Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 51: Armada Kerajaan Srigaya


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


“Appa?!” pekik para Tetua mendengar pengakuan terbuka Tadayu alias Pangeran Tangan Kuasa di depan Ratu Bunga Petir dan Tetua Penghukum yang mengadili pemuda itu. Maka hebohlah para Tetua dan keluarga besar Pulau Tujuh Selir.


“Tadayu!” panggil Selir Keenam dengan membentak. “Masih banyak gadis cantik di Tujuh Selir dari pada harus menikahi putri musuh!”


“Mohon ampun, Ibu. Aku memang tidak memperkosa Putri Uding Kemala, tapi aku telah melecehkannya. Sebagai seorang lelaki dan pendekar, aku harus bertanggung jawab dengan cara menikahinya,” kilah Tadayu dengan lembut kepada ibunya.


“Setelah kau menculik dan melecehkannya, kau berbicara tentang kelelakian dan kependekaran. Lalu kenapa kau tidak bersikap pendekar ketika menculiknya?” debat sang ibu.


“Justru aku berharap, dengan pernikahan kami, permusuhan panjang kedua pulau bisa berakhir,” kilah Tadayu lagi.


“Aku setuju dengan pernikahan kalian jika pernikahan itu bisa membuat permusuhan kita dengan Pulau Gunung Dua berakhir,” kata Selir Ketiga.


“Tapi aku tidak akan memaafkan Kerajaan Lampara karena telah menghancurkan kehidupan putriku!” geram Selir Keenam.


“Hentikan perdebatan kalian, biarkan Tetua Penghukum mengambil keputusannya!” hardik Ratu Bunga Petir.


Maka heninglah para Tetua yang hadir. Meski Selir Keenam memendam kemarahan yang besar, tapi bagaimanapun dia harus mentaati Ratu Bunga Petir dan keputusan Tetua Penghukum.


“Kita telah dikalahkan oleh Permaisuri Dewi Ara. Karena itu, haknya harus kita berikan. Maka aku memutuskan, Pangeran Api Dewa dan Pangeran Tangan Kuasa akan diserahkan kepada Permisuri Dewi Ara, sebagai tawanan karena telah membakar dan menculik Putri Uding Kemala. Aku memutuskan untuk mengembalikan Putri Uding Kemala secara terhormat kepada Permaisuri Dewi Ara, untuk dikembalikan ke keluarganya. Aku memerintahkan kepada Pangeran Api Dewa dan Pangeran Tangan Kuasa, jika memungkinkan, lindungi Putri Gunira di Kerajaan Lampara. Dan aku memutuskan hukum mati Goreang. Keputusan ini tetap dan tidak bisa diganggu gugat!” seru Selir Kedua.


“Lapooor!”


Keputusan Tetua Penghukum disambut oleh teriakan seorang prajurit pulau yang masuk dengan berlari.


“Pasukan laut Kerajaan Srigaya datang menuju ke sini!” lanjut prajurit pelapor.


“Apa?!” pekik sejumlah Tetua terkejut.


“Rupanya Kerajaan Lampara meminta bantuan Kerajaan Srigaya,” ucap Selir Ketiga.


“Jika angkatan laut itu datang karena Putri Uding Kemala, maka biarkan aku yang mengusir mereka!” seru Dewi Ara tiba-tiba.


“Bawa Pangeran Api Dewa dan Pangeran Tangan Kuasa ke perahu!” perintah Tetua Penghukum.


Maka, beramai-ramailah mereka meninggalkan ruangan itu. Mereka kembali pergi ke pantai untuk melihat dengan mata kepala sendiri kedatangan pasukan Kerajaan Srigaya, kerajaan yang menjadi pelindung maritim bagi Kerajaan Lampara dan Pelabuhan Bandakawen.


Ternyata benar.


Pada jarak yang masih cukup jauh, ada dua belas kapal besar yang layarnya berwarna kuning bergerak menuju ke arah pulau tersebut. Setiap kapal memiliki bendera merah bergambar silangan tiga pedang berwarna biru terang, yang berkibar gagah oleh tiupan angin laut yang kencang. Di antara kedua belas kapal perang itu, ada satu kapal yang besarnya mungkin sama dengan kapal hitam Bajak Laut Malam. Dari jauh sudah bisa terlihat banyaknya orang di setiap kapal.


“Jika tujuan mereka tidak baik bagi pulau ini, maka aku akan membuat mereka berbalik,” kata Dewi Ara kepada Ratu Bunga Petir.


“Terima kasih, Permaisuri,” ucap Ratu Bunga Petir.

__ADS_1


“Ibunda, aku mau ikut dengan Bibi Permaisuri,” kata Mimi Mama.


“Pergilah,” jawab Ratu Bunga Petir.


“Tapi tanpa Kakek,” kata Mimi Mama sambil memandang kepada Serak Gelegar.


Serak Gelegar lalu memandang kepada Ratu Bunga Petir. Sang ratu hanya mengangguk pelan tanda mengiyakan.


Dewi Ara lalu naik mengudara tanpa sayap. Para abdinya pun bersiap-siap untuk diterbangkan seperti ketika mereka datang ke pulau itu.


West!


Namun ternyata, Dewi Ara terbang sendiri tanpa mengikutkan yang lain, membuat Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan kecewa.


“Sediakan perahu!” perintah Ratu Bunga Petir.


Clap!


Eyang Hagara tanpa kata tanpa kesan, tiba-tiba menghilang begitu saja.


Mimi Mama berjalan riang menuju ke perahu yang segera disediakan oleh para prajurit pulau.


“Hei Mama!” panggil Arda Handara sambil berlari kecil mengejar Mimi Mama.


Gadis kecil itu berhenti dan menengok kepada Arda Handara.


“Kenapa kau mau ikut dengan ibundaku?” tanya Arda Handara yang penasaran.


“Aaah bohong. Kau pasti ingin suatu saat nanti aku tertarik kepadamu, lalu minta dibuatkan anak sebanyak-banyaknya,” tukas Arda Handara.


“Apa? Kau kecil-kecil tapi bicaramu sudah sembarangan!” kecam Mimi Mama marah.


“Hahaha! Kau malu-malu seperti Brojol,” kata Arda Handara sambil tertawa. Ia lalu lari menjauh dan melompat bersalto di udara.


Saat bersalto di udara itu, Arda Handara dengan pandai menyelipkan Tongkat Kerbau Merah ke selangkangannya.


Wuss!


“Hahaha!” tawa Arda Handara sambil melesat terbang menuju ke kapal hitam.


Ada empat perahu kecil yang disediakan untuk mengangkut mereka yang harus pergi ke kapal hitam, termasuk Gandang Duko dan Tadayu. Kedua pemuda itu dalam kondisi tangannya dibelenggu rantai besar. Setiap perahu didayung oleh seorang prajurit pulau.


Tinggallah Ratu Bunga Petir, para Tetua dan pasukan pulau berdiri menunggu di pantai. Mereka ingin melihat perkembangan di laut. Terlihat bahwa dua belas kapal perang yang berwarna kuning-kuning semakin dekat dengan posisi kapal Bajak Laut Malam.


Tidak berapa lama, Tikam Ginting, Bewe Sereng dan yang lain sudah tiba di kapal hitam. Mereka naik. Empat perahu kecil kembali pulang ke pantai.


“Angkat jangkar, putar kapal, dayung!” teriak Nahkoda Dayung Karat yang sudah menemukan kepercayaan dirinya. Dia memberi perintah kepada anak buahnya atas perintah Dewi Ara.

__ADS_1


Sebentar kemudian, dua jangkar bergerak naik ke kapal. Pada lambung kanan kiri kapal terbuka sepuluh jendela kayu berbentuk persegi, yang kemudian dari dalam keluar dayung-dayung besar dan panjang. Sebanyak sepuluh anak buah kapal bekerja mendayung kapal sehingga bisa bergerak dan berputar arah, mengikuti kendali arah yang ada di buritan.


Akhirnya kapal hitam meluncur menyongsong kedatangan selusin kapal perang.


Ketika jarak pertemuan sudah memadai, Dewi Ara memberi perintah kepada Dayung Karat.


“Rapatkan kapal dengan kapal yang paling besar!”


“Siap!” sahut Dayung Karat. Lalu teriaknya kepada para anak buahnya, “Dayung terus, rapatkan ke kapal induk!”


“Siap!” sahut serentak para pendayung itu penuh semangat. Mereka semua semangat jika di bawah pimpinan Permaisuri Dewi Ara, meskipun mereka seperti beralih menjadi prajurit laut.


Sementara itu, kedua belas kapal perang Kerajaan Srigaya sudah menurunkan layarnya masing-masing untuk memperlambat laju kapal.


Di kapal perang terbesar.


“Laksamana, kapal bajak laut itu menuju ke kapal kita,” kata Pengawal Laksamana yang bernama Bundura. Ia seorang lelaki besar berotot yang hanya mengenakan baju kemeja tanpa kancing, memperlihatkan badan depannya yang selalu terbuka di belai angin. Ia bersenjata pedang besar yang disandang di punggungnya. Kepalanya memiliki ring logam sebagai tanda keperwiraannya.


“Hentikan kapal. Hadang kapal itu dengan dua kapal. Lalu kepung,” perintah Laksamana Bintang Tenggara, perwira yang memimpin armada perang tersebut.


“Baik, Laksamana,” ucap Bundura.


Bundura lalu memberi perintah kepada pasukan di kapal itu.


“Hentikan kapal! Kapal Harimau Laut, Kapal Badak Laut, hadang kapal bajak laut!” teriak Bundura keras.


Seorang prajurit berseragam hitam-hitam yang berdiri di pos atas tiang utama kapal, segera memberi isyarat gerakan dua bendera tangan warna merah. Ia seperti anggota pramuka yang sedang melakukan gerakan simbol-simbol semapur.


“Hadang kapal bajak laut!” teriak komandan di kapal sisi kanan kapal utama yang bernama Kapal Harimau Laut, ketika membaca bahasa bendera prajurit di kapal utama.


“Hadang kapal bajak laut!” teriak komandan di Kapal Badak Laut yang posisinya di kiri kapal utama.


Maka, ketika kapal hitam Bajak Laut Malam terus meluncur menuju ke kapal utama yang berhenti, Kapal Harimau Laut dan Kapal Badak Laut bergerak menghadang kapal hitam di depan kapal utama.


“Gusti Permaisuri, mereka menghadang,” kata Nahkoda Dayung Karat.


“Terus rapatkan!” perintah Dewi Ara.


“Dayung teruuus!” teriak Dayung Karat kepada anak buahnya.


Kapal hitam terus meluncur tanpa terlihat memelankan lajunya, padahal dua kapal perang sudah saling merapatkan haluan untuk menghadang.


“Komandan, kapalnya akan menabrak!” teriak prajurit di Kapal Harimau Laut.


“Pasukan panah bersiap tembak!” teriak Komandan Kapal Harimau Laut.


“Pasukan panah bersiap tembak!” teriak Komandan Kapal Badak Laut.

__ADS_1


Pasukan panah pada kedua kapal perang segera memperbaiki posisi dan memasang anak panah di busurnya. Ketegangan pun melanda pasukan di dua kapal penghadang.


Sementara itu di kapal hitam, para pendekar pengikut Dewi Ara telah berdiri gagah di geladak haluan. Mereka pun siap tarung jika memang pertempuran di kapal pecah. (RH)


__ADS_2