Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 13: Kesaktian Penjara Bola


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Kini tinggallah Pangeran Bangir Kukuh terpenjara seperti lagu “Tiara”. Sementara Lembing Girang dan para prajurit kebingungan harus berbuat apa.


Dewi Ara sudah pergi dari jalan itu dan mungkin sudah sampai di Kedai Ibu Ibu.


“Hiaaat!” teriak Pangeran Bangir Kukuh sambil menghantamkan tinjunya yang mengandung tenaga dalam tinggi.


Bung! Bdak!


Namun, dinding sinar abu-abu transparan itu sekeras baja, bahkan kekuatan tinju sang pangeran berbalik kepadanya sendiri. Pangeran Bangir Kukuh terjengkang.


Pangeran Bangir Kukuh bangkit dengan kemarahan yang sudah terlalu puncak. Jika diizinkan boleh terkentut-kentut, mungkin akan dia lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya benar-benar marah diperlakukan sehina itu di tengah-tengah publik dan di tengah jalan.


Sing!


Pangeran Bangir Kukuh lalu meloloskan pedang pendeknya.


“Hiaaat!” teriak sang pangeran sambil menyayat-nyayat dinding sinar seperti hatinya yang tersayat-sayat.


Namun, hanya percikan sinar abu-abu yanga tercipta dari setiap goresan tanpa membentuk gambar sedikit pun di dinding sinar itu.


“Lembing Girang! Bantu aku keluar!” teriak Pangeran Bangir Kukuh kesal bukan main.


“Iya!” sahut Lembing Girang.


Pemuda kurus itu lalu lebih mendekat kepada dinding luar penjara bola sinar tersebut.


“Ulurkan tanganmu, Pangeran!” suruh Lembing Girang sambil mengulurkan tangannya ke dekat sinar.


“Bodoh! Jika aku bisa mengulurkan tanganku ke luar, sejak tadi aku bebas!” maki Pangeran Bangir Kukuh yang kesal dengan kebodohan sahabatnya itu.


Sebenarnya Lembing Girang tidak bodoh, hanya belum tahu cara mengeluarkan sahabatnya itu. Sama seperti sang pangeran yang juga belum tahu cara keluar dari kurungan sinar itu.


“Ulurkan tanganmu ke dalam!” perintah Pangeran Bangir Kukuh.


“Ba-ba-baik, Pangeran,” jawab Lembing Girang tergagap.


Sebenarnya Lembing Girang tidak yakin bahwa tangannya bisa dimasukkan ke dalam sinar. Nyatanya, Pangeran Bangir Kukuh saja tidak sanggup keluar. Namun, sebagai wujud patuhnya, dia harus mencoba.


Lalu dengan pelan-pelan mengandung keraguan, Lembing Girang mengulurkan tangannya menyentuh dinding sisi luar bola sinar.


Sluf!


Ternyata, jari telunjuk Lembing Girang bisa masuk tanpa ada rasa hambatan. Mendapati kenyataan yang tidak pahit itu, maka dengan girang Lembing Girang memasukkan lagi tangannya lebih banyak hingga pergelangan.


Pangeran Bangir Kukuh sedikit gembira. Ia segera menggenggam tangan sahabatnya. Bukan maksud untuk berjabat tangan, tapi minta ditarik ke luar.


“Tarik, Lembing!” perintah sang pangeran sumringah, tapi tanpa senyum.

__ADS_1


Terkejut Lembing Girang saat ia menarik tangannya yang sudah memegang tangan Pangeran. Pasalnya, dia tidak bisa menarik tangannya ke luar sedikit pun. Namun, ketika dia mendorong sedikit, tangannya bisa maju, tetapi tidak bisa mundur sedikit pun.


“Apa gila!” maki Lembing Girang mendapati kenyataan pahit itu. Lalu katanya kepada sahabatnya, “Tidak bisa aku tarik ke luar, tapi bisa masuk.”


“Tidak berguna!” maki Pangeran Bangir Kukuh. “Tarik sekuat tenaga, Tolol! Bukankah kau punya tenaga dalam?”


Sebenarnya sakit hati Lembing Girang dimaki-maki seperti itu, di depan para prajurit. Juga di depan warga desa. Namun, bukan waktunya untuk gede ambek seperti gadis cantik merajuk, tetapi waktunya unjuk keperkasaan.


“Hiaaat!” teriak Lembing Girang sambil menarik tangannya dengan sekuat tenaga dalam.


Namun, jangankan menarik tangan Pangeran Bangir Kukuh, menarik tangan sendiri saja tidak sanggup.


Slep!


Karena tidak ada harapan untuk mundur lagi, akhirnya Pangeran Bangir Kukuh yang menarik tangan Lembing Girang ke dalam. Seperti tanpa ada dinding, tubuh Lembing Girang tertarik masuk ke dalam kurungan bola sinar itu.


“Hahahak!” Pangeran Bangir Kukuh justru tertawa terbahak karena Lembing Girang turut masuk bersamanya.


“Pangeran, apa yang kau lakukan? Aku jadi ikut terkurung bersamamu!” protes Lembing Girang.


“Dasar bodoh!” ledek Pangeran Bangir Kukuh sambil memukul pelan kepala Lembing Girang. “Dengan berdua, kita bisa bersama-sama mencoba menghancurkan sinar ini.”


Lembing Girang lalu berusaha mendobrak dinding sinar dengan dorongan lengannya, tapi tidak ada yang terdorong, seperti mendesak dinding baja yang kokoh, padahal itu hanya dinding sinar tipis yang juga transparan.


“Ayo kita coba,” kata Lembing Girang akhirnya sepakat dengan usulan sahabatnya.


Maka kedua sahabat kental itu segera mengerahkan ilmu tertingginya.


Pangeran Bangir Kukuh memunculkan sebuah sinar merah yang ia usap-usap seperti dukun mengusap bola kaca.


Sementara Lembing Girang memunculkan sinar biru tidak beraturan pada kedua tangannya, sama seperti hidupnya yang tidak beraturan.


“Satu, dua, tigaaa!”


Zuzzr! Bluar!


Fus fus! Fsos! Fsos!


“Akk!” jerit Pangeran Bangir Kukuh dengan tubuh terpental keras dan punggung menabrak dinding yang lain.


“Aak!” jerit Lembing Girang ketika tubuhnya juga terlempar ke dinding belakang, tetapi dia menghantam dengan badan depannya karena tubuhnya terpental terpelintir.


Sinar-sinar dari tenaga sakti yang mereka lepaskan, semua meledak ketika menghantam dinding sinar abu-abu. Namun, tenaga daya ledaknya menyebar menghantam pemiliknya sendiri.


Sambil mengerang kesakitan, keduanya bergerak bangun seperti orang yang menderita pegal-pegal.


Terlihat ada sealiran darah yang keluar dari sela bibir keduanya, menunjukkan bahwa mereka menderita luka dalam akibat kesaktian mereka sendiri. Bahkan hidung Lembing Girang mengucurkan darah.


“Aaa …! Uhhuk uhhuk!” teriak panjang Pangeran Bangir Kukuh kesal buka main, tapi berujung dengan batuk darah.

__ADS_1


“Kalian! Cepat lapor kepada Gusti Raja!” teriak Lembing Girang kepada para prajurit yang juga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Baik, Gusti!” jawab beberapa orang prajurit.


Beberapa prajurit itu lalu berkumpul saling menghadap untuk berunding.


“Hei, Prajurit-Prajurit Setan!” panggil Pangeran Bangir Kukuh kesal melihat tingkah para prajurit.


Kompak para prajurit itu menengok dengan wajah-wajah tidak berdayanya.


“Coba kalian bakar dinding sinar ini!” perintah Pangeran Bangir Kukuh.


“Baik, Gusti!” jawab mereka serentak.


Para prajurit itu lalu buru-buru bertindak dengan berlari ke sana ke mari, mengajak teman-temannya seperti orang bingung.


Ada dua prajurit yang pergi naik kuda. Sepertinya mereka yang bertugas untuk naik melapor ke Istana Puncak. Sementara sebagian lainnya membuat obor-obor.


Dua pemuda di dalam sudah menyerah berusaha, tinggallah para prajurit yang berusaha.


Setelah obor-obor dibuat dan api-api dinyalakan, mulailah para prajurit itu mencoba membakar dinding bola sinar raksasa itu.


Ketika mereka sedikit memasukkan ujung obor yang ada apinya, mereka hanya bisa mendorong obor, tapi tidak bisa menariknya lagi. Seperti membakar udara belaka, itulah yang terjadi.


“Tolooong! Tolooong! Tangankuuu!” teriak seorang prajurit panik bukan main karena tanpa sengaja tangannya masuk sepergelangan, tapi tidak bisa ditarik mundur.


Beberapa rekannya cepat mendatanginya dan memegangi berbagai anggota tubuhnya. Ada yang merangkul perut, ada yang memegangi kedua kaki, ada yang mencekal pundak, ada yang memegangi tangan, hingga sekedar memegangi tali kolor juga ada.


Bersama-sama mereka menarik tubuh rekan mereka.


“Aaak!” jerit si prajurit karena merasakan tangannya sakit seperti terjepit, tidak sedikit pun toleransi.


“Dorong saja!” kata satu orang di antara mereka.


Karena tidak bisa, akhirnya mereka sepakat mendorong tubuh rekannya ke dalam bola sinar.


Bduk!


Prajurit itu berhasil masuk dengan mudah, lalu jatuh terjerembab dan menjadi teman sepenjara kedua junjungannya.


Buk buk buk!


Tiba-tiba Pangeran Bangir Kukuh dan Lembing Girang memukuli si prajurit sebagai pelampiasan rasa marahnya.


“Bodoh! Tolol! Tidak berguna!” maki sang pangeran sambil memukuli si prajurit.


“Aak! Ak! Ampun, Gusti!” jerit si prajurit penuh iba dan kesakitan.


Sementara obor-obor yang bisa didorong tapi tidak bisa ditarik kembali, akhirnya didorong masuk saja dan jatuh di lantai bola begitu saja.

__ADS_1


“Dasar prajurit-prajurit tomat (tolol amat)!” maki sang pangeran tidak ada habis-habisnya. (RH)


__ADS_2