Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 6: Pesan di Pedang Pembunuh


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


Di Istana Kerajaan Baturaharja.


Ketika datangnya seorang lelaki berpakaian hitam-hitam, Prabu Banggarin hanya didampingi oleh Bengal Banok. Kedatangan lelaki itu membuat Prabu Banggarin memerintahkan Bengal Banok untuk pergi meninggalkannya seorang diri.


Bengal Banok pun patuh. Ia pergi meninggalkan ruangan yang tidak terlalu besar itu.


Bengal Banok pergi sampai ke luar, yang kosong dari penjagaan prajurit. Setelah melihat ke sekitar, tiba-tiba Bengal Banok melompat naik ke atap bangunan dengan sekali lompat dan mendarat tanpa suara sedikit pun.


Ia segera merunduk dengan posisi nyaris tengkurap di atas, agar tidak terlihat oleh prajurit yang berjaga atau yang berpatroli.


Ia kemudian menyentuhkan ibu jari kanannya ke kening. Tanpa ada suara, satu lapisan sinar kuning muncul dari tempelan jempol itu dan kemudian menjalar menyebar ke seluruh tubuh. Setelah semua anggota tubuh tersaluri, sinar itu kemudian hilang tanpa menghilangkan tubuh sang komandan.


Dengan membekali diri memakai ilmu yang bisa membuat tubuh seringan angin dan sesenyap bayangan, Bengal Banok bergerak cepat di atas genting tanpa menimbulkan suara, padahal dia bergerak cepat.


Bengal Banok berhenti pada titik atap yang lurus berada di atas posisi Prabu Banggarin.


Prabu Banggarin adalah seorang yang berkesaktian, tetapi dia tidak mendengar adanya suara mencurigakan di atasnya. Itu terjadi karena Bengal Banok memakai ilmu Sehening Makam Tua.


“Sampaikan laporanmu!” perintah Prabu Banggarin setelah lelaki berpakaian hitam-hitam tanpa berbekal senjata itu telah menghormat.


Meski suara yang terdengar tidak begitu kencang, tetapi Bengal Banok bisa mendengar jelas.


“Gusti Ratu sudah pergi jauh meninggalkan wilayah Baturaharja, Gusti Prabu,” lapor lelaki itu.


“Ke mana?” tanya Prabu Banggarin cepat.


“Ke selatan. Seperti menuju ke pesisir ….”


“Maksudmu Gusti Ratu berada di wilayah Welang?” tanya Prabu Banggarin begitu serius menanggapi laporan anggota telik sandi tersebut.


“Benar. Gusti Ratu pergi bersama serombongan pendekar yang dikenalnya. Bahkan salah satunya adalah anak kecil. Dia begitu akrab dengan anak kecil tersebut. Hamba tidak mengenal orang-orang yang bersamanya,” jelas si telik sandi.


“Apakah di antara mereka ada Nyai Kisut?” tanya Prabu Banggarin lagi.


“Tidak ada.”


“Lalu ke mana Nyai Kisut?” tanya Prabu Banggarin, tapi nadanya lirih kepada dirinya sendiri.


“Hamba tidak tahu, Gusti Prabu,” jawab si telik sandi. “Berdasarkan berita yang hamba kumpulkan, Gusti Ratu sedang dikejar besar-besaran oleh pembunuh bayaran yang banyak, termasuk Pembunuh Bayaran Sepuluh Kepeng. Mereka adalah kelompok pembunuh terbaik di Tanah Jawi.”


“Benar-benar keparat iblis!” maki Prabu Banggari gusar, sampai-sampai dia berdiri dari duduknya. “Apakah kau tahu siapa yang membayar para pendekar itu?”


“Mohon ampun, Gusti Prabu. Hamba belum mendapatkan berita tentang orang di balik para pendekar bayaran tersebut. Hamba juga melihat kelompok Ronggo Keling bergerak cepat dengan berkuda ke arah yang sama, tetapi mereka tertinggal jauh dari rombongan Gusti Ratu.”


“Jika Gusti Ratu pergi ke arah pesisir, apakah dia akan menyeberangi lautan?” tanya Prabu Banggarin kepada dirinya sendiri. Lalu tanyanya kepada si telik sandi, “Apakah masih ada yang ingin kau sampaikan?”

__ADS_1


“Masih, Gusti Prabu. Komandan Kumbang Draga dan pasukannya juga bergerak cepat menyusul ke selatan.”


“Kenapa Kumbang Draga tidak mengirim laporan kepadaku?” Prabu Banggarin kembali bertanya kepada dirinya. Lalu tanyanya lagi kepada si telik sandi, “Apa lagi?”


“Sudah, Gusti Prabu.”


“Aku perintahkan kau mencari tahu siapa yang membayar para pendekar bayaran itu!”


“Baik, Gusti Prabu.”


“Kau boleh pergi!”


Telik Sandi lalu menghormat dalam kepada Prabu Banggarin. Setelah itu dia beringsut mundur dan berbalik pergi.


“Prajurit!” panggil Prabu Banggarin bernada emosi. Dia sangat marah mendengar cucunya diburu oleh para pembunuh bayaran tingkat tinggi.


Seorang prajurit segera datang dengan berlari.


“Hamba, Gusti Prabu!” ucap si prajurit sambil berlutut menghormat.


“Pergi panggil Senopati Beling Tuwak!”


“Baik, Gusti Prabu.”


Singkat cerita.


“Senopati, aku perintahkan kau untuk mengejar Gusti Ratu ke pesisir selatan lewat wilayah Kerajaan Welang. Bawa orang-orang terbaikmu!” perintah Prabu Banggarin setelah Senopati Beling Tuwak menghadap.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Senopati Beling Tuwak patuh.


“Gusti Ratu sedang diburu oleh pasukan pembunuh bayaran, termasuk Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas,” ujar Prabu Banggarin, yang saat itu ada Komandan Bengal Banok berdiri di belakang kursi kebesarannya.


“Apa?!” ucap Senopati Beling Tuwak terkejut.


“Gusti Ratu sudah berada di dekat wilayah pesisir Kerajaan Welang. Jadi bergeraklah secepat mungkin dengan kuda-kuda terbaik!”


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Senopati Beling Tuwak lagi.


“Cepatlah pergi. Jangan menunda-nunda waktu lagi!”


“Baik, Gusti Prabu!”


Senopati Beling Tuwak segera menjura hormat dan beringsut. Namun, belum lagi dia bangkit, tiba-tiba ….


“Tunggu, Adi Senopati!” seru Mahapatih Duri Manggala sambil datang dengan berjalan cepat menghampiri sang senopati yang masih dalam posisi beringsut.


Mahapatih Duri Manggala datang dengan tangan kanan menghunus sebilah pedang.

__ADS_1


“Ada apa ini, Mahapatih? Apa maksudmu masuk dengan menghunus pedang?” tanya Prabu Banggarin agak membentak. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan atas tindakan mahapatihnya.


“Ampuni hamba, Gusti Prabu. Ada perkara penting yang harus aku tanyakan kepada Adi Senopati,” ujar Mahapatih Duri Manggala sambil turun berlutut menghormat di tempat yang agak jauh di depan sang prabu.


Senopati Beling Tuwak terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi.


“Katakan!” perintah Prabu Banggarin.


“Adi Senopati, apakah kau mengenali pedang ini?” tanya Mahapatih Duri Manggala kepada Senopati Beling Tuwak yang ada di sampingnya.


“Itu pedang prajurit dalam pasukanku,” jawab Senopati Duri Manggala tegas tanpa ragu sedikit pun. Rupanya dia sangat mengenal jenis pedang yang dipegang oleh sang mahapatih.


“Tiga hari yang lalu, prajurit penjaga gerbang pagar kediamanku diserang oleh sekelompok orang. Mereka menyerang lalu langsung pergi. Tujuh prajuritku dibunuh dalam waktu singkat.


Prabu Banggarin dan Senopati Beling Tuwak terkesiap mendengar perkataan sang mahapatih. Sebab, mereka berdua tidak mendapat berita atau laporan tentang itu, padahal kejadiannya sudah tiga hari berlalu.


“Pedang ini ada di lokasi penyerangan dan ini bukan pedang milik para prajurit jaga di kediamanku,” tandas Mahapatih Duri Manggala.


“Apakah Kakang Mahapatih menuduh bahwa aku yang memerintahkan penyerangan itu?” tanya Senopati Beling Tuwak.


“Lalu pedang ini kenapa bisa ada di dekat mayat-mayat prajuritku?” tanya Mahapatih Duri Manggala lalu melambungkan pedang itu kepada Senopati Beling Tuwak.


Dengan mudahnya Senopati Beling Tuwak menangkap gagang pedang itu. Ia lalu memerhatikan pedang yang memang adalah senjata milik pasukannya.


Senjata pasukan yang satu dengan pasukan yang lain, meski bentuknya sama, tetapi memiliki tanda masing-masing. Pedang prajurit pasukan militer perang dengan pedang pasukan keamanan Istana atau Ibu Kota memiliki bentuk yang sama, tetapi tanda yang terukir di bilah pangkalnya berbeda-beda.


Dalam hati, Senopati Beling Tuwak terkejut saat melihat ada ukiran satu kalimat yang tertera di bilah pedang.


“Ada pengkhianat di dalam Istana.”


Itulah sekalimat yang terukir di bilah pedang.


“Jika kau tidak mau mengakui perbuatan pasukanmu yang telah membunuh para prajuritku, maka aku akan menyelidikinya sendiri. Ingat, aku pernah menjabat sebagai senopati lebih lama darimu!” tandas Mahapatih Duri Manggala.


“Hentikan perdebatan kalian!” hardik Prabu Banggarin.


“Ampuni hamba, Gusti Prabu!” ucap kedua pejabat itu cepat sambil menghormat dalam kepada Prabu Banggarin yang menunjukkan raut kemarahan.


Sementara Komandan Bengal Banok hanya diam menyaksikan pertengkaran dua pejabat tinggi tersebut.


“Senopati Beling Tuwak, laksanakan apa yang aku tugaskan. Perintahkan anak buahmu untuk mencari tahu tentang senjata itu dan aku ingin besok pagi sudah ada laporan!” perintah Prabu Banggarin.


“Baik, Gusti Prabu.”


“Dan kau, Mahapatih. Lakukan penyelidikan terpisah!”


“Baik, Gusti Prabu.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2