Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 4: Meninggalkan Sanggana Kecil


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


Hari ini, Kadipaten Jalur Bukit benar-benar berpesta besar-besaran karena keluarga besar Adipati Siluman Merah melaksanakan dua pesta pernikahan sekaligus, yakni pernikahan Genap Seribu dengan Munik Segilir dan Bajigur dengan Adem Semilir.


Memang bagi kedua pasangan pengantin, mereka merasa nano-nano karena menikahi orang yang tidak mereka cintai. Namun, bagi keluarga besar dan warga kadipaten, mereka masa bodoh dengan perkawinan silang kali tambah itu, yang terpenting mereka menikmati kebahagiaan dan lezatnya hidangan, apalagi pada masa itu tidak pakai budaya kado atau aplop tempel.


Namun, pesta sang adipati ternyata tidak bisa mencegah Permaisuri Dewi Ara dan rombongan melanjutkan perjalanan pada pagi itu juga.


Adipati Siluman Merah hanya bisa menitipkan bekal makanan enak bagi sang permaisuri dan rombongan.


Rombongan masih dengan lima kuda dewasa dan satu kuda anak pembawa perbekalan yang tidak begitu berat.


Pangeran Arda Handara memilih duduk di belakang punggung ibunya dengan posisi hadap yang terbalik. Ia menghadap ke belakang sambil bermain dengan binatang piaraannya yang baru, yaitu seekor bajing yang bernama Brojol.


Brojol ditempatkan pada sebuah sangkar burung baru yang diberikan oleh Adipati Siluman Merah. Di situ dia aktif bertingkah semau dia, tengak-tengok, jumpalitan, garuk-garuk, hingga pup. Uniknya, Brojol bisa hidup rukun bersama uyut-uyut di dalam sangkar yang sama. Rupanya Brojol tidak selera terhadap ulat bulu gatal Arda Handara atau mungkin karena alasan perikehewanan. Brojol lebih suka menggerogoti daging kelapa tua daripada daging kelapa muda, mungkin karena lebih banyak santannya.


“Paman Bewe!” panggil Arda Handara kepada Pangeran Bewe Sereng yang saat itu berjalan di belakang kuda sang permaisuri. Karena Arda Handara duduk terbalik, ototmatis dia menghadap kepada lelaki yang di dahinya ada bulu burung.


“Iya, Nak?” sahut Bewe Sereng.


“Brojol ini lelaki atau wanita, Paman?” tanya Arda Handara.


“Apakah kau sudah lihat saluran kencingnya?” tanya balik Bewe Sereng.


“Seperti punya Paman?” tanya balik Arda Handara.


“Hahaha!” tawa Bewe Sereng, Setya Gogol, Tikam Ginting dan Lentera Pyar.


Sementara Dewi Ara tidak bereaksi.


“Bukan seperti punya Paman, tetapi seperti punyamu,” bantah Bewe Sereng kemudian.


“Oh, beda ya, Paman,” ucap Arda Handara lugu. “Nanti saja aku lihat.”


Saat itu mereka melarikan kuda biasa saja, seolah perjalanan mereka tidak begitu mendesak.

__ADS_1


Arda Handara memasukkan sepotong daging kelapa yang sudah ditusuk menggunakan lidi. Brojol segera menggerogotinya menggunakan gigi khasnya yang kuat.


“Brojol, kau harus hidup rukun dengan Uyut-Uyut, jangan sampai rumah tangga kalian tidak bahagia. Jika kau sudah siap menikah dengan Uyut-Uyut, lapor kepadaku,” kata Arda Handara kepada Brojol yang hanya memandanginya sesekali.


“Bagaimana bisa menikah jika belum ketahuan siapa yang lelaki dan siapa yang wanita?” sahut Setya Gogol.


“Kalau Uyut-Uyut, dia wanita,” kata Arda Handara.


“Kau bisa tahu, Arda?” tanya Tikam Ginting tidak percaya.


“Hahahak! Pasti aku tahu,” jawab Arda Handara jumawa dengan tawanya.


Perjalanan pelan itu membuat rombongan Permaisuri Dewi Ara membutuhkan waktu setengah hari untuk tiba di Gerbang Perbatasan Utara.


Sebuah dinding batu nan tinggi dan tebal berdiri menjadi penutup jalan yang kedua ujungnya menghubungkan dua tebing batu yang berjarak lebih seratus tombak. Tinggi dinding mungkin setinggi empat kali pohon pinang.


Ada sebuah gerbang besar yang terbuka separuh daun pintu, tapi masih dapat dilewati tiga kereta kuda secara bersamaan. Di sana ada banyak prajurit dan ada sejenis benteng kecil dari batu yang menjadi basis Pasukan Penjaga Perbatasan.


Pasukan Penjaga Perbatasan di Gerbang Perbatasan Utara dipimpin oleh seorang perwiratama yang setingkat lebih tinggi dari pangkat perwira. Perwiratama itu bernama Ubuk To Lo Na.


“Apa?! Gusti Permaisuri Geger Jagad?” kejut Perwiratamaa Ubuk To Lo Na saat diberi tahu tentang kedatangan sang permaisuri yang ingin melintas. Lalu perintahnya kepada anak buahnya, “Bunyikan tanduk kerbau!”


“Baik, Perwira!” ucap si prajurit lantang.


Prajurit yang diperintahkan segera berlari naik ke sebuah menara kayu yang tidak begitu tinggi, hanya saja lebih tinggi dari atap rumah. Si prajurit meraih satu dari tiga terompet jenis tanduk yang digantung. Tiga terompet itu terbuat dari tanduk kerbau, tanduk domba dan tanduk sapi.


Fuuuut!


Terdengarlah suara tiupan terompet tanduk kerbau.


Mendengar suara terompet itu, semua prajurit segera bergerak berlari, dari prajurit yang sedang bertugas hingga prajurit yang sedang istirahat atau di kakus, mereka segera berlari.


Ujung-ujungnya, semua prajurit berderet berbaris menyamping dengan rapi.


Pada saat itu, rombongan Dewi Ara sudah muncul di kejauhan dan bisa melihat kesibukan yang terjadi di depan barak prajurit perbatasan.

__ADS_1


“Hormaaaat, kepada Permaisuri Geger Jagad!” teriak Perwiratama Ubuk To Lo Na lantang laksana komandan upacara 17 Agustus, ketika rombongan permaisuri sudah tiba di depan pasukan yang jumlahnya sebanyak beberapa ratus prajurit.


“Hormat sembah kami, Gusti Permaisuri Geger Jagad!” seru ratusan prajurit itu lantang sambil turun berlutut satu kaki.


Rombongan Dewi Ara menghentikan langkah kudanya.


“Siapa yang memimpin di sini?” tanya Dewi Ara dingin penuh wibawa dari atas kudanya.


“Hamba, Gusti Permaisuri!” sahut Ubuk To Lo Na lantang. “Hamba Perwiratama Ubuk To Lo Na!”


“Apakah sejauh ini ada kelemahan di Gerbang Perbatasan Utara ini?” tanya Dewi Ara untuk sekedar basabasi.


“Ada, Gusti Permaisuri. Jika penyusup yang masuk melewati tembok perbatasan seorang pendekar sakti, kami kesulitan untuk menangkapnya. Kami butuh panah besar jarak jauh beberapa buah!” seru Ubuk To Lo Na lantang.


“Kirim surat pengajuan ke Istana. Cantumkan namaku sebagai orang yang memberi perintah pengajuan!” perintah Dewi Ara.


“Baik, Gusti Permaisuri!” pekik Ubuk To Lo Na, tapi dalam hatinya gembira karena satu permasalahan di tembok perbatasan akan teratasi.


“Bangunlah kalian semua!” perintah Dewi Ara.


Pasukan itupun segera bangkit dengan perasaan senang, karena mereka bisa melihat satu tampilan kejelitaan seorang permaisuri yang begitu mewah, meski dalam tampilan seperti pendekar biasa.


“Bekerjalah sesuai tugas kalian!” pesan Dewi Ara kepada pasukan perbatasan itu.


“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap pasukan itu serentak.


Setelah memberi pesan singkat kepada Pasukan Penjaga Perbatasan, Dewi Ara lalu menjalankan kudanya meninggalkan pasukan itu dan langsung menuju ke pintu gerbang dinding perbatasan. Sementara Pangeran Arda Handara hanya tersenyum-senyum melihat para prajurit itu.


Pangeran Bewe Sereng, Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol segera menjalankan kudanya menyusul sang permaisuri.


“Buka gerbang lebar-lebaaar!” teriak Ubuk To Lo Na kepada prajurit pengatur pintu gerbang.


Beberapa orang yang sedang mengurus administrasi penyeberangannya, sementara ditahan dulu untuk membiarkan rombongan Permaisuri Dewi Ara melintas dengan nyaman.


Dan, setelah Dewi Ara dan rombongannya melewati Gerbang Perbatasan Utara, maka itu berarti mereka telah meninggalkan wilayah Kerajaan Sanggana Kecil dan masuk ke wilayah Kerajaan Baturaharja. (RH)

__ADS_1


__ADS_2