Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 14: Melumpuhkan Penyusup


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Lelaki berpakaian hitam berambut gondrong itu berjalan cepat di dalam kegelapan. Ia menuju keluar dari perkampungan Perguruan Cambuk Neraka. Ia menghindari jalan biasa yang menuju ke pos pemeriksaan. Ia memilih jalur kebun yang tidak memiliki rute pejalan kaki tapi bisa dilewati manusia untuk keluar.


Srek!


Tiba-tiba lelaki yang di pinggang belakangnya terselip sebilah kapak itu berhenti, saat ia mendengar ada suara agak jauh di arah belakangnya. Namun, ia tidak melihat siapa-siapa, selain kegelapan dan pepohonan.


Meski tidak melihat apa-apa, tapi lelaki itu sepertinya yakin bahwa ada orang yang mengikutinya. Ia pun mencabut kapaknya, tapi kemudian berlari cepat melanjutkan tujuannya.


Jek jek jek!


Lelaki itu bisa mendengar suara langkah kaki yang berlari cepat mengikutinya di belakang.


Kali ini, dengan yakin bahwa ada orang yang mengejarnya, lelaki itu berhenti tiba-tiba, lalu berbalik dan langsung melempar kapaknya yang kemudian melesat berputar-putar.


Tep! Bsruak!


Kapak itu menancap keras di sebatang pohon. Seiring itu, terdengar suara seperti orang jatuh, tapi tidak terlihat, sepertinya terjadi di balik pohon yang besar itu.


“Kena, kau!” desis lelaki itu lalu cepat berkelebat ke pohon tempat kapaknya menancap. Dari situ dia sudah bisa melihat seseorang yang bergerak bangkit usai jatuh tersungkur karena menghindari serangan kapak.


Orang yang jatuh itu adalah seorang lelaki bertubuh gemuk. Melihat orang yang ia ikuti tadi sudah berada tidak jauh darinya, lelaki gemuk itu cepat pasang kuda-kuda sambil meloloskan cambuknya. Gelapnya tempat itu membuat wajah si lelaki gemuk tidak terlihat jelas.


Sementara si lelaki gondrong cepat mencabut kapaknya dari batang pohon.


“Si-si-siapa kau?!” tanya si lelaki gemuk dengan membentak, tetapi ia tergagap dan suaranya gemetar, menunjukkan ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.


“Tidak perlu tahu siapa aku, kau harus mati!” desis lelaki berkapak, sambil mengangkat tangannya dengan gerakan cepat hendak menyerang lelaki gemuk yang pastinya adalah murid Perguruan Cambuk Neraka.


Set! Pluk!


Meski gerakan lelaki berkapak itu cepat, tetapi ada sinar jingga kecil dan redup yang melesat lebih cepat. Sinar kecil itu menghantam wajah lelaki berkapak, membuatnya langsung mengejang dengan mata mendelik, tapi kemudian melemah, lebih parah dari kelemahan usai naik puncak asmara.


Bluk!


Lelaki gondrong itupun tumbang ke belakang dan tidak sadarkan diri, padahal hanya seekor ulat bulu senja yang mendarat di wajahnya.


Memang itulah kehebatan ketapel Ki Ageng Naga, apa pun pelurunya, tapi efeknya bisa sesuai keinginan pikiran si penembak. Kata lainnya adalah sesuai sugesti yang diberikan saat Arda Handara menembak.

__ADS_1


Tumbangnya lelaki bersenjata kapak itu jelas mengejutkan lelaki gemuk bersenjata cambuk.


“Hei, Kakang Gejrot! Sedang apa kau di sini?” tanya Arda Handara yang muncul berlari datang mendekat.


“Eh, kau, Anak Set …. Eh, Arda!” ucap lelaki gemuk itu terkejut lagi melihat kemunculan Arda Handara. Ia ingin menyebut Arda Handara “Anak Setan”, tapi ia tahan karena teringat anak si anak yang cantiknya over dosis.


Pemuda gemuk itu tidak lain adalah Bong Bong Dut yang Arda Handara panggil dengan nama Gejrot, tapi tidak pakai tahu.


Jadi, ceritanya seperti ini. Ketika Arda Handara pergi mengikuti bayangan lelaki berambut gondrong yang berniat pergi, tiba-tiba muncul Bong Bong Dut yang juga mengikuti lelaki tersebut. Pergerakan Bong Bong Dut berada di depan Arda Handara, tanpa dia ketahui keberadaan anak kecil itu di belakangnya.


Maka, ketika si lelaki berkapak mendengar langkah kaki yang mengikutinya, itu adalah suara lari Bong Bong Dut. Sementara Arda Handara mengikuti di posisi yang lebih belakang lagi. Lelaki berkapak itu mengetahui keberadaan Bong Bong Dut tapi tidak mengetahui keberadaan Arda Handara.


“Aku tadi melihat orang ini berpakaian berbeda dengan pakaian orang-orang perguruan, gerakannya pun mencurigakan. Jadi sebagai seorang pendekar murid Perguruan Cambuk Neraka yang selalu diandalkan, aku membuntutinya,” jelas Bong Bong Dut dengan suara yang sudah kembali normal, menunjukkan suasana hatinya sudah terkontrol kembali.


“Oooh,” monyong Arda Handara tanda mengerti, sambil ia membungkuk memeriksa badan lelaki yang pingsan.


“Apa yang kau lakukan, Arda?” tanya Bong Bong Dut penasaran.


“Mencari ini, Kakang Gejrot,” jawab Arda Handara sambil menunjukkan sebatang bambu kecil sepanjang satu jengkal.


“Apa itu?”


“Rahasia. Hahaha!” jawab Arda Handara lalu tertawa pendek dan menyelipkan bambu itu di sabuknya.


“Hahaha! Aku mengikutimu, Kakang Gejrot.”


“Namaku bukan Gejrot, tapi Bong Bong Dut!”


“Menurut Kakang, mana yang lebih berbau pendekar, nama Gejrot atau Bong Bong Dut?”


“Yaaa … Gejrot sih.”


“Nah itu dia!”


“Iya iya iya. Hehehe! Tapi, aku harus makan bubur putih, bubur merah, dan bubur hitam jika ganti nama.”


“Jangan kalah dengan ulat buluku, dia tidak pernah makan bubur kuning dan bubur hijau saat aku beri nama Uyut-Uyut. Kakang Gejrot, ayo ambil kapaknya, lalu kita sembunyi, sebentar lagi orang itu akan bangun.”


“Ayo ayo ayo!” kata Bong Bong Dut


Dua lelaki besar dan kecil itu lalu bergerak menjauh dan bersembunyi di balik pohon yang lain.

__ADS_1


Ternyata benar kata Arda Handara. Tidak berapa lama, lelaki berkapak itu bergerak yang menunjukkan dia siuman, bukan pingsan tapi pura-pura bergerak.


Lelaki berambut gondrong bergerak bangun. Sejenak ia memeriksa kondisi dirinya. Ia bingung ketika tidak mendapati senjatanya. Saat memeriksa sesuatu di balik pakaiannya, ia lebih terkejut karena kehilangan benda yang dimilikinya.


Ia kemudian mencari-cari di sekitar tempat duduknya. Ia sampai meraba-raba tanah di sekitar tubuhnya.


Namun, karena tidak kunjung menemukan apa yang dicarinya, lelaki itu akhirnya memutuskan berlari pergi.


Seet! Blus!


Ketika lelaki itu berlari menjauh, Arda Handara menembakkan ketapelnya dengan peluru kerikil. Peluru yang melesat di dalam kegelapan itu meledak kecil di punggung lelaki tersebut.


“Akk! Panas!” jerit lelaki itu sambil berusaha memadamkan api yang berkobar membakar bagian belakang pakaiannya. Namun, upayanya untuk menepak-nepak punggungnya tidak maksimal.


Seet! Blus!


Belum lagi api di punggung lelaki itu padam, peluru dari ketapel Ki Ageng Naga kembali datang dan meledak di bokong.


“Aaak!” pekik lelaki itu lagi sambil berlari terbirit-birit dan melompat-lompat untuk mencari sungai atau parit. Dia lupa bahwa tanah dan batang pohon bisa ia gunakan untuk memadamkan api dengan jurus “Bandot Gatal”, tinggal gasak-gesek.


Nyala api yang berlari di antara pepohonan ternyata menarik perhatian beberapa penjaga di perbatasan luar kampung.


“Lihat, apa itu?!” seru Galian sambil menunjuk jauh ke dalam area pepohonan.


Pemimpin penjaga dan anak buahnya jadi alihkan perhatian kepada api yang bergerak cepat.


“Aaak!”


Bahkan mereka mendengar suara jeritan si lelaki yang terbakar.


“Kejar api itu!” teriak pemimpin penjaga kepada anak buahnya.


Sementara itu di sisi lain, Sulin Mamas diam-diam terus mengikuti bayangan hitam lelaki berambut pendek. Ketika lelaki yang diikuti lewat di bawah cahaya obor, Sulin Mamas belum bisa mengenali orang yang diikutinya, meski sudah jelas bahwa orang itu berpakaian kuning dan memiliki senjata cambuk kuning yang melilit di pinggangnya.


Hingga akhirnya, lelaki itu sampai di keramaian orang-orang perguruan yang sudah siap pergi menguburkan mayat Pendekar Cambuk Enam dan murid perguruan lainnya.


Karena sudah berada di keramaian, Sulin Mamas memutuskan untuk berlari dan kemudian lewat di depan lelaki tersebut. Sulin Mamas sengaja lewat begitu dekat di depan lelaki yang dibuntutinya. Sulin Mamas sengaja menyandungkan kakinya pada ujung kaki lelaki tersebut.


“Aduh!” keluh Sulin Mamas yang jatuh tersungkur di lantai papan.


“Eh, Suling!” sebut lelaki itu terkejut karena kakinya menjadi sandungan bagi gadis kecil yang dikenalnya. Sambil cepat menolong putri Ketua Dua itu, ia berkata, “Kalau lagi ramai seperti ini, jangan lari-lari, Suling.”

__ADS_1


“Eh, iya, Paman Tulang Karang,” ucap Sulin Mamas sambil nyengir sapi. Ia jadi tahu siapa lelaki yang barusan diikutinya. (RH)


__ADS_2