Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 22: Ledak-Ledak Latah


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)* 


 


Blar blar blar …!


“Jangan perkosa Abel, jangan perkosa Abel! Aaah! Meong meong meong, aw aw aw!”


Sepuluh ledakan beruntun dari pecahnya sepuluh bola sinar kuning terjadi di sekeliling tubuh Abel Srikunti. Bisa dipastikan seperti apa nasib pemuda kepemudian itu.


Namun, Tikam Ginting selaku pemilik ledakan harus kecewa dan terkejut, pasalnya, Abel Srikunti berjakun itu justru berteriak latah dan dalam kondisi sehat wal afiat tanpa terluka sedikit pun.


“Apa boleh dipaksa, Abel tidak akan memandangmu sebagai wanita yang menggiurkan lagi!” kata Abel Srikunti bernada wanita yang di-macho-macho-kan, sehingga tetap saja terlihat segar ditonton.


Tikam Ginting agak terkesiap disebut “wanita yang menggiurkan”.


“Memangnya aku membuat air liurmu melimpah?” tanya Tikam Ginting agak sewot.


“Sambut, Sayang!” pekik Abel Srikunti sambil melompat menerjang Tikam Ginting dengan sepuluh jari tangan yang menyala sinar merah.


Tikam Ginting gesit menggeser tubuhnya setindak, membiarkan tubuh Abel Srikunti lewat. Setelah lewat, Abel Srikunti langsung memutar tubuh dan melancarkan serangan ala-ala cakaran. Tujuannya bukan mencakar, tapi menyentuhkan jari-jari bersinarnya.


Serangan Abel Srikunti sangat cepat, membuat Tikam Ginting bergerak cepat pula dan hati-hati. Wanita asli itu tidak ingin menangkis langsung jari-jari lawannya.


Set!


“Abel ganteng selangit, Abel ganteng selangit! Meong meong meong, aw aw aw!” pekik Abel Ganteng Selangit latah saat tiba-tiba bola merah Tikam Ginting menimpuk muka, tetapi ia bisa mengelak. “Tidak kena. Hahahak!”


Dak!


“Aww!” jerit Abel Srikunti dengan tubuh terdorong keras ke depan.


Bola merah yang lolos tidak mengenai sasaran ternyata bisa berbalik dan menghantam punggung Abel Srikunti.


Kini posisi tubuh Abel Srikunti tertahan dadanya oleh ujung kaki kanan Tikam Ginting yang naik seperti pendekar kung fu.


“Abel tidak mau diperkosa! Abel tidak mau diperkosa! Aaaah! Meong meong meong, aw!” latah Abel Srikunti seperti wanita meronta-ronta lalu menggaruk angin.


Dak!


Namun, ketika ia tersadar dari latahnya, Abel Srikunti cepat menepis kaki Tikam Ginting dari dadanya dan langsung menyerang lagi dengan mode seperti tadi.


Mungkin karena terlalu asik dan larut dalam serangannya yang tidak kunjung menemui sasaran, Abel Srikunti tidak menyadari bahwa kedua kaki Tikam Ginting mengeluarkan gelembung-gelembung tanpa warna, bening seperti gelembung sabun kecil-kecil.

__ADS_1


Sis! Sis!


Pada satu ketika, serangan Abel Srikunti berhasil masuk ke wajah dan dada Tikam Ginting yang menonjol. Namun, rupanya jari-jari bersinar merah Abel Srikunti belum mendapat restu calon mertua. Tusukan jari-jari bersinarnya tertahan oleh kiblatan lapisan sinar hijau yang muncul sekejap berlakon sebagai perisai.


Ilmu perisai Pertahanan Keutuhan Cinta membuat serangan-serangan jari bersinar Abel Srikunti menjadi mentah.


Tiba-tiba Tikam Ginting melompat mundur cukup jauh.


“Selamat menari, Abel Cantik Selangit!” seru Tikam Ginting.


“Abel cantik selangit! Abel cantik selangit! Meong meong meong, aw aw aw!” pekik terlatah Abel Srikunti saat baru menyadari bahwa di sekelilingnya telah ramai bola-bola bening kecil-kecil sekecil buah kelengkeng.


Yang menjadi misteri, gelembung-gelembung sinar senyata itu wujudnya dengan jumlah yang banyak, tapi tidak disadari kehadirannya oleh Abel Srikunti. Apakah Abel Srikunti memang tidak peka atau memang karakter ilmu itu sendiri yang tidak suka mendapat perhatian.


Namun, belum tuntas Abel Serikunti berpikir, ratusan gelembung itu sudah berledakan nyaring seperti petasan sunat dua kali potong.


Ctar ctar ctar …!


“Abel cantik selangit! Jangan perkosa Abel! Kodok bunting Abel! Bibir Abel monyong! Monyet bokong belah! Setan tikus kawin! Meong meong meong, aw aw aw! Aaak!”


Semua macam kalimat latah koleksi Abel Srikunti diteriakkan beradu keras dengan suara ledakan yang begitu ramai dan bising. Sampai-sampai latah jorok pun keluar, hanya saja tidak diperdengarkan karena alasan privasi.


Para penonton juga mengerenyit gaya bebas mendengar kebisingan itu, seolah mereka tidak sedang berada di zamannya.


Namun, kondisi Abel Srikunti itu membuat Tikam Ginting terkejut. Pasalnya, pemuda yang tidak terlihat mengerahkan ilmu perisai tersebut, tidak apa-apa dengan kondisi fisik normal tanpa ada pakaiannya yang robek, kulit yang pecah, atau darah yang termuntah.


“Gila, dia lebih kebal dari Penembak Bambu,” ucap Tikam Ginting lirih. “Padahal dia Pembunuh Kesepuluh, lebih rendah dibandingkan Cempaka.”


“Abel tidak terima, Abel tidak terima diperlakukan seperti ini. Kau sudah menyiksa Abel, Sayang!” rutuk Abel Srikunti marah kepada Tikam Ginting.


Tikam Ginting justru mengeluarkan gelembung sinar kelabu transparan dari telapak tangan kirinya. Gelembung sinar itu makin lama makin membesar sebesar rumah kecil di atas kepala si gadis.


“Eh eh eh! Apa yang mau kau lakukan lagi? Kau mau membuat ledakan lebih besar lagi? Abel tidak akan terluka,” kata Abel Srikunti.


Tikam Ginting tidak menjawab. Dia melemparkan bola raksasanya yang bergerak seperti balon besar di udara melewati atas tubuh Abel Srikunti. Pemuda kewanitaan itu hanya mendongak mengikuti pergerakan bola besar lalu menengok ke belakang, karena bola besar itu jatuh satu tombak di belakangnya.


Bola sinar kelabu itu hanya diam, tidak meledak atau berubah menjadi burung merpati atau makhluk lainnya.


“Lihat serangan, Abel Cantik!” pekik Tikam Ginting yang melesat maju menyerang Abel Srikunti dengan tangan kanan menggenggam bola yang bersinar merah dan telapak tangan bersinar putih, jadi terlihat merah putih dengan semangat patriot.


Meski memiliki ilmu kebal yang tinggi, tetap saja Abel Srikunti tidak mau menjadi sasaran serangan. Ia refleks mengelak membungkuk lalu melompat mundur dengan kencang.


Bleq!

__ADS_1


“Abel ganteng selangit, Abel ganteng selangit! Meong meong meong, aw aw aw!” latah Abel Srikunti karena terkejut dia menabrak bola sinar dan tenggelam masuk ke dalamnya.


“Pertarungan selesai, Abel Cantik,” kata Tikam Ginting yang sudah tampil normal.


Bak!


“Aw!” keluh Abel Srikunti saat mencoba menabrak dinding sinar bola besar yang mengurungnya. Ia terpental balik dan nyaris terjengkang. Awalnya dia berpikir bisa menembus dinding sinar semudah dia masuk.


“Hahaha!” tawa Arda Handara sambil berlari datang mendekati titik pertarungan dengan tangan tetap memegang ketapel Ki Ageng Naga.


“Jangan dekat-dekat, Arda!” seru Tikam Ginting cepat. “Jika Abel bisa menjebol dindingnya, berbahaya!”


“Iya!” sahut Arda Handara.


Di belakang, Ratu Wilasin dan Bong Bong Dut juga datang mendekat ke posisi Arda Handara.


Bruss! Bruss!


Di dalam Penjara Bola Cemburu, Abel Srikunti mengeluarkan sinar hijau menyilaukan mata pada kedua genggamannya.


Brass! Brass!


Selanjutnya, pemuda itu menghentakkan kedua tangannya melesatkan dua sinar ke arah yang berjauhan. Ledakan sinar hijau terjadi yang mementalkan tubuh Abel Srikunti hingga menghantam dinding sinar kelabu yang tidak jebol sedikit pun.


Melihat upaya gagal Abel Srikunti itu, membuat Tikam Ginting tersenyum menang. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan sinar penjaranya menuju ke teras.


Bluss! Joss!


“Aaak!” jerit panjang Abel Srikunti tiba-tiba yang mengejutkan Tikam Ginting.


Pendekar Bola Cinta itu cepat menengok ke belakang melihat ke Penjara Bola Cemburu-nya.


Tikam Ginting terkejut. Dilihatnya Penjara Bola Cinta yang sangat kuat telah lenyap, tersisa Abel Srikunti yang tumbang sambil membekap dada kirinya yang jebol bersimbah darah.


Tikam Ginting yang tidak melihat apa yang telah terjadi, segera memandang kepada Arda Handara yang berdiri terpaku dengan wajah tegang, seperti anak merasa bersalah. Di tangannya tergenggam ketapel Ki Ageng Naga.


Ratu Wilasin dan Bong Bong Dut juga menunjukkan wajah tegang seperti satu rasa satu nasib dengan Arda Handara. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bantu Like dan Komen Karya Baru Author!


__ADS_1


__ADS_2