
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Kini bukan hanya seorang bayi kecil dan “bayi kingkong” yang melayang di udara malam di atas lautan, tetapi orang-orang yang sebelumnya telah tercebur ke laut telah ramai melayang pula di udara.
Namun ada yang aneh, semua yang naik melayang ke udara adalah para penumpang kapal yang telah tercebur. Sementara para anggota Bajak Laut Malam yang telah jatuh juga, tidak terbang. Seolah-olah kesaktian Dewi Ara bisa menyortir mana yang masih hidup dan mana yang penjahat.
Belum habis ketercengangan mereka semua, para penumpang yang masih bisa bertahan di atas kapal yang semakin tenggelam dengan cepat, tiba-tiba tertarik terbang pula. Kuatnya tarikan itu membuat mereka mau tidak mau harus melepaskan pegangannya. Akhirnya mereka terpaksa terbang dengan perasaan takut.
Semakin tenggelamnya dan semakin terbakarnya kapal penumpang, para pendekar, awak kapal dan bajak laut jadi berhenti bertarung. Mereka tinggal bertahan agar tidak jatuh lebih cepat.
Namun, Tangan Kanan, Perkosa Ombak dan semua orang dibuat terkejut. Puluhan orang yang diterbangkan oleh kekuatan Tatapan Ratu Tabir milik Permaisuri Geger Jagad kini bergerak bergeser ramai-ramai ke atas perahu Bajak Laut Malam.
Semakin bingunglah Tangan Kanan dan Perkosa Ombak yang berada di kapal itu.
Jleg! Jleg! Jleg!
Satu per satu, dua per dua, orang-orang yang terbang itu diturunkan di atas kapal yang lebih besar dari kapal penumpang Dayung Karat itu. Dengan demikian, maka mengertilah Bewe Sereng dan Tikam Ginting mengapa Dewi Ara justru menghancurkan kapal milik Dayung Karat.
“Hei! Jangan turun di sini! Pergi, pergi ke laut kalian!” teriak Perkosa Ombak gusar mengusir para penumpang yang sebagian basah kuyup dan dalam kondisi masih takut.
Tiba-tiba tubuh Perkosa Ombak melesat mundur, seperti tertarik oleh sesuatu.
“Aaak!” jerit Perkosa Ombak karena terlalu terkejutnya.
Jbur!
Perkosa Ombak pun masuk ke dalam air.
Melihat itu, berdebar-debar Tangan Kanan. Ia yang seorang diri dari kelompok bajak laut, merasa sedang dikepung, meski yang mengepung adalah para penumpang.
__ADS_1
“Ak!” pekik tertahan Tangan Kanan saat ia pun akhirnya ada yang sudi menarik.
Tubuh gagah Tangan Kanan melesat terbetot oleh satu kekuatan dan dijatuhkan ke dalam laut. Dengan demikian, kapal gagah milik Bajak Laut Malam telah dibajak.
Separuh badan kapal penumpang telah masuk ke dalam air. Separuh dari yang belum tenggelam pun sedang dalam lalapan si jago merah.
Dalam kondisi kritis itu, Tikam Ginting menciptakan gelembung sinar abu-abu yang terus membesar dan membesar, membuat para bajak laut dan awak kapal yang bertahan jadi was-was. Mereka menduga bahwa balon sinar abu-abu itu akan meledak hebat.
Hingga akhirnya, balon sinar abu-abu itu sampai sebesar rumah. Tikam Ginting lalu mendorong bola sinar itu sehingga melesat dengan kecepatan sedang.
“Nahkoda, masuklah ke dalam bola!” teriak Tikam Ginting lalu berkelebat lebih dulu masuk menembus dinding bola, tapi tidak keluar lagi.
Dayung Karat yang sempat terkejut, cepat menolakkan kakinya dan melompat menabrak bola sinar kelabu yang memang sengaja dilewatkan di depannya. Melihat pimpinan mereka melompat ke dalam bola sinar tanpa ragu, beberapa awak kapal cepat ikut melompat mencoba masuk ke dalam bola raksasa.
“Aaak!” jerit awak kapal yang melompat, tapi lompatannya tidak sampai, sehingga langsung terjun bebas ke air asin. Sepertinya dia memang belum beruntung.
Sementara di sisi atas, di tiang kapal yang sudah tidak berdiri lagi karena merebah menuju air, Setya Gogol dan Lentera Pyar berlari di tiang yang menjadi titian bagi mereka. Kompak keduanya melompat lalu berlari di udara dan masuk ke dalam bola lewat sisi atas.
Tikam Ginting mendelik gusar di saat Setya Gogol tersenyum keledai. Pemuda itu sadar akan posisinya.
Lentera Pyar yang juga terkejut melihat insiden itu, buru-buru menarik tangan Setya Gogol agar cepat berdiri sebelum yang lain berdiri lebih dulu. Selain cemburu, Lentera Pyar tidak mau Setya Gogol mendapat hajaran dari Pendekar Bola Cinta itu. Memang, Tikam Ginting lebih tinggi kesaktiannya dibandingkan mereka berdua.
Sementara bagi Bewe Sereng, Mimi Mama dan Serak Gelegar, mudah bagi mereka untuk berpindah ke atas kapal Bajak Laut Malam.
Dewi Ara melesat terbang seperti burung pindah kapal.
Ketika bola sinar abu-abu berhenti di atas lantai kapal bajak laut, Tikam Ginting melenyapkan ilmu Penjara Bola Cemburu-nya, membuat semua orang yang diangkutnya bisa bebas keluar.
“Nahkoda, cepat layarkan kapal ini!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap Dayung Karat bersemangat. Lalu teriaknya kepada anak buahnya yang ikut mendarat bersama, “Kembangkan layar, putar haluan!”
__ADS_1
Sementara Dewi Ara kembali mengerahkan kekuatan matanya. Beberapa awak kapal anak buah Dayung Karat yang tersisa di kapal dan yang berjuang bertahan di air, mendadak tertarik naik mengudara, lalu melesat ke atas kapal bajak laut.
Broksrr!
Pada akhirnya, kapal penumpang tertarik masuk ke dalam air secara keseluruhan. Para anggota bajak laut yang berenang di sekitar kapal ikut tertarik arus yang tersedot ke bawah mengikuti karamnya kapal.
Meski demikian, sejumlah bajak laut berhasil menyelamatkan diri dari ketenggelaman, termasuk Tangan Kanan dan Perkosa Ombak. Seperti yang Tangan Kanan sebut tadi, mereka adalah para perenang handal di lautan.
Blat blat blat!
Layar kapal Bajak Laut Malam mengembang dan mulai bergerak cepat berbelok arah hendak meninggalkan kawanan bajak laut yang centang perenang.
Beberapa anggota bajak laut yang berkesaktian cukup tinggi bisa melompat keluar dari dalam air, mereka mencoba naik ke atas kapal mereka sebelum kapal itu pergi.
Bak bik buk! Bak bik buk! Wuss!
Namun, ketika mereka mendarat di pinggiran kapal, mereka justru disambut oleh tendangan dan pukulan bertenaga dalam dari para pendekar kubu Dewi Ara. Bahkan ada segulung angin pukulan yang dilepaskan oleh Mimi Mama, membuat mereka terpaksa terdorong jatuh ke air lagi.
“Hihihi …!” tawa Mimi Mama berkepanjangan.
Tiba-tiba dari dalam air timbul selembar papan lebar yang juga mengangkat tubuh Tangan Kanan yang berdiri gagah layaknya seorang jagoan. Papan itu dijadikan papan selancar oleh Tangan Kanan mengejar kapal yang bergerak menjauh, meski lajunya baru mulai kencang.
Sets! Bruakr!
Mendadak Dewi Ara telah melemmpar tombak sinar biru. Terlalu cepat.
Sebenarnya Tangan Kanan tidak bisa menghindar, tetapi tombakan itu bukan bermaksud menombaknya, melainkan menargetkan papan lebar yang dipijak. Papan itu hancur tertombak yang mementalkan Tangan Kanan kembali masuk ke air.
Pada akhirnya, kapal bajak laut yang dibajak itu semakin menjauh meninggalkan anggot bajak laut yang tinggal sekitar sepuluh orang. Mereka berusaha bertahan dengan memeluk sejumlah benda yang mengapung, yang ditinggalkan oleh kapal yang tenggelam.
Dengan tenggelamnya kapal penumpang dan perginya kapal bajak laut, suasana kembali gelap gulita. Mau tidak mau, Tangan Kanan dan sejumlah anak buahnya harus berjuang untuk bertahan di dalam kedinginan dan kebasahan.
__ADS_1
Meski bisa selamat dari kelompok Bajak Laut Malam, Nahkoda Dayung Karat bersama anak buahnya dan para penumpang tetap membawa duka. Tidak sedikit dari mereka yang kehilangan kerabat, orang yang dicintai, dan teman yang harus mereka tinggalkan dalam kondisi terkubur di dalam lalutan. (RH)