Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 30: Denyut-Denyut Enak (27+)


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Ketika Tadayu cepat melompat mengejar Putri Uding Kemala ke dalam air laut, sebenarnya dia berhasil mendapatkan tubuh sang putri di kedalaman air.


Putri Uding Kemala yang menyelam buta di dalam air, jadi gelagapan dan terkejut ketika ada yang memegang dan memeluk dirinya. Gelapnya laut membuatnya tidak bisa melihat makhluk apa yang memegangi bagian mana saja dari tubuhnya.


Di dalam kegelapan itu Putri Uding Kemala mencoba berontak agar terbebas dari kekuatan makhluk yang adalah Tadayu. Namun, tubuhnya dipeluk kuat dan seolah dibawa berenang masuk lebih dalam ke dasar. Padahal sebaliknya.


Beberapa kali tenggorokannya merasakan begitu asinnya air sumber garam itu.


Pada akhirnya, kepala Putri Uding Kemala keluar dari air dan muncul di permukaan air laur, itu terbukti bahwa dirinya yang hampir kehabisan napas bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“Haaah!” napas sang putri.


Namun, ada kepala lain yang menempel pada kepalanya dan makhluk yang dia yakini adalah seorang lelaki itu, masih juga memeluk tubuhnya yang buto (bugil total) dengan kuat.


“Siapa kau? Lepaskan aku!” teriak Putri Uding Kemala sambil berusaha melepaskan diri.


“Aku Tadayu. Jangan lepas dariku, nanti kau tenggelam, Gusti Putri!” jawab lelaki itu dengan agak berteriak.


Mereka berdua timbul jauh dari posisi perahu yang di atasnya ada Gandang Duko. Jadi, suara mereka tidak terdengar oleh Gandang Duko yang posisi perahunya semakin menjauh dengan sendirinya karena terbawa ombak.


“Aku tidak akan membiarkanmu memperkosaku, Lelaki Babian!” teriak Putri Uding Kemala sambil menangis.


“Tidak, aku tidak akan memperkosamu!” tandas Tadayu.


“Aku tidak percaya kepadamu!”


“Jika kau tidak percaya kepadaku, lalu kepada siapa kau akan percaya? Hanya ada aku yang bersamamu,” kata Tadayu berusaha membujuk.


“Jangan peluk-peluk aku! Jangan pegang-pegang aku! Hiks hiks hiks!” jerit sang putri lagi sambil menangis.


“Jika aku lepas, nanti kau akan mati tenggelam atau mati kedinginan. Lagipula sejak tadi kau sudah aku peluk, sejak tadi kau sudah aku pegang-pegang. Sudah terlanjur. Sekarang anggap aku sebagai kekasihmu. Anggaplah kau sedang dipeluk oleh kekasihmu, atau suamimu. Aku tidak akan memperkosamu, Gusti Putri,” kata Tadayu dengan kata-kata berbisik di telinga gadis itu.


Ternyata bisikan “maut” Tadayu membuat sang putri terdiam berpikir dan meredakan tangisnya.


“Sebenarnya aku jatuh hati kepada Kakak Tadayu, tapi jika dia mau memperkosaku …. Kondisi sudah terlanjur seperti ini, aku pun tidak mau mati. Kakak Tadayu memiliki jiwa penolong ketika pertama muncul. Dia tidak akan membiarkan aku mati, jika benar dia tidak jadi memperkosaku. Aku hanya bisa mengandalkan dia untuk bisa selamat dari laut dingin ini, karena hantu laut pun tidak ada muncul untuk menolong …,” pikir Putri Uding Kemala di dalam keterdiamannya.


“Ayo, kita harus berenang ke pulau. Kau mau ikut denganku, Gusti Putri?” ajak Tadayu.


“Tapi Kakak tidak akan memperkosaku?” tanya Putri Uding Kemala dengan bibir yang sudah gemetar.

__ADS_1


“Awalnya aku memang berniat, tapi …. Ah, pokoknya aku bersumpah tidak akan memperkosamu,” kata Tadayu.


“Tapi Kakak sudah menyentuh semua milikku,” ucap Putri Udang Kemala lirih.


“Lalu, apakah kau minta diperkosa sekalian?” tanya Tadayu.


“Ti-ti-tidak. Maksudku ….”


“Sudahlah. Sekarang kau naik duduk dipunggungku seperti menunggang kuda. Aku akan berenang membawamu ke pulau,” kata Tadayu memotong.


“Iya,” ucap Putri Uding Kemala patuh. Ia akhirnya mau berdamai


“Jangan sampai kau kabur lagi atau terlepas dariku. Kondisi terlalu gelap,” pesan Tadayu.


“Iya.”


Dalam kondisi buto, Putri Uding Kemala berusaha naik duduk mengangkang di punggung Tadayu yang memposisikan dirinya mengambang tengkurap. Urusan aurat terbuka lebar dan saling sentuh sudah tidak dipertimbangkan lagi. Yang terpenting saat itu adalah berenang menuju kepada keselamatan.


“Kenapa kita tidak berenang ke perahu, Kakak?” tanya Putri Uding Kemala yang sudah seperti joki kuda laut.


“Kau lihat sendiri, perahunya sudah hilang. Jika kita kembali ke perahu, nanti aku dipaksa untuk memperkosamu lagi,” jawab Tadayu.


Tadayu pun berenang dengan beban di punggungnya. Namun, itu bukan masalah dan tidak menjadi beban kehidupan maupun beban pikiran. Maklum orang sakti.


Mengetahui kondisi sang putri, Tadayu segera berkata, “Rebahkan badanmu ke punggungku, aku akan menyalurkan tenaga panas agar kau hangat.”


“Tapi, itu sama saja aku menyentuhkan bukitku kepada Kakak,” kata Putri Uding Kemala berat hati.


“Tidak apa-apa, lagipula kondisi kita sudah sama-sama telanjang seperti ini,” kata Tadayu.


“Aku yang telanjang, Kakak masih pakai pengaman,” debat Putri Uding Kemala merengut, tapi rengutan manjanya mubazir karena tidak terlihat.


“Jadi maksudmu, kau juga menyuruhku membuka cawatku biar adil?” tanya Tadayu yang sangat goda-menggoda.


“Ti-ti-tidak!” jawab sang putri cepat dan tergagap plus gemetar.


“Semua sudah terjadi seperti ini. Di antara kita tidak perlu ada yang harus dimalukan lagi. Ayolah, demi kebaikanmu juga, Gusti Putri,” kata Tadayu.


“Baiklah,” ucap Putri Uding Kemala melembut. Lalu batinnya, “Kakak Tadayu berubah menjadi begitu baik. Jika seandainya dia mencintaiku dan kami adalah sepasang kekasih, aku sangat tidak keberatan dalam kondisi seperti ini bersamanya.”


Putri Uding Kemala lalu merebahkan badanya ke punggung Tadayu. Gerakan perlahan sang putri membuat pemuda itu bisa sangat merasakan sentuhan dua kewanitaan di kulit punggungnya, yang justru memberikan desiran indah di pusat keperkasaan Tadayu.


“Aku harus tahan, aku tidak boleh mengorbankan Gusti Putri,” batin Tadayu mereaksi munculnya desiran legit di pusat keperkasaannya.

__ADS_1


Dia lalu mengerahkan energi panasmya demi menghangatkan Putri Uding Kemala yang menyatu di punggungnya seperti pacet.


Energi panas yang dikerahkan oleh Tadayu mengalir bergelombang seperti ombak lautan. Memang, Putri Uding Kemala bisa langsung merasakan hawa hangat yang pada kulitnya.


Namun, ada satu hal yang menjadi masalah bagi sang putri. Energi panas yang mengalir bergelombang, entah kenapa membuat pusat kewanitaannya berdenyut-denyut seiring gelombang panas itu lewat.


Putri Uding Kemala hanya bisa terdiam menikmati, sampai-sampai ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Namun, Tadayu sedikit pun tidak tahu tentang perkara apa yang dialami oleh sang putri. Tadayu lebih fokus dalam perjuangannya berenang menaklukkan satu demi satu ombak lautan.


Diam menikmati rasa enak itu berlangsung cukup lama. Ternyata, lama-kelamaan rasa itu kian panas dan meningkat kelezatanunya.


“Aaah!” Tanpa sadar dan terkendali, keluar desahaan agak panjang dari mulut sang putri, yang buru-buru dieditnya menjadi pendek.


“Kenapa, Gusti Putri?” tanya Tadayu terkejut, karena ******* Putri Uding Kemala sangat dekat dengan telinganya, memberi rangsangan tersendiri pada perasaan Tadayu.


“Eh, ti-ti-tidak,” jawab Putri Uding Kemala tergagap lantaran terkejut ditanyai tiba-tiba. “A-a-aku rasa, aku sudah tidak kedinginan. Badanku sudah hangat.”


“Oh, baiklah,” ucap Tadayu yang sedikit pun tidak sadar dengan apa yang dialami oleh sang putri.


Tadayu lalu menghentikan mengerahan energi panasnya.


“Seandainya tidak merendahkan kehormatanku, aku pasti akan minta kepada Kakak Tadayu,” batin Putri Uding Kemala.


Namun, apa boleh buat, rasa denyut enak itu akhirnya hilang seiring dipadamkannya energi panas Tadayu. Timbul rasa kecewa di hati Putri Uding Kemala, seperti kecewa istri yang suaminya menderita penyakit semiga syndrome (separuh mikir untuk bergairah).


Untuk sementara Putri Uding Kemala menegakkan badannya menantang angin laut malam. Memang, kondisi tubuhnya sudah hangat.


“Apakah masih jauh, Kakak?” tanya Putri Uding Kemala.


“Separuh jalan lagi, Gusti Putri,” jawab Tadayu.


“Kakak yakin bisa sampai ke pantai?” tanya sang putri.


“Aku pendekar sakti. Jangankan pulau terdekat, dua, tiga atau empat pulau, masih sanggup aku lalui. Hahaha!” koar Tadayu jumawa, lalu tertawa pelan.


Dari keakuran dialog yang tercipta, sepertinya keduanya sudah tidak ada hawa pertengkaran.


Putri Uding Kemala begitu memikirkan rasa enak yang tadi dia rasakan. Sepertinya itu hal yang bahagia dan membuatnya ketagihan. Hingga kemudian, tidak berapa lama dia pun meminta.


“Kakak Tadayu, aku kedinginan lagi,” ujarnya sambil lebih dulu merebahkan kembali badan depannya ke punggung si pemuda. Padahal kondisinya tidak semenggigil sebelumnya.


“Baiklah.”


Tadayu pun kembali mengerahkan energi panasnya. Sang Putri pun kembali menikmati gelombang energi yang memberi keenakan itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2