Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 6: Perintah Prabu Banggarin


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*


Hilangnya Ratu Kerajaan Baturaharja segera menggegerkan lingkungan Istana dan para pejabat.


Setelah menahan para dayang yang sehari-harinya melayani sang ratu, Prabu Banggarin segera mengumpulkan sejumlah pejabat terkait. Mereka di antaranya adalah Mahapatih Duri Manggala, Senopati Beling Tuwak, Penasihat Kerajaan Ranggasewa, Kepala Keamanan Istana Panglima Dendeng Boyo, dan Komandan Pasukan Pengawal Ratu.


Sementara Komandan Pengawal Prabu hanya bersifat mendampingi Prabu Banggarin.


Sekedar informasi, Prabu Banggarin telah menyerahkan kekuasaan Kerajaan Baturaharja kepada cucunya, Putri Wilasin, sejak lima tahun yang lalu. Maka jadilah Putri Wilasin sebagai seorang ratu yang berkarakter setengah kekanakan, tetapi di bawah pendampingan Penasihat Kerajaan dan Mahapatih Duri Manggala, serta di bawah pengawasan Prabu Banggarin.


Di pendapa Istana, Prabu Banggarin duduk di singgasana yang biasa diduduki oleh Ratu Wilasin. Sementara para pejabat itu duduk di kursi-kursi kotak tanpa memiliki sandaran punggung. Posisi duduk mereka pun jauh lebih rendah dari tahta yang lebih tinggi sepuluh anak tangga.


“Aku tidak mau keturunanku satu-satunya itu mengalami kematian. Aku perintahkan Pasukan Pengawal Ratu untuk melakukan pencarian sampai Gusti Ratu ditemukan. Dan Senopati Beling Tuwak, kerahkan semua pasukan untuk melakukan pencarian ke seluruh wilayah kekuasaan Baturaharja!” perintah Prabu Banggarin.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Komandan Kumbang Draga dan Senopati Beling Tuwak patuh.


Senopati Beling Tuwak adalah seorang lelaki separuh baya yang memiliki perawakan tubuh tidak terlalu berotot, bahkan sedikit berlemak. Ia memelihara cambang yang menyambung dengan jenggot dombanya, tanpa kumis. Ia menyandang dua senjata, yakni keris di pinggang belakang dan sebatang seruling kecil yang memiliki tempat menyelip di lengan kanan. Ia adalah mantan seorang pendekar dari Kerajaan Balilitan, yang atas kuasa Raja Kerajaan Sanggana Kecil, dia diekspor ke Baturaharja untuk posisi senopati.


“Aku minta Mahapatih juga mengirim surat kepada seluruh tingkat pemimpin di semua kadipaten, agar turut mengamankan Gusti Ratu jika mendapati Gusti Ratu ada di wilayah mereka!” kata Prabu Banggarin lagi.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Duri Manggala.


Sang mahapatih adalah sosok lelaki berotot yang usianya separuh abad lebih tujuh tahun. Ia memelihara kumis tebal. Berpakaian warna putih campur kuning emas, ia menyandang keris bagus di belakang pinggangnya.


Mahapatih Duri Manggala memiliki sejarah pemberontakan di kerajaan itu. Namun kemudian, dia bertobat dan mendapat perlindungan dari Kerajaan Sanggana Kecil. Awalnya Prabu Banggarin menolak Duri Manggala yang sebelumnya menjabat sebagai senopati, tapi kemudian diampuni setelah Prabu Dira Pratakarsa Diwana memberi jaminan kepada Prabu Banggarin.

__ADS_1


Seperti itulah kisah singkat tentang Mahapatih Duri Manggala.


Ketika Prabu Banggarin kembali mengambil haknya atas tahta Kerajaan Baturaharja, Istana memang kekurangan SDM untuk diamanahkan jabatan-jabatan penting. Beberapa pejabat adalah rekomendasi dari Prabu Dira.


“Aku masih bertanya-tanya, apakah ini benar-benar ada musuh di dalam selimut atau Gusti Ratu yang memang ingin meninggalkan Istana,” ujar Prabu Banggarin.


“Jika Gusti Ratu hanya ingin meninggalkan Istana, hamba pikir Nyai Kisut pasti akan mendampingi Gusti Ratu. Namun, sangat mengherankan jika Nyai Kisut tidak memberikan laporan kepadaku dan Panglima Dendeng Boyo, kecuali dia memang telah menculik Gusti Ratu,” kata Kumbang Draga.


“Izinkan hamba berpendapat, Gusti Prabu,” ujar Penasihat Ranggasewa.


Ranggasewa adalah sosok lelaki sepuh yang sudah berusia lebih 90 tahun, tetapi ia masih terlihat bugar dengan wajah yang putih bersih, meski tidak seputih rambut dan jenggotnya yang tumbuh rapi. Lelaki yang sudah pasti tua itu mengenakan pakaian warna biru muda, setidaknya masih ada yang muda pada dirinya. Rambutnya digelung di atas kepala dan dibalut oleh selingkar ring warna emas.


Penasihat Ranggasewa adalah mantan pendekar tua yang terkenal dengan gelar Setan Genggam Jiwa. Dia merupakan guru dari Permaisuri Ginari di Kerajaan Sanggana Kecil. Hanya saja, kemalangan menimpa dirinya sepuluh tahun yang lalu, menyebabkan seluruh kesaktiannya musnah. Namun, pantang putus asa ada pada dirinya. Setelah itu dia merakit lagi kesaktiannya dari nol. Kini, meski tidak sesakti dulu, setidaknya Ranggasewa sudah memiliki kesaktian lagi.


“Silakan, Penasihat,” jawab Prabu Banggarin.


Mendengar masukan Ranggasewa, Prabu Banggarin manggut-manggut.


“Aku sangat yakin, Gusti Ratu sedang berada di alam bebas. Namun, yang aku khawatirkan, ada pihak yang sedang memburunya. Jika ada yang ingin menyakitinya, itu berarti orang tersebut ada di dalam Istana,” kata Prabu Banggarin.


Bengal Banok dan Kumbang Draga diam-diam agak terkejut hatinya, ketika mendengar kata-kata Prabu Banggarin.


“Siapa pun orang itu, bahkan jika itu dirimu, Mahapatih, aku tidak akan mengampuninya!” desis sang prabu mengancam, membuat sang mahapatih terbeliak samar.


“Tentunya demikian jika hamba terbukti bersalah, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Duri Manggala sambil menjura hormat. Dia merasa harus bersabar jika memang menjadi orang yang dicurigai, karena memang dirinya ada sejarah perseteruan kelam dengan Prabu Banggarin.

__ADS_1


Mendengar sinyal kecurigaan sang prabu kepada Mahapatih, Komandan Bengal Banok dan Kumbang Draga sedikit terhibur.


“Panglima Dendeng Boyo, sebelum hilangnya Gusti Ratu, apakah kau tidak melihat hal mencurigakan di lingkungan Istana, terutama di area kaputren?” tanya Prabu Banggarin.


“Mohon ampun, Gusti, hamba tidak mendapatkan laporan yang aneh-aneh atau mencurigakan dari orang-orang hamba. Semua laporan yang masuk kepada hamba normal adanya,” jawab Dendeng Boyo.


Panglima Dendeng Boyo adalah sosok lelaki tinggi berbadan besar. Dia besar berotot, bukan besar berlemak. Usianya terbilang muda, enam tahun lebih muda dari separuh abad. Badan berotot besar membuatnya betah tidak berbaju. Tidak ada senjata yang dibawanya. Hal itu karena kesaktiannya ada pada kedua tangannya.


“Baiklah, aku rasa cukup untuk pertemuan ini. Langsung laksanakan tugas kalian masing-masing. Setiap ada berita tentang cucuku, cepat kirim ke Istana!” perintah Prabu Banggarin.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap para pejabat penting tersebut sambil menjura hormat dengan dalam.


Setelah itu, mereka semua beringsut mundur sejauh sepuluh kaki, kemudian bangkit berdiri dan berbalik pergi.


“Aku ingin berbicara berdua denganmu, Penasihat,” ujar Prabu Banggarin sambil tangannya memberi kode kepada Komandan Bengal Banok.


Tanpa berkata lagi, Bengal Banok melangkah pergi yang diikuti oleh beberapa anak buahnya. Sementara Ranggasewa bertahan di pendapa itu.


Para prajurit jaga juga diperintahkan pergi menjauh, sehingga di pusat pendapa itu tinggallah dua orang tua tersebut.


“Menurut Penasihat, apakah mungkin Gusti Ratu pergi meninggalkan Istana tanpa ada perkara berbahaya yang mengancam dirinya? Sebab, aku menduga kuat cucuku itu pergi lewat jalan rahasia yang tidak diketahui oleh para dayang dan pengawalnya, termasuk Nyai Kisut,” tanya Prabu Banggarin.


“Sejauh ini, hamba menilai Gusti Ratu sangat bahagia berada di lingkungan Istana, bahkan ketika menghadapi para pejabat. Jika Gusti Ratu hanya sekedar pergi tapi tanpa berpamitan lebih dulu, itu jauh dari kata mungkin. Hamba memang lebih sepakat karena ada ancaman dari seseorang,” jawab Ranggasewa.


“Jika ada yang mengancam, lalu apa tujuannya? Apakah ingin merebut tahta?” tanya Prabu Banggarin lagi.

__ADS_1


“Kita semua mungkin sepakat bahwa Gusti Ratu adalah penguasa yang mudah untuk direbut kekuasaannya, karena ketidaksempurnaan pikirannya. Namun, semua musuh juga pasti tahu risiko jika berhasil merebut tahta, mereka tidak akan selamat karena harus berhadapan dengan orang-orang sakti Kerajaan Sanggana Kecil. Justru akan menjadi perkara bunuh diri jika ada pemberontak yang memaksa untuk memberontak. Jika memang ada pemberontak, aku menduga kuat yang diincar bukan kekuasaan, tetapi sesuatu sangat berharga yang dimiliki oleh kerajaan ini,” tutur Ranggasewa.


“Sesuatu yang sangat berharga yang pastinya hanya diketahui oleh cucuku,” ucap Prabu Banggarin lirih. Ia membenarkan pandangan penasihatnya. (RH)


__ADS_2