
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Setelah semuanya datang dan berkumpul di atas kapal Bajak Laut Malam, sauh pun diangkat dan kapal didayung, layar tidak langsung dikembangkan. Angin pagi masih berembus slow.
Semua awak yang tanpa nahkoda kembali ke kapal. Liburan dua hari yang sudah diagendakan harus batal.
Permaisuri Dewi Ara memutuskan untuk berlayar menuju Pulau Tujuh Selir.
Tadi malam, pasukan Kerajaan Lampara yang menyerbu ke Desa Konengan, mendapati rumah Nahkoda Dayung Karat kosong dari manusia. Mereka hanya menemukan beberapa ekor tikus yang bersembunyi.
Bahkan di malam itu, pasukan mengumpulkan warga para tetangga Dayung Karat untuk mencari informasi tentang keberadaan dirinya dan istrinya, tetapi tidak ada yang memberi informasi. Namun, Pangeran Rebak Semilon merasa lega, itu artinya pasukannya tidak perlu berurusan dengan Permaisuri Dewi Ara.
Jika pasukan Lampara mencari Dayung Karat dengan cara yang membuat takut warga, maka berbeda cara yang ditempuh oleh Tikam Ginting dan Bong Bong Dut. Mereka memilih menunggu pagi hari.
Pada pagi hari ketika warga memulai kegiatannya, Tikam Ginting bersikap ramah bertanya ke sana dan ke mari tentang Dayung Karat. Keramahan dan kecantikan yang memesona membuat warga pun merespon Tikam Ginting dengan bersahabat.
“Permaisuri junjunganku ingin bertemu dengan Nahkoda Dayung Karat, karena dia berjanji akan membawa kapal ke Pulau Karang Hijau.” Itulah yang Tikam Ginting gembar-gemborkan.
Warga bernama Junarko pun tidak luput menjadi tempat Tikam Ginting bertanya. Ditanya oleh wanita cantik seperti artis ibu kota semodel Tikam Ginting, Junarko banyak tertawa cengengesan, meski banyak hal yang tidak lucu.
“Oooh, dicari Gusti Permaisuri. Semalam Dayung Karat berpesan kepadaku, jika ada permaisuri yang mencarinya, beri tahu bahwa dia pergi ke Pulau Tujuh Selir. Hahaha!” kata Junarko lalu tertawa sendiri.
Bermodal keterangan itulah, Dewi Ara memutuskan langsung pergi ke Pulau Tujuh Selir.
Sebelum kapal angkat jangkar, Komandan Bengisan datang bersama keluarganya, yakni seorang istri dan dua orang anak. Istrinya bernama Jinigasi, seorang wanita yang juga berjiwa petarung, tetapi riwayat ilmu olah kanuragannya nyaris hilang karena fokus mengurus anak. Anak lelaki panglima yang berusia lima belas tahun bernama Bayu Kikuk. Sementara anak perempuannya yang berusia sebelas tahun bernama Cicirini. Mereka hanya membawa pakaian ganti dan untungnya kedua anak itu tidak bersekolah, jadi pelajarannya tidak terganggu.
Selain keluarga Panglima Bengisan, anggota baru di kapal itu adalah Tabib Loang dan adiknya yang bernama Zoang.
__ADS_1
Zoang adalah seorang gadis muda berkulit cerah dengan model mata sipit yang manis. Meski badannya sedikit gemuk, tetapi kecantikan parasnya telah memikat hati Bong Bong Dut pada pandangan pertama.
Demi menyenangkan Permaisuri Dewi Ara, Raja Bandelikan mau menyerahkan Tabib Loang, meski dengan demikian, Kerajaan akan kehilangan tabib handalnya dengan menyisakan tabib-tabib kelas menengah belaka.
Tabib Loang tinggal bersama adik tersayangnya yang juga mengerti ilmu pengobatan, tapi tidak sehandal kakaknya. Tabib Loang tidak bisa berpisah jauh dari adiknya. Demikian pula dengan Zoang, dia tidak bisa jauh dari kakaknya. Zoang yang berusia kepala tiga tanpa kelebihan hari, memiliki karakter pendiam dan pemalu. Karena itulah, meski usianya sudah matang, tetapi ia belum memiliki pasangan, bahkan calon pun belum.
Berita bahwa Nahkoda Dayung Karat pergi ke Pulau Tujuh Selir, membuat Pangeran Rebak Semilon wajib ikut, sebab ia memiliki kekasih di pulau tersebut, kekasih yang tidak direstui oleh kedua orangtua. Memang, Pulau Gunung Dua memiliki konflik lama dengan Pulau Tujuh Selir. Kerajaan Lampara memilih tidak mau berurusan dengan orang-orang Pulau Tujuh Selir yang memiliki kesaktian tinggi-tinggi.
Alasan untuk menolong sang adik, Pangeran Rebak Semilon memanfaatkan momentum itu untuk bisa bertemu dengan sang kekasih.
Sementara itu, berlayar dengan kapal Bajak Laut Malam yang lebih besar dan lebih kuat dari kapal sebelumnya, membuat para awak kapal yang kini berjumlah lima belas orang merasa bangga. Anggap saja sebagai gaya-gayaan menjadi anggota bajak laut dengan pemimpin seorang permaisuri sakti.
“Pendekar, waktunya layar dikembangkan,” bisik awak kapal yang bernama Paito kepada Bong Bong Dut.
Bong Bong Dut mengangguk. Ia lalu berteriak keras laksana seorang nahkoda, “Kembangkan layaaar!”
Beberapa anak buah kapal segera mengerjakan perintah Bong Bong Dut. Mereka segera melepas ikatan yang membuat layar segera berkembang dan tertiup angin, mempercepat laju sang kapal.
Setelah memberi perintah seperti itu, Bong Bong Dut lalu melirik dan tersenyum kepada Zoang. Gadis cantik itu hanya balas tersenyum kalem mendapat lirikan dari pemuda bersenjata cambuk itu.
“Lelele!” teriak Cicirini bersorak girang dengan gaya teriakan perang suku pedalaman. Ia girang karena layar kapal telah terbuka lebar.
“Kapal Bajak Laut Malam, majuuu! Pecahkan ombak, hancurkan karang, belah samudera!” teriak Bayu Kikuk pula laksana seorang laksamana kapal perang. Ia berteriak-teriak penuh semangat sambil mengangkat tinggi-tinggi pedang kayunya.
Komandan Bengisan yang sedang mesra duduk berdampingan dengan Jinigasi hanya tertawa melihat keceriaan kedua buah hati mereka.
“Benar kata Gusti Permaisuri,” ucap Komandan Bengisan yang kemudian menggantung.
__ADS_1
“Apa yang benar, Kakak?” tanya Jinigasi.
“Lebih baik jika merasakan suka dan duka bersama orang yang tercinta. Selama ini, karena tugas militer, aku jarang melihat keceriaan anak-anak kita,” kata Komandan Bengisan.
“Tikam Ginting, bukankah ini adalah kapal Bajak Laut Malam?” tanya Pangeran Rebak Semilon dengan nada yang ragu-ragu kepada Tikam Ginting yang berdiri di sisinya.
Sebenarnya “yang berdiri di sisinya” itu adalah Pangeran Rebak Semilon karena dialah yang tadi mendekat ke sisi wanita cantik itu.
“Kami merampasnya. Mereka menenggelamkan kapal Dayung Karat, jadi kami merampasnya,” jawab Tikam Ginting tanpa senyum sedikit pun.
“Itu berarti Genggam Garam sudah mati?” tanya Pangeran Rebak Semilon kian penasaran.
“Siapa dia?” tanya balik Tikam Ginting sambil melirik tajam tapi cantik kepada sang pangeran.
“Ketua Bajak Laut Malam.”
“Aku tidak kenal, jadi aku tidak tahu dia sudah mati atau belum,” jawab Tikam Ginting.
“Tikam, apakah Gusti Permaisuri itu … sudah punya suami?” tanya Pangeran Rebak Semilon lebih ragu dengan nada berhati-bati.
Pertanyaan itu membuat Tikam Ginting menengok kepada Pangeran Rebak Semilon dengan tatapan tajam dan kening berkerut. Reaksi itu membuat Pangeran Rebak Semilon jadi salah tingkah.
“Ma-ma-maaf, jika pertanyaanku menyinggungmu,” ucap Pangeran Rebak Semilon.
“Jika kau bukan pangeran, sudah aku benturkan kepalamu ke geladak. Jangan sampai kau bertingkah seperti adikmu itu,” kecam Tikam Ginting marah. Lalu katanya, “Kau pikir junjunganku akan menjadi permaisuri jika tidak ada rajanya?”
Setelah berkata seperti itu, Tikam Ginting melangkah pergi menuju haluan, di mana Bong Bong Dut berdiri gagah layaknya seorang pelaut yang sedang menantang angin dan ombak. Pemuda gemuk itu menikmati ayunan laju perahu yang menabrak ombak tanpa henti.
__ADS_1
“Tololnya aku!” maki Pangeran Rebak Semilon kepada dirinya sendiri. “Padahal aku hanya mencari bahan agar bisa berbincang dengan Tikam Ginting. Bodoh, bodoh, bodoh!” (RH)