
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
Berbekal jejak bau tubuh Pangeran Arda Handara, Prabu Dira Pratakarsa Diwana bersama para istri dan Pasukan Pengawal Bunga akhirnya tertuntun sampai di area yang agak lapang dan indah, yaitu gubuk papan yang kaya akan pelita kelapa muda.
Mereka telah tiba di gubuk milik Ragu Santang.
“Kepung!” perintah Reksa Dipa kepada pasukannya, padahal Prabu Dira dan Ratu masih bersikap diam berdiri memandang ke arah gubuk tersebut.
“Tahan!” seru Permaisuri Sandaria tiba-tiba.
Puluhan pendekar itu berhenti bergerak dan menengok kepada junjungan mungil mereka yang menggemaskan di saat lapang dan sempit.
“Apa yang kalian kepung?” tanya Permaisuri Sandaria.
“Gubuk itu, Gusti Permaisuri!” sahut Reksa Dipa.
“Itu bukan gubuk, tapi makhluk mengerikan,” kata Permaisuri Dewi Ara.
“Hah!” kejut serentak para pendekar itu.
Para pendekar itu menjadi heran. Jelas-jelas mereka melihat di depan sana adalah sebuah gubuk, bukan sesosok makhluk yang pastinya akan bergerak jika itu makhluk.
“Pandangan kalian telah ditipu oleh pemandangan yang indah,” kata Prabu Dira yang ternyata senada dengan kedua istrinya.
Zess! Bluar!
Tiba-tiba Permaisuri Dewi Ara melesatkan sinar biru berwujud tombak. Sinar dari ilmu Tombak Algojo itu melesat kepada gubuk yang berjarak beberapa tombak di depan mereka. Saat mengenai gubuk papan, timbul ledakan dahsyat yang keras. Tempat itu seolah terguncang oleh kekuatan yang meledak.
Bersamaan dengan hancurnya gubuk tersebut, dua taman yang ada juga hancur. Semua dian kelapa muda raib begitu saja dan berganti dengan kegelapan. Pemandangan indah yang tadi mereka lihat, telah berubah gelap menyeramkan.
Bagi Permaisuri Sandaria yang tidak menggunakan mata, jelas tidak bisa ditipu dengan pemandangan palsu yang diciptakan oleh seorang sakti.
Kini mereka melihat sesosok makhluk besar mengerikan.
Makhluk itu seperti sebuah bukit kecil yang berwarna hitam. Bukit yang tersusun dari tumpukan tentakel berwarna hitam seperti gurita raksasa yang sedang duduk di puncak bukit. Namun, tentakel yang seperti belalai-belalai dari Cumi Hitam itu terlalu banyak dan berlapis-lapis, juga lebih panjang-panjang.
Namun, pada bagian kepalanya, itu bukanlah kepala gurita yang kenyal-kenyal berlendir, tetapi itu adalah sesosok lelaki tua tanpa baju. Rambut putihnya terurai seperti rambut perempuan dan berjenggot sepanjang beberapa jari. Ada satu tahi lalat besar di bawah mata kirinya.
Sess!
__ADS_1
Permaisuri Kusuma Dewi lalu melepaskan seberkas sinar kuning terang ke langit malam. Sinar itu menerangi area sekitar, terutama sosok besar bukit tentakel yang puncaknya adalah tubuh seorang kakek yang tidak lain adalah Ragu Santang.
Hal yang mengejutkan, terlihat jelas bahwa bagian tubuh perut ke bawah si kakek menyatu dengan pangkal tentakel yang dinamai Cumi Hutan oleh piha Prabu Dira, tapi bernama Akar Santang oleh Ragu Santang.
“Hah!” kejut sebagian dari para pendekar yang tidak menduga atas pemandangan yang mereka saksikan.
“Siluman gurita!” seru seorang pendekar yang sudah pernah berkenalan dengan gurita laut.
“Makhluk apa itu?” tanya yang lain, karena bingung menyimpulkan apa yang tersampul di depan matanya.
“Hahaha …!” tawa Ragu Santang keras membahana dan berkepanjangan.
“Hihihi …!” tawa Permaisuri Sandaria pula, melengking seperti tawa kuntilanak. Bisa dibandingkan. Lau teriaknya, “Wahai, para Pendekar! Siapkan pedang-pedang kalian, malam ini kita akan pesta tusuk-tusuk daging bakar (sate)! Hihihi!”
“Penghuni Hutan Timur! Kau sembunyikan di mana putraku?!” teriak Permaisuri Dewi Ara galak. Dia terbawa kekhawatiran, karena saat itu dia tidak merasakan keberadaan putranya di tempat tersebut.
“Hahaha!” Ragu Santang masih tertawa menanggapi pertanyaan dan reaksi para wanita cantik itu.
“Biar aku yang berbicara kepadanya,” kata Prabu Dira tenang berwibawa kepada para istrinya. Lalu katanya kepada sang ratu, “Burungmu, Sayang.”
Zerzz!
Sinar merah besar berwujud burung bersayap capung melesat keluar dari dalam tubuh Ratu Tirana. Ketika makhluk sinar itu naik, Prabu Dira langsung naik menempel pada punggung burung. Burung sinar itu lalu terbang berhadapan wajah dengan Ragu Santang pada ketinggian beberapa tombak.
Burung sinar merah lalu berhenti dan melayang. Posisi Prabu Dira sejajar dengan posisi tubuh atas Ragu Santang.
“Maafkan kelancangan kami telah menjamah dan merusak Hutan Timur, Kek,” ucap Prabu Dira santun.
“Hahaha! Seorang raja, tapi lebih dulu meminta maaf kepadaku yang berwujud setan ini. Hahaha! Menarik, menarik!” kata Ragu Santang akhirnya. “Pasti tujuan kalian hanya satu, yaitu menemukan Pangeran Arda Handara?”
Terkejutlah Prabu Dira dan para istri, terutama Permaisuri Dewi Ara mendengar terkaan Ragu Santang. Namun untuk Prabu Dira, keterkejutannya tetap tertutupi oleh ketenangannya.
“Pastinya Tetua sudah bertemu dengan putraku?” terka Prabu Dira pula.
“Hahaha! Anak itu sangat menarik dan ….”
“Bebaskan putraku, Penghuni Hutan Timur!” teriak Permaisuri Dewi Ara tiba-tiba.
Terlihat bahwa ibu kandung Arda Handaraa itu sudah tidak sabar untuk segera memastikan kondisi putranya.
“Atau aku akan menghancurkanmu!” ancam Permaisuri Dewi Ara.
__ADS_1
“Hahaha! Aku ragu kau bisa melakukannya!” seru Ragu Santang menantang.
“Kakak, biarkan Kakang Prabu mencoba membujuk makhluk itu lebih dulu,” kata Ratu Tirana lembut kepada madunya.
“Heh!” dengus Permaisuri Dewi Ara kesal, tapi memang harus menuruti kata-kata sang ratu.
“Harap maklumi kami, Tetua. Sebagai ayah dan ibu dari anak yang hilang, tentunya kami sangat cemas dan panik,” ujar Prabu Dira, meski tidak menunjukkan kepanikan.
“Aku pun menaruh hormat kepadamu, Gusti Prabu. Karena itulah aku pun tidak mau mengganggu kerajaanmu, meski letaknya sangat dekat dari hutan ini,” kata Ragu Santang akhirnya.
“Berarti … Tetua adalah seorang yang baik hati,” kata Prabu Dira.
“Hahaha! Apakah orang yang membunuh tiga pendekarmu dan menyerangmu dengan pasukan Akar Santang-ku tergolong orang yang baik hati, Gusti Prabu?”
“Jika sudi kiranya, bolehkah kami tahu dengan siapa kami berhadapan saat ini?” ujar Prabu Dira.
“Namaku Ragu Santang. Dewi Mata Hati mengenal siapa aku jika dia mendengar namaku,” jawab Ragu Santang.
Terkesiap Prabu Dira kali ini, begitupun dengan para istri dan pasukan pendekar.
“Bagaimana Tetua bisa tahu bahwa dalam keluarga kami ada Dewi Mata Hati?” tanya Prabu Dira.
“Pangeran Arda yang mengatakannya. Anak itu sangat menarik dan aku sangat suka kepadanya. Sebenarnya dia ingin menjadi muridku, tapi tentunya kau dan ibunya tidak akan mengizinkannya. Jadi, aku hanya menerima Barada sebagai muridku,” kata Ragu Santang.
“Lalu di mana putraku, Tetua. Tentunya kau tidak mencelakainya?” kata Prabu Dira.
“Akar Santang milikku telah membawanya ke istanamu, Gusti Prabu,” jawab Ragu Santang.
Mendengar jawaban itu, maka Prabu Dira dan para istrinya dilanda keraguan. Jelas, tidak mungkin mereka percaya begitu saja kepada orang yang baru saja mereka kenal, terlebih orang itu sangat mengerikan wujudnya.
“Bagaimana aku bisa yakin bahwa Tetua tidak membohongi kami?” tanya Prabu Dira masih bersikap tenang.
Sementara Permaisuri Dewi Ara semakin kesal dan tidak sabaran.
“Aku yakin kau tahu kami akan datang, tapi kenapa kau justru mengirim Arda pulang ke Istana di saat kami datang menjemputnya?” tukas Permaisuri Dewi Ara.
“Aku hanya tidak ingin Pangeran Arda menyaksikan sosok asliku, karena kalian tidak mungkin bisa aku bohongi dengan gambaran palsu,” jawab Ragu Santang.
“Apa sebenarnya yang terjadi dengan diri Tetua? Kenapa seperti ini?” tanya Prabu Dira.
“Hahaha!” tawa Ragu Santang yang cenderung adalah kekehan yang meratapi dirinya. (RH)
__ADS_1