Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 9: Dugaan Mahapatih


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


Benteng perbatasan selatan wilayah Kerajaan Baturaharja tidak lebih sebuah jalan yang di apit oleh dua bukit. Ada pos prajurit di sana dengan satu menara bambu yang tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk melihat sampai ke Gerbang Perbatasan Utara Kerajaan Sanggana Kecil.


Keluarnya satu pasukaan besar yang formasinya memanjang seperti ular, membuat pasukan perbatasan selatan Kerajaan Baturaharja terkejut. Karena ujung pasukan tidak kunjung habis keluar dari Gerbang Perbatasan Utara, prajurit di menara bambu pun berteriak.


“Ada pasukan besar keluar dari Kerajaan Sanggana Kecil!” teriak prajurit penjaga menara.


Karena tidak begitu bisa melihat dari bawah, komandan pasukan perbatasan itu segera naik ke atas menara. Komandan pasukan terkejut ketika melihat jumlah besar pasukan Kerajaan Sanggana Kecil yang mengular jauh.


“Tutup jalan!” teriak sang komandan.


Perintah itu segera direspon dengan menutup jalan menggunakan pagar balok kayu dua lapis. Sementara ada sekitar tiga puluh prajurit yang berbaris di belakang pagar. Sang komandan pun berdiri paling depan di belakang pagar.


Sedikitnya pasukan yang ada di perbatasan selatan dikarenakan mereka berbatasan dengan Sanggana Kecil yang merupakan kerajaan pengayom. Artinya, tidak mungkin aka nada ancaman dari arah Kerajaan Sanggana Kecil.


Ketika Pasukan Ular Gunung tiba di jalan dua bukit itu, ….


“Prajurit! Beraninya kalian menutup jalan bagi Permaisuri Sanggana Kecil dan pasukannya!” teriak Hantam Buta marah melihat jalan telah diblokir oleh para prajurit perbatasan Kerajaan Baturaharja.


Ia lalu melompat seperti belalang dari punggung kudanya.


“Hiaaat!”


Bagk! Bless! Bruakr!


Lelaki muda bertubuh besar berotot itu mendarat dengan keras di tanah, tepat di depan pagar balok penghalang. Seperti pendaratan seorang raksasa bertubuh baja, bumi seolah terguncang dengan satu gelombang kejut muncul dari bawah kedua telapak kakinya.


Dua lapis pagar balok yang memblokir jalan terpental dalam kondisi berpatahan.


“Kabuuur! Eh, munduuur!” teriak komandan pasukan Baturaharja setelah melihat kekuatan satu orang doang dari pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.


Tidak mau bernasib apes, puluhan pasukan Kerajaan Baturaharja pun balik kanan lari bubar. Pos penjagaan itu kini tanpa penjagaan.


Singkat cerita.


Dari mundurnya pasukan perbatasan itu, kabar tentang kedatangan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil dalam jumlah besar segera dilaporkan ke basis-basis militer, yang puncaknya laporan itu bermuara kepada Prabu Banggarin.


“Apa?!” pekik terkejut Prabu Banggarin ketika prajurit perbatasan telah tiba menghadap dan melapor kepadanya.


Prabu Banggarin jadi gelisah dengan wajah menunjukkan sedang berpikir keras. Otak tuanya sedang mencoba menganalisa apa yang menjadi penyebab utama Kerajaan Sanggana Kecil mengirim pasukan dalam jumlah besar masuk ke wilayah kerajaannya.


Bukan hanya Prabu Banggarin yang terkejut mendengar kabar itu, tetapi juga Komandan Bengal Banok.

__ADS_1


“Seharusnya Prabu Dira mengirim utusan terlebih dahulu jika ingin mengirim permaisuri dan pasukannya. Apakah aku melakukan kesalahan sehingga mereka mengirim pasukan untuk menumbangkan kekuasaanku?” ucap Prabu Banggarin yang saat itu hanya ada Bengal Banok bersamanya.


“Prabu Dira sudah melanggar perjanjian, Gusti Prabu. Harga diri Kerajaan Baturaharja harus ditegakkan. Masuknya pasukan Sanggana Kecil tanpa mengirim utusan lebih dulu jelas adalah penghinaan dan pelanggaran kedaulatan kita,” kata Bengal Banok, sengaja memprovokasi junjungannya.


“Benar juga. Kehormatanku akan diinjak-injak jika aku membiarkan pasukan itu masuk seenaknya. Biarpun Baturaharja adalah kerajaan binaan Sanggana Kecil, tetapi kita tetap harus menunjukkan kedaulatan dan kehormatan kita,” kata Prabu Banggarin. Lalu teriaknya, “Prajurit, panggil Mahapatih!”


“Hamba sudah datang, Gusti Prabu!” sahut seseorang dari arah luar ruangan.


Dua detik kemudian, muncullah Mahapatih Duri Manggala.


“Hamba juga menghadap, Gusti Prabu!” sahut pula seorang kakek, yang tidak lain adalah Ranggasewa sang penasihat.


“Baguslah jika kalian cepat datang,” ucap Prabu Banggarin dengan otot wajah yang mengeras.


“Sembah hormatku, Gusti Prabu!” ucap kedua pembesar itu sambil turun berlutut menghormat dengan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi.


“Bangunlah!” perintah Prabu Banggarin.


Kedatangan Mahapatih Duri Manggala dan Penasihat Ranggasewa membuat Bengal Banok diam dengan perasaan kesal di dalam hati.


“Kalian sudah mendapat kabar tentang masuknya pasukan Sanggana Kecil dalam jumlah yang besar ke wilayah Baturaharja?” tanya Prabu Banggarin.


“Karena itulah kami segera menghadap, Gusti Prabu,” jawab Ranggasewa.


Terkejut Mahapatih dan Ranggasewa mendengar perintah tersebut.


“Mohon maaf, Gusti Prabu. Akan sangat berbahaya jika sampai terjadi perang,” kata Ranggasewa.


“Kita berperang untuk mempertahankan diri dan kehormatan kita. Seharusnya Prabu Dira tidak mengambil langkah seperti itu!” tandas Prabu Dira. Lalu katanya kepada Mahapatih Duri Manggala, “Segera laksanakan perintahku, Mahapatih!”


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Mahapatih Duri Manggala patuh lalu menghormat.


Ketika Mahapatih Duri Manggala beringsut mundur, Ranggasewa sedikit menengok memandang kepada Mahapatih. Ia melihat ibu jari tangan kanan Mahapatih Duri Manggala bergerak-gerak di atas pahanya.


“Duri Manggala memberi tanda,” batin Ranggasewa.


“Penasihat!” sebut Prabu Banggarin.


“Hamba, Gusti,” jawab Ranggasewa sambil kembali fokus kepada junjungannya.


“Bagaimana menurutmu dalam menghadapi situasi ini?” tanya Prabu Banggarin.


“Intinya, hamba hanya mewanti-wanti, jangan sampai Baturaharja terlibat perang dengan Sanggana Kecil. Kekuatan Sanggana Kecil sangat besar. Kebijaksanaan seorang raja bisa menyelamatkan banyak nyawa,” ujar Ranggasewa.

__ADS_1


“Aku tahu, aku tahu. Namun, kehormatan seorang raja adalah kehormatan seluruh rakyatnya pula,” kata Prabu Banggarin.


Singkat cerita.


Mahapatih Duri Manggala segera melaksanakan titah dari sang prabu. Ia melakukan hal yang sudah semestinya ia lakukan. Sebelum berangkat bersama orang-orang kepercayaannya dan pasukannya yang terbatas, Mahapatih Duri Manggala lebih dulu mengirim utusan ke basis militer Kesatuan Selatan. Ia mengirim pesan atas nama Prabu Banggarin.


Ketika sang mahapatih bersiap-siap untuk berangkat dari kediamannya, Penasihat Ranggasewa datang dengan sebuah kereta kuda sederhana. Maklum dia sudah tua, sudah tidak cocok untuk berkuda meski fisiknya masih terlihat bugar.


“Aku akan melaksanakan perintah Gusti Prabu, tapi aku jamin, aku tidak akan menyulut peperangan,” kata Mahapatih Duri Manggala kepada Penasihat Ranggasewa.


“Benar, jangan sampai perang. Kita tidak tahu apa alasan Gusti Prabu Dira mengirim pasukan tanpa didahului utusan. Jadi kau jangan sampai gegabah, Mahapatih,” kata Ranggasewa.


“Aku tidak akan pernah mau berseteru dengan pihak Sanggana Kecil. Aku sudah pernah satu medan perang dengan para permaisuri Sanggana Kecil. Mereka tidak perlu membawa pasukan besar jika para permaisuri dan pendekarnya turun tangan.”


“Lalu apa rencanamu, Mahapatih?”


“Perintah Gusti Prabu harus dilaksanakan, tapi nyawa pasukan juga harus diamankan. Aku harus tahu dulu alasan apa yang dibawa oleh pasukan Sanggana Kecil, baru aku bisa memutuskan langkah berikutnya,” kata Mahapatih Duri Manggala. “Apakah Penasihat tidak mencurigai sesuatu ketika kita menghadap Gusti Prabu?”


“Sepertinya aku sudah mulai terlalu tua untuk menjadi cerdas,” kata Ranggasewa.


“Sebelum kita masuk menghadap, Gusti Prabu hanya didampingi oleh Bengal Banok. Saat itu, Gusti Prabu sudah marah. Meski dasarku tidak kuat, tetapi ada kemungkinan Gusti Prabu meminta masukan dari kepala pengawalnya itu. Atau, Bengal Banok memanas-manasi sehingga Gusti Prabu sudah marah sebelum kita datang,” tutur Mahapatih Duri Manggala.


“Namun, itu hanya dugaan, kemungkinan salahnya sangat besar,” kata Ranggasewa.


“Memang benar. Namun, ada satu perkara yang belum aku laporkan kepada Gusti Prabu, yaitu hasil penyelidikanku tentang pedang pasukan Senopati Beling yang ada di lokasi pembunuhan para prajurit jagaku ….”


“Ya, aku sudah mendengar lengkap cerita penyerangan itu,” kata Ranggasewa memotong perkataan sang mahapatih.


“Sehari sebelum penyerangan malam terjadi di kediamanku ini, seorang prajurit dari pasukan Senopati kehilangan pedangnya di barak. Ketika pedang yang ditemukan di depan kediamanku itu ditunjukkan kepada prajurit yang kehilangan pedang, prajurit itu mengakui bahwa itu adalah pedangnya yang hilang. Setelah orangku menggali lebih luas, ternyata, sebelum prajurit itu merasa kehilangan, teman satu kamarnya mendapat kunjungan dari kakaknya. Ternyata kakaknya adalah salah satu anggota Pasukan Pengawal Prabu. Dari ceritaku ini, apa kesimpulan Panasihat?”


“Diduga kuat bahwa pengkhianat yang Mahapatih maksud adalah Bengal Banok,” jawab Ranggasewa.


“Benar. Kejadian penyerangan di kediamanku ini dengan meninggalkan barang bukti berupa pedang itu bertujuan adu domba. Aku, Senopati dan Penasihat, sama-sama orang setia Gusti Prabu Dira, tidak mungkin kami saling serang.”


“Lalu kenapa belum kau sampaikan temuanmu ini kepada Gusti Prabu?” tanya Ranggasewa.


“Aku yakin, kesaktian Gusti Prabu lebih tinggi dibandingkan kesaktian Bengal Banok. Yang aku pertimbangkan adalah adanya pasukan yang cukup banyak di belakang Bengal Banok. Itu berbahaya bagi Gusti Prabu. Kepergian Gusti Ratu Wilasin sudah terbilang lama. Sejak itu sudah ada aroma busuk pengkhianat. Jika pengkhianat itu adalah Bengal Banok, ada yang mengganjal dalam pikiranku. Kenapa Bengal Banok belum melakukan tindakan berbahaya kepada Gusti Prabu padahal dia bisa melakukannya?”


Kedua lelaki tua yang jauh selisih usianya itu saling terdiam, seolah sedang adu pikir.


“Jika target yang diincar bukanlah Gusti Prabu, tapi Gusti Ratu Wilasin,” terka Ranggasewa menyimpulkan.


“Jika demikian, untuk apa membunuh Gusti Ratu jika masih ada Gusti Prabu. Padahal, justru Gusti Prabu yang jauh lebih berbahaya dibandingkan Gusti Ratu yang kekanakan?”

__ADS_1


“Kita harus segera mengetahui lebih dulu alasan pasukan Sanggana Kecil masuk ke Baturaharja. Mungkin ada benang merah dengan para pengkhianat,” kata Ranggasewa. (RH) 


__ADS_2