
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Akhirnya, warga ibu kota Jayamata dan warga luar bisa keluar masuk Ibu Kota. Orang-orang yang ingin masuk ke Ibu Kota harus tertahan selama sehari dua hari di luar wilayah Ibu Kota karena sedang terjadi peperangan atau huru-hara.
Setelah kondisi Istana Baturaharja sudah tenang dan Ibu Kota pun stabil kembali, akses masuk ke Ibu Kota kembali dibuka dengan dipasangnya pos pemeriksaan. Biasanya orang cukup bebas keluar masuk Ibu Kota tanpa pos pemeriksaan. Namun, usai penumpasan terhadap Pasukan Pengawal Prabu, keamanan Ibu Kota dibuat lebih ketat.
Salah satu orang yang ingin masuk ke dalam ibu kota Jayamata adalah seorang nenek tua berperawakan pendekar. Ia mengenakan jubah abu-abu bertongkat kayu biasa. Lucunya, mulut si nenek selalu bergerak mengenyot tanpa ada susu yang diisap. Nenek itu tidak lain adalah Kenyot Gaib.
“Nama Nenek siapa? Dan mau ke mana?” tanya prajurit di pos pemeriksaan.
“Sejak kemarin aku menunggu, tetapi kalian justru mempersulit kami dengan pemeriksaan ini!” omel Kenyot Gaib marah. “Apakah kau mau jatuh cinta kepadaku sehingga ingin tahu namaku? Kau mau aku cium, hah?!”
Kenyot Gaib lalu maju meyosorkan bibir seksi versi tuanya hendak mencium si prajurit.
“Aaa!” jerit si prajurit histeris, seperti perawan pingitan melihat kecoa di dekat kakinya.
“Hahaha!” tawa beberapa prajurit rekan dan warga yang mengantre di belakang Kenyot Gaib.
“Ya sudah, kau cepatan masuk, Nek. Aku geli denganmu!” kata prajurit tadi dengan masih menjaga jarak dari Kenyot Gaib.
“Kau pikir aku anak tikus yang membuatmu geli? Kau belum tahu seberapa nikmatnya kenyotanku!” rutuk Kenyot Gaib marah.
“Hahaha …!” tawa para prajurit mendengar omelan si nenek.
“Jangankan kalian, Prabu Banggarin saja bisa mati jika aku kenyot!” teriak Kenyot Gaib lagi sambil berjalan meninggalkan pos dan menuju ke Ibu Kota.
“Hahaha …!” Sementara para prajurit dan warga yang hendak masuk ke Ibu Kota terus tertawa. Meski Kenyot Gaib menyinggung nama raja mereka, tetapi itu dianggap hanyalah guyonan receh saja.
Setelah Nyi Kenyot berlalu, selanjutnya seorang pedagang buah yang datang dengan sebuah pedati sarat memuat semangka.
Setelah si pedagang berlalu, seorang gadis cantik dan terlalu cantik, maju menghadap kepada prajurit sambil menuntun kudanya. Kecantikannya membuat para prajurit terpana, jadi malu ayam sendiri, lalu tertawa saling colek sendiri. Seperti lelaki yang baru pertama melihat wanita cantik saja. Istilah kerennya “norak”.
“Eee … nama Nisanak siapa?” tanya prajurit seperti mau berkenalan saja.
“Serayu Ayu,” jawab wanita cantik itu dusta, karena nama sebenarnya adalah Manik Sari, istri Adipati Rugi Segila.
“Nama yang indah secantik orangnya,” puji si prajurit.
“Itu nama kudaku,” kata Manik Sari yang membuat si prajurit terkejut.
“Hahaha!” tawa rekan-rekannya yang sedang memeriksa warga yang lain.
__ADS_1
“Lalu siapa nama Nisanak sebenarnya?”
“Aku Manik Sari, istri Adipati Kadipaten Kedaweng,” jawab Manik Sari jujur.
“Hah!” terkejutlah si prajurit, sementara rekan-rekannya yang juga mendengar segera bersikap tuli, membiarkan rekan mereka panik sendiri.
Prajurit yang menanyai Manik Sari mendadak panik dan buru-buru membungkuk menghormat.
“Mohon ampun, Gusti. Hamba tidak tahu. Maafkan hamba, Gusti,” ucap prajurit itu cemas, takut jika-jika kegenitannya diadukan kepada atasan.
“Kau tidak ingin aku adukan ke atasanmu?” tanya Manik Sari.
“Jangan, Gusti! Mohon ampun, kasihani hamba, Gusti. Ayah ibu hamba sudah renta, istri hamba hanya tukang cebok kuda. Jika hamba sampai diputus kerja, hamba dan keluarga mau makan apa?” ratap si prajurit itu sambil berlutut mengiba-iba.
Kesal melihat lelaki yang lebay, Manik Sari memilih naik ke punggung kudanya, lalu berjalan santai meninggalkan si prajurit.
“Hahahak!” tawa terbahak prajurit lainnya meledek rekan mereka yang bernasib apes.
Ketika baru memasuki Ibu Kota, Kenyot Gaib mendengar ada suara kuda berlari dari arah belakang. Ia pun menggeser jalannya lebih ke tepi tanpa menengok siapa yang akan berlalu. Ia juga tidak mau terlalu menarik perhatian.
Namun, kuda yang datang berlari itu justru berhenti di dekat Kenyot Gaib. Mau tidak mau, Kenyot Gaib harus berhenti dan melihat siapa orang yang sepertinya punya maksud kepadanya.
Ketika melihat wajah cantik si penunggang kuda, Kenyot Gaib tidak mengenalinya.
Kenyot Gaib melirik tajam kepada Manik Sari dengan bibir yang terus mengenyot. Jadi pertanyaan sejak awal kemunculannya, apa sebenarnya yang dia kenyot.
“Kau mengenalku?” tanya Kenyot Gaib bernada ketus.
“Berita tentang pendekar wanita tua bermulut lucu, yang membuat rusuh di wilayah Kerajaan Sanggana Kecil sudah aku dengar. Bukankah itu dirimu?” tanya Manik Sari tanpa turun dari kudanya.
“Lalu apa urusanmu denganku? Kau mau cari perkara denganku, Cantik?” tanya Kenyot Gaib.
“Aku hanya ingin memastikan, apakah kau memiliki permusuhan dengan orang-orang Sanggana Kecil?” tanya Manik Sari.
“Aku punya dendam dengan Prabu Dira dan para istrinya. Apakah kau termasuk pengabdi Sanggana Kecil? Jika iya, kau akan menyesal bertemu denganku hari ini,” kata Kenyot Gaib.
“Sebaliknya, kita sama-sama mendendam terhadap Sanggana Kecil. Aku hanya ingin menawarkanmu persekutuan,” kata wanita berpakaian hijau muda itu.
Kenyot Gaib lalu menatap perawakan Manik Sari secara lekat, seperti seorang juri kecantikan.
“Terlalu disayangkan jika wanita secantik ini harus mati cepat hanya karena dendam. Kalau aku yang mati, tidak ada yang menangisiku,” kata Kenyot Gaib.
“Aku tidak percaya jika Prabu Dira dan istri-istrinya tidak terkalahkan. Harimau pun akan mati oleh semut, kedigdayaan pun pada akhirnya akan digerogoti oleh cacing tanah,” kata Manik Sari.
__ADS_1
“Kata-katamu membuatku semakin bersemangat untuk balas dendam,” kata Kenyot Gaib. “Siapa kau sebenarnya?”
“Aku Manik Sari, pewaris sah tahta Baturaharja yang telah direbut oleh Prabu Banggarin,” jawab Manik Sari. “Jika kau setuju bersekutu denganku, alangkah baiknya jika kita bicara di tempat yang lebih tenang.”
“Itu lebih baik, dari pada tidak sopan di pinggir jalan seperti ini!” ketus Kenyot Gaib.
Singkat waktu.
Keduanya kini duduk berhadapan di sebuah saung di atas sebuah kolam. Saung itu bukan milik petani, tetapi milik sebuah rumah makan besar di ibu kota Jayamata. Hanya ada dua kelapa muda dan dua gelas di atas meja yang mereka hadapi.
“Pasukan Ular Gunung milik Kerajaan Sanggana Kecil sudah meninggalkan Ibu Kota, tapi aku tidak melihat dua permaisuri Sanggana Kecil ada dalam rombongan. Aku menduga kuat mereka berdua masih ada di dalam Istana Baturaharja,” kata Manik Sari.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya Kenyot Gaib.
“Membunuh dengan cara licik,” jawab Manik Sari.
“Aku seorang pendekar. Aku akan bertarung langsung melawan permaisuri Sanggana Kecil itu. Aku kalah ketika melawan Permaisuri Geger Jagad, tapi belum tentu aku kalah melawan permaisuri yang lain. Aku tidak peduli kau mau memakai cara pendekar atau cara pengecut,” kata Kenyot Gaib.
“Baiklah, aku akan membiarkanmu memakai caramu sendiri, tetapi aku akan memanfaatkanmu untuk mencari celah untuk membunuh permaisuri itu,” kata Manik Sari.
Dari arah darat datang seorang lelaki separuh baya berkumis yang berjalan di atas air menuju ke saung makan itu. Lelaki bertubuh gempal itu berjalan di atas air bukan karena kesaktiannya, tetapi karena ada tiang-tiang batu yang dibuat di air kolam sebagai jalan menuju ke saung, yang tingginya setinggi air kolam.
“Hormatku, Gusti Putri,” ucap lelaki itu berlutut dan menghormat kepada Manik Sari.
“Apakah kau percaya bahwa akulah pewaris tahta yang sah dari Kerajaan Baturaharja, Nek?” tanya Manik Sari.
Kenyot Gaib hanya diam dengan mulut seperti bokong ayam yang ditiup.
“Duduklah, Kerbau Perak!” perintah Manik Sari. Lalu tanyanya lagi setelah lelaki itu duduk bersila agak jauh dari meja, “Berita apa yang bisa kau berikan kepadaku?”
“Kondisi Istana dan Ibu Kota dianggap sudah kembali tenang. Komandan Bengal Banok dan Pasukan Pengawal Prabu sudah dibasmi oleh pasukan Sanggana Kecil. Kini pasukan Baturaharja sedang berkumpul di depan benteng Istana, sepertinya mereka akan berangkat perang,” lapor Kerbau Perak.
“Ke mana mereka akan berperang?” tanya Manik Sari.
“Hamba belum tahu, Gusti. Anak buah Hamba yang menjadi prajurit dalam pasukan belum memberi pesan,” jawab Kerbau Perak.
“Apakah aku bisa masuk ke dalam Istana?” tanya Manik Sari.
“Itu bisa hamba atur, Gusti, tetapi baru bisa besok, karena hamba harus membuat beberapa dayang menderita sakit,” kata Kerbau Perak.
“Baiklah. Kenalkan, ini adalah tetua Kenyot Gaib, sekutu kita. Layani keperluannya selama dia berada di Ibu Kota,” kata Manik Sari.
“Baik, Gusti Putri,” ucap Kerbau Perak patuh. Lalu ia menghormat kepada pendekar tua itu, “Hormatku, Tetua.”
__ADS_1
Kenyot Gaib hanya mengangguk. (RH)