
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
“Ini adalah buah dari dosa masa laluku, Gusti Prabu. Sudah hampir seratus tahun aku hidup sendiri di hutan ini. Aku hanya ditemani oleh potongan-potongan belalaiku yang bisa hidup. Aku tidak mempermasalahkan jika kalian membunuh semua Akar Santang-ku yang kalian sebut Cumi Hutan itu. Mereka seperti ekor cecak. Jika mereka putus dari tubuhku, maka akan tumbuh lagi. Jangan heran jika aku memiliki banyak Cumi Hutan,” tutur Ragu Santang. “Aku akan tetap terhukum di sini hingga kelak aku akan mati di sini ketika sudah waktunya. Aku sudah menemukan jalan untuk matiku, karena aku sudah memiliki seorang penerus.”
“Apakah penerus yang Tetua maksud adalah wanita yang bersama dengan putraku?” tanya Prabu Dira yang masih duduk di punggung burung sinar merah milik Ratu Tirana.
“Benar. Ini anaknya,” jawab Ragu Santang.
Tiba-tiba satu tentakel milik Ragu Santang bergerak naik. Belalai itu mengangkat tinggi sesosok tubuh perempuan yang tidak sadarkan diri dalam lilitan. Sosok perempuan itu tidak lain adalah Barada.
“Siapa anak itu?” tanya Prabu Dira.
“Apakah kalian tidak mengenalnya?” tanya Ragu Santang.
“Tidak,” jawab Prabu Dira.
“Berarti kalian perlu menanyakannya kepada Pangeran Arda. Mereka datang bersama ke dalam hutan ini,” kata Ragu Santang.
“Baiklah, Tetua. Kami akan kembali. Aku harap kami menemukan Arda sudah ada di Istana dalam kondisi baik-baik saja,” ujar Prabu Dira.
“Gagal, gagal, gagal!” teriak Permaisuri Sandaria kesal tiba-tiba. “Tidak jadi pesta tusuk daging-daging bakar!”
“Hahaha …!” Ragu Santang justru tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Permaisuri Sandaria di atas serigalanya.
“Kita pulang!” seru Prabu Dira kepada semuanya.
Prabu Dira lalu melompat turun dari burung sinar tunggangannya. Ia melangkah hendak meninggalkan Ragu Santang dan tempat itu.
Para serigala pun berbalik hendak ikut pergi, demikian pula dengan Ratu Tirana dan para permaisuri.
“Kakang Prabu pulanglah lebih dulu. Aku ingin menjajal kesaktian orang ini!” kata Permaisuri Dewi Ara tiba-tiba. Dia memang tidak berbalik dari berdirinya.
“Hahaha!” Ragu Santang hanya tertawa di saat Prabu Dira dan para istrinya terkesiap.
Zess! Bluar!
Tiba-tiba Permaisuri Dewi Ara melesatkan ilmu Tombak Algojo yang berwujud tombak sinar biru.
Namun, satu tentakel milik Ragu Santang dengan cepat bergerak menepis tombak sinar itu sehingga menimbulkan ledakan keras. Sinar itu hancur, tetapi tentakel Ragu Santang baik-baik saja.
__ADS_1
“Hahaha! Cumi Hutan yang kalian hadapi sebelumnya memang tidak memiliki kekuatan yang berarti, tapi Cumi Hutan yang masih menyatu dengan tubuhku sama saktinya dengan diriku,” kata Ragu Santang.
Krak krak krak …!
Tiba-tiba sejumlah pepohonan yang ada di sekitar tempat itu berpatahan dan berpecahan kecil-kecil tanpa terlihat apa yang membuatnya hancur.
Sreeetr!
Kayu-kayu pohon yang berpatahan dan berpecahan menjadi serpihan-serpihan lebih kecil, bahkan runcing-runcing, tidak langsung jatuh ke tanah, melainkan dia bergerak berputar mengelilingi posisi Ragu Santang.
Terciptalah seperti pusaran angin bercampur kayu yang bergerak cepat.
Prabu Dira, Ratu Tirana, para permaisuri, dan para pendekar hanya menonton aksi dari ilmu Tatapan Ratu Tabir. Jika Ragu Santang memang orang baik, mereka jadi khawatir bahwa serangan tingkat tinggi Permaisuri Dewi Ara akan melukai atau membahayakan Ragu Santang dan gadis remaja bernama Barada.
Bsreetr …!
Setelah berputar seperti badai kayu memutari dan mengurung Ragu Santang, tidak berapa lama, lesatan menyamping ratusan serpihan kayu itu berhenti mendadak, lalu melesat maju serentak ke arah satu titik.
Tretek tretek …!
Namun, sebelum semua serpihan kayu itu mengenai tubuh atas Ragu Santang, semua tentakel besar lapisan luar milik si kakek, lebih dulu bergerak cepat ke atas menutupi tubuh si kakek dengan sangat rapat dan kuat. Kuat karena kebal terhadap tusukan-tusukan yang bertenaga tinggi. Tubuh Barada juga dalam lindungan yang kokoh.
Setelah serangan itu berhenti, Ragu Santang kembali menurunkan semua tentakel Cumi Hutan-nya.
“Hahaha!” tawa pendek Ragu Santang. Lalu tanyanya, “Apakah perlu aku menunjukkan juga seranganku?”
“Tidak perlu. Aku mengakui kesaktianmu, Tetua,” jawab Permaisuri Dewi Ara yang menandakan bahwa dia berhenti.
Clap!
Tiba-tiba Permaisuri Dewi Ara menghilang begitu saja.
Prabu Dira dan para istrinya tahu ke mana perginya wanita berusia ratusan tahun tersebut.
“Kita kembali!” ajak Prabu Dira.
Maka, Prabu Dira dan rombongannya meninggalkan tempat tersebut malam itu juga. Prabu Dira dan istri-istrinya masih menyimpan setengah dari kekhawatirannya selagi mereka belum melihat langsung Pangeran Arda Handara.
Ketika mereka keluar, barulah mereka tersadar bahwa mereka cukup jauh masuk ke tengah hutan, meski itu belum terlalu jauh jika membandingkan dengan begitu luasnya Hutan Timur.
__ADS_1
Menjelang waktu subuh, barulah Prabu Dira dan rombongan meninggalkan Hutan Timur.
“Sepertinya ada orang yang sedang digantung di langit di Gerbang Macan Langit,” kata Permaiuri Asap Racun ketika mereka sedang melalaui jalan utama Ibu Kota.
Prabu Dira, Ratu Tirana dan para permaisuri jadi memandang ke langit tepat di atas Gerbang Macan Langit. Saat itu langit masih gelap, jadi mereka tidak bisa melihat sosok Pangeran Bewe Sereng yang digantung di angkasa malam.
“Permaisuri Guru pasti menyelesaikan suatu masalah saat kita pergi,” kata Prabu Dira. “Kita kembali dulu ke Istana.”
Setibanya di Istana menjelang fajar, Prabu Dira langsung menuju ke Istana Dewi Awan. Ratu Tirana dan para permaisuri juga ikut. Mereka semua ingin memastikan kondisi sang pangeran.
Untuk mencegah para madunya masuk ke dalam istananya, Permaisuri Dewi Ara memilih keluar dengan menggendong Arda Handara yang dalam kondisi tidur nyenyak.
Legalah Prabu Dira, Ratu Tirana dan para permaisuri.
“Prajurit menemukannya tertidur di pintu taman di bawah obor. Dia membawa sekeranjang uyut-uyut,” ujar Permaisuri Dewi Ara.
“Bagaimana kondisi raganya?” tanya Prabu Dira.
“Hanya kelelahan,” jawab Permaisuri Dewi Ara.
“Syukurlah. Jangan ada yang bercerita tentang sosok asli Ragu Santang kepada Pangeran Arda,” kata Ratu Tirana.
“Biarkan kita besok mendengarkan ceritanya, Kakang Prabu,” kata Permaisuri Getara Cinta.
“Kembalilah kalian ke istana masing-masing untuk beristirahat. Aku akan beristirahat sejenak di Istana Dewi Awan,” perintah Prabu Dira.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Tirana dan para madunya.
Para wanita itupun membubarkan diri lalu hilang satu per satu begitu saja. Maklum orang sakti, tingkahnya selalu seperti itu.
Sembari tersenyum manis kepada Permaisuri Dewi Ara, Prabu Dira lalu merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam Istana Dewi Awan.
“Apakah putra kita benar-benar tertidur?” tanya Prabu Dira.
“Tidurnya sangat pulas. Mungkin tetua itu memberinya sesuatu sehingga tertidur begitu pulas,” kata Permaisuri Dewi Ara. “Apakah Kakang Prabu minta aku layani?”
“Pastinya demikian,” jawab Prabu Dira seraya tersenyum lebar.
“Biarkan aku yang menyiapkan air wanginya lebih dulu,” ucap Permaisuri Dewi Ara. (RH)
__ADS_1