Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 34: Perjodohan Demi Negeri (TAMAT)


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Terdiamlah Putri Mahkota dan para pejabatnya mendengar ketegasan Dewi Ara yang menyatakan bahwa bantuannya untuk Negeri Pulau Kabut telah selesai.


Mereka terdiam karena bingung. Putri Neneng Ame, Tangan Kanan Seser Kaseser, Penasihat Jejer Meranggi dan dua menteri sebagai orang-orang dewasa yang memiliki wawasan lebih luas, belum menemukan di dalam pikirannya tentang cara selamat dari ancaman Kerajaan Puncak Samudera.


Sebenarnya mereka bertanya, untuk apa mereka dibebaskan dari cengkeraman penjajahan jika pada akhirnya tetap dibuat hancur? Namun, mereka tidak berani menyatakan pertanyaan itu.


“Mohon maaf sebelumnya jika aku lancang, Dewi Arang. Aku sekedar memberi usulan, bagaimana jika Gusti Permaisuri menikahkan saja Pangeran Arda dengan Putri Mahkota. Mungkin itu bisa membuat Gusti Permaisuri tinggal di negeri ini,” kata Eyang Hagara.


“Apa?!”


Terkejutlah sejumlah orang, termasuk Putri Mahkota.


“Aku setuju!” kata Kete Weleng cepat.


“Aku pun setuju,” sahut Seser Kaseser pula.


“Aku setuju jika Putri Mahkota setuju,” kata Penasihat Jejer Meranggi pula.


“Meski ini terkesan aneh, tapi aku harus setuju demi nasib negeri ini,” kata Putri Neneng Ame.


“Bagaimana denganmu, Menteri Gular Beber?” tanya Kete Weleng.


“Aku setuju,” jawab Gular Beber yang tidak banyak bicara.


“Bagaimana, Putri Mahkota?” tanya Seser Kaseser.


“Paman Seser sangat tahu bahwa aku adalah pengagum para Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil, tentunya aku akan sangat gembira jika bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Apalagi ini demi kedamaian dan keselamatan seluruh rakyat Negeri Pulau Kabut. Jikapun harus menyerahkan tahta demi keselamatan negeri ini, maka akan aku lakukan,” jawab Putri Keken dengan mantap. “Namun, apakah Pangeran Arda mau menikahiku dan menjadikan aku sebagai istrinya?”


“Aku tidak mau! Aku tidak mau!” teriak Arda Handara menolak.


“Kenapa? Bukankah kau bercita-cita ingin punya anak yang sebanyak-banyaknya?” tanya Eyang Hagara.


“Putri Keken tidak secantik Anak Cantik,” kilah Arda Handara.


“Hihihi!” tawa Mimi Mama di saat Putri Keken merengut kesal.


Secara tidak langsung, Arda Handara telah mengatakan di depan semua orang bahwa Putri Mahkota jelek.


“Kau tidak boleh seperti itu, Uyut-Uyut. Putri Mahkota masih kecil. Jika sudah besar nanti, dia pasti akan secantik aku,” kata Mimi Mama sambil menepak bahu Arda Handara.

__ADS_1


“Dan kau nanti besarnya sejelek dia. Hahaha …!” kata Arda Handara lalu tertawa terbahak-bahak.


“Pangeran Arda!” sebut Putri Keken marah dengan bibir mengerucut semakin keras.


Tidak ada yang berani tertawa seperti Arda Handara. Bong Bong Dut hanya tersenyum samar menahan tawa.


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” kata Seser Kaseser. “Tidak perlu tersinggung, Putri. Bagaimanapun juga, Pangeran Arda adalah salah satu petarung handal yang sangat berjasa membantu pembebasan kita dan negeri.”


Putri Keken melirik tangan kanannya yang saat itu dalam keadaan terluka. Ia pun akhirnya mau tidak mau harus menerima sikap Arda Handara kepadanya.


“Kakang Hagara membuat masalah anak-anak saja,” gerutu Dewi Ara.


“Bantuanmu hanya akan seperti angin nirwana yang melintas di pulau ini jika tidak lama setelah kepulanganmu, negeri ini justru dihancurkan. Dengan Pangeran Arda menikahi Putri Mahkota, tentunya kau punya alasan tinggal di negeri ini. Aku rasa, semua orang Negeri Pulau Kabut tidak keberatan jika Putri Keken sebagai ratu, tetapi Permaisuri Dewi Ara yang menjadi pengambil keputusan,” tutur Eyang Hagara.


“Benar, Gusti Permaisuri. Aku tidak akan keberatan,” kata Putri Keken.


“Kami sangat tidak keberatan,” ucap Penasihat Jejer Meranggi.


“Benar,” ucap Putri Neneng Ame juga.


“Kami harap, Gusti Permaisuri sudi bermurah hati,” ucap Kete Weleng.


“Aku sangat keberatan. Putraku adalah putra mahkota yang akan mewarisi tahta Sanggana Kecil yang agung, kerajaan yang memiliki balatentara yang hebat dan kuat. Jika derajatnya menjadi orang nomor dua di negeri lain, jelas itu kerugian besar bagiku dan putraku,” tandas Dewi Ara membuat negosiasi semakin sulit.


Tiba-tiba Putri Keken beranjak dari kursinya dan turun berlutut di dekat Dewi Ara sambil kedua tangannya terangkat dengan kedua telapak tangan menghadap ke atas. Di atas telapak tangan itu ada sebuah kalung emas bermata merah bening nan indah seperti bentuk setetes darah.


Dewi Ara terdiam memandang Putri Keken, seolah-olah dia masih berat untuk setuju.


“Terima saja, Ibunda!” seru Arda Handara. “Aku mau menjadi raja di sini dan aku akan memimpin pasukan Negeri Pulau Kabut berperang. Hebat, bukan?”


“Ibunda akan menerima jika kau berjanji akan berguru dan berlatih kesaktian dengan rajin dan serius,” kata Dewi Ara kepada Arda Handara.


“Bukankah aku sudah sakti dengan memiliki Ki Ageng Naga dan Tongkat Kerbau Merah?” kata Arda Handara.


“Itu hanyalah dua pusaka yang bisa hilang dari tanganmu. Umpamakan dirimu jika hidup tanpa kedua benda itu,” kata Dewi Ara.


“Baik, Ibunda. Aku berjanji akan rajin berlatih sampai sesakti Ibunda. Dan aku berjanji akan membuat anak yang banyak. Hahahak …!” kata Arda Handara.


“Hahaha!” tawa rendah sejumlah orang mendengar kata-kata bocil pendek itu.


“Dasar anak gila. Dia pikir aku induk ayam yang bisa bertelur banyak,” maki Putri Keken, tapi di dalam hati. Pose tubuhnya masih tetap dengan tangan terangkat.


“Baiklah. Aku setuju,” kata Dewi Ara akhirnya memutuskan.

__ADS_1


Sang permaisuri lalu meraih Kalung Darah Suci dari telapak tangan Putri Keken.


“Terima kasih, Gusti Permaisuri,” ucap Putri Keken sambil menghormat penuh takzim.


“Terima kasih, Gusti Permaisuri!” ucap Putri Neneng Ame dan para pejabat.


“Dengan Kalung Darah Suci ada ditanganku, aku memutuskan bahwa besok pernikahan Pangeran Arda Handara dan Putri Keken dilaksanakan. Setelah pernikahan, lantik Pangeran Arda Handara sebagai Raja Muda Kerajaan Kabut Kuning. Pangeran Arda dan Putri Keken tidak boleh satu kamar satu ranjang hingga Pangeran Arda berusia tujuh belas tahun. Kalian mengerti?” kata Dewi Ara.


“Mengerti, Gusti Permaisuri!” ucap mereka semua, kecuali Arda Handara.


“Bangunlah, Putri!” perintah Dewi Ara kepada Putri Keken.


“Dengan demikian, aku sebagai ibu dari Raja Muda, nantinya akan mengendalikan arah kebijakan-kebijakan Istana, tentunya dengan masukan-masukan dari Penasihat dan para pejabat,” kata Dewi Ara lagi.


“Ibunda, bagaimana bisa aku membuat anak jika tidak boleh satu ranjang seperti Ibunda dan Ayahanda Prabu?” protes Arda Handara.


“Karena kau baru bisa membuat anak jika usiamu sudah tujuh belas tahun!” jawab Dewi Ara dengan agak membentak.


“Hahaha!” tertawalah sebagian besar dari mereka, membuat Arda Handara cengengesan dan Putri Keken tersipu malu.


Pada saat yang sama, di Negeri Karang Hijau yang sepanjang garis pantainya adalah karang-karang besar berwarna hijau indah, tepatnya di dalam Kerajaan Puncak Samudera yang memiliki istana indah berwarna hijau kehijau-hijauan, Raja Ganggang Okeo sedang dilanda kemarahan yang tinggi.


Berita tentang putranya yang tewas dan dihancurkannya pasukan Angkatan Lautnya yang terkenal kuat, baru dia saja yang tahu. Kekalahan telak yang mengorbankan putra keduanya, Pangeran Tololo Coi, akan menjadi aib besar jika beritanya tersebar luas ke kalangan rakyat.


Wajah raja berusia separuh baya lebih sebelas tahun itu tampak memerah kelam dengan sepasang mata yang memerah usai dicolok kabar buruk yang datang. Rambut dan kumis tebalnya yang tersisir rapi ingin rasanya berdiri turut menunjukkan emosinya, tetapi apa daya itu tidak bisa terjadi.


Kini Raja Ganggang Okeo ditemani oleh Penasihat Sliling Ying, seorang wanita separuh baya lebih dua tahun, lebih muda dari sang raja.


“Apakah kita bisa langsung menyerang Negeri Pulau Kabut, Penasihat?” tanya Raja Ganggang Okeo.


“Jika dalam satu pagi saja kita bisa dikalahkan secara tuntas, sangat jelas bahwa pasukan bantuan Negeri Pulau Kabut begitu kuat. Kita memiliki puluhan kapal perang yang dipimpin oleh para perwira pilih tanding, tidak ada yang pulang satu pun. Hampir separuh dari armada kita ada di negeri itu. Lebih baik kita jangan terburu-buru. Kita kumpulkan dulu informasi-informasi tentang kekuatan musuh sambil membangun kekuatan armada baru,” saran Silling Ying.


“Baiklah. Dendam harus dituntaskan dengan kematangan rencana,” kata Raja Ganggang Okeo.


“Jika Paduka Raja tidak keberatan, kita bisa meminta bantuan ke Kerajaan Burugur dan Walet Biru. Tentunya dengan janji berbagi,” kata Silling Ying.


“Baiklah, aku akan segera mengirim utusan ke kedua kerajaan itu,” kata Raja Ganggan Okeo setuju. (RH)


 


T A M A T


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Novel Baru


Om Rudi telah rilis novel terbaru genre cinta-cintaan anak muda berbau religi berjudul “Rudi adalah Cintaku”, yuk ramaikan dengan baca, like, komen dan gift. Terima kasih.


__ADS_2