Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 20: Permaisuri Terlalu Sakti


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


Pangeran Bajing Tua segera bangkit dengan kondisi pakaian dan wajah berlumur tanah basah. Ia segera mencari orang yang telah melemparnya dengan kekuatan besar tanpa pakai sentuh.


“Ibunda!” teriak Arda Handara girang kepada sosok wanita cantik jelita berdahi lebar dan berpakaian serba merah gelap, membuat warna kulitnya terlihat terang di waktu yang kian temaram itu.


Ada sayap Superman yang berkibar di saat wanita jelita itu melayang terbang di udara, memukau orang-orang, khususnya kaum batangan. Bahkan Pangeran Bajing Tua juga terperangah takjub. Dia lupa dengan kondisinya yang sudah seperti orang gila.


Kedatangan wanita seperti dewi itu juga menarik perhalian Gadis Cadar Maut, Kenyot Gaib dan Tengkak Bande.


“Dewi Geger Jagad!” sebut Gadis Cadar Maut terkejut.


Mendengar ucapan Gadis Cadar Maut, terkesiap Kenyot Gaib karena langsung mengenali nama itu. Bibir tua imut si nenek tidak pernah berhenti mengenyot.


Namun, bayangan Kenyot Gaib tentang sosok Dewi Geger Jagad adalah seorang pendekar wanita golongan hitam yang sakti mandraguna, yang selama ini dianggap telah mati karena lama menghilang.


“Bukankah wanita jahat itu sudah lama mati?” pikir Kenyot Gaib sambil serius memerhatikan wanita yang datang. “Itu pasti bukan dia.”


Arda Handara segera berlari menghambur memeluk kaki wanita yang baru datang. Ia memang Permaisuri Dewi Ara.


Sebelumnya, Pendekar Bola Cinta telah berpapasan dengan rombongan Permaisuri Dewi Ara yang sudah dekat ke pusat Kadipaten Jalur Bukit. Setelah mendengar laporan Tikam Ginting, Dewi Ara langsung menghilang dari kudanya.


Tidak pakai lama, Dewi Ara tiba di kediaman Adipati Siluman Merah di saat Pangeran Bajing Tua mengancam keselamatan Arda Handara.


“Beraninya kau mengancam putraku, Kisanak,” kata Permaisuri Dewi Ara datar kepada Pangeran Bajing Tua.


“Anak Setan itu per …!” teriak Pangeran Bajing Tua.


Jbrack!


Namun, teriakan marah Pangeran Bajing Tua terputus saat tiba-tiba wajahnya terbanting begitu saja ke tanah becek.


“Hahaha …!” tawa para penonton melihat nasib Pangeran Bajing Tua.


“Hahahak …!” Karena sudah ada ibunya, Arda Handara pun semakin berani dan semakin nyaman menertawakan Pangeran Bajing Tua.


Sementara itu, pertarungan Gadis Cadar Maut dengan kedua tetua kembali dilanjutkan.


Yang menjadi kesulitan utama bagi Kenyot Gaib dan Tengkak Bande adalah serangan dari tombak Gadis Cadar Maut yang tidak pernah berhenti sejak awal. Tombak itu terbang seperti dikendalikan oleh remote control.


Ketika sedang asik-asiknya menyerang Gadis Cadar Maut bersamaan, lagi-lagi tombak kayu terbang datang melintas. Paling tidak enak jika sedang asik-asik menuju *******, tahu-tahu ada iklan lewat. Padahal Kenyot Gaib dan Tengkak Bande sudah mencoba untuk menghancurkan tombak itu dengan ajian tingkat tinggi, tetapi tombak itu bandel, tidak mau hancur-hancur. Makanya, mereka tidak percaya jika tombak itu terbuat dari kayu.


Berbanding terbalik dengan tongkat kayu hitam milik Kenyot Gaib. Kepala tongkat itu sudah hancur dihantam oleh pukulan Gadis Cadar Maut.


Menghadapi Gadis Cadar Maut benar-benar membuat Kenyot Gaib kehilangan kepercayaan diri, bukan kehilangan kehormatan. Kesaktian yang ia banggakan siang dan malam hingga ke alam mimpi, menjadi cupu di depan wanita bercadar itu, padahal ia lebih berpengalaman dalam masalah hidup dan cinta.

__ADS_1


“Permaisuri Kerajaan Sanggana telah datang, jadi mari segera kita akhiri saja, Kenyot Gaib!” seru Gadis Cadar Maut.


Terkejut Kenyot Gaib dan Tengkak Bande mendengar kata “Permaisuri Kerajaan”. Kakek dan nenek itu saling pandang, seolah saling bertanya dan minta pendapat.


“Serang permaisuri itu!” kata Kenyot Gaib kepada Tengkak Bande.


Clap! Clap!


Tiba-tiba Kenyot Gaib dan Tengkak Bande bergerak secepat setan ngacir, sehingga terkesan menghilang begitu saja deri depan Gadis Cadar Maut.


“Cari mati,” ucap Gadis Cadar Maut sambil menangkap tombak kayunya yang terbang pulang ke tuannya.


“Hekh!” pekik Kenyot Gaib yang tiba-tiba tubuhnya muncul di udara dalam kondisi terlempar, saat wajah Dewi Ara menengok ke arah kedatangannya yang tidak terlihat.


“Hukh!” pekik Tengkak Bande pula dengan kondisi serupa.


Bluk! Bluk!


Kenyot Gaib dan Tengkak Bande jatuh bersama di tanah, tapi tidak sambil berpelukan.


Presh presh!


Clap! Krak krak!


“Aak! Akk!” jerit dua kali Pangeran Bajing Tua saat dua tulang tangannya patah dan terdengar jelas patahnya.


Setelah itu dia melesat laksana menghilang, tetapi dua sinarnya terlihat seperti garis hijau melesat ke arah posisi Dewi Ara.


Namun, baru setengah jalan, tahu-tahu kedua tulang tangan Pangeran Bajing Tua dipatahkan oleh satu kekuatan yang tidak terlihat.


Blukk!


“Aaak!” erang Pangeran Bajing Tua kesakitan setelah tubuhnya jatuh ke tanah. Ia guling-guling ke samping bolak-balik menahan sakit yang begitu pedih pada kedua tangannya yang seketika tidak berfungsi.


Namun, tidak berapa lama, Pangeran Bajing Tua bisa bangkit dengan susah payah, karena kedua tangannya tidak bisa membantu.


Pangeran Bajing Tua lalu berlari dan berkelebat hendak pergi keluar dari lingkungan halaman. Tindakan Pangeran Bajing Tua itu membuat sangkar bajingnya yang melayang di udara jatuh begitu saja ke tanah, mungkin karena sudah tidak mendapat support dari tuannya.


Bdakk!


Namun, saat berkelebat di udara itu, mendadak tubuh Pangeran Bajing Tua melesat berbelok arah, seperti ada satu kekuatan besar yang membelokkannya. Tubuh Pangeran Bajing Tua menghantam tembok pagar dengan keras, sampai-sampai muncul garis-garis retak pada tembok.


“Gadis Cadar Maut, lumpuhkan orang itu agar bisa ditangkap!” perintah Dewi Ara yang mengenal Gadis Cadar Maut adanya.


“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap Gadis Cadar Maut lantang dan patuh.

__ADS_1


“Hah! Gusti Permaisuri?!”


Terkejutlah orang-orang yang mendengar sebutan dari Gadis Cadar Maut kepada wanita cantik jelita itu.


Di saat Gadis Cadar Maut melesat ke posisi Pangeran Bajing Tua, Adipati Siluman Merah dan keluarga besar beramai-ramai maju. Demikian pula para warga yang berjubel di pintu pagar.


“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap Adipati Siluman Merah sambil turun bersujud dengan menahan sakit yang dalam lantaran luka parahnya.


“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri!” ucap keluarga besar Adipati Siluman Merah dan warga sambil turun bersujud di tanah.


“Permaisuri itu terlalu sakti bagi kita, ayo kita cepat kabur,” kata Kenyot Gaib kepada Tengkak Bande.


“Bagaimana dengan Bajing Tua?” tanya Tengkak Bande.


“Biarkan saja ditangkap!” tandas Kenyot Gaib.


Clap! Clap!


Kenyot Gaib tahu-tahu menghilang. Buru-buru Tengkak Bande juga melesat menghilang meninggalkan tempat itu.


“Bangunlah kalian semua!” perintah Dewi Ara kepada rakyatnya, tanpa sempat untuk mencegah kaburnya Kenyot Gaib dan Tengkak Bande.


Mereka semua yang bersujud segera bangkit berdiri. Adipati Siluman Merah bangun dengan dibantu oleh putrinya, Bening Mengalir.


Ketika semua orang sudah berdiri sempurna, tiba-tiba dari luar halaman berkelebat sesosok lelaki berpakaian kuning bagus. Ia datang dengan berlari di udara, melewati tembok pagar, bahkan sempat-sempatnya menginjak kepala dua orang warga, lalu mendarat gagah tidak jauh di depan Dewi Ara dan Adipati Siluman Merah.


“Gusti Adipati, siapa orang yang berani menculik calon istriku?” tanya pemuda tampan berjari-jari besar itu dengan wajah menunjukkan kemarahan.


Pemuda yang adalah Pendekar Desa Balikandang, Bajigur, sempat melirik kepada Dewi Ara. Dalam hati dia sangat terpesona, tetapi dia harus bersikap abai karena saat ini dia sedang berada di depan calon mertua.


Bdak!


Tiba-tiba, tanpa hujan angin badai, Bajigur terbanting ke belakang.


“Hahaha!” tawa warga dan Arda Handara melihat nasib Bajigur.


“Siapa yang melakukannya?!” teriak Bajigur gusar sambil buru- buru bangkit memandang liar ke sekeliling.


“Aku!” jawab Dewi Ara singkat.


Seketika terdiam Bajigur dan menatap tajam kepada Dewi Ara, hitung-hitung sambil menikmati kecantikan wanita berdahi lebar lagi licin tersebut.


“Lancang kau, Bajigur! Kau sedang memandang liar kepada Gusti Permaisuri,” ucap Adipati Siluman Merah.


“Apa?” pekik Bajigur terkejut bukan alang kepalang.

__ADS_1


Sontak kegarangan pada wajah dan sikapnya seketika raib. Ia langsung menjatuhkan diri bersujud, sampai-sampai terdengar suara tulang dahi menghantam kerasnya tanah.


“Ampuni hamba, Gusti Permaisuri! Hamba sangat tidak tahu!” ucap Bajigur keras tapi dengan suara bergetar karena ketakutan. (RH)


__ADS_2