Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 16: Pangeran Tololo Coi


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


 


Laksamana Muda Gandala Moi kali ini harus pergi ke Istana Kabut Kuning untuk menghadap. Setelah kehilangan tiga kapal dari Armada Bintang Tujuh dan kehilangan buruan, dia wajib untuk melapor.


Istana Kabut Kuning adalah pusat pemerintahan Negeri Pulau Kabut yang telah dikuasai oleh Kerajaan Puncak Samudera.


Istana Kabut Kuning adalah istana besar yang pada bagian atasnya ditutupi oleh kabut warna kuning yang dipercayai oleh warga Negeri Pulau Kabut adalah kabut abadi. Sebab, kabut itu selalu ada menutupi bagian atas Istana hingga ke pucuknya. Jika badai datang melanda, kabut itu akan terbawa angin. Namun, setelah badai berhenti dan angin laut kembali normal, kabut kuning akan kembali muncul.


Hanya bagian bawah Istana yang bersih dari kabut kuning, dari tanah hingga ketinggian sekitar lima kepala orang dewasa.


Istana itu dikelilingi oleh tanah kosong, setelah itu barulah ibu kota Tanah Hitam.


Sejak dikuasai oleh Kerajaan Puncak Samudera, mayoritas kaum lelaki Negeri Pulau Kabut berubah status menjadi budak, kecuali mereka yang bisa membayar pajak kebebasan yang seharga upah bulanan seorang prajurir negeri itu. Jadi, kaum prajurit, pejabat dan orang hartawan tidak menjadi budak karena mereka membayar pajak.


Dari pajak kebebasan ini saja, Kerajaan Puncak Samudera mendulang penghasilan yang begitu besar.


Bagi kaum lelaki yang tidak bisa membayar pajak kebebasan, mereka harus bekerja sebagai budak dan tawanan di pelabuhan membangun benteng pertahanan yang besar.


Nasib kaum wanita berbeda lagi.


Laksamana Muda Gandala Moi sudah memasuki Istana. dia kini berdiri di depan pintu yang tertutup, menunggu diberi izin untuk menghadap.


Jleg!


Tidak berapa lama, pintu besar itu dibuka oleh seorang prajurit. Itu artinya Gandala Moi dipersilakan masuk.


Di balik pintu itu ternyata adalah ruangan besar dan luas. Terdengar sayup-sayup suara keramaian berupa teriakan-teriakan orang banyak.


Pusat keramaian berada di ujung sana yang terlihat ada aktivitas banyak orang. Laksamana Muda harus ke sana untuk bisa menemui Pangeran Tololo Coi dan Laksamana Galala Lio.


Dengan dikawal seorang prajurit, Gandala Moi terus berjalan melewati para penjaga yang berdiri diam dengan bersenjatakan tombak dan panah. Semakin dekat, maka suara bising semakin keras.


Setibanya di tempat tujuan, ternyata keramaian itu adalah para pejabat dengan para wanita pendampingnya sedang bertaruh dan menonton balapan wanita merangkak.


Di tengah-tengah mereka ada sebuah arena berbentuk persegi panjang yang dikelilingi oleh pagar besi setinggi perut. Arena memiliki tujuh lintasan yang dibuat dengan garis. Di tujuh lintasan itulah sebanyak tujuh wanita akan merangkak seperti anak kecil dari garis start ke garis finish. Di garis finish ada bentangan selembar papan setinggi wajah saat posisi merangkak. Di papan itu ada tujuh lubang yang dipasang oleh tujuh pisang besar yang bugil.


Aturan main balapan wanita merangkak itu mudah. Ketujuh wanita hanya merangkak ke finish lalu menggigit ujung pisang di papan. Yang tercepat akan mendapat hadiah. Empat peserta terlambat akan dijadikan budak. Juara dua dan tiga akan menjadi wanita bebas selama tiga bulan.

__ADS_1


Itulah nasib para wanita rakyat biasa Negeri Pulau Kabut sejak mereka dijajah oleh Kerajaan Puncak Samudera.


Dalam acara balapan itu, semua pejabat, bangsawan atau hartawan yang hadir wajib bertaruh. Bahkan mereka memiliki para wanita pembalap masing-masing.


“Satu! Satu! Satuuu!” teriak hakim balapan dengan keras.


Ketujuh wanita berpakaian lusuh yang sudah dalam posisi berdiri dengan kedua lutut dan tangan, serentak merangkak dengan secepat-cepatnya ketika hitungan satu yang ketiga diteriakkan oleh hakim. Seiring itu, para orang yang bertaruh ataupun yang mendampinginya, berteriak ramai meneriaki pembalapnya masing-masing.


“Paleleng! Merangkaklah dengan cepat! Kau akan jadi pelacur jika kau kalah!” teriak seorang pejabat yang punya pembalap di arena.


“Ayo menang, Gulele! Akan aku berikan keperkasaanku kepadamu jika kau yang tercepat makan pisang!” teriak pejabat yang lain.


“Yang cepat, Mayeye. Selain cantik, kau juga harus pandai merangkak!” teriak yang lain lagi.


Seperti itulah suasana keramaian yang tercipta. Dalam sehari balapan, bisa sebanyak seratus wanita yang berlaga. Namun, kompetisi itu dilakukan hanya sekali dalam sepekan.


Laksamana Muda Gandala Moi mendatangi Laksamana Galala Lio yang sedang bersama istrinya, seorang pendekar wanita dari Enam Pasang Kekasih Laut.


“Hormat hamba, Laksamana!” ucap Gandala Moi.


“Langsung saja kau menghadap kepada Pangeran!” perintah Galala Lio.


Laksamana muda itu lalu pergi mendatangi tempat duduk yang paling mewah dan lapang. Di sana duduk seorang lelaki berusia kepala tiga lebih tiga tahun, berpakaian jubah merah yang mewah. Di kepalanya ada mahkota emas permata yang posisinya agak miring. Pemuda itu memiliki model dagu yang panjang dan gemuk, sehingga sekali pandang wajahnya akan mudah diingat. Dialah Pangeran Tololo Coi, penguasa tertinggi sementara di negeri jajahan itu.


Di kanan dan kiri sang pangeran duduk menemani dan merapati dua orang wanita cantik. Yang pastinya kedua wanita cantik itu dari ras pilihan yang ada di negeri tersebut.


“Hormat hamba, Pangeran!” ucap Gandala Moi sambil menjura hormat dengan berlutut.


“Ikut aku!” perintah Pangeran Tololo Coi lalu bergerak bangkit dan berjalan pergi meninggalkan kursi dan kedua wanitanya.


Gandala Moi mengikuti di belakang.


Pangeran Tololo Coi membawa Gandala Moi ke tempat yang agak jauh dari keramaian itu, sehingga suara bisingnya tidak begitu mengganggu.


“Katakan!” perintah Pangeran Tololo Coi.


“Ampuni hamba, Pangeran. Aku kehilangan tiga kapal Armada Bintang Tujuh,” ujar Gandala Moi.


“Bagaimana bisa?” tanya Pangeran Tololo Moi datar.

__ADS_1


“Meski kami menghadapi hanya satu kapal, tetapi Pangeran Bewe Sereng datang bersama orang-orang sakti. Dua kapal bahkan ditenggelamkan oleh hanya seorang pendekar.”


“Lalu di mana Bewe Sereng dan kelompoknya sekarang?”


“Aku kehilangan ….”


Dak!


“Akk!” pekik tertahan Gandala Moi ketika kata-katanya diputus dengan satu tendangan pada tulang keringnya.


“Masih untung bukan kepalamu yang hilang!” kecam Pangeran Tololo Coi.


“Karena kondisinya malam, jadi kami mudah kehilangan jejak. Awalnya aku pikir mereka berlayar menuju ke pulau ini, tetapi aku tidak melihat kapal Pangeran Bewe Sereng.”


“Menurutmu di mana buronan itu pergi, jika bukan ke negerinya sendiri?” tanya Pangeran Tololo Coi.


“Antara Selat Gurita dan Pulau Kabut tidak ada pulau lain, Pangeran,” kata Gandala Moi.


“Mungkinkah mereka berbelok dan berbalik arah pergi ke Kerajaan Bulugur atau Walet Biru?” terka Pangeran Tololo Coi.


“Sepertinya tidak, Pangeran. Mereka menggunakan kapal bajak laut. Mereka akan ditangkap jika memasuki perairan kedua kerajaan itu ….”


“Jika tidak, lalu kenapa kau tidak memberi jawaban yang pintar, Laksamana Muda?!” bentak Pangeran Tololo Coi tiba-tiba marah.


“Ampuni hamba, Pangeran!” ucap Gandala Moi lalu buru-buru turun berlutut dan menghormat.


“Gara-gara laporanmu ini, aku ketinggalan satu babak balapan wanita!” kata Pangeran Tololo Coi.


Dia lalu mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya di bahu kiri Gandala Moi. Laksamana Muda itu lalu didorong jatuh dengan kaki.


“Ampuni hamba, Pangeran!” ucap Gandala Moi sambil buru-buru bangun lagi dan berlutut dengan sempurna.


“Berikan satu kesimpulan agar aku bisa memberi perintah!” perintah Pangeran Tololo Coi.


“Aku menduga bahwa Pangeran Bewe Sereng pergi ke tempat persembunyian Putri Mahkota. Mungkin kapal mereka melewati pulau ini, tapi tidak singgah di pulau ini,” ujar Gandala Moi. “Putri Mahkota mudah disembunyikan, tapi tidak mudah menyembunyikan kapal besar.”


“Aku sudah penangkap dugaanmu. Pergilah. Nanti Laksamana Galala Lio yang memimpin pencarian ke pulau-pulau selatan!” perintah Pangeran Tololo Coi.


“Hamba undur diri, Pangeran.”

__ADS_1


Pangeran Tololo Coi langsung pergi meninggalkan Gandala Moi. Ia kembali ke tempat balapan wanita merangkak. (RH)


__ADS_2