Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 14: Pecah Kapal


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Ternyata benar. Kapal Karang Jago milik Laksamana Muda Gandala Moi juga menderita beberapa kebocoran. Sehubungan air belum begitu banyak yang masuk, belasan prajurit cukup bekerja untuk menambal dari sisi dalam.


Sementara itu, Gandala Moi tetap memerintahkan kelima kapal berlayar mendatangi posisi dua kapal bajak laut yang masih bertahan dalam kegelapan. Jadi, sambil sebagian prajurit menimba air laut yang masuk, sebagian lagi siap bertempur di bawah komando kaptennya masing-masing.


Kapal perang terdepan adalah Kapal Kepiting Tampan. Dua mesin panah jauh sudah siap tembak dan ujungnya diberi sumbu api. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk melihat dengan jelas posisi kapal musuh yang diam membisu di dalam kegelapan.


“Tembak!” perintah Kapten Kepiting Tampan.


Set set!


Dua panah jauh melesat menembus kegelapan dan jatuh tidak jauh dari Kapal Bintang Hitam, di mana di atasnya ada Permaisuri Dewi Ara dan pengikutnya yang tersisa. Kedua panah besar itu jatuh masuk ke dasar lautan.


Jika Dewi Ara yang biasanya bisa menahan hujan panah membiarkan kedua panah itu melesat normal, itu berarti dia sengaja membiarkan kedua anak panah itu.


“Panah!” perintah Dewi Ara datar kepada Tangan Kanan Seser Kaseser.


“Baik, Gusti,” ucap Seser Kaseser patuh.


Set set set …!


Dalam kondisi gelap-gelapan, Seser Kaseser melesatkan sekitar sepuluh anak panah tanpa harus membidik target. Panah yang dilepaskan adalah panah biasa.


“Panah api siaaap!” teriak Kapten Kepiting Tampan di kapalnya.


Pasukan panah yang sudah berbaris di haluan dengan berlutut, mengangkat anak panah mereka di atas kepala. Pada saat itu, ada seorang prajurit pembawa obor yang berlari kecil menyalakan satu per satu sumbu di ujung panah. Setelah itu, maka anak panah yang sudah menyala pun dipasang di busur.


“Panah siap!” teriak seorang prajurit panah yang menjadi ketua regunya.


“Pakhr!” teriak Kapten Kepiting Tampan, tapi berujung jeritan kesakitan, karena dari dalam kegelapan tiba-tiba ada satu anak panah yang tidak terlihat dan tidak terdeteksi datang menancap di lehernya.


Set set set …!


Seiring tumbangnya tubuh Kapten Kepiting Tampan dan keterkejutan pasukan panah, muncul sembilan anak panah lain dari dalam kegelapan dan memanahi sembilan orang prajurit tanpa ada yang meleset.


Tiba-tiba ….


Suuut!


“Apa itu?” tanya seorang prajurit saat melihat samar-samar satu benda besar melambung di langit yang gelap dan jatuh menuju ke kapal mereka.


Set set set!


Sebelum benda besar berbaju kuning itu mendarat di kapal, beberapa prajurit cepat memanah ke atas. Namun, panah-panah itu harus terpental ketika mengenai benda yang adalah sosok milik Bong Bong Dut.


Bruakr!


Seperti manusia baja yang mendarat di kapal itu, daya daratnya begitu kuat. Bukan hanya lantai geladak yang terbongkar rusak, tetapi dinding kapal bahkan sampai retak dan lepas dari pasak-pasaknya. Tidak hanya itu, semua prajurit yang ada di kapal terlempar lepas landas.


Sebagian besar prajurit yang ada di atas terlempar ke udara lalu jatuh ke laut. Sementara prajurit yang ada dalam perut kapal karena bekerja menguras air, juga terlempar dan menghantam langit-langit dalam kapal. Selanjutnya mereka semakin panik karena kapal bukan lagi bocor, tetapi pecah, membuat air laut mengalir masuk seperti banjir bah.


Akibat pendaratan Bong Bong Dut itu, timbul ombak cukup besar ke segala arah yang menggoyang kapal-kapal lain.


Melihat apa yang terjadi pada Kapal Kepiting Tampan, Laksamana Muda Gandala Moi dan pasukannya di empat kapal yang tersisa terkejut.


“Siapa orang sakti itu?” ucap Gandala Moi kepada dirinya sendiri.


Dia tidak tahu bahwa saat itu Bong Bong Dut sedang panik sendiri karena kapal yang saat ini dipijaknya bergerak karam dengan cepat, bahkan air laut sudah menyentuh kakinya.

__ADS_1


“Hihihik …!” Tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring seorang anak perempuan kecil.


Suara tawa itu terdengar oleh para prajurit Armada Bintang Tujuh. Jelas mengejutkan. Pikiran mereka langsung tertuju kepada anak dedemit laut. Kondisi yang gelap membuat mereka tidak bisa melihat siapa yang tertawa.


Namun, tidak butuh waktu lama untuk melihat anak perempuan yang tertawa itu. Seorang anak perempuan berpakaian kuning yang lebih cerah dari kuningnya Bong Bong Dut, berselancar di permukaan ombak dengan selembar papan. Anak cantik berambut kuncir tiga itu tidak lain adalah Mimi Mama.


Anak itu lewat di dekat Kapal Kepiting Tampan sambil menertawakan Bong Bong Dut yang bingung mau ke mana, pasalnya dia tidak bisa berenang.


Mimi Mama sendiri menuju ke Kapal Bulan Pesona.


“Kakang Gejrot, ayo lompat lagi seperti tadi! Hihihi …!” teriak Mimi Mama sambil memandangi Bong Bong Dut yang betisnya sudah terendam air laut


“Gusti Permaisuriii!” teriak Bong Bong Dut seperti orang mau menangis. Dia menengok ke arah posisi kapal hitam berada.


Kapal Bulan Pesona sudah mendekati Kapal Kepiting Tampan yang tinggal menunggu ajal.


“Panaaah!” teriak Kapten Kapal Bulan Pesona kepada pasukan panah jauhnya.


Set set!


Dua panah jauh melesat menargetkan Bong Bong Dut.


Suuut!


Namun, sebelum kedua panah itu mengenai target, Bong Bong Dut tiba-tiba mencelat naik mengudara meninggalkan kapal yang tenggelam. Kedua panah besar itu lolos, sementara tubuh Bong Bong Dut melambung tinggi dan sangat jelas akan turun ke atas Kapal Bulan Pesona.


“Panah keduanya!” perintah Kapten Bulan Pesona kepada pasukannya yang kebagian tugas perang.


Pasukan panah cepat berbagi dua target, yakni Bong Bong Dut yang datang dari atas dan Mimi Mama yang datang dari bawah.


Set set set …!


Panah-panah pun berlesatan. Hebatnya, semua anak panah yang menyerang tubuh gemuk Bong Bong Dut berpentalan, seolah-olah pendekar bercambuk kuning itu kebal.


Bruakr!


Kembali Bong Bong Dut mendarat dahsyat di geladak kapal perang lawan tanpa terbendung. Kapal pun pecah, para prajurit terlempar, air laut mengombak, tapi tidak bagi Kapten Bulan Pesona. Ketika Bong Bong Dut mendarat, dia lebih dulu melompat ke udara sehingga efek pendaratan si gendut tidak berlaku padanya.


“Heaaat!” teriak Kapten Bulan Pesona sambil berkelebat menyerang Bong Bong Dut dengan golok besarnya.


Bong Bong Dut yang dalam kondisi gemetar oleh pendaratannya yang kedua, terkejut.


Ctas!


Masih untung dia tidak lupa cara melecutkan cambuknya, sehingga arus pedang jadi terdorong menyamping ketika cambuknya menangkis pedang.


“Hiat! Hiat! Hiat!” teriak Kapten Bulan Pesona yang berteriak di setiap serangannya sehingga terdengar berisik.


Serangan golok besar yang bertubi-tubi, seiring pergerakan lantai kapal yang dengan cepat turun, membuat Bong Bong Dut kelabakan menghindar, sampai-sampai dia terjatuh duduk sendiri ke dekat roda penarik tambang jangkar.


“Serahkan kepadaku, Kakang Gejrot!” teriak Mimi Mama nyaring dengan tubuh yang telah berkelebat naik ke atas kapal.


Mimi Mama langsung mengambil alih Kapten Bulan Pesona sebagai lawan.


Bong Bong Dut bersyukur lega. Dia tahu bahwa kapten kapal itu bukan tandingannya. Bukan berarti Bong Bong Dut lebih sakti, tetapi sebaliknya.


Namun, dia harus terkejut ketika melihat Kapal Pesona Laut merapat ke Kapal Bulan Pesona yang masih memiliki pasukan lengkap.


“Seraaang!” teriak Kapten Pesona Laut.


“Seraaang!” teriak para prajurit sambil beramai-ramai melompat menyeberang ke kapal yang mau tenggelam.

__ADS_1


Melihat serangan itu, Mimi Mama cepat bertindak.


Wuss!


Kibasan tangan kecilnya menciptakan angin pukulan yang keras dan memaksa Kapten Pesona Laut terhempas menabrak beberapa prajurit yang datang.


Setelah itu, tahu-tahu di tangan kiri Mimi Mama tergenggam sebuket bunga mawar merah. Jangan tanya dari mana Mimi Mama mengambilnya padahal itu di tengah laut. Kejap berikutnya, semua tangkai bunga telah melambung di udara.


Set set set …!


Ketika kedua tangan mungil Mimi Mama menghentak, maka bunga-bunga itu melesat dalam bentuk helaian-helaian kelopak dan batang.


“Aak! Akk! Akh …!” jerit para prajurit yang tidak bisa menghindari kelopak-kelopak bunga yang setajam pedang dan sekeras baja.


Ctas ctas ctas!


Bong Bong Dut pun dipaksa bertarung setengah hidup dengan cambuknya.


“Akk!” jerit tertahan Bong Bong Dut saat pinggul kirinya terkena sayatan pedang seorang prajurit.


Bruakr!


Tiba-tiba terdengar suara hantaman yang begitu keras, mengejutkan semua pasukan Armada Bintang Tujuh. Kapal Pesona Laut telah pecah ketika tubuh besar Komandan Bengisan yang melambung seperti Bong Bong Dut mendarat. Kapten Pesona Laut dan pasukannya yang masih berada di kapal itu terlempar ke laut.


“Hiaaat!” teriak Komandan Bengisan dengan garang sambil berlari dan melompat menyeberang ke Kapal Bulan Pesona.


Dia langsung mengamuk dengan tombak warna oranyenya. Ia segera membantu Bong Bong Dut yang kini bertempur dengan luka di pinggul.


Kapten Pesona Laut yang terlempar ke laut ternyata bisa naik lagi ke kapalnya yang pecah. Dalam kondisi kuyup, dia segera membidikkan panahnya ke arah Mimi Mama.


Set! Tes!


Panah melesat dalam jarak yang tidak begitu jauh, hanya berseberangan kapal. Namun, Kapten Pesona Laut harus terkejut saat melihat anak panahnya tertahan oleh telapak tangan kanan Mimi Mama tanpa mencederai tangan si gadis jelita itu.


“Kau berhadapan dengan Pembunuh Kedua, Paman Pelaut!” pekik Mimi Mama lalu melesat menyeberang kapal dengan cepat sambil kedua tangannya melempar bergantian.


Ses ses! Syet!


Dua piringan sinar merah melesat bersusulan menyerang Kapten Pesona Laut.


“Aaak!” jerit Kapten Pesona Laut ketika tubuhnya tidak bisa menghindari tebasan piringan sinar merh yang kedua. Ia pun gugur dengan terhormat.


Setelah itu, Mimi Mama kembali masuk ke pertarungan untuk membantu kedua rekan besarnya, yakni Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan.


Pada akhirnya, kedua kapal perang yang punya nama “Pesona” itu tenggelam.


“Aku akan tenggelam, Komandaaan!” teriak Bong Bong Dut panik lagi.


Suuut! Suuut!


Namun, kekuatan mata Dewi Ara kembali membuat kedua lelaki itu mencelat ke udara tinggi dan jatuh ke Kapal Siluman Cumi, satu kapal kecil dari Armada Bintang Tujuh yang tersisa.


Semua serangan senjata pasukan yang menyambut kedatangan mereka berdua tidak ada yang berguna. Itu berkat perlindungan jarak jauh sang permaisuri.


Bruakr! Bruakr!


Dua pendaratan berkekuatan dahsyat cukup membuat Kapal Siluman Cumi langsung pecah parah. Dalam hitungan durasi video Tek-Tok, kapal itu langsung tenggelam.


Pasukan armada yang masih hidup harus berenang untuk menyelamatkan diri.


Kini tinggallah Kapal Karang Jago milik Laksamana Muda Gandala Moi.

__ADS_1


Dari atas kapal besarnya di pelabuhan, Laksamana Galala Lio hanya bisa geleng-geleng, seakan tidak percaya melihat empat kapal perang bisa ditenggelamkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. (RH)


__ADS_2