
*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*
Kedua kapal perang Kerajaan Walet Biru memiliki warna biru terang. Sedangkan kain layarnya berwarna biru muda. Pada atas anjungan ada patung burung walet besar dari kayu dan berwarna biru pula. Demikian pula pada ujung dua tiang kapal, ada patung burung walet lebih kecil sedang membentangkan sayapnya.
Masing-masing kapal dipimpin oleh seorang Kapiton, pangkat satu tingkat di bawah laksaamana. Urutan kepangkatan pemimpin dalam Angkatan Laut Kerajaan Walet Biru tergolong simpel, yakni laksamana pemimpin semua armada, kapiton pemimpin kapal dan mandor pemimpin pasukan.
Kapal yang di sebelah depan bernama Kapal Raja Samudera yang dipimpin oleh Kapiton Beringas. Kapal kedua sebelah belakang bernama Kapal Raja Gunung yang dipimpin oleh Kapiton Sumpal Kepal.
Jarak kedua kapal militer dengan kapal kuning emas Bajak Laut Malam masih jauh, tetapi kedua kapiton sudah bersiap-siap.
“Persiapkan Tombak Naga Belenggu!” teriak Kapiton Beringas.
“Siap, Kapiton!” teriak seorang mandor menyahut. Ia lalu mengulang perintah untuk prajurit anak buahnya, “Siapkan Tombak Naga Belenggu!”
Maka beberapa prajurit segera bergerak di dua mesin tembak besar yang ada di sisi kanan dan kiri haluan. Dua orang prajurit bertugas mengangkat tombak besi besar nan berat. Mata tombak itu berbentuk seperti mata kail cumi-cumi. Tombak besar itu dipasang di alat mesin tembak moderen. Satu prajurit segera menarik dengan tiga karet tembak yang tebal di pasang di ekor tombak. Segel pengunci juga dipasang agar tidak melesat sebelum dilepas. Pada ekor tombak juga dipasang pengait rantai besar.
“Pasukan tombak siap! Pasukan panah siap!” teriak Kapiton Beringas lagi.
“Siap, Kapiton!” teriak dua orang mandor yang masing-masing adalah pemimpin pasukan tombak dan panah.
“Pasukan tombaaak!” teriak mandor pasukan tombak.
Prajurit yang merasa pasukan tombak segera berlarian di atas kapal. Mereka mengambil tombak bambu ramping yang panjangnya tiga kali tinggi tubuh mereka. Jadi tombak itu bisa menjangkau target yang jauh tanpa perlu dilempar.
Setelah mengambil tombak masing-masing, pasukan itu pergi mengambil posisi di ujung haluan dengan tombak-tombak yang menjulur.
“Pasukan panaaah!” teriak mandor pasukan panah pula.
Sebanyak sekitar empat puluh orang prajurit panah bergerak berkumpul dan membentuk formasi di belakang pasukan tombak.
Sementara itu di Kapal Raja Gunung yang ada di belakang.
“Pasang Tombak Naga Penghancur!” perintah Kapiton Sumpal Kepal.
“Siap, Kapiton!” sahut seorang mandor yang kemudian melanjutkan perintah, “Pasang Tombak Naga Penghancur!”
Maka beberapa prajurit segera bergerak berlari. Dua prajurit dua prajurit mengambil dan menggotong tombak besi, lalu dipasang di mesin penembak. Ekornya juga dikaitkan dengan rantai.
Perbedaan Tombak Naga Belenggu dan Tombak Naga Penghancur terletak pada mata tombak dan fungsinya. Tombak Naga Belenggu matanya runcing dan memiliki banyak pengait yang runcing seperti kail cumi-cumi. Ekornya pun diikat rantai panjang. Senjata itu berfungsi untuk mengikat kapal musuh agar tidak kabur. Sementara Tombak Naga Penghancur ujungnya berbentuk bola sebesar kepala, tapi terbuat dari logam khusus yang sangat berat dengan tujuan menjebol dinding badan kapal musuh.
Namun, Kapiton Sumpal Kepal belum memerintahkan pasukannya bersiap. Meski demikian, semua pasukan di kapal itu dalam posisi siap menunggu perintah.
“Beri tanda perintah menyerah!” perintah Kapiton Beringas.
“Siap, Kapiton!” teriak praajurit yang ada di pos atas tiang utama.
Prajurit itu lalu membakar sebuah obor kayu besar yang apinya tidak padam oleh angin. Lalu satu obor lagi dinyalakan sehingga dia memegang dua obor. Dia lalu menghadap ke arah Kapal Bintang Emas. Kedua obor dia angkat di atas kepala dengan posisi tangan menyilang.
“Ketua, mereka meminta kita menyerah,” kata Keong Gelap kepada Genggam Garam.
Tanda api menyilang sudah menjadi tanda umum yang dipahami oleh para pelaut.
“Menyerah adalah hal yang memalukan bagi Bajak Laut Malam,” tandas Genggam Geram.
Di saat sebanyak dua puluh anggota lelaki bajak laut bekerja keras mendayung di dalam perut kapal, ada sebanyak delapan belas anggota bajak laut yang berdiri di belakang Genggam Garang dan Keong Gelap, tidak termasuk Bagang Kala dan Anik Remas.
“Bajak Laut Malam pantang takluk tanpa pertarungan! Siapkan diri dan senjata kalian! Kapal Bintang Emas memiliki kerangka yang lebih kuat dari Kapal Bintang Hitam dan haluannya terbuat dari lapisan baja. Lakukan adu badaaak!” teriak Genggam Garam keras kepada seluruh anak buahnya.
__ADS_1
“Yeee …!” sorak para anak buahnya dengan ekspresi garang, seolah menyambut semangat rencana yang akan mereka lakukan.
Genggam Garam lalu melompat enteng seperti monyet ke atap anjungan.
“Kita akan melakukan adu badak laut sebentar lagi, kuatkan dayungan kalian!” teriak Keong Gelap sambil melongokkan kepalanya ke lubang pintu menuju perut kapal.
“Baik!” teriak Tangan Kanan menyahut. Dia yang memimpin tim dayung saat itu sebagai hukuman atas hilangnya Kapal Bintang Hitam. Lalu perintahnya kepada kedua puluh tim dayungnya, “Wahai para lelaki Bajak Laut Malam, tambah tenaga dayungmu! Kita akan adu badak laut!”
“Siap!” teriak kedua puluh anggota bajak laut serentak penuh semangat. Otot-otot besar dan alotnya sudah basah oleh keringat sejak tadi.
“Satu tiga lima! Tabrak sampai hancur!” teriak Tangan Kanan berkomando.
“Tabrak sampai hancur!” teriak para pendayung pula. Kali ini format yel-yel mereka diubah.
“Satu tiga lima! Tabrak sampai mati!” teriak Tangan Kanan lagi.
“Tabrak sampai mati!” teriak tim pendayung lagi, mengikuti kalimatnya.
“Satu tiga lima! Kita pasti menang!” teriak Tangan Kanan.
“Kita pasti menang!” teriak tim dayung.
“Satu tiga lima! Kita pasti bahagia!”
“Kita pasti bahagia!”
Suara ramai dari dalam perut kapal menjadi lagu penyemangat pula bagi mereka yang berada di atas.
Sementara itu, ketiga kapal saling mendekat. Kapal Bintang Emas tidak menunjukkan akan memelan apalagi berminat berhenti. Kapal itu meluncur stabil dan istiqomah.
“Pasang Kapak Penghancur!” teriak Genggam Garam.
Sama seperti Kapal Bintang Hitam, Kapal Bintang Emas memiliki alat pelontar kapak raksasa di buritan. Namun, alat pelontar yang ini sepenuhnya terbuat dari logam.
Sebanyak empat orang lelaki bekerja mengangkat selempengan besi lebar dan tebal, yang pada kedua sisinya tajam. Simpelnya, benda logam itu adalah kapak raksasa yang harus diangkat oleh empat tenaga lelaki kuat.
Kapak raksasa bermata dua itu lalu dipasang berdiri di alat tersebut dengan hati-hati. Kapak tersebut memiliki lubang-lubang sehingga bisa dipasang dan diberi beberapa tali karet besar.
Setelah senjata besar itu dipasang, bagian tempat dipasangnya ditarik ke belakang sejauh mungkin, sehingga tali-tali karetnya menegang kencang. Tatakan tempat kapak berdiri modelnya panjang. Jadi ketika ditarik maksimal, tatakannya tetap tidak lepas dari dua tiang pelontarnya.
Setelah pasak-pasak pengunci dipasang agar tatakan kapak tidak bergerak, dan ukuran jarak tembak dikunci, anak buah Tangan Kanan pun berteriak.
“Kapak penghancur siaaap!” teriak salah satu anggota.
Namun, pelontar kapak itu tidak bisa menembak ke depan kapal, tapi dia bisa ditembakkan ke arah samping atau ke belakang.
“Enam Tenaga Naga bersiap!” perintah Genggam Garam.
“Siap!” sahut enam orang lelaki anggota bajak laut, lalu mereka segera bergerak ke buritan.
Di sana, keenam lelaki itu berbaris satu saf dan langsung berkonsentrasi dengan kuda-kuda tetap kokoh meski kapal diayun ombak. Mereka melakukan gerakan-gerakan tangan seiring mengatur pernapasannya. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu, tapi menunggu perintah berikutnya.
Kapal Bintang Emas dan Kapal Raja Samudera makin saling mendekat. Sementara Kapal Raja Gunung tetap berposisi di belakang kapal saudaranya.
“Kapiton, kapal bajak laut itu menantang adu badak laut!” teriak seorang mandor kepada Kapiton Beringas.
“Bersiap hadapi tabrakan! Bersiap menyerang!” teriak Kapiton berusia separuh abad kurang empat tahun itu.
__ADS_1
“Pasukan tombak, bersiaaap!” teriak mandor pasukan tombak.
Pasukan tombak pun memasang kuda-kuda dengan tombak panjang siap ditusukkan.
“Tariiik!” perintah mandor pasaukan panah.
Pasukan panah yang berbaris berlapis-lapis segera menarik benang busur, menjelang kapal mereka akan bertabrakan dengan Kapal Bintang Emas.
Menjelang tabrakan adu badak antara haluan kedua kapal, semua anggota bajak laut berposisi di buritan dan belakang kabin. Sementara Tangan Kanan berdiri di tangga memantau detik-detik tabrakan terjadi. Karena tim dayung tidak bisa melihat ke luar, jadi dia yang menjadi pengingat.
“Limaaa!” teriak Tangan Kanan memberi tahu tim dayungnya. “Tigaaa!”
Semakin dekatnya hitungan itu, membuat para pendayung menunjukkan wajah-wajah serius dan tegas. Mereka siap menerima guncangan keras.
Di saat kedua ujung haluan kedua kapal siap beradu, Kapiton Beringas memberi perintah.
“Lepas Tombak Naga!”
Sreeet sreeet!
Dua prajurit operator mesin tembak Tombak Naga langsung melepas kuncian. Maka dua tombak besi besar berdiameter dua genggaman tangan melesat cepat menyonsong Kapal Bintang Emas. Suara rantai panjang yang mengikut di ekornya terdengar nyaring.
Serzz! Bzar! Broks!
Ketua Bajak Laut Malam tidak tinggal diam. Dia melesatkan satu sinar pukulan warna biru terang yang menyongsong satu tombak, menghantamnya dan membuat tombak itu terlempar ke samping, sehingga keluar dari jalur lalu jatuh ke air.
Pada saat yang bersamaan, satu Tombak Naga Belenggu menembus sisi depan anjungan tanpa halangan. Tombak itu melesat masuk dan sampai menjebol dinding belakang.
“Aaak!” Satu orang bajak laut masih bisa tertusuk perutnya hingga berlubang besar.
“Panaaah!” teriak mandor pasukan panah.
Set set set …!
Sebanyak empat puluh anak panah dilepaskan serentak dengan mengantisipasi kekuatan angin yang bertiup.
“Lepas Tenaga Nagaaa!” teriak Genggam Garam pula di kapal satunya.
Wusss!
Di saat pasukan panah Kerajaan Walet Biru melepaskan hujan panah, enam bajak laut yang berdiri di buritan Kapal Bintang Emas juga bertindak. Serentak mereka menghentakkan kedua lengannya ke arah belakang kapal. Mereka serentak melepaskan angin keras yang menjadi kekuatan dorong baru bagi kapal emas itu.
Maka yang terjadi adalah Kapal Bintang Emas tiba-tiba melesat maju tambah cepat, mengejutkan Kapiton Beringas dan pasukannya di atas kapal. Pergerakan tiba-tiba itu juga membuat sasaran hujan panah lewat lebih dulu. Panah-panah itu jatuh di air laut belakang kapal kuning, meski ada satu dua tiga yang jatuh di bagian buritan, tetapi itu bisa ditangkis atau dielaki.
“Satuuu!” teriak Tangan Kanan memberi tahu tim dayungnya.
Dan kejap berikutnya ….
Bdruakr! Kretakr!
Akhirnya haluan Kapal Bintang Emas dan Kapal Raja Samudera bertemu adu dengan sangat keras.
Semua orang yang ada di atas kedua kapal terguncang hebat. Ada yang terpental, ada yang terjungkal, ada yang sekedar terguncang, ada yang terlempar ke laut, tapi ada juga yang memanfaatkannya sebagai momentum untuk melompat jauh ke depan.
Namun, yang mengejutkan, bagian depan Kapal Raja Samudera langsung hancur dan terbelah ke belakang hingga tiga tombak. Kondisi itu membuat Kapiton Beringas langsung syok berat.
Sementara Kapal Bintang Emas, tidak mengalami kerusakan sedikit pun dalam aduan itu karena bagian depannya berlapis baja dan memiliki desain kerangka yang kuat.
__ADS_1
Pasukan tombak yang bersiap, jadi hancur berantakan sebelum menyerang. Posisi mereka yang di pinggiran, membuat banyak dari mereka jatuh ke laut. Demikian pula dengan pasukan panah yang bubar karena semuanya terlempar ke depan.
Sementara itu, sekelompok anggota Bajak Laut Malam berlompat jauh ke depan saat tabrakan terjadi. Lompatan mereka langsung mendarat di Kapal Raja Samudera. (RH)