
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
“Hoi, Brojol, berhenti!” teriak Arda Handara lalu cepat berenang ke tepi mengejar bajing yang diajaknya mandi bersama di pinggiran telaga.
Terlihat Brojol berenang dengan kecepatan 45 detik 100 meter gaya bebas, mengalahkan rekor dunia perenang Amerika Serikat Caeleb Dressel yang secepat 46,96 detik.
Dalam kondisi kuyup seperti tikus tercebur, Brojol berhasil mencapai daratan.
“Kakak Ratu, Kakak Tikam, tangkap Brojol!” teriak Arda Handara yang sudah berlari di air dangkal. Ia berlari dalan kondisi buto (bugil total).
Teriakan SOS dari Arda Handara itu membuat Ratu Wilasin dan Tikam Ginting mau tidak mau bergerak. Bahkan Lentera Pyar dan Bong Bong Dut ikut berlari.
Arda Handara berlari buto mengejar Brojol yang menuju ke semak belukar, yang tumbuh tidak jauh dari pinggiran air telaga kecil itu. Untung Arda Handara masih anak-anak, jadi tidak ada yang tergiur ketika melihatnya berlari buto, justru dia begitu terlihat jenaka.
Ratu Wilasin memegang ketapel Ki Ageng Naga yang diambilnya dari tumpukan pakaian Arda Handara.
“Hihihi …!” tawa Ratu Wilasin sambil berlari mengejar Brojol. Ia menembak satu kerikil kecil menggunakan ketapel tersebut.
Namun, tidak ada yang istimewa dari tembakan sang ratu. Tembakannya biasa saja, seolah ketapel itu bukan senjata pusaka.
“Arda! Pakai celana dulu!” teriak Lentera Pyar yang berlari dengan membawa pakaian sang pangeran.
“Eh, iya. Hahaha!” ucap Arda Handara terkejut saat tersadar bahwa ia buto. Ia berhenti sambil satu tangannya menutupi “Arda Bayi”.
“Dapat!” pekik Bong Bong Dut saat melihat ilmu Penjara Bola Cemburu milik Tikam Ginting berhasil mengurung Brojol.
Namun kali ini, Penjara Bola Cemburu yang dikerahkan wujudnya jauh lebih kecil, mencocokkan besar tahanan yang dipenjarakan, yaitu seekor bajing.
Agak jauh di air telaga, Pendekar Angin Barat Bagang Kala sedang main selam-selaman bersama dengan Anik Remas. Pastinya mereka berenang tidak dalam keadaan buto. Terlihat mereka berenang biasa saja di permukaan. Namun, kadang-kadang mereka hilang dari permukaan karena melakukan kegiatan ekplorasi ke dasar.
Kondisi Anik Remas sudah lebih sehat, sehingga ia bisa melakukan renang.
Sementara itu, Dewi Ara sedang duduk di atas sebongkah batu besar sambil menikmati kesejukan alam di kala senja itu.
Bewe Sereng duduk bersandar di atas pedati yang parkir tidak begitu jauh dari telaga. Ia hanya menonton apa yang tergelar di pinggiran telaga tersebut. Kondisinya sudah lebih baik. Setya Gogo menjadi perawat yang telaten dalam mengurus obatnya berdasarkan resep tabib.
“Kakang Bagang dapat ikan! Kakang Bagang dapat ikan!” teriak Arda Handara girang saat melihat Bagang Kala datang dari air dengan membawa seuntai ikan telaga.
__ADS_1
Anik Remas juga keluar dari air. Ia terlihat begitu cantik dalam kondisi rambut terurai basah dan hanya mengenakan kain sebatas dada dan paha. Bong Bong Dut sampai terpana melihat ke arah Anik Remas.
Pak!
“Paha mulus!” sebut Bong Bong Dut terkejut saat Tikam Ginting menepak kepalanya dari belakang. Setelah itu ia malu sendiri karena tertangkap mata sedang menikmati calon istri orang.
Sementara Tikam Ginting hanya tersenyum dalam kondisi membelakangi pemuda gemuk tersebut. Ia pergi ke perapian yang sudah mereka buat sebelumnya.
Setya Gogol muncul dengan cara berkelebat di udara. Di punggungnya ada seikat besar potongan ranting-ranting kayu kering dan beberapa ekor burung mati. Sepertinya dia baru saja kembali dari mencari kayu bakar sekaligus berburu burung di area berpohon yang ada di sisi barat telaga.
“Dewi, ada pendekar yang datang ke sini!” lapor Setya Gogol sambil berjalan mendekati Dewi Ara.
“Tidak apa-apa. Jika pembunuh bayaran, maka akan kita bayar dengan kematian,” kata Dewi Ara. “Buatkan saja makanan untuk malam ini. Ikan dan burung cukup untuk kita. Jika masih kurang, suruh Bagang Kala menyelam lagi.”
“Baik, Dewi,” ucap Setya Gogol.
“Waaah! Jika aku tahu Kakang Gogol juga berburu burung, aku pasti ikut Kakang,” kata Arda Handara yang datang mendekati Setya Gogol dalam kondisi sudah berpakaian lengkap dengan rambut yang masih basah. Ketapel Ki Ageng Naga sudah ada padanya kembali.
“Ayo, kita masak burung dan ikan!” ajak Setya Gogol.
Benar kata Setya Gogol. Tidak berapa lama muncul seorang lelaki asing berpakaian warna hitam-hitam dengan model rambut gondrong tapi tidak rapi. Rambutnya hanya selalu ia rapikan dengan sisiran jari tangan. Lelaki berusia separuh abad kurang enam tahun itu terlihat tidak membawa senjata.
Melihat kemunculan lelaki itu, Tikam Ginting segera pergi menghadang.
“Apa yang membuatmu harus melarangku, Tikam Ginting. Telaga ini bukan milik siapa-siapa,” kata lelaki yang memang ternama dengan nama Telapak Petir.
“Jika demikian, pergilah ke sisi lain dari telaga ini. Kami sudah menduduki pada sisi ini,” kata Tikam Ginting.
“Tapi aku mencari Ratu Wilasin,” tandas Telapak Petir
“Apa urusanmu mencari Gusti Ratu?” tanya Tikam Ginting.
“Kau tahu aku adalah pembunuh bayaran. Aku yakin kau sudah bisa menerka apa urusanku terhadap Ratu Wilasin.”
“Kau salah besar jika menjadikan Gusti Ratu sebagai target. Itu sama saja kau memanggil kematian,” kata Tikam Ginting.
Telapak Petir hanya tersenyum miring mendengar kata-kata Tikam Ginting.
Clap!
__ADS_1
Tiba-tiba Telapak Petir laksana menghilang karena terlalu cepatnya dia bergerak melewati Tikam Ginting. Tahu-tahu lelaki itu telah berdiri beberapa tombak di sisi kanan posisi Dewi Ara.
“Apakah kau mencariku, Kisanak?” tanya Dewi Ara lebih dulu, agar menunjukkan bahwa dirinyalah Ratu Wilasin.
“Benar, Ratu Wilasin,” jawab Telapak Petir.
Dari belakang Telapak Petir datang berkelebat sosok Tikam Ginting. Namun, baru saja ia mendarat tidak jauh dari lelaki itu, Dewi Ara sudah memberinya kode agar pergi.
Tikam Ginting hanya mengangguk lalu pergi menjauh. Ia pergi bergabung bersama rekan-rekannya yang juga sesekali mengawasi Telapak Petir.
“Siapa itu?” tanya Lentera Pyar kepada Tikam Ginting.
“Namanya Telapak Petir, salah satu dari Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas. Kesaktiannya lebih tinggi dari Cempaka dan Abel,” jawab Tikam Ginting sambil berdiri dengan perhatian tetap mengawasi kebersamaan Dewi Ara dengan calon pembunuhnya.
“Kau pembunuh keberapa?” tanya Dewi Ara.
“Aku Pembunuh Kedelapan,” jawab Telapak Petir.
“Kau sudah tahu tentang kematian Penembak Bambu, Cempaka dan Abel Srikunti?” tanya Dewi Ara dengan sikap tetap tenang.
“Aku sudah tahu,” jawab Telapak Petir.
“Berarti aku tidak perlu lagi memperingatkanmu. Silakan jika kau mau mulai membunuhku,” kata Dewi Ara.
“Mohon izin, Gusti Ratu,” ucap Telapak Petir. Dia langsung menyerang dengan cara menghentakkan kedua lengannya ke arah Dewi Ara yang posisi duduknya lebih tinggi dari kepala Telapak Petir.
Buk!
“Hekh!”
Namun, sebelum satu kesaktian keluar dari tangan Telapak Petir, lelaki itu lebih dulu dilempar jauh ke belakang. Telapak Petir merasakan dadanya dihantam satu kekuatan tidak tampak. Ia terlempar jauh ke belakang. Namun untung, dia bisa mendarat dengan baik.
Sepasang mata Telapak Petir melebar saat melihat bebatuan kecil-kecil yang ada banyak di pantai telaga itu naik melayang di udara.
Set set set …!
Zerzz! Zerzz!
Ctar ctar ctar …!
__ADS_1
Puluhan batu kecil yang melayang di udara berlesatan menyerang Telapak Petir. Lelaki itu cepat menghentakkan kedua tangannya dengan jari-jari menegang.
Dari jari-jari tangan itu melesat aliran sinar listrik berwarna merah. Semua batu yang melesat hancur meledak di udara, saat lidah-lidah listrik yang bercabang-cabang menyambar semua batu. (RH)