
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Saat itu masih terbilang pagi, meski matahari sudah terasa menyengat.
Tulang Karang sedang mengawasi pekerjaan sejumlah murid Perguruan Cambuk Neraka yang sedang memotong-motong batangan bambu.
“Potongannya harus rapi, jangan sembarangan. Supaya mudah untuk merekatkannya kembali. Jangan sampai para Ketua yang datang mengetahui bahwa sebelum bambu dipatahkan dengan cambuk, bambu-bambu ini sudah dipotong lebih dulu,” kata Tulang Karang.
“Baik, Guru Muda,” ucap beberapa murid tanda mengerti.
“Eh, ini potongan jangan terlalu kasar, nanti bisa terlihat potongannya. Jangan dipakai. Kalau ketahuan, kita akan malu selangit!” hardik Tulang Karang kepada seorang murid yang hasil potongannya pada bambu tidak bagus.
“I-i-iya, Guru Muda,” ucap murid yang ditegur.
Dari satu arah, muncul Bong Bong Dut berjalan mendekati Tulang Karang.
“Guru Muda,” sapa Bong Bong Dut sambil menghormat.
“Ada apa, Dut?” tanya Tulang Karang datar.
“Mak Guna Wetong memanggil Guru Muda ke dapur. Kata Mak Guna, ada hal penting yang ingin dia tanyakan,” jawab Bong Bong Dut.
Mendengar jawaban Bong Bong Dut, Tulang Karang jadi kerutkan kening, pikirannya mencari hal tentang dirinya yang mungkin terkait dengan Kepala Dapur Perguruan Cambuk Neraka.
Tanpa berkata-kata, Tulang Karang lalu melangkah pergi meninggalkan Bong Bong Dut, setelah ia tidak menemukan hal yang mungkin ada hubungannya dengan Guna Wetong, wanita besar berwajah bengis.
Bong Bong Dut mengikuti di belakang Tulang Karang.
Setibanya di pintu dapur umum, aroma bumbu masakan yang lezat sangat kental menusuk penciuman, membuat perut jadi kenyang sebelum lapar.
Ketika baru saja berdiri di pintu, Tulang Karang sudah bisa melihat keberadaan sosok wanita besar berlemak yang bernama Guna Wetong.
Terhalangnya cahaya yang masuk lewat pintu dapur, membuat Guna Wetong dan beberapa wanita yang sedang bekerja di dapur jadi menengok kepada lelaki berusia di atas empat puluh tahun itu. Guna Wetong menatap tajam dengan wajah bengisnya yang begitu dingin. Bagi seorang berjiwa penakut, mungkin akan kecepirit jika harus berhadapan dengan Guna Wetong.
“Kemarilah, Tulang Karang!” panggil Guna Wetong datar.
Dengan memendam rasa sedikit curiga, Tulang Karang melangkah masuk lebih mendekat kepada wanita gemuk separuh baya itu.
Diam-diam Bong Bong Dut meraih sebatang kayu bakar dan bergerak senyap di belakang Tulang Karang. Ia angkat kayunya tinggi-tinggi siap menghantam kepala Tulang Karang dari belakang.
Tulang Karang kerutkan kening ketika melihat beberapa wanita memandang ke sisi belakang dirinya. Curiga dengan pandangan kaum pegunungan itu, Tulang Karang cepat menengok ke belakang.
Alangkah terkejutnya Bong Bong Dut karena kepergok sudah mengangkat kayu tinggi-tinggi. Buru-buru dia pura-pura menggaruk punggungnya dengan ujung kayu tersebut sambil cengengesan tanda “damai”.
Bugk!
__ADS_1
“Hukh!”
Prakr!
Tiba-tiba Tulang Karang berbalik dengan kaki kanan langsung menghentak ke perut gendut Bong Bong Dut. Pemuda gemuk itupun mengeluh dengan tubuh berlari mundur dan punggungnya menghantam gentong air di pojokan dapur.
Seketika lantai dapur yang merupakan tanah keras becek sebagian. Bong Bong Dut yang kesakitan menggeliat di tanah becek.
Plak!
Ketika Tulang Karang berbalik menghadap kepada Guna Wetong, tahu-tahu wajahnya sudah dihantam oleh satu tangan besar yang panas, sampai-sampai air liur, darah dan satu gigi terlempar dari dalam mulutnya.
Meski Tulang Karang masih bisa berdiri, tetapi pandangannya sudah gelap akibat dari tamparan keras tangan Guna Wetong. Ia bisa merasakan wajahnya memanas dan berdenyut-denyut tidak asik.
“Beraninya kau berkhianat, Tulang Karang!” ucap Guna Wetong datar.
Gelapnya penglihatan membuat Tulang Karang seperti mendengar suara dari alam jin.
Bug!
Tulang Karang hanya merasakan tiba-tiba wajahnya dihantam sesuatu yang sangat keras, yang langsung menghilangkan kesadarannya.
Bdak!
Tulang Karang tumbang ke belakang seperti patung roboh dengan darah di hidung sudah mengalir ke mana-mana.
“Siapa mereka sehingga kau begitu percaya kepada mereka?!” tanya membentak Guna Wetong kepada Garda Tadapan setelah diceritakan tentang adanya pengkhianat di dalam perguruan.
“Jika Mak Guna tidak yakin, datanglah temui pemimpin tamu itu,” kata Garda Tadapan.
“Awas jika mereka hanya bertujuan mengacaukan perguruan ini. Aku hajar mereka!” ancam Guna Wetong lalu berbalik pergi menuju rumah tamu, di mana Dewi Ara dan para pengawalnya berada.
Ia berjalan dengan kaki seperti menghentak-hentak, sementara Garda Tadapan berjalan dengan bantuan tongkatnya.
Sebelumnya, Garda Tadapan pergi menemui Suwirak. Kepala Kebersihan itu percaya dengan apa yang diceritakan oleh Garda Tadapan. Namun, untuk urusan rencana penculikan, ia menyarankan meminta bantuan kepada Guna Wetong lebih dulu.
Suwirak merasa kedudukannya kurang kuat untuk beradu argumen jika tindakan mereka ketahuan. Selama ini dirinya selalu direndahkan oleh Ketua dan para petinggi perguruan lainnya, meski ia termasuk seorang petinggi perguruan.
Namun ternyata, Guna Wetong tidak langsung percaya dengan cerita Garda Tadapan.
Ketika Guna Wetong naik ke rumah tamu, Dewi Ara dan Tikam Ginting sedang duduk bersila di ruang tamu. Namun, Guna Wetong yang datang dengan wajah bengisnya, hanya berdiri diam di ambang pintu, menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam ruangan.
Wajah Guna Wetong yang menyeramkan, tiba-tiba berubah ekspresi. Sepasang mata lebarnya berubah berair dan terkesan panik. Sepasang bibir tebalnya yang hitam, bergetar halus sehalus tepung gula.
Garda Tadapan yang memilih berdiri di teras depan, jadi kerutkan kening karena Guna Wetong hanya berdiri diam. Ia memang tidak melihat wajah wanita besar berlemak itu, ia hanya memandangi punggungnya.
“Masuklah, Nisanak!” perintah Dewi Ara, meski dia yang membuat Guna Wetong berdiri tapi tidak bisa bergerak sedikit pun.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan kepadaku, Nisanak?” tanya Guna Wetong dengan nada suara yang sangat berat, seolah sedang menahan beban yang sangat berat, lebih berat dari beban hidupnya yang masih melajang.
Mendengar dialog itu, Garda Tadapan jadi terkejut dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun merangsek untuk lebih mendekati Guna Wetong, tetapi dia tidak bisa masuk karena ruang ambang pintu nyaris tertutupi oleh lebar tubuh wanita itu.
Guna Wetong saat itu tidak bisa menggerakkan kedua kaki dan tangannya, termasuk badannya. Hanya mata yang bisa melirik dan lidah yang bisa bicara.
“Jika kau datang ingin menemuiku, berarti kau tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Garda Tadapan. Aku ingin kalian bersikap biasa saja saat mendengar pertanyaanku, Mak Guna Wetong,” ujar Dewi Ara datar dan tenang.
“Baik,” sahut Guna Wetong. Dalam hati ia mengakui bahwa wanita cantik jelita yang dihadapinya itu adalah seorang yang sangat sakti. Bayangkan, tanpa bergerak sedikit pun, wanita bersayap kain itu bisa membuatnya tidak bergerak sedikit pun, padahal ia bertubuh berat.
“Apakah kau akan percaya dan membantu perguruanmu sendiri jika tahu bahwa aku adalah permaisuri dari Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Dewi Ara.
“Apa?!” pekik Garda Tadapan dan Guna Wetong terkejut bukan main.
Buru-buru Garda Tadapan hendak turun berlutut, tetapi cepat dicegah oleh Dewi Ara.
“Sudah aku katakan, bersikaplah biasa!” tandas Dewi Ara dengan nada agak meninggi.
“Ba-ba-baik, Dewi,” ucap Garda Tadapan jadi tergagap, tidak jadi berlutut.
“Ampuni hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Guna Wetong dengan wajah semakin pias dan berkeringat. Ini adalah kondisi yang terlalu jarang ia rasakan, mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun. Ia bahkan tidak selemah ini jika berhadapan dengan mendiang Ketua Satu.
“Jangan menyebut jati diriku yang sebenarnya,” kata Dewi Ara lagi.
Dari ruang dalam muncul Arda Handara yang sudah tampil tampan denga baju warna hitam, membuat warna kulit putihnya terlihat lebih cerah. Ia keluar membawa sangkar bajingnya. Di belakang berjalan Lentera Pyar yang baru saja usai mendandaninya.
“Eh, Mak Guna!” sapa Arda Handara seraya tersenyum kepada Guna Wetong. Lalu katanya kepada Dewi Ara, “Ibunda, Mak Guna yang menolongku dari kejaran murid-murid perguruan kemarin.”
Dewi Ara hanya mengangguk mendengar pemberitahuan putranya.
Sejak itu, Guna Wetong bisa bergerak tanpa ada kekuatan yang membuatnya mematung lagi. Ia segera tersenyum sebagai reaksi dari laporan Arda Handara, meski senyum itu tetap tidak memberi kenyamanan.
“Kenapa Mak Guna berkeringat seperti itu?” tanya Arda Handara curiga.
“Itu, Emak baru saja bekerja keras, jadi keringatan,” jawab Guna Wetong agak kikuk, lalu menyeka peluh pada dahinya.
“Ibunda, aku mau pergi bermain bersama Suling. Dia pasti sudah mandi. Jika sedang mandi, nanti aku akan intip. Hahaha!” kata Arda Handara kepada ibunya, membuat si ibu jadi tersenyum mendengar kenakalan kata-kata putranya.
“Pergilah!” ucap Dewi Ara memberi izin.
Guna Wetong segera bergeser masuk untuk memberi jalan bagi Arda Handara. Lentera Pyar ikut mengikuti junjungan kecilnya itu.
Dewi Ara tidak perlu khawatir akan keselamatan putranya. Selama anak itu tidak pergi keluar jauh dari permukiman perguruan, Permaisuri Geger Jagad masih bisa memantau putranya dengan kesaktiannya.
“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Guna Wetong sambil turun berlutut menghormat kepada Dewi Ara.
“Cukuplah hormatmu, Mak Guna. Sebut aku Dewi saja,” kata Dewi Ara.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Guna Wetong langsung tunduk kepada Dewi Ara. Meski Dewi Ara adalah permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, sementara Perguruan Cambuk Neraka ada di wilayah Kerajaan Baturaharja, tetapi Guna Wetong tahu bahwa Kerajaan Baturaharja tunduk di bawah kuasa Kerajaan Sanggana Kecil. (RH)