Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 12: Lawan Tidak Seimbang


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*


“Pendekar-pendekar kemarin pagi berani-beraninya berurusan dengan Domba Hidung Merah,” dumel Domba Hidung Merah sambil turun dari domba tunggangannya.


Sejenak orang tua berambut putih itu mengabaikan ketiga pendekar yang nekat ingin bertarung dengannya. Ia pergi mencari batang pohon kecil yang tumbuh di sekitar jalan itu.


Setelah menambatkan dombanya, setelah mengusap ubun-ubun dombanya, Domba Hidung Merah lalu berjalan ke hadapan Kerik Gemulai, Injak Bantet dan Gulalu Ireng.


“Siapa mau mati duluan?” tanya Domba Hidung Merah. Kini garis merah pada batang hidungnya menyala seperti neon.


Tidak ada yang tahu apa maksud jika garis merah itu menyala, tetapi ketiga pendekar itu hanya menduga bahwa Domba Hidung Merah sedang marah.


“Aaa! Peduli apa denganmu, Pendekar Bau Tanah!” teriak Gulalu Ireng yang sudah hilang batas sabarnya.


Pendekar jangkung berkaki panjang itu maju dengan tendangan mengebut kencang dan mengandung tenaga dalam tinggi.


Dengan gerakan yang gagah pula, Domba Hidung Merah mengibaskan kaki kokohnya menyambut tendangan lawan.


Dak!


“Akk!” jerit Gulalu Ireng sambil terhuyung mundur, setelah tulang keringnya beradu dengan tulang kering Domba Hidung Merah. Seketika kakinya terasa membengkak seperti balon.


Sementara si kakek kekar itu tidak menderita sakit atau terdorong sedikit pun. Ia justru langsung bergerak melesatkan tinjunya menyambut tusukan ujung tongkat Injak Bantet.


Duk! Duk!


“Hukk!”


Tinju besar Domba Hidung Merah beradu dengan ujung tongkat Injak Bantet, membuat tongkat itu terdorong balik dan ujungnya yang satu justru menghantam dada si pendek.


Injak Bantet terjengkang keras dengan napas yang langsung megap-megap karena dadanya langsung tersumbat pernapasannya.


“Hah! Pendekar kelas cacing seperti ini berani memberontak?” tanya Domba Hidung Merah meremehkan.


Sreeet!


Dari samping melesat rantai milik Gulalu Ireng. Namun, mudah bagi Domba Hidung Merah menangkap rantai itu dengan tangan kanannya yang besar, sehingga rantai itu melilit beberapa putaran.


Zerzzz!


Tiba-tiba Domba Hidung Merah tersentak kaget karena ada sengatan listrik pada rantai tersebut. Namun, dia membiarkan sengatan itu pada tubuhnya. Ia bisa tahan dan memandang tajam kepada Gulalu Ireng yang terkejut melihat lawannya bisa bertahan.


“Hiaat!” kelit Kerik Gemulai yang datang dengan gerakan cepat bersama sabetan pedangnya.

__ADS_1


Trak! Trak!


Dengan gerakan yang bertenaga, Domba Hidung Merah menggunakan rantai di tangannya sebagai penangkis pedang, membuat Gulalu Ireng tertarik-tarik karena tidak kuasa menahan tarikan dari gerakan lawannya.


Tarikan-tarikan dari Domba Hidung Merah itu membuat kuda-kuda Gulalu agak kacau.


Trak! Trak!


Boaaam!


Setelah menangkis serangan-serangan pedang Kerik Gemulai dengan rantai yang terlilit di tangan besarnya, tiba-tiba dari dalam tubuh Domba Hidung Merah meledak cahaya merah menyilaukan, yang tenaga saktinya membuat Kerik Gemulai terlempar beberapa tombak.


Ilmu Ledakan Cahaya Merah itu tidak berpengaruh bagi Gulalu Ireng yang posisinya agak jauh. Namun, secara mengejutkan dia mendapat serangan lain yang lebih berbahaya.


“Tanduk Domba Terbang!” teriak Domba Hidung Merah seperti jagoan anime sedang bertarung, sambil melompat jauh ke arah Gulalu Ireng.


Lelaki jangkung itu terkejut melihat model serangan aneh yang baru kali ini dihadapinya. Tubuh Domba Hidung Merah berputar laksana mata bor di udara dan melesat cepat ke arahnya. Jalinan rantai yang tercipta antara Gulalu Ireng dan lawannya membuatnya sulit untuk menghindar jauh.


Dukr!


“Aaak!”


Serangan ilmu Tanduk Domba Terbang itu melesat terlalu cepat bagi Gulalu Ireng, sehingga kepala si kakek kekar menghantam tanpa diskon dada lawan. Seiring terdengarnya suara tulang dada yang berpatahan, Gulalu Ireng menjerit keras dengan mulut memuncratkan cairan darah, bukan cairan yang lain.


Jika Injak Bantet dan Kerik Gemulai sudah bisa bangkit berdiri, maka Gulalu Ireng memegangi dadanya seraya terbatuk-batuk darah.


“Gulalu Ireng!” teriak Injak Bantet memanggil sahabatnya tanpa berani mendekat, karena ada Domba Hidung Merah berdiri.


“Hekk!” pekik pelan Gulalu Ireng untuk terakhir kalinya. Dia mengembuskan napas terakhir dalam kondisi tulang dada berpatahan serta wajah dan lehernya penuh muntahan darah.


“Gulaluuu!” teriak histeris Injak Bantet dengan sepasang mata berair dan wajah memerah memendam dendam.


“Sepertinya kalian sahabat kental yang tidak boleh dipisahkan,” ucap Domba Hidung Merah sambil melepas rantai yang sudah tidak menyetrum.


Clap!


Tiba-tiba Domba Hidung Merah telah berpindah tempat seperti tukang sulap.


“Hah!” pekik Injak Bantet terkejut karena Domba Hidung Merah tahu-tahu telah berdiri satu jangkauan di depannya.


Buk!


“Hukr!”

__ADS_1


Domba Hidung Merah terlalu cepat. Tahu-tahu tendangannya sudah menghantam badan depan Injak Bantet.


Pendekar pendek itu kembali terlempar, kali ini mulutnya menyemburkan darah. Ia jatuh berdebam di pinggir jalan.


Meski menderita sakit seolah badannya remuk redam, Injak Bantet buru-buru bangun demi menunjukkan bahwa dia adalah lawan yang kuat.


“Fukrr!”


Namun, semangat Injak Bantet boleh tinggi, tetapi fisiknya tidak mendukung. Dia menyemprotkan darah cukup banyak dari mulutnya. Tubuhnya kembali tumbang dan tidak bisa bangkit lagi, tapi belum mati.


Terlambat bagi Gulalu Ireng dan Injak Bantet untuk menyesali sifat angkuhnya. Meski ia tidak pernah bertarung melawan Domba Hidung Merah sebelumnya, seharusnya mereka tidak sembarangan ketika tahu sedang berhadapan dengan seorang pendekar tua.


“Bagaimana denganmu, Kerik?” tanya Domba Hidung Merah.


Kerik Gemulai tidak menjawab, dia hanya menatap tajam.


“Kesaktian baru sebau pusar sudah sesumbar seperti orang tidak suka hidup,” kata Domba Hidung Merah. “Pergilah. Tinggalkan saja si pendek itu. Sebentar lagi dia akan mati sendiri!”


Kerik Gemulai lalu memandangi Injak Bantet.


“Ja-jangan tinggalkan aku, Kerik!” ucap Injak Bantet sambil menahan sakit.


“Sudahlah, kau pun tidak ada harapan sebagai teman!” ketus Kerik Gemulai.


Itu jelas kalimat pembunuh bagi perasaan Injak Bantet. Dalam kondisi sekarat seperti itu dia justru mendapat kalimat pamungkas yang tusukannya lebih dalam dari pada tombak perceraian.


“Kerik! Keriiik! Uhhuk uhhuk!” teriak Injak Bantet mengiba lalu terbatuk darah.


Kerik Gemulai menyarungkan pedangnya. Ia berbalik pergi menuju ke kudanya yang merumput bersama tiga rekannya, sesama kuda.


Domba Hidung Merah menunggu sejenak. Setelah Kerik Gemulai pergi bersama kudanya, ia pun berjalan menghampiri dombanya.


Domba Hidung Merah pun akhirnya pergi, meninggalkan Injak Bantet yang terkapar. Tidak lupa orang tua itu mengambil satu ekor kuda yang dituntunnya dengan tetap duduk di punggung dombanya. Hitung-hitung harta rampasan.


Sekedar informasi. Pada akhirnya, Injak Bantet meninggal sebelum ada orang yang menemukannya tergeletak di jalanan. Luka yang yang dideritanya terlalu parah. Tenaga pukulan dan tendangan Domba Hidung Merah terlalu kuat.


Sementara itu, Kerik Gemulai memacu kudanya dengan kencang. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bahagia sedikit pun. Meski dia berbedak dan bergincu, jika wajahnya seperti itu, setiap lelaki tidak akan menemukan kecantikan di wajahnya.


“Keparat kelapa busuk! Ke mana pasukan itu larinya?” maki Kerik Gemulai di dalam hati, sambil matanya memandang jauh ke sana dan ke mari.


Awalnya dia bermaksud mengejar pasukan yang kabur, tetapi pasukan itu tidak tersusul yang sepertinya selisih jalan.


“Lebih baik aku ke kediaman Adipati Rugi Segila,” ucap Kerik Gemulai kepada dirinya sendiri. “Hea hea!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2