
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Semasuknya ke dalam kamar, Adipati Kuritan lalu mengambil sebungkus kain kecil dari balik pakaiannya. Ia buka bungkusan itu yang ternyata berisi bungkusan daun pisang muda. Di dalam bungkusan itu ada beberapa pil kecil-kecil berwarna hijau.
Melihat apa yang dilakukan oleh suaminya, Curiasa pergi ke pintu kamar yang belum ditutup. Di luar ada dua orang prajurit yang berjaga.
“Kalian berdua pergilah beristirahat!” perintah Curiasa kepada kedua prajurit itu.
“Baik, Gusti,” ucap keduanya sambil menjura hormat.
Curiasa tahu, jika suaminya sudah makan Pil Pendobrak Mahkota, itu artinya sejak tadi birahinya sedang menuntut. Dan Curiasa tahu bahwa bukan dirinya yang memancing birahi suaminya muncul, tetapi wanita cantik yang sempat dilihat dan tanyakan kepada Ketua Dua.
Adipati Kuritan adalah lelaki yang tidak bisa menahan-nahan gairah jika hasratnya sedang berkobar. Jika wanita yang dimaksud belum bisa digagahi, harus ada pelampiasan awal lebih dulu, yaitu istrinya.
Agar Adipati Kuritan bisa berkuda sebanyak dua hingga empat kali dalam waktu berdekatan dengan kondisi jagonya tetap prima, ia harus makan Pil Pendobrak Mahkota.
Maka, tidak sampai sepuluh hitungan, obat kuat yang dimakan sang adipati langsung bereaksi. Gairahnya langsung naik ke ubun-ubun dan meledak-ledak di sekitar bawah perut.
Adipati Kuritan langsung menyergap tubuh istrinya yang baru saja menutup pintu, tapi pintunya belum sempat dikunci. Dengan agresif dan tidak sabaran, Adipati Kuritan langsung menyosorkan bibir dan menjadikan lidahnya kuas asmara. Tangannya dengan kasar melucuti pakaian istrinya. Tidak apa-apa, istri sendiri kok.
Dalam waktu singkat, Curiasa sudah polos, dalam artian tanpa pakaian lagi. Pakaiannya tergeletak menumpuk di dekat pintu.
Mau tidak mau, Curiasa harus mengimbangi, jika tidak ingin membuat suaminya murka. Ia pun harus berperan aktif untuk melucuti pakaian suaminya juga. Tidak masalah, suami sendiri kok.
Setelah bergelut dalam kondisi berdiri, saling serang tanpa ada pertahanan, keduanya kemudian beralih ke ranjang berkasur empuk. Biasanya, jika dipengaruhi obat, Adipati Kuritan akan main sprint. Biasanya juga, Curiasa mau tidak mau harus menerima saja eksekusi suaminya itu, meski dalam hati ia menilai suaminya egois.
Pada akhirnya, adegan berpacu dalam asmara pun terjadi hebat di atas ranjang.
“Kita harus tangkap Brojol, Suling! Larimu jangan lambat seperti kuda!”
Deg!
Terkejut jantung Adipati Kuritan dan istrinya saat mendengar suara teriakan seorang anak laki-laki tidak jauh di luar kamar. Keterkejutan itu membuat Adipati Kuritan terdiam mematung, yang otomatis genjotannya pun terhenti.
Kedua insan itu saling pandang dalam kebisuan. Jika Curiasa diam menelisik dengan pendengarannya, maka suaminya sudah terlihat memerah wajahnya karena memendam kemarahan.
Dak dak dak …!
Terdengar suara lari kaki-kaki kecil di lantai papan yang dengan cepat mendekati posisi kamar.
__ADS_1
“Cepat, Arda! Brojol masuk ke kamar!” teriak suara anak perempuan dengan kencang seperti orang panik.
Memang pada saat itu, seekor bajing yang bernama Brojol, tahu-tahu masuk ke dalam kamar tempat Adipati Kuritan dan Curiasa sedang menyatu tanpa penutup. Itu memang gaya Adipati Kuritan yang tidak suka ada penghalang di saat dia sedang berlayar di atas ranjang.
Brojol masuk ke dalam kamar lewat celah di bawah daun pintu.
Adipati Kuritan dan Curiasa sontak menengok melihat pergerakan binatang berekor dan berambut itu. Keduanya terkejut.
Bdak!
Adipati Kuritan dan Curiasa kian terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar mereka didobrak oleh seorang anak lelaki yang berlari masuk begitu saja.
“Jiaaak!” jerit si anak lelaki yang mau tanpa menolak harus menyaksikan pose adegan dewasa di atas ranjang.
Anak itu sudah pasti adalah Arda Handara. Asli dia terkejut, bukan pura-pura terkejut. Untung saat itu belum ada undang-undang pornografi atau antipornografi.
Untuk sejenak, pasangan yang bukan gancet di atas ranjang itu terpaku. Malu dan marah kawin jadi satu. Jika Curiasa lebih banyak malunya, maka Adipati Kuritan lebih banyak marahnya.
“Di mana Brojol? Di mana Brojol?” teriak Sulin Mamas bertanya sambil berlari masuk pula ke dalam kamar. Dia pun akhirnya menjerit heboh, “Waaak! Monyet bugiiil!”
Melihat wajah Adipati Kuritan tampak begitu menyeramkan, Arda Handara segera bertindak.
“Anak-anak keparaaat!” maki Adipati Kuritan berteriak keras sambil mengibaskan tangan kanannya.
West! Brak!
Satu angin keras menderu menyerang Arda Handara yang berhasil mendorong Sulin Mamas ke luar kamar.
Arda Handara yang sudah bersiaga, cepat berlari kabur menghindari angin pukulan yang bisa saja mencelakakannya.
Arda Handara selamat dan berhasil keluar. Sementara angin hanya menghantam sudut kamar yang menghancurkan sebuah kursi tanpa meja.
Kedua anak itu langsung berlari menjauhi kamar membawa perasaan berdebar mereka.
Meski marah luar biasa dan ingin menghukum kedua bocah itu, Adipati Kuritan tetap sadar diri. Ia tidak mungkin mengejar kedua anak itu dalam kondisi tanpa pakaian. Apalagi tujuannya yang nyaris tercapai harus dipanaskan kembali.
“Arda, apa yang kau lakukan tadi?” tanya Sulin Mamas terengah-engah dengan wajah panik. Keduanya berhenti di tempat yang aman, di kolong lantai pendapa yang tingginya hanya sebahu mereka.
“Bukan aku, tapi Brojol yang asal masuk tidak ketuk pintu,” bantah Arda Handara yang juga terengah-engah karena mereka berlari sangat kencang meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
“Sepertinya kita akan mendapat hukuman berat jika dilaporkan,” kata Sulin Mamas. “Tapi, tadi itu mereka sedang apa?”
“Sedang mandi,” jawab Arda Handara asal.
“Memang ada mandi di atas ranjang?” tanya Sulin Mamas lugu. Sepertinya dia belum pernah memergoki ayah ibunya berproses membuat anak. Mungkin juga terakhir kali ayah ibunya berlayar di atas ranjang ketika dia dibuat.
“Hahahak!” tawa Arda Handara.
“Husy, jangan keras-keras, nanti kita ketahuan!” hardik Sulin Mamas.
“Apakah kau tidak pernah melihat ayah ibumu telanjang berdua seperti itu?” tanya Arda Handara sambil tersenyum seperti anak mesum.
“Tidak,” jawab Sulin Mamas serius, tanpa kesan berdusta.
“Ah, kau kurang beruntung, Suling. Aku pernah melihat ibunda dan ayahandaku seperti itu ….”
“Lalu?” tanya Sulin Mamas memotong, sepertinya dia sangat penasaran.
“Aku hanya dinasihati. Kata Ibunda, aku tidak boleh mengintip jika Ibunda dan Ayahanda sedang bersama di dalam kamar. Kata Ibunda, seperti itulah caranya sehingga aku bisa tercipta di dalam perut Ibunda,” jelas Arda Handara.
“Membuat anak-anakan?” terka Sulin Mamas agak kencang.
“Hahaha! Pintar kau, Suling. Orang itu pasti sedang buat anak. Tapi kita tidak salah, kita tidak mengintip, tapi masuk langsung,” kata Arda Handara.
“Hihihi!” tawa Sulin Mamas. “Arda, kau mau buat anak denganku?”
“Sembarangan kau, Suling. Lihat perutmu sebesar apa. Tidak mungkin bayi muat di dalam perutmu. Hahaha!” kata Arda Handara. “Lagipula, kata Ibunda, itu hanya boleh dilakukan oleh orang besar yang sudah menikah, bukan anak kecil. Hahaha!”
“Masih lama,” ucap Sulin Mamas kecewa.
“Hahaha!” Arda Handara masih saja menertawai gadis cantik kurus itu.
“Eh, di mana Brojol?” tanya Sulin Mamas.
“Tadi waktu di kamar, Brojol naik ke atas, lalu lari ke luar lewat atap,” jawab Arda Handara.
“Ayo kita cari lagi, nanti dia tersesat,” kata Sulin Mamas.
Mereka lalu berjalan membungkuk keluar dari kolong pendapa. Tidak lupa mereka tengak-tengok lebih dulu, khawatir tahu-tahu dua orang bugil di kamar tadi muncul mengejar mereka. (RH)
__ADS_1