
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Prabu Banggarin tidak bisa kembali lagi ke Istana karena dia telah ditahan, setelah takluk di tangan Permaisuri Tangan Peri alias Permaisuri Ginari.
Dalam kondisi tubuh masih terlilit oleh tali sinar merah dari ilmu Peri Meringkus Siluman, Prabu Banggarin dimasukkan ke dalam sebuah kereta kuda yang sudah disiapkan.
“Bukankah ini kereta kuda milik Mahapatih Duri Manggala?” ucap Prabu Banggarin curiga karena mengenali kereta kuda tersebut.
Namun, pendekar yang menggiring langkah Prabu Banggarin tidak memberi komentar.
Permaisuri Kerling Sukma mengiringi kereta kuda yang membawa Prabu Banggarin. Permaisuri Mata Hijau pun dikawal oleh sepuluh Pendekar Pengawal Bunga. Pendekar tua Domba Hidung Merah ternyata ikut mengawal kereta kuda.
Sementara itu, Pasukan Ular Gunung pimpinan Panglima Bidar Bintang tetap di posisi. Permaisuri Tangan Peri alias Permaisuri Ginari tetap memimpin pasukan.
“Pasukan Panah Jauh!” seru Permaisuri Ginari.
“Pasukan Panah Jauuuh!” teriak Panglima Bidar Bintang lebih lantang menggelegar.
Drap drap drap …!
Sebanyak tiga ratus prajurit yang sejak tadi berada di barisan belakang segera berlari kecil maju ke barisan depan. Mereka berlari sambil membawa komponen-komponen panah besar.
Setibanya di depan, mereka membentuk barisan memanjang ke samping menghadap ke arah dinding benteng Istana. Untuk satu set panah besar, dua prajurit berlutut berdampingan dengan kayu busur yang besar diletakkan pada bahu mereka. Satu prajurit kemudian merakit busur dan memasang anak panah yang ukurannya jauh lebih besar dan panjang dari panah normal. Jadi, satu set busur terdiri dari tiga prajurit. Ada seratus set busur besar terpasang yang mereka sebut panah jauh.
“Permaisuri Tangan Peri memerintahkan semua pejabat dan perwira yang berlindung di dalam benteng Istana untuk menjatuhkan senjata, dan menyerah tanpa perlawanan!” teriak Panglima Bidar Bintang dengan suara mengandung tenaga dalam, sehingga seruannya terdengar sampai jauh ke dalam Istana.
Bimbanglah Panglima Dendeng Boyo serta pejabat dan perwira Kerajaan Baturaharja mendengar perintah itu.
“Pasukan Pengawal Prabu, ikut aku!” perintah Komandan Bengal Banok sambil berbalik dan berjalan menuju tangga turun dari atas benteng.
Pasukan Pengawal Prabu yang berjumlah lebih dari dari seratus orang asegera mengikuti komandannya turun dari atas benteng.
Panglima Dendeng Boyo dan perwira lainnya hanya memandangi kepergian itu tanpa bisa mencegah. Komandan Pasukan Pengawal Prabu hanya bisa diperintah oleh Prabu Banggarin, jadi pejabat lain tidak punya kuasa atas mereka.
“Kami beri waktu seratus hitungan. Setelahnya, kami akan menyerang dan membunuh orang yang masih ada di dalam benteng Istana!” teriak Panglima Bidar Bintang. Lalu perintahnya kepada perwiranya, “Mulai hitung!”
“Empat puluh sembilan! Lima puluh! Lima puluh satu …!” teriak kaki kanan Panglima Bidar Bintang yang menghitung langsung dari angkat empat puluh sembilan.
Hitungan lompat itu seketika mengejutkan semua orang yang ada di atas dan dalam benteng. Sebagian tersulut emosi dan sebagian lagi ingin tertawa, tetapi mereka tahan karena itu adalah masa genting.
“Prajurit tolol!” maki salah satu pejabat di atas benteng. Ia marah dengan ulah prajurit penghitung itu.
__ADS_1
“Bagaimana ini, Panglima Dendeng?” tanya seorang menteri yang panik.
“Menurut Gusti Menteri sendiri bagaimana?” Panglima Dendeng Boyo justru balik bertanya.
“Beri sepuluh panah peringatan!” perintah Panglima Bidar Bintang.
“Baik, Panglima!” sahut komandan Pasukan Panah Jauh. Lalu perintahnya kepada pasukannya, “Lepas sepuluh panah peringatan!”
Sepuluh prajurit pemanah jauh yang ada di dekat sang komandan, yang namanya dirahasiakan itu, segera menarik senar busur yang sudah dipasang anak panah besar.
“Tembak!” seru sang komandan mantap.
Set set set …!
Maka sepuluh anak panah besar melesat cepat jauh. Serangan anak panah itu mengejutkan para punggawa Baturaharja di atas benteng, juga membuat pasukan yang ada jadi was-was. Besarnya dan jarak jangkau panah itu membuat mereka ketar-ketir. Sebab, jika mereka balas memanah, jangkauan anak panah mereka tidak akan sampai.
Kesepuluh anak panah itu terbang melintas di atas kepala mereka dan masuk jauh ke dalam lingkungan istana.
Tseb tseb tseb!
“Akk! Akh! Akk …!”
Demi neneknya para prajurit panah, mereka memanah hanya sebagai peringatan saja, bukan bermaksud membunuh orang. Namun, rupanya rombongan anak panah itu jatuh mengjangkau tengah-tengah barisan Pasukan Pengawal Prabu yang sedang berlari agak kencang menuju ke keputren.
Sebanyak lima prajurit tumbang dengan rincian empat tewas dan satu luka parah. Sementara lima anak panah lainnya bersifat lebih santai dengan menancap di tempat kosong.
“Setan laut! Serangan panah mereka bisa sampai sedalam ini!” gusar Komandan Bengal Banok.
Namun, apa boleh buat, mereka tidak bisa membalas. Akhirnya sang komandan itu memutuskan terus berkuda menuju keputren yang segera diikuti oleh pasukannya dengan berlari kaki.
“Tujuh puluh lima! Tujuh puluh tujuh! Tujuh puluh delapan …!”
Prajurit tangan kanan Panglima Bidar Bintang terus berteriak menghitung menuju angka seratus.
Panglima Bidar Bintang tidak melakukan koreksian atas salah hitung prajuritnya. Hal yang sama dilakukan oleh Permaisuri Ginari.
“Prajurit itu benar-benar tolol. Apakah Kerajaan Sanggana Kecil juga merekrut prajurit-prajurit yang tidak bisa berhitung?” maki sang menteri yang sejak tadi meributkan tentang kemampuan berhitung si prajurit hitung.
“Mungkin dia pandai bertarung tapi lugu dalam berhitung,” komentar pejabat lain yang juga menunjukkan wajah resah.
“Bagaimana ini, Panglima?” tanya sang menteri. “Hitungannya sebentar lagi sampai. Bisa saja prajurit tolol itu tahu-tahu menghitung seratus!”
“Delapan puluh delapan! Sembilan puluh! Sembilan tiga …!” teriak prajurit penghitung semakin keras dan bersemangat, karena hitungannya sebentar lagi finish.
__ADS_1
“Tarik busuuur!” teriak Panglima Bidar Bintang keras di sela-sela hitungan prajuritnya.
Serentak seratus pemanah jauh menarik senar busurnya jauh-jauh. Arah bidikan mereka bukan lagi ke angkasa lingkungan Istana, tetapi langsung ke wujud manusia-manusia yang ada di atas benteng, termasuk ke arah Panglima Dendeng Boyo dan pejabat lainnya.
Mendengar dan melihat itu, pasukan Kerajaan Baturaharja semakin takut dan panik, bahkan ada satu dua prajurit yang menangis. Ingin rasanya lari, tapi belum ada perintah yang cocok.
“Sembilan puluh tujuh, seraaa …!”
“Kami menyeraaah!” teriak Panglima Dendeng Boyo menggelegar, tapi bernada berat dan terpaksa. Memang, menyerah adalah keputusan yang sangat dibenci oleh sang panglima. Namun, nyawa pasukannya lebih berharga. Tidak ada gengsi yang seharga nyawa.
“Batalkan serangaaan!” teriak Panglima Bidar Bintang cepat, sebelum ada satu anak panah yang terlanjut dilepas oleh pasukannya.
Keseratus pemanah jauh itu serentak mengendurkan senar busur mereka.
Sementara itu di atas benteng, Panglima Dendeng Boyo dan para pejabat lainnya bergerak meninggalkan posisinya. Para prajurit panah yang berposisi di atas benteng juga terlihat bergerak meninggalkan posisinya.
Jregek!
Tidak berapa lama gerbang besar benteng Istana terbuka lebar. Dari dalam berjalan kaki Panglima Dendeng Boyo dan para pejabat lainnya. Sang panglima mengawali membuang senjatanya ke samping begitu saja, tanda bahwa dia telah menjatuhkan senjata alias menyerah.
Para pejabat juga melakukan hal yang sama. Di belakang mereka, ratusan prajurit keluar dalam kondisi sudah tidak bersenjata lagi.
Melebar sepasang mata indah Permaisuri Ginari. Sekedar mengingatkan bahwa Permaisuri Ginari memiliki mata yang cantik dan bening, meski tidak hijau seperti mata Permaisuri Kerling Sukma.
Melebar sepasang mata Permaisuri Ginari ketika dia mengenali satu sosok lelaki tua di antara para punggawa Baturaharja.
“Guru,” sebut Permaisuri Ginari lirih dengan mata berbinar. Ia memang tahu bahwa gurunya menjadi pejabat tinggi di Istana Baturaharja.
Permaisuri Ginari lalu menggebah kudanya. Namun, baru saja kuda itu berlari tiga lompatan, tiba-tiba sang permaisuri menarik kencang tali kekang si kuda sehingga melakukan pengereman mendadak.
“Aku harus menjaga nama baik Guru. Aku khawatir Guru akan dituduh sebagai pengkhianat di mata pasukan Baturaharja jika aku bersikap akrab dengannya,” pikir Permaisuri Ginari.
Pada saat itu, Penasihat Ranggasewa yang berada di tengah-tengah pejabat Baturaharja lainnya tidak henti-hentinya menatap ke arah Permaisuri Ginari. Sepasang mata tuanya tampak berkaca-kaca. Ada rasa bahagia di dalam dada tuanya yang sudah tidak montok lagi melihat muridnya telah menduduki status yang tinggi sebagai seorang permaisuri.
Jika mengingat perjalanan hidup seorang gadis pendekar jelita bernama Ginari itu, ingin rasanya Ranggasewa menangis lagi. Sebelum menjadi seorang permaisuri dan kembali menjadi wanita sakti, Ginari harus didera kondisi malang yang bertubi-tubi. Pokonya sedih jika diceritakan.
“Jemput para tawanan perang!” teriak Panglima Bidar Bintang.
Drap drap drap …!
Maka ribuan prajurit bertombak segera berlari maju dengan menghunuskan senjatanya.
“Berlutut! Berlutut! Tangan di belakang kepala!” teriak para prajurit Sanggana Kecil kepada para pejabat dan prajurit yang telah menyerah. Bukan hanya satu prajurit yang berteriak memerintah, tetapi banyak, sehingga terdengar riuh dan tegang.
__ADS_1
Meski mengancamkan tombak-tombaknya, tetapi tidak ada tombak yang ditusukkan untuk melukai seorang pun.
Panglima Dendeng Boyo, Penasihat Ranggasewa dan para pejabat lainnya terpaksa harus mengikhlaskan diri turun berlutut di tanah lapang. Mereka meletakkan kedua tangannya di belakang leher. (RH)