Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 4: Syarat Menyerah


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)* 


 


Tidak lama setelah mendapat informasi rahasia dari Domba Hidung Merah dan telah ditunjuk siapa yang akan memimpin pasukan ke Kerajaan Baturaharja, Permaisuri Ginari dan Permaisuri Kerling Sukma harus mendengar pengarahan dari Permaisuri Getara Cinta.


Mereka hanya bertiga, tanpa kehadiran suami mereka dan permaisuri yang lain.


“Keberadaan dua pengkhianat di dalam Istana Baturaharja jelas seperti memelihara harimau lapar di dalam selimut. Jika mereka bisa hidup nyaman di dalam Istana, berarti Prabu Banggarin tidak tahu bahwa dua orang perwiranya adalah pengkhianat. Hanya Ratu Wilasin yang tahu siapa pengkhianat itu, tapi dia tidak sempat untuk memberi tahu kepada kakeknya karena nyawanya terancam,” kata Permaisuri Getara Cinta kepada kedua madunya yang lebih muda.


“Apa yang harus kami lakukan, Kakak Permaisuri?” tanya Permaisuri Kerling Sukma.


“Kalian bisa membayangkan sosok Prabu Banggarin yang sedang duduk di tahtanya, tetapi ada dua pengawal di belakangnya yang siap menikam sewaktu-waktu. Sebelum itu terjadi, kalian harus menempatkan Prabu Banggarin di tempat yang aman dengan cara menjemputnya secara paksa. Kalian harus membuat Prabu Banggarin jauh dari semua orang di sekitarnya dengan menjadikannya penjahat, sehingga kalian punya dalih untuk menangkapnya. Setelah Prabu Banggarin ada di tangan kalian, maka perintahkan semua pejabat Baturaharja menyerah. Yang melawan, tundukkan. Yang menyerah, periksa ulang,” tutur Permaisuri Getara Cinta.


Ia pun melanjutkan arahannya.


“Kedua pengkhianat itu pastinya selalu bersikap waspada dan pastinya juga mereka memiliki telik sandi atau tuan yang berkedudukan lebih tinggi. Agar rencana kita tidak mereka ketahui, masuki wilayah Baturaharja tanpa pemberitahuan lebih dulu. Pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan kita pastinya akan membuat marah Prabu Banggarin. Meski dia adalah raja binaan, tetapi sebagai seorang raja dia mungkin masih memiliki kehormatan dan harga diri. Jika Prabu Banggarin marah, dia pasti akan mengirim pasukan untuk menghadang kita ….”


“Maaf, Kakak Permaisuri. Bagaimana jika Prabu Banggarin tidak terpancing dan tidak menjunjung tinggi harga dirinya?” tanya Permaisuri Ginari memotong arahan Permaisuri Getara Cinta.


“Itu akan lebih baik. Itu artinya akan lebih mudah mengajak Prabu Banggarin untuk diamankan,” jawab Permaisuri Getara Cinta.


“Bagaimana jika pengkhianat itu lebih dulu membunuh Prabu Banggarin sebelum kami tiba di Jayamata?” tanya Permaisuri Kerling Sukma.


“Jika para pengkhianat itu sudah mendengar pasukan Sanggana Kecil memasuki wilayah Baturaharja, mereka tidak akan berani membunuh Prabu Banggarin, sebab mereka membutuhkan seorang pemimpin untuk menghadapi pasukan kita. Membunuh Prabu Banggarin sama saja membunuh pemimpin,” tandas Permaisuri Getara Cinta yang juga merangkap Menteri Perang.


Itulah penggalan arahan dari Menteri Perang Kerajaan Sanggana Kecil kepada kedua permaisuri, yang kini memimpin Pasukan Ular Gunung mengepung benteng Istana Baturaharja.


Menghadapi penolakan Prabu Banggarin untuk menyerahkan diri, Permaisuri Kerling Sukma perlu mengeluarkan hewan peliharaannya.

__ADS_1


Zersss!


Tiba-tiba dari dalam tubuh Permaisuri Kerling Sukma melesat keluar sinar kuning besar berwujud ular raksasa, tetapi dia bersayap seperti sayap kalong besar.


Makhluk itu terbang tinggi mengudara. Semua mata memerhatikan dengan keterpukauan dan rasa was-was bagi pasukan Baturaharja. Selanjutnya ular sinar raksasa itu terbang menukik turun kembali.


Permaisuri Kerling Sukma lalu melejit naik ke udara yang kemudian tubuhnya disambar oleh punggung ular sinar kuning bersayap.


Ular sinar itu terbang menuju ke depan dinding benteng Istana, tepatnya ke depan Prabu Banggarin yang berdiri didampingi oleh Panglima Dendeng Boyo, Komandan Bengal Banok, dan beberapa pejabat Kerajaan yang turut turun untuk berperang.


Ular sinar itu melayang tidak bergeser lagi dari posisi terbangnya. Sementara Permaisuri Kerling Sukma berdiri di atas kepala ular sinarnya yang menyeramkan, yang bisa saja sewaktu-waktu melesat mencaplok salah satu dari orang yang berdiri di atas benteng.


“Gusti Prabu Banggarin, jangan lupakan bahwa Gusti berada di tahta kembali karena pemberian dari Gusti Prabu Dira. Apakah Gusti memang ingin tahta itu diambil kembali oleh Gusti Prabu Dira? Apakah Gusti lebih memilih tenggelam dalam darah bersama-sama dengan para prajurit?” Permaisuri Kerling Sukma memberondong Prabu Banggarin dengan beberapa pertanyaan yang menyudutkan. Kali ini dia tidak menyisipkan tenaga dalam pada bicaranya.


Prabu Banggarin terdiam dengan tatapan tajam kepada sang permaisuri. Dalam masa loading itu, otak tua Prabu Banggarin berpikir.


“Jika Gusti Prabu bersedia menyerahkan diri, maka kami akan menjamin tahta tetap ada di tangan Gusti Ratu Wilasin,” tambah Permaisuri Kerling Sukma yang sebenarnya bermaksud memberi tanda.


“Aku akan menyerah, tetapi melalui pertarungan!” kata Prabu Banggarin. Nada suaranya menunjukkan bahwa dia sudah tidak dikuasai oleh amarahnya lagi.


“Baik, syarat Gusti Prabu kami terima. Gusti Prabu akan bertarung melawan Permaisuri Tangan Peri,” kata Permaisuri Kerling Sukma memutuskan.


“Namun, jika aku yang menang, Gusti Permaisuri harus membawa pulang pasukan ke Sanggana Kecil,” kata Prabu Banggarin lagi.


“Baik. Aku akan kembali bersama pasukanku jika Gusti Prabu bisa menundukkan Permaisuri Tangan Peri,” kata Permaisuri Kerling Sukma.


Setelah sepakat, Permaisuri Kerling Sukma memutarbalikkan ular sinar kuningnya terbang kembali ke arah pasukan Sanggana Kecil.


Saat mendekati pasukannya, ular sinar kuning ambyar mengurai lalu masuk kembali ke dalam tubuh Permaisuri Mata Hijau yang melayang turun ke punggung kudanya.

__ADS_1


“Prabu Banggarin menantang bertarung sebagai syarat untuk menahannya,” ujar Permaisuri Kerling Sukma kepada Permaisuri Ginari. “Aku percayakan kepada Kakak Permaisuri.”


Permaisuri Ginari hanya mengangguk.


Sementara itu di atas benteng.


“Mohon ampun, Gusti Prabu,” ucap Komandan Bengal Banok. “Jika Gusti memilih untuk bertarung dengan permaisuri Sanggana Kecil, kemungkinan besar Gusti akan kalah dan Istana akan dikuasai. Jika memang ada harta penting kerajaan yang harus dilindungi, lebih baik Gusti berikan perintah kepadaku agar aku menyelamatkan harta-harta itu sebelum Istana menjadi kacau.”


Perkataan Bengal Banok itu membuat Panglima Dendeng Boyo menatap curiga kepada Komandan Pasukan Pengawal Prabu itu.


“Tidak perlu,” kata Prabu Banggarin menjawab pengajuan diri Bengal Banok.


Jawaban Prabu Banggarin itu mengecewakan Bengal Banok. Namun, komandan itu tidak bisa membantah atau mengotot.


“Kurang ajar, rupanya benar apa yang dikatakan Gusti Penasihat,” batin Panglima Dendeng Boyo. “Apakah Gusti Prabu Dira sudah mendapat berita telik sandi tentang siapa pengkhianat di istana ini?”


Sing!


Prabu Banggarin lalu berbalik pergi. Ia pergi turun dari atas benteng.


Sementara itu Permaisuri Ginari yang sedang haus pertarungan tingkat tinggi, harus menunggu.


Hingga akhirnya, pintu gerbang benteng Istana dibuka. Belum juga pintu kayu tebal itu terbuka lebar, seekor kuda sudah melesat keluar. Kuda itu ditunggangi oleh Prabu Banggarin menuju ke tengah tanah lapang di depan benteng.


Melihat keluarnya Prabu Banggarin, Permaisuri Ginari lalu menggebah kudanya pula.


Dua orang sakti pun melesat bersama kudanya menuju titik pertemuan.


Prabu Banggarin memegang tali kendali kuda dengan tangan kirinya yang berkuku panjang dan tajam. Tangan kanannya lalu mencabut keris yang terselip di pinggang belakangnya. Keris bagus itu langsung bersinar hijau berpijar.

__ADS_1


Clap!


Ketika jarak temu tinggal beberapa tombak lagi, tiba-tiba Permaisuri Ginari menghilang dari punggung kudanya. Hal itu membuat Prabu Banggarin cepat bersiaga. (RH)


__ADS_2