Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 19: Arda Handara Bertarung


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


“Hehehe!” Arda Handara hanya cengengesan saat Pangeran Bajing Tua datang mendekatinya. Ia tidak boleh panik dan kabur agar tidak dicurigai sebagai orang yang merusak sangkar bajing yang melayang di udara.


“Siapa yang merusak sangkar bajingku, Bocah?” tanya Pangeran Bajing Tua dengan mendelik kepada Arda Handara, ketika dia sudah berhenti sejangkauan di depan si bocah.


“Bukan aku yang merusak sangkar burung Kakek,” bantah Arda Handara yang menyelipkan ketapelnya di pinggang belakang.


“Bukan sangkar burung, sangkar burungku masih utuh. Yang rusak itu adalah sangkar bajingku. Sekarang bajingku hilang!” bentak Pangeran Bajing Tua. Lalu katanya pelan, “Iya ya, anak kecil sepertimu mana mungkin bisa melakukannya.”


“Coba Kakek tanya ibu-ibu itu!” kata Arda Handara sambil menunjuk ke salah satu warga yang bersembunyi di balik tembok pagar.


Tiba-tiba Pangeran Bajing Tua menjenggut dada baju Arda Handara dan mengangkatnya naik ke atas, membuat kedua kaki si bocah lepas landas.


“Eh eh eh, Kek! Aku mau diapakan?” pekik Arda Handara dengan kaki meronta-ronta, sambil satu tangannya memegangi tangan si kakek dan tangan lainnya menempelkan ulat bulu jenis senja tanpa sepengetahuan si kakek.


“Aku hanya ingin menimbang berat badanmu, Bocah!” jawab Pangeran Bajing Tua tidak bersahabat.


Setelah itu, Pangeran Bajing Tua menghempaskan Arda Handara begitu saja ke tanah, membuat bocah itu terjatuh.


“Aduh!” keluh Arda Handara sambil mengusap-usap bokongnya seperti mengusap lampu Aladin.


Arda Handara segera pergi menjauhi Pangeran Bajing Tua yang sedang gusar dan berjalan mendekati tempat persembunyian para warga.


Didatangi oleh si kakek berbahaya, para warga biasa tersebut segera lari terbirit-birit menjauhi area pagar halaman.


Baks!


“Akk!” jerit seorang wanita yang saat berlari mendapat hantaman pukulan jarak jauh pada punggungnya. Hal itu membuatnya jatuh tersungkur di tanah yang kasar.


Hal itu membuat Pangeran Bajing Tua dengan mudah mendapati wanita berusia separuh baya itu.


“Ampun! Jangan bunuh aku, Pendekar. Aku wanita suci tidak bersalah, polos seperti bayi. Ampuni akuuu! Huuu huuu …!” jerit wanita separuh baya itu saat Pangeran Bajing Tua mencengkeram lehernya dan memaksanya berdiri. Ia pun menangis ketakutan.


“Siapa yang merusak sangkar bajingku?” tanya Pangeran Bajing Tua geram kepada wanita itu.


“Anak itu pe-pe-pelakunya,” jawab si ibu tergagap ketakutan. Ia menunjuk ke arah Arda Handara.


Bluss!


Tiba-tiba Pangeran Bajing Tua merasakan ada ledakan halus di bokongnya. Itu bukan ledakan kentutnya, karena rasanya panas seperti api.


“Hahahak …!” tawa Arda Handara yang baru saja melepaskan tembakan ketapel pusakanya ke bokong Pangeran Bajing Tua.

__ADS_1


“Anak siluman terkutuk!” maki Pangeran Bajing Tua saat mendapati api telah berkobar di bokongnya.


Sebenarnya, baginya itu tidak terlalu berbahaya karena dia bisa memadamkan api itu dengan menepuk-nepuk api tersebut. Namun, yang jadi masalah besar, bagian jubah dan celananya yang menutupi bokong telah hangus dengan cepat.


Maka fix, gumpalan bokong terbelah itu terlihat nyata, bukan halusinasi.


“Hahahak …!” Arda Handara masih saja tertawa terpingkal-pingkal.


“Anak setan berantakan!” maki Pangeran Bajing Tua sambil menghentakkan lengan kanannya ke arah Arda Handara.


Presh! Bluar!


Seberkas sinar hijau kehitaman melesat sangat cepat menyerang Arda Handara. Pangeran Bajing Tua terlihat benar-benar berniat membunuh Arda Handara.


“Aaak!” pekik Arda Handara sambil berlari sangat kencang dengan wajah benar-benar pias, sebab baru kali ini dia diserang dengan cara mengerikan seperti itu.


Kecepatan lari Arda Handara membuatnya bisa selamat dari serangan maut yang menghancurkan sebuah gentong besar kosong, yang ada di tengah halaman.


“Kau tidak akan bisa selamat, Anak Setan!” teriak Pangeran Bajing Tua murka, tapi ia menahan dulu gerakannya, sebab ada rasa gatal pada lehernya yang wajib ia garuk. Rasa gatalnya cukup menyiksa.


Meski memiliki rasa takut kali ini, Arda Handara tetap menyiapkan kembali ketapel Ki Ageng Naga-nya. Dia telah menyiapkan peluru khusus. Kali ini dia tidak berani bergurau, sebab nyawanya benar-benar terancam.


Setelah menggaruk lehernya, Pangeran Bajing Tua lalu melompat terbang ke udara dengan tangan melesatkan seberkas sinar hijau kehitaman.


Presh! Bluar!


Lagi-lagi Arda Handara bisa lolos meninggalkan tanah yang hancur terbongkar oleh sinar hijau Pangeran Bajing Tua.


Pertarungan antara Pangeran Bajing Tua dengan Arda Handara sekilas mendapat perhatian Gadis Cadar Maut.


“Keparat, rupanya anak itu bukan bocah sembarangan!” rutuk Pangeran Bajing Tua saat mendarat.


Sebelum ia melanjutkan perburuannya terhadap Arda Handara, ia kembali menggaruk lehernya. Rasa gatal di lehernya kian mengganggu.


“Kenapa leherku mendadak gatal segatal ini?” batin Pangeran Bajing Tua.


Wuuung!


Jeda untuk menggaruk bagi Pangeran Bajing Tua ternyata memberi waktu bagi Arda Handara untuk melepaskan serangan dengan ketapelnya.


Pangeran Bajing Tua melihat serombongan lebah terbang berdengung ke arahnya.


“Mainan kecil!” desis Pangeran Bajing Tua seraya tersenyum samar.


Wess!

__ADS_1


Pangeran Bajing Tua mengibaskan tangannya yang menimbulkan segelombang angin menghalau dan menerbangkan rombongan lebah ke arah lain.


“Hah!” kejut Pangeran Bajing Tua karena di belakang dari rombongan lebah itu ada satu makhluk lagi yang melesat dan belum sempat terkena angin.


Maka, ketika angin itu berlalu, satu makhluk yang adalah ulat bulu itu berhasil masuk dan mendarat tepat di ujung hidung si kakek.


Sebelumnya, Arda Handara telah meniatkan ke dalam peluru ketapelnya yang adalah ulat bulu tentang adanya pasukan lebah. Jadi, pasukan lebah yang dihempas angin pukulan adalah halusinasi. Peluru ketapel yang sesungguhnya adalah ulat bulu yang bisa dijadikan peluru seperti batu kerikil karena telah diniatkan. Itulah cara kerja ketapel Ki Ageng Naga.


Mendaratnya ulat bulu senja tepat di ujung cuping hidung Pangeran Bajing Tua, tidak membuat si ulat mati atau terluka, juga tidak membuat si kakek merasa tersakiti.


Pak!


Namun, dengan cepat Pangeran Bajing Tua menepak wajahnya sendiri demi membunuh ulat bulu tersebut.


“Hahahak …!” tawa terpingkal Arda Handara melihat apa yang terjadi dengan Pangeran Bajing Tua.


Rasa takut Arda Handara sudah mulai bisa beradaptasi dengan kondisi. Wajah panik dan takutnya sudah sirna. Karenanya dia sudah bisa tertawa terpingkal-pingkal.


Baru saja si kakek mau memberi perhitungan kepada Arda Handara, mendadak ujung hidungnya menderita gatal.


“Kurang ajar lagi, rupanya gatal di leherku karena ulat bulu anak itu. Memalukan sekali, aku dipecundangi oleh seorang bocah!” gusar Pangeran Bajing Tua.


“Kakek, apakah kau tidak malu melawan anak kecil dengan pantat dipamer murah seperti itu?! Hahaha!” teriak Arda Handara kurang ajar, lalu tertawa lagi di tempatnya.


Terkejut Pangeran Bajing Tua karena menyadari kembali kondisi bokongnya yang terbuka lebar.


“Hahaha …!” tawa para warga yang ternyata kembali berkumpul di gerbang pagar halaman, setelah sebelumnya mereka lari kocar-kacir.


“Benar-benar wajib dibunuh anak ini!” desis Pangeran Bajing Tua yang sudah terlanjur malu, sambil terus menggaruki leher dan hidungnya yang dengan cepat memerah dan membengkak.


Wess!


Tiba-tiba Pangeran Bajing Tua melesat cepat yang nyaris tidak terlihat. Arda Handara terkejut, karena si kakek yang ingin membunuhnya sudah berdiri di depannya dalam jarak sejangkauan.


Buru-buru Arda Handara berbalik untuk kabur sekencang mungkin.


Tap!


Namun, satu cengkeraman lebih dulu mencekik tengkuk Arda Handara.


“Akk!” pekik Pangeran Bajing Tua tiba-tiba dengan tubuh yang tahu-tahu terlempar jauh ke belakang tanpa terlihat ada yang menyerangnya. Sementara Arda Handara terlepas bebas.


Bukan hanya Pangeran Bajing Tua dan Arda Handara yang terkejut, para penonton pun ikut terkejut, termasuk Adipati Siluman Merah dan keluarga besarnya yang berkumpul di sekitar teras rumah.


Pangeran Bajing Tua jatuh keras di tanah becek di halaman. (RH)

__ADS_1


__ADS_2