Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 11: Gempar Perguruan


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


“Namamu siapa, Nak?” tanya Guna Wetong dingin plus angker, tapi itu tidak mengintimidasi Arda Handara yang justru cengengesan.


“Namaku Arda Handara, Bi,” jawab Arda Handara lancar.


“Kau anak siapa? Aku baru melihatmu di sini dan wajahmu terlalu bersih,” tanya Guna Wetong, masih dengan tatapan bengisnya.


“Aku anak dari ibundaku, Bibi. Ibunda yang tercantik di dunia. Hahaha!” jawab Arda Handara santai, lalu tertawa sendiri.


“Dia siapa, Mak Guna?” tanya seorang gadis kecil dari sisi belakang Guna Wetong.


Guna Wetong dan Arda Handara menengok kepada gadis kecil yang berusia dua belas tahun. Gadis kecil berpakaian pendekar warna kuning itu memiliki paras yang cantik. Meski ia kurus, tetapi ia lebih tinggi daripada Arda Handara. Tatapannya bernuansa sinis kepada Arda Handara.


“Kau tidak mengenalnya, Suling?” Guna Wetong justru balik bertanya kepada gadis kecil itu.


“Hahaha! Suling kerbau! Hahaha!” tawa Arda Handara mengejek.


“Hei! Beraninya kau mengejekku? Aku ini putri dari Ketua Dua!” bentak gadis kecil bernama lengkap Sulin Mamas itu. Namun, orang-orang perguruan lebih sering memanggilnya Suling, agar lebih enak di lidah.


“Hahaha! Baru Ketua Dua, belum Ketua Satu. Apalagi kau hanya putrinya, bukan ketuanya. Weeek!” kata Arda Handara tidak mau kalah lalu menjulurkan lidahnya.


“Benar-benar berani kau, Anak Asing!” teriak Sulin Mamas marah sambil maju hendak melancarkan tinju kepada Arda Handara.


“Eeeh! Tidak baik kecil-kecil suka berkelahi!” hardik Guna Wetong sambil menahan Sulin Mamas dengan cara menjepit kerah baju gadis itu.


“Hahaha!” Arda Handara tertawa yang kian menjengkelkan perasaan Sulin Mamas.


“Kalian berdua main di luar. Awas jika kalian berdua berkelahi, aku akan siram dengan air cucian ayam!” perintah Guna Wetong.


“Iya, Bi,” jawab Arda Handara patuh, lalu melirik dan tersenyum mengejek kepada Sulin Mamas.


“Aku ha ….”

__ADS_1


Tiba-tiba seorang gadis berseragam kuning masuk berlari ke dalam dapur dengan wajah tegang, membuat Sulin Mamas berhenti bicara.


“Tetua Pendekar Cambuk Enam mati dibunuh!” seru gadis yang baru masuk.


“Apa?!” ucap para kaum pegunungan itu terkejut.


“Kau dapat kabar dari mana?” tanya Guna Wetong sambil berjalan cepat menuju ke luar.


Kaum wanita yang mendadak ramai seperti pasar kaget, segera ikut pergi ke luar.


Arda Handara dan Sulin Mamas juga ikut keluar mengikuti para orang dewasa. Keduanya juga ingin melihat apa yang terjadi di luar. Pertengkaran mereka lupakan, tapi tidak perlu pakai gandengan tangan.


Kaum hawa itu tidak jauh-jauh pergi meninggalkan sekitar dapur. Mereka cukup berkerumun di salah satu depan rumah, ketika melihat sebuah pedati berjalan sambil dikerumuni banyak murid-murid perguruan. Mereka masih bisa melihat ada tumpukan mayat di bak pedati yang dikusiri oleh Setya Gogol. Mereka pun melihat keberadaan Garda Tadapan berkuda pelan di sebelah depan.


Sementara di belakang berkuda Dewi Ara, Bewe Sereng, Tikam Ginting, dan Lentera Pyar.


Pedati kuda itu penuh diiringi oleh banyak orang. Sebagian murid-murid lainnya hanya memandangi dari kejauhan dengan wajah-wajah tegang.


Rombongan itu bergerak menuju ke depan sebuah bangunan cukup besar di tengah-tengah kompleks perguruan tersebut.


Dari teras bangunan besar berjalan cepat seorang lelaki separuh baya berpakaian serba kuning yang dilapisi jubah kuning pula. Dari model pakaian lelaki berkumis dan berambut gondrong itu, bisa diduga bahwa dia mungkin tetua atau pemimpin di perguruan tersebut, terlebih ada enam lelaki lain yang berjalan di belakangnya. Formasi itu menunjukkan bahwa dia memang pemimpin.


“Lihat, itu ayahku, Ketua Dua Perguruan Cambuk Neraka!” kata Sulin Mamas kepada Arda Handara sambil menunjuk jauh ke arah Tolak Berang.


“Lihat, itu ibundaku, perempuan tercantik di dunia!” kata Arda Handara pula sambil menunjuk Dewi Ara yang duduk tenang di atas kudanya.


Akhirnya kuda-kuda berhenti ketika tiba di hadapan Tolak Berang.


“Hormat kami, Ketua Dua!” seru para murid sambil membungkuk menghormat.


Garda Tadapan segera turun dari kudanya dan menghormat kepada Tolak Berang.


“Maafkan aku, Ketua!” ucap Garda Tadapan dengan penuh kesedihan.


“Kenapa bisa seperti ini, Garda?” tanya Tolak Berang.

__ADS_1


“Kami disergap oleh orang-orang bertopeng yang tidak kami kenal. Kesaktian mereka di atas kesaktian murid-murid. Mereka membunuh Paman Cambuk Enam dan yang lainnya. Mereka juga merebut pusaka Cambuk Usus Bumi,” jelas Garda Tadapan.


“Apa?!” pekik Tolak Berang sangat terkejut.


Bukan hanya Tolak Berang yang terkejut, tapi semua murid Perguruan Cambuk Neraka terkejut mendengar kabar itu. Saat itu juga hebohlah mereka dalam komentarnya masing-masing menanggapi berita mengejutkan itu.


“Apa kau tidak tahu, tanpa adanya Cambuk Usus Bumi, kita tidak bisa mengangkat Ketua Satu, hah?!” bentak Tolak Berang marah kepada Garda Tadapan.


“Ketua Dua, lebih baik kita urus dulu jasad Pendekar Cambuk Enam dan murid-murid. Setelah itu baru kita membahas perkara Cambuk Usus Bumi,” kata seorang lelaki yang lebih tua dari Tolak Berang dengan setengah berbisik di belakang. Lelaki berambut dua warna itu bernama Jenang Kolo, Kepala Latih Perguruan Cambuk Neraka.


Tolak Berang menarik napas dalam-dalam sambil tetap menatap tajam kepada Garda Tadapan. Setelah kemarahannya bisa ia redam, Tolak Berang lalu memberi perintah.


“Turunkan mayat Tetua Cambuk Enam dan saudara-saudara kita!”


Para murid yang mengiringi pedati kuda segera bekerja menurunkan mayat-mayat yang ada di bak kereta kuda yang menjadi pedati itu. Orang-orang mati itu dibawa dan dibaringkan di teras pendapa.


Tolak Berang memandang sejenak kepada para orang asing yang masih duduk di atas kuda-kudanya, tetapi mereka memilih berhenti agak jauh di belakang.


Tolak Berang memilih meninggalkan Garda Tadapan yang untuk sementara hanya berdiri diam setelah dimarahi di muka publik.


“Bong Bong Dut!” panggil Garda Tadapan kepada pemuda gemuk yang sudah sembuh dari kematian sementaranya. Saat itu Bong Bong Dut berdiri di dekatnya.


“Ada apa, Garda?” tanya Bong Bong Dut dengan gestur hormat.


“Beri tahu Paman Suwirak untuk menyambut tamu-tamu yang menolongku,” kata Garda Tadapan.


“Baik,” ucap Bong Bong Dut patuh.


Mau tidak mau, Garda Tadapan terpaksa meninggalkan tamunya karena dia harus mengurus jenazah pamannya dan rekan-rekan seperguruannya. Karena itu, dia perlu bantuan Suwirak untuk mendampingi para tamu agar tidak merasa diabaikan begitu saja.


Suwirak adalah sosok lelaki separuh baya lebih sepuluh tahun. Ia berbadan gemuk dan termasuk sosok yang disegani oleh murid-murid tapi terabaikan oleh para pemimpin perguruan. Jabatannya adalah Kepala Kebersihan. Ia termasuk sangat dekat dengan Garda Tadapan.


Setelah menyampaikan pesan Garda Tadapan kepada Suwirak, Bong Bong Dut kemudian ikut mendampingi Suwirak pergi menemui para tamu.


“Hormatku, para Pendekar,” sapa Suwirak santun kepada Dewi Ara dan rombongan yang sudah turun dari kuda. “Namaku Suwirak. Silakan ikut aku, para Pendekar.”

__ADS_1


Dewi Ara dan para pengawalnya mengikuti Suwirak sambil menuntun kuda masing-masing, kecuali Dewi Ara. Kuda sang permaisuri dipegang oleh Bong Bong Dut yang menawarkan diri. Pemuda gemuk itu sangat terpesona oleh kecantikan Dewi Ara.


Bukan hanya Bong Bong Dut yang begitu terkesima dengan kecantikan Dewi Ara, murid-murid lelaki dan wanita perguruan itupun tidak melewatkan perhatiannya kepada Dewi Ara yang melintas menuju ke rumah tamu. (RH)


__ADS_2