
*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*
“Hahaha …!” tawa Arda Handara, Bayu Kikuk dan Cicirini kencang.
Ketiga anak itu begitu asik sedang berjongkok mengelilingi sesuatu.
Mimi Mama yang memandang dari atas anjungan jadi penasaran. Dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang diramaikan oleh ketiga anak manusia itu sejak tadi.
“Hahaha! Hijau Kemot menari, lihat bokongnya! Hahaha!” teriak Arda Handara begitu girang.
“Hahaha!” perkataan Arda Handara diikuti oleh tawa kedua putra Komandan Bengisan.
Benar-benar membuat penasaran bagi Mimi Mama.
“Sedang main apa sih anak-anak kecil itu?” ucap Mimi Mama.
Ia lalu melompat turun dan mendarat ringan di geladak. Setelah itu, dia berjalan biasa menghampiri Arda Handara dan kedua rekannya.
Tanpa kata-kata, Mimi Mama berhenti di dekan mereka. Dia berdiri sambil melihat apa yang sedang ditengahi oleh Arda Handara, Bayu Kikuk dan Cicirini.
Ternyata, ketiga anak itu sedang mengerumuni sebidang papan tipis yang dipegang oleh Bayu Kikuk sejak tadi. Papan itu berbentuk lingkaran berdiameter dua kali piring nasi uduk.
Di atas papan itulah Arda Handara meletakkan beberapa ulat bulunya satu per satu. Baru saja dia meletakkan ulat bulu jenis harimau yang bulu lebatnya memiliki dua warna, yaitu hitam dan oranye. Ketika diletakkan, bagian bokong ulat bulu itu bergoyang-goyang, sementara bagian kepalanya diam saja. Arda Handara menamai ulat itu Hijau Kemot.
Arda Handara mendadak berhenti tertawa saat ia menyadari kehadiran Mimi Mama.
“Eh, Anak Cantik. Jangan ke sini jika takut dengan uyut-uyut,” kata Arda Handara seraya tersenyum.
“Siapa yang bilang aku takut dengan ulat bulu?” tanya Mimi Mama membantah.
“Oh tidak takut. Jika begitu, ayo duduk sini,” kata Arda Handara mengajak. Lalu katanya kepada Bayu Kikuk dan Cicirini, “Geser sedikit, biar Anak Cantik kebagian tempat.”
“Duduk di sini, Mimi!” panggil Cicirini sambil bergeser untuk memberi ruang jongkok kepada Mimi Mama.
“Jongkok di sini!” kata Arda Handara sambil memukul lantai kapal.
Mimi Mama pun akhirnya ikut duduk berjongkok di antara Arda Handara dan Cicirini. Sebenarnya dia tidak takut dengan ulat bulu, tetapi hanya sedikit geli. Namun, maruahnya akan jatuh jika dia menunjukkan sikap fobia terhadap uyut-uyut di depan ketiga anak kecil itu. Dia tidak masalah dekat dengan hewan melata itu, asalkan tidak menyentuhnya.
“Mimi Cantik, ini namanya Babi-or,” kata Arda Handara memperkenalkan ulat bulu yang berwarna serba hitam. Itu jenis ulat bulu bokong periuk yang racunnya bisa membuat seseorang tidak fokus.
Arda Handara juga kemudian memperkenalkan ulat bulu lainnya.
“Ini namanya Hijau Kemot. Nah, kalau ini namanya Sanda Kolot. Nah, yang ini namanya Mimi Mama, hahaha!” kata Arda Handara sambil mengeluarkan sejumlah ulat bulu berwarna oranye, yaitu ulat bulu petang.
“Kenapa pakai namaku?” tanya Mimi Mama seraya memandang Arda Handara dengan tatapan protes.
“Karena uyut-uyut petang adalah perempuan,” jawab Arda Handara.
“Dari mana kau tahu? Jika kucing atau ayam, aku percaya jika kau tahu apakah itu jantan atau betina. Tapi ulat bulu, bagaimana caranya kau bisa tahu?” tanya Mimi Mama.
“Hahaha!” Arda Handara malah tertawa. Lalu katanya, “Lihat saja bokongnya Hijau Kemot, di situ ada lubang yang menunjukkan dia perempuan.”
Arda Handara menunjuk ulat bulu jenis harimau.
Mimi Mama lalu memajukan wajahnya untuk melihat lubang di bokong ulat bulu harimau yang bergerak bergelombang halus.
“Ah, tidak ada,” sangkal Mimi Mama.
“Jika dari jarak seperti itu, tidak akan terlihat. Coba lihat lebih dekat lagi,” kata Arda Handara.
__ADS_1
Mimi Mama lalu lebih mendekatkan wajahnya ke atas papan untuk mencari lubang di bokong ulat bulu harimau. Namun, sepertinya Mimi Mama kesulitan menemukan lubang gender si ulat bulu.
“Apakah kau melihatnya, Mimi?” tanya Bayu Kikuk.
“Tidak ada,” jawab Mimi Mama sambil terus memerhatikan bokong si ulat bulu dengan seksama.
Pak!
Tiba-tiba Arda Handara memukul papan yang dipegang Bayu Kikuk dari arah bawah. Sontak papan dan para ulat bulu berlompatan ke atas. Mimi Mama, Bayu Kikuk serta Cicirini terkejut dan refleks bergerak mundur.
Wajah mereka memang tidak terkena lemparan papan yang terpental, tetapi wajah mereka sudah terkena ulat bulu, termasuk Mimi Mama yang dikerjai oleh Arda Handara.
“Hahahak …!” tawa terbahak Arda Handara sambil berlari kencang meninggalkan ketiga rekannya. Tidak lupa dia membawa tongkatnya.
“Arda buluaaan!” teriak Mimi Mama histeris setelah menepis ulat bulu oranye yang nemplok di hidungnya.
“Hahahak …!” Arda Handara terus tertawa terpingkal-pingkal sambil berlari terbirit-birit menuju ke pinggiran kapal.
“Akan aku hajar kau!” teriak Mimi Mama mengancam.
Clap!
Saking kesalnya, Mimi Mama sampai mengerahkan kecepatan tertingginya. Ia seperti menghilang dari tempatnya, membuat Bayu Kikuk dan Cicirini terkejut.
“Mau lari ke mana kau, Ulat Bulu?” tanya Mimi Mama yang tahu-tahu sudah mencekal belakang baju Arda Handara.
Arda Handara yang sudah berada di pinggir kapal, terpaksa berhenti.
“Hahaha!” Namun, anak lelaki pendek itu masih tertawa-tawa.
Para orang besar dan orang tua hanya memandangi pertengkaran kedua anak tersebut.
“Selamat tinggal, Anak Cantik,” ucap Arda Handara seraya menengok kepada Mimi Mama dan tersenyum.
Tangan Arda Handara yang sedang memegang kepala Tongkat Kerbau Merah menekan kedua mata kepala tongkat. Maka ….
Seeet!
“Aaak!”
Tiba-tiba tubuh Arda Handara tertarik terbang karena Tongkat Kerbau Merah langsung melesat meninggalkan atas kapal.
Mimi Mama yang mencengkeram belakang baju Arda Handara dengan kuat, jadi ikut tertarik meninggalkan atas kapal. Namun, ketika naik mengudara, pegangan Mimi Mama terlepas, membuatnya terjun bebas ke laut.
Jbur!
“Mimi Mama!” teriak Setya Gogol dan Lentera Pyar bersamaan saat melihat Mimi Mama jatuh tercebur ke laut.
“Mimi Mamaaa!” teriak Bayu Kikuk dan Cicirini pula. Mereka panik.
“Kakang Setya, cepat tolong Mimi Mama!” kata Lentera Pyar juga panik.
“Tidak usah khawatir. Pembunuh Kedua tidak akan mati hanya karena tercebur ke laut,” kata Setya Gogol mengingatkan Lentera Pyar tentang siapa adanya Mimi Mama.
Sementara Dewi Ara hanya memandang dari buritan kapal. Saat itu dia bersama Eyang Hagara, Tikam Ginting, Bewe Sereng, dan Nahkoda Dayung Karat.
“Hahaha!” tawa Arda Handara berkempanjangan di angkasa. Dia jelas menertawai Mimi Mama.
Dia yang awalnya terbang bergelayutan karena belum sempat menaiki tongkatnya, kini telah duduk gagah di punggung kendaraannya.
Arda Handara lalu terbang melintas di atas posisi Mimi Mama yang bisa bertahan mengambang diombang-ambing ombak.
__ADS_1
“Aku bisa mengangkatmu terbang, Anak Cantik. Asalkan kau tidak akan memelukku!” teriak Arda Handara menawarkan jasa.
“Iya, aku janji, aku tidak akan memelukmu, tapi aku akan meninju hidungmu!” teriak Mimi Mama pula.
Sementara itu, kapal terpaksa dipelankan lajunya dan bergerak memutari titik jatuhnya Mimi Mama.
Arda Handara berbelok dan kembali terbang melintas di atas Mimi Mama.
“Berjanjilah tidak akan memukulku!” tuntut Arda Handara.
“Iya, aku janji tidak akan memukulmu!” teriak Mimi Mama.
“Baiklah, kau akan aku angkat!” teriak Arda Handara.
Anak itu kembali berbelok lalu terbang menukik turun untuk menyambar Mimi Mama.
“Tangkap tanganku!” teriak Arda Handara sambil merunduk dan mengulurkan tangannya ke bawah.
Tap!
Tangan Arda Handara dan Mimi Mama saling menangkap. Mimi Mama langsung tertarik terangkat mengudara. Dia bergelayutan pada tangan Arda Handara.
Namun, meski mereka terbang naik mengudara, tetapi berat badan Mimi Mama mempengaruhi keseimbangan Tongkat Kerbau Merah.
Maka mereka terbang seperti capung mabuk di udara. Mereka terbang oleng dan kembali menukik menuju laut.
“Kau berat sekali, Anak Cantik. Kau pasti banyak dosa!” keluh Arda Handara sambil berusaha mempertahankan keseimbangan mereka.
Akhirnya tongkat terbang itu kembali naik mengangkasa.
Namun, Mimi Mama yang awalnya bergelayutan dengan satu tangan, menaikkan tangan satunya mencengkeram celana Arda Handara dan berusaha memanjat naik.
“Eh, diam! Jangan memanjat, Momo!” teriak Arda Handara kesal sehingga sengaja menyebut salah nama Mimi Mama.
Tindakan Mimi Mama itu membuat keseimbangan terbang jadi terganggu dan ada daya tarik. Mereka pun terbang oleng seperti pesawat capung yang gagal mesin.
Namun, sebagai anak pintar, Arda Handara tidak kehabisan akal. Dia arahkan terbangnya jatuh tepat menuju ke atas kapal hitam.
“Ibundaaa!” teriak Arda Handara bermaksud minta pertolongan.
Mendengar itu, Dewi Ara hanya menengok sebentar ke udara.
“Tikam Ginting!” sebut Dewi Ara tanpa kalimat perintah.
Namun, Pendekar Bola Cinta itu sudah mengerti makna yang terkandung di dalam penyebutan nama itu.
Di geladak depan, Setya Gogol, Lentera Pyar, Komandan Bengisan dan Bong Bong Dut sudah memasang kuda-kuda untuk menyambut pendaratan darurat Arda Handara dan Mimi Mama.
“Tangkaaap!” teriak Setya Gogol berkomando menjelang pendaratan terjadi.
Pendaratan yang akan dilakukan oleh Arda Handara dan Mimi Mama bukanlah pendaratan pelan seperti burung mendarat, tapi seperti pesawat jatuh.
Wess! Pluk!
Sebelum pendaratan terjadi, tiba-tiba sekelebat bayangan ungu melintas cepat menabrak tubuh Arda Handara dari samping.
Bdluk!
Pendaratan tetap terjadi, tetapi bukan dua orang, melainkan tiga orang karena ditambah oleh Tikam Ginting.
Jika Mimi Mama mendarat aman dengan langsung bergulingan di geladak kapal, Arda Handara mendarat empuk di atas badan sekal Tikam Ginting.
__ADS_1
Tadi, Tikam Ginting menangkap peluk tubuh Arda Handara dan mengatur jatuhnya. Ia memberikan punggungnya kepada lantai kapal sehingga sang pangeran bisa aman.
“Terima kasih, Kakak Tikam. Hehehe!” ucap Arda Handara, setelah bergerak bangun mengangkat wajahnya dari kedua bulatan dada pendekar wanita itu. (RH)