yang ikut duduk adalah Syahbandar sendiri.
“Aku begitu mengagumi kejelitaan para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil yang baru sebatas aku dengar ceritanya. Jadi sungguh merupakan suatu hal yang sangat membahagiakanku jika bisa bertemu langsung dengan salah satu permaisuri. Dan ternyata, cerita tidak menipu kenyataan. Permaisuri Geger Jagad sangat membuatku jatuh hati,” kata Santra Buna.
“Apa maksud dari kata jatuh hati itu, Syahbandar?” tanya Dewi Ara curiga.
“Sudah lama aku mendengar cerita tentang kisah cinta Prabu Dira dengan kesebelas istrinya, yang konon katanya, tidak ada satu pun yang tidak cantik dan tidak sakti. Sejak itulah aku jatuh hati kepada para permaisuri Sanggana Kecil, meski aku tidak pernah bertemu dengan satu pun dari mereka. Aku bermimpi bahwa suatu hari nanti Prabu Dira mau melepas satu permaisurinya dan menjadi istriku,” kata Santra Buna.
“Lancang kau, Syahbandar!” bentak Tikam Ginting sambil menunjuk wajah Santra Buna. Ia marah mendengar cerita pemuda itu.
“Tenanglah, Tikam. Jika ada yang harus marah, itu adalah aku!” kata Dewi Ara menegur Pendekar Bola Cinta.
Sementara itu, Santra Buna hanya tersenyum melihat reaksi pendekar wanita itu.
“Apakah aku berlebihan jika mengisahkan fakta yang terjadi pada diriku, Gusti Permaisuri?” tanya Santra Buna.
“Berceritalah, aku akan mendengarkan dan memakan sajian yang kau berikan,” kata Dewi Ara tenang dan datar.
Sementara Tikam Ginting dan pengikut yang lain harus memendam amarah. Sangat terlihat dari rona wajah-wajah mereka. Hanya Ratu Wilasin yang bersikap biasa saja. Bahkan ia sudah mencomot makanan lebih dulu. (RH)
__ADS_1