
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Kedatangan Adipati Kuritan disambut penuh antusias oleh sang ibu, Ketua Dua, dan para petinggi Perguruan Cambuk Neraka. Sama seperti ketika ibunya datang sebagai tamu penting pertama, Adipati Kuritan juga disambut dengan pertunjukan oleh murid-murid perguruan.
“Hup!” pekik Tampar Bayu memberi aba-aba.
“Heaaa!” teriak puluhan murid perguruan sambil memasang kuda-kuda. Teriakannya lebih keras dibandingkan kuda-kudanya.
Namun, pertunjukan itu kurang diminati oleh sang adipati, dia lebih tertarik beramah tamah dan melirik Dewi Ara yang melintas di sisi lain.
Meski Adipati Kuritan tidak menunjukkan ketertarikan, tetap saja pertunjukan harus terus berlangsung.
“Hup!” pekik Tampar Bayu lagi memberi aba-aba.
Ctas!
Lecutan cambuk yang serentak terdengar keren membahana, tetapi itu suara yang biasa didengar oleh Adipati Kuritan sebagai murid senior dan putra sulung Ketua Satu.
“Kurang ajar si Kuritan, kami sudah bersusah payah latihan demi cari muka, dia malah abai,” maki Tampar Bayu, tapi di dalam hati. Ia tetap harus berteriak, “Hup!”
“Haaa!” teriak para murid dengan wajah garang, sambil sebagian memasang ancang-ancang untuk atraksi. Sebagian lagi masing-masing meraih sebatang bambu setengah depa yang dipegang berdiri di atas kepala.
“Hup!” teriak Tampar Bayu yang hanya berdiri di tempatnya.
“Hiaaat!” teriak sebagian murid sambil melompat tinggi dan tangan kanannya melecutkan cambuknya dengan sekuat tenaga.
Ctas ctas ctas …!
Cambuk-cambuk kuning itu mendera bagian atas batang bambu sehingga patah dengan begitu mudahnya. Potongan-potongan bambu yang terkena lecutan terpental secara acak. Ada yang terpental hanya di sekitar, tapi ada juga yang sampai terpental jauh.
Seperti halnya satu potongan bambu yang terpental jauh dan menggelinding mengenai kaki Adipati Kuritan. Sampainya potongan bambu itu ke kakinya, membuat sang adipati memandangi bambu tersebut sejenak. Adipati Kuritan bisa menebak saat melihat potongan bambu yang rapi dan itu kemudian membuatnya tidak nyaman.
Hal itu juga membuat Tampar Bayu terkejut, demikian halnya dengan murid-murid yang mengetahui bahwa ada sepotong bambu yang sampai ke kaki sang adipati. Mereka langsung berfirasat buruk.
Keterkejutan bukan hanya milik Tampar Bayu dan murid-murid asuhannya, tapi juga melanda Ketua Dua dan sejumlah petinggi yang mengetahui trik tipu-tipu murid-murid mereka.
__ADS_1
Dak! Set! Bdak!
“Akk!”
“Akk!”
Tiba-tiba Adipati Kuritan menendang pelan salah satu ujung batang bambu, tapi membuat benda itu melesat cepat dan menghantam dahi salah satu murid.
Sang murid yang terserang menjerit keras seiring tubuhnya terlompat ke belakang dan jatuh tidak elok.
“Apa-apaan ini, Paman Ketua Dua? Ingin tampil hebat tapi dengan cara murahan seperti ini. Jelas-jelas bambu itu sudah dipotong sebelum dicambuk,” tanya Adipati Kuritan kepada Tolak Berang dan mengungkap trik tipu-tipu ala dukun palsu negeri masa depan.
Terbeliaklah Tolak Berang mendapat pertanyaan yang membuat malu dirinya dan seluruh perguruan. Sejenak ia bingung untuk berkata karena terlanjur sawan terkena skakmat.
“Eee … aku ti-ti-tidak tahu tentang hal itu, Gusti Adipati,” jawab Tolak Berang tergagap dengan dahi seketika menjadi lembab.
Ia lalu pura-pura marah dan berjalan agak ke tepi menghadap kepada tanah lapang, di mana para murid dibuat heboh oleh serangan batang bambu dari Adipati Kuritan.
“Tampar Bayu! Ke mari!” teriak Ketua Dua keras membahana, mengejutkan Tampar Bayu dan semua murid yang baru saja beratraksi.
Di saat Tolak Berang menyambut kedatangan Tampar Bayu dengan kemarahan besar, meskipun itu kemarahan yang wajib ia lakukan demi menjaga wajahnya tetap kinclong di depan sang adipati, Adipati Kuritan justru tersenyum sinis melihat kedatangan mantan rekan setingkatannya dulu, waktu masih sama-sama berstatus murid biasa.
Ctas!
“Akkk!” pekik tertahan Tampar Bayu saat tahu-tahu cambuk kebesaran Tolak Berang telah mendarat di tubuh depannya, nyaris tidak terlihat gerakannya dan tidak terdengar suaranya.
Meski tidak terjatuh, tapi Tampar Bayu terjajar dua tindak dengan luka panjang pada badannya. Depan bajunya robek terbakar singkat dan kuitnya pecah, hangus dan berdarah.
“Siapa yang punya ide seperti itu?! Sangat memalukan aku!” bentak Tolak Berang.
“Tu-tu-tulang Karang, Ketua,” jawab Tampar Bayu lirih dan tergagap sambil menahan pedih yang menusuk dan panas pada luka cambukannya. Sebenarnya semua petinggi tahu, siapa yang punya ide tipu-tipu seperti itu, yakni Ketua Dua sendiri.
“Panggil Tulang Karang dan perintahkan menghadap kepadaku segera!” teriak Tolak Berang.
“Ba-ba-baik, Ketua,” ucap Tampar Bayu masih tergagap.
__ADS_1
“Kalian semua bubar! Pertunjukan comberan kakus!” perintah dan maki Tolak Berang kepada puluhan murid.
“Aku sempat mengagumi perkembangan murid-murid perguruan pusat, tapi ternyata, hanya permainan atraksi pasar kampung. Hihihi!” ucap Citari Lenting kepada putranya, lalu tertawa nyaring menganggap kejadian pertunjukan itu adalah komedi kelas tinggi.
Begitu panas telinga Tolak Berang dan para petinggi Perguruan Cambuk Neraka mendengar ejekan janda mendiang Ketua Satu itu. Jika kedudukan Kuritan bukan seorang adipati, mungkin akan lain cerita reaksi yang diberikan oleh Tolak Berang dan para pembantunya.
Akhirnya, para ketua, petinggi perguruan dan “tamu agung” itu pergi menuju ke dalam pendapa.
“Paman Tolak Berang, siapa lagi yang belum datang ke pertemuan ini?” tanya Adipati Kuritan.
“Ketua Empat dan Ketua Lima, Gusti,” jawab Tolak Berang sambil berjalan mengiringi adipati muda itu, yang ketika belum mendapat jabatan adipati justru sering ia marahi karena kenakalannya.
“Lalu bagaimana dengan pembalasan terhadap pembunuhan Paman Cambuk Enam?” tanya Adipati Kuritan.
“Setelah Ketua Satu dipilih, barulah kita melakukan upaya-upaya pembalasan terhadap kelompok berkapak itu,” jawab Tolak Berang bernada mantap.
“Bagus, jangan sampai kita diremehkan oleh kelompok lain,” puji Adipati Kuritan. “Apakah Istana mengirim utusan untuk menghadiri pertemuan kali ini?”
“Aku sudah mengirim undangan untuk hadir dalam pengukuhan Ketua Satu besok. Kemungkinan sore hingga malam ini kita merundingkan siapa yang akan kita tunjuk sebagai Ketua Satu. Jadi, besok kita langsung mengukuhkan kedudukan Ketua Satu,” ujar Tolak Berang.
“Aku setuju. Orang Istana tidak perlu dilibatkan dalam pemilihan Ketua Satu, cukup sebagai alat pengukuhan saja,” kata Kuritan. “Jika kita masih menunggu ketua yang lain, lebih baik aku dan istriku beristirahat dulu, Paman.”
“Baik, Gusti. Kami sudah menyediakan kamar untuk Gusti dan Istri,” kata Tolak Berang.
“Oh iya, Paman. Tadi aku melihat seorang gadis cantik berpakaian merah berjalan menuju ke kediaman Paman. Siapa dia?” tanya Adipati Kuritan yang akhirnya mengungkapkan keingintahuannya yang sejak tadi ia pendam.
Tolak Berang terdiam berpikir, karena dia tidak mengerti orang yang dimaksud oleh Adipati Kuritan.
“Gusti Adipati menanyakan tamu yang datang bersama Garda Tadapan,” bisik Jenang Kolo, Ketua Latih Perguruan Cambuk Neraka, kepada Ketua Dua.
“Oh, wanita itu,” ucap Tolak Berang seolah baru tersadar dari kematian. “Itu adalah tamu perguruan yang diundang oleh istriku untuk dijamu di rumahku. Mereka tidak ada kaitannya dengan pertemuan perguruan kita.”
“Aku minta wanita itu dihadapkan kepadaku, Paman!” perintah Adipati Kuritan.
Terkejutlah Tolak Berang dan sejumlah petinggi mendengar perintah sang adipati yang seenaknya saja. Yang paling terkejut adalah Garda Tadapan yang berdiri agak jauh di belakang para petinggi perguruan. Garda Tadapan sangat tahu bahwa orang yang dipinta oleh Adipati Kuritan adalah seorang permaisuri, bukan wanita biasa.
__ADS_1
“Antarkan aku ke kamar!” perintah Adipati Kuritan tanpa peduli dengan reaksi dari tuan rumah. (RH)