Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 37: Kesaktian Pembunuh Pertama


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


Semua serpihan kayu yang dilesatkan oleh Raja Akar Setan lebur ketika membentur dinding sinar hijau berhias aliran listrik.


“Hiaaat!” teriak Raja Akar Setan sambil melesat maju dengan lima belalai hijau yang melesat memanjang lebih cepat menyerang sosok Pembunuh Pertama.


Tusk tusk!


Namun, Raja Akar Setan harus terkejut, karena dua dari ujung belalai tanamannya yang lebih dulu menghantam tubuh Pembunuh Pertama harus hancur berasap tebal, seperti mengenai dinding yang sangat panas.


Raja Akar Setan terpaksa berhenti mendadak dan menarik kembali lima belalai hijaunya. Ia cepat mengubah ilmu kesaktiannya untuk diserangkan.


Buk buk buk!


“Hukrr!”


Namun, ketika Raja Akar Setan dalam masa transisi pengalihan kesaktian, Pembunuh Pertama lebih dulu menonjok udara di depan tubuhnya. Kepalan itu bersinar kuning bergelombang pendek. Namun, tenaga yang dikirimkan sampai begitu cepat di dada Raja Akar Setan.


Satu tonjokan, tapi tiga hantaman keras. Raja Akar Setan terlempar mundur dengan mulut langsung memuncratkan darah.


“Tidak perlu disayangkan, pendekar tua sepertimu sudah seharusnya beristirahat dari dunia ini. Namun sayang, kau harus istirahat dengan sangat menyakitkan, Raja Akar Setan,” kata Pembunuh Pertama.


Wess!


Laksana seorang dewi penguasa alam, Pembunuh Pertama mengangkat kedua tangannya ke langit. Untung lengan bajunya panjang, jadi ketiaknya tidak perlu umbar gambar dan aroma. Pada kedua telapak tangannya muncul api sinar hijau besar yang lidah-lidahnya condong ke satu arah karena tertiup angin laut.


Namun, sebelum Pembunuh Pertama bertindak, ekor matanya menangkap pergerakan di air. Dilihatnya Tikam Ginting sedang berenang ke salah satu tiang penyanggah dermaga di sisi pinggir, agak jauh dari posisi Pembunuh Pertama. Jika Tikam Ginting berenang sendirian, mungkin bodo amat, tetapi dia berenang dengan menuntun Ratu Wilasin.


Set! Tseb!


Pembunuh Pertama memilih menunda serangannya kepada Raja Akar Setan dan memadamkan ilmu apinya. Ia menghentakkan tangannya ke lantai. Dari dasar laut melesat tongkat kuning naik menjebol lantai dan berhenti dalam tangkapan tangan kanan wanita keriting itu.


Set!


Pembunuh Pertama lalu melesatkan tongkat kuningnya yang menargetkan Ratu Wilasin.


Dua wanita yang sedang berenang itu tidak dalam kondisi siaga dari serangan. Insting Tikam Ginting yang merasakan ada serangan, terlambat bereaksi. Ketika ia menengok, tongkat sudah tinggal menancap di punggung Ratu Wilasin.

__ADS_1


Siiing! Ctar!


Namun, Pembunuh Pertama harus kecewa lagi, karena upaya ketiganya untuk membunuh Ratu Wilasin kembali gagal. Kali ini yang campur tangan dalam melindungi sang ratu adalah penguasa Kota Bandakawen.


Santra Buna yang menonton pertarungan cepat bertindak ketika melihat lirikan mata Pembunuh Pertama ke arah Ratu Wilasin dan Tikam Ginting. Karena itulah, pemuda keunguan itu cepat melesatkan sinar ungu kecil yang dengan tepat menghantam tongkat kuning Pembunuh Pertama. Ledakan nyaring terjadi yang hanya mementalkan tongkat, jatuh tenggelam ke dalam laut.


“Huh!” dengus Pembunuh Pertama. Dia harus kembali fokus kepada Raja Akar Setan yang sudah bersiap dengan ilmu andalannya.


Raja Akar Setan telah menciptakan ratusan, mungkin ribuan, dedaunan sinar merah yang bergerak terbang memutari tubuhnya. Begitu ramai.


Bsas!


Pembunuh Pertama meluruskan tangan kanannya yang kemudian pada telapak tangan itu memunculkan sinar hijau gelap berpendar. Sepertinya wanita berkulit hitam itu memiliki banyak simpanan ilmu kesaktian. Tatapannya begitu tajam kepada Raja Akar Setan.


Sersss!


Akhirnya, Raja Akar Setan menghentakkan kedua lengannya. Maka rombongan besar daun sinar merah itu melesat laksana ribuan lebah atau ribuan burung starling. Ribuan sinar kecil-kecil itu seolah melesat memadati atas dermaga dan hendak menerkam sosok Pembunuh Pertama.


Bluass!


Namun, ketika serangan rombongan sinar merah datang, Pembunuh Pertama meledakkan sinar hijau di tangannya. Terjadilah ledakan sinar hijau menyilaukan mata.


Dalam tiga hitungan detik, mereka tidak bisa melihat apa-apa selain warna hijau menyilaukan yang membekas. Pada durasi itu, semua sinar merah berwujud daun musnah. Raja Akar Setan yang tidak bisa melihat apa yang terjadi, hanya bisa merasakan bahwa tubuhnya tahu-tahu terlempar deras dan berguling-guling tanpa sadar akan arah.


Pada masa yang sangat sempit itu juga, Pembunuh Pertama kembali melakukan penargetan kepada Ratu Wilasin yang juga menderita penglihatan yang sama dengan yang lain. Ketika pertemuan dua kesaktian itu terjadi, dia sudah naik ke pinggir dermaga dalam kondisi kuyup dan memandang kepada dahsyatnya pertarungan.


Kondisi mata yang buta sesaat membuat Ratu Wilasin yang didampingi oleh Tikam Ginting, tidak bisa melihat bahwa dirinya sedang diserang dengan seberkas sinar merah.


Namun, Tikam Ginting yang tidak bisa melihat pula, bisa merasakan bahwa ada serangan yang datang dan berkekuatan tinggi seperti pada awal-awal. Karena dirinya telah berdiri menghadap ke laut, ia lepaskan satu bola sinar merah dengan hanya menduga-duga.


Namun, antara sinar merah Pembunuh Pertama dan Tikam Ginting tidak jodoh, mereka berselisih lintasan.


Sets! Bluar!


Namun, bukan hanya dua sinar merah itu yang melesat, satu sinar biru berwujud tombak juga melesat dari arah laut dan tepat menombak sinar merah Pembunuh Pertama. Ledakan dahsyat peraduan dua tenaga sakti terjadi di udara, tidak begitu jauh dari posisi Ratu Wilasin dan Tikam Ginting.


“Akk!” jerit Ratu Wilasin dengan tubuh terpental keras dan jatuh bergulingan di lantai papan.

__ADS_1


Hal yang sama dialami oleh Tikam Ginting yang berdiri di sisi Ratu Wilasin. Ia pun jatuh bergulingan tidak jauh dari sang ratu.


“Hoekh!” Bersamaan Ratu Wilasin dan Tikam Ginting muntah darah.


Pada saat yang bersamaan, Santra Buna dan kedua pengawalnya juga terdorong. Sementara itu, kembali papan lantai dermaga hancur sebagian.


Pembunuh Pertama langsung menengok ke arah Dewi Ara yang telah melesatkan ilmu Tombak Algojo.


Ketika pandangan mereka sudah kembali normal, ternyata Pembunuh Pertama sudah dalam posisi melayang tidak jauh di depan atas Raja Akar Setan. Sementara kedua tangannya telah diselimuti api besar warna hijau.


Beg! Wuss! Bluar!


Alangkah terkejutnya Raja Akar Setan mendapati lawan telah begitu dekat. Tidak ada waktu untuk menghindar.


Namun, lagi-lagi ada pengganggu bagi Pembunuh Pertama.


Satu kekuatan tidak terlihat telah menghantam dirinya ketika dia membanting kedua bola apinya kepada Raja Akar Setan. Akibat kekuatan yang menghantam dirinya, arah serangan kedua bola api Pembunuh Pertama jadi agak bergeser, sehingga menghantam lantai yang tidak begitu jauh dari kaki Raja Akar Setan.


Broaks!


Di saat lantai dermaga hancur sekaligus terbakar, dan Raja Akar Setan terpental jauh ke dalam air laut, Pembunuh Pertama jatuh bergulingan hingga ke pinggir dermaga.


Clap!


Setelah itu, Pembunuh Pertama langsung menghilang karena ada tombak sinar biru yang melesat kepadanya.


Cuss!


Tombak sinar biru itu tidak mengenai sasaran dan justru menembusi tiang kayu besar yang biasa digunakan untuk menambatkan tambang kapal besar.


Sess! Sets!


Tahu-tahu Pembunuh Pertama telah berada di pinggiran lain dermaga. Ia melesatkan sinar merah seperti tadi. Kali ini targetnya adalah sosok Dewi Ara yang baru saja melesat terbang menuju ke dermaga.


Bluar!


Ledakan keras kembali terjadi. Untuk kedua kalinya, ilmu Tombak Algojo Dewi Ara beradu kuat dengan ilmu Mekar Bunga Kematian milik Pembunuh Pertama.

__ADS_1


Hasilnya, lesatan terbang tubuh Dewi Ara tertahan di udara, bahkan sedikit terdorong ke belakang dan hendak jatuh ke air, tapi tidak jadi.


Di sisi lain, Pembunuh Pertama kali ini terjengkang di lantai dermaga yang telah terbakar sebagian. (RH)


__ADS_2