
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Satu dari seratus pemanah jauh menarik senar busur besar yang berada di bahu kedua rekannya sesama prajurit. Kedua prajurit itu harus mengerahkan tenaga yang kuat dalam menahan busur di bahu mereka agar tidak goyang.
Set!
Akhirnya anak panah besar itu melesat terbang melewati atas kepala barisan pasukan panah Kerajaan Baturaharja.
Tseb!
Anak panah itu menancap dalam di dada seekor kuda yang ditunggangi oleh prajurit berkuda di barisan depan pasukan berkuda.
Kuda itu langsung meringkik mengamuk karena kesakitan. Prajurit di punggungnya dilempar jatuh. Sang kuda lalu berlari berurai air mata dengan hati yang terluka.
Melihat serangan peringatan bisa menjangkau pasukan kuda yang berada cukup jauh di belakang pasukan panah, Panglima Tarikurat segera melompat turun.
“Siapa pemimpin pasukan Baturaharja? Tunjukkan diri!” teriak Panglima Bidar Bintang lantang dan terdengar jelas oleh Panglima Tarikurat dan pasukannya hingga yang paling belakang.
Panglima Tarikurat melompat ke punggung kudanya. Ia lalu menggebah si kuda berlari maju dan berhenti tepat di belakang pasukan panahnya.
“Aku Panglima Tarikurat, Kepala Keamanan Ibu Kota!” teriak Panglima Tarikurat lantang, menjawab pertanyaan Panglima Bidar Bintang.
“Pasukan yang menghalangi pasukan Sanggana Kecil masuk ke Istana Baturaharja, akan kami habisi. Menyerahlah!” seru Panglima Bidar Bintang.
Jlegeg!
Belum lagi Panglima Tarikurat menjawab ancaman itu, tiba-tiba terdengar suara gelindingan batu besar. Mereka semua cepat alihkan pandangan ke atas bukit di sisi timur pertemuan kedua pasukan.
Ternyata ada sebuah batu sebesar gajah yang disiapkan di atas bukit, telah menggelinding menuju ke bawah, yang mengarah ke posisi pasukan pimpinan Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Ginari. Namun, itu tidak membuat kedua permaisuri dan pasukannya terkejut atau bergerak menghindar.
Sangat berbeda dengan Panglima Tarikurat, batu yang menggelinding itu membuatnya terkejut seperti ada urat besarnya yang terbetot.
“Hei! Siapa yang menjatuhkan batu?!” teriak Panglima Tarikurat gusar kepada pasukan di atas bukit. Ia belum memberi perintah untuk menyerang menggunakan batu, tapi batu di atas bukit sudah dilepas jatuh.
“Ampun, Gusti Panglima! Penahannya terlepas!” teriak prajurit di atas bukit menyahut, tapi hanya dia yang tahu bahwa saat itu dia sedang tersenyum setan, menunjukkan bahwa dia sengaja menjatuhkan batu sebelum ada perintah.
Melihat serangan itu, salah satu pendekar Pengawal Bunga, pengawal Permaisuri Kerling Sukma, segera berkelebat meninggalkan kudanya menuju punggung bukit. Pendekar itu seorang lelaki berbadan besar dan bertampang brewok. Di tangannya sudah ada dua tongkat pendek sedua jengkal berwarna merah, satu ujungnya memiliki bola besi.
“Ayo, Gebuk Bertabuh! Beri aku musik agar bisa bergoyang!” teriak Ki Goyang menyemangati rekannya itu.
Ki Goyang adalah seorang lelaki separuh baya lebih dua tahun yang di pinggangnya ada selendang merah yang mengikat, kontras dengan warna pakaiannya yang kuning.
“Hahaha!” tawa rendah para pendekar Pengawal Bunga, menunjukkan bahwa perang yang di depan mata bukanlah kondisi yang membahayakan.
__ADS_1
Semua orang menduga bahwa Gebuk Bertabuh akan menghandang batu segajah yang menggelinding cepat.
Dengan beberapa kali tolakan kaki yang mengandalkan ilmu peringan tubuh, Gebuk Bertabuh melesat menyongsong kedatangan batu besar. Namun, ketika lelaki brewok itu telah berhadapan tinggal selompatan batu, Gebuk Bertabuh cepat melompat menghindari batu.
“Hiat!” kelit Gebuk Bertabuh sambil menghindari batu yang lewat tipis nyaris menyambar tubuhnya.
“Yaaa!” desah para pendekar Pengawal Bunga kecewa melihat rekan mereka justru menghindari batu yang menyeramkan.
“Rasakan gebukanku!” teriak Gebuk Bertabuh yang tiba-tiba berbalik berlari cepat, setelah mendarat. Dia berlari begitu cepat menuruni bukit mengejar batu yang menggelinding mendekati posisi pasukan Sanggana Kecil.
“Hahaha!” tawa sebagian pendekar melihat Gebuk Bertabuh mengejar bola batu yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
Kencangnya lari Gebuk Bertabuh membuatnya cepat menyusul batu.
Dak dak dak …!
Blar!
Gebuk Bertabuh menggebuk batu itu dari belakang menggunakan dua toya pendek berbolanya.
Hanya beberapa gebukan saja. Batu segajah itu akhirnya hancur berantakan menjadi serpihan-serpihan yang lebih kecil. Kepingan-kepingan batu itu justru berlesatan menyerbu pasukan Sanggana Kecil karena posisi ledakannya sudah dekat dengan pasukan.
Semai Lena yang adalah wanita tomboi berambut pendek berdada tipis, segera bertindak dengan cara mengibaskan tangan kanannya tanpa meninggalkan punggung kudanya. Posisi kuda wanita berjuluk Sayap Perak itu memang berada di pinggir yang berhadapan dengan bukit.
Sreeets!
“Apa yang kau lakukan, Gebuk?!” bentak Nyi Mut, Pengawal Bunga yang wajahnya tebal oleh bedak dan gincu merah terang.
“Tenaaang, tenaaang, Cantik. Semua terkendali!” seru Gebuk Bertabuh sambil tersenyum sapi.
Disebut “Cantik”, Nyi Mut pun tidak memperpanjang masalah. Meski wajahnya kesal, tetapi hatinya kembang kempis berbunga, meski hanya sekali.
Set!
“Aaak!”
Tiba-tiba kondisi tegang itu dikejutkan oleh adanya anak panah besar yang tahu-tahu melesat jauh ke atas bukit. Itu lesatan anak panah yang terlalu jauh. Namun, prajurit yang tadi dengan sengaja menjatuhkan bola batu, menjerit panjang dengan tubuh terloncat kecil ke belakang karena tubuhnya tertancap tembus oleh anak panah besar.
Panah jauh itu sebenarnya dilepaskan oleh komandan pasukan panah jauh. Dia memanah dengan dorongan tenaga dalam, sehingga panahannya bisa melesat jauh ke atas bukit. Jika pemanahnya prajurit biasa, anak panah itu tidak akan bisa sampai ke puncak bukit kecil karena jangkauan maksimalnya tidak sejauh itu.
“Panglima Tarikurat!” seru Panglima Bidar Bintang. “Baturaharja adalah kerajaan binaan Kerajaan Sanggana Kecil. Apakah kau ingin memimpin pemberontakan?”
Terdiamlah Panglima Tarikurat mendengar perkataan Panglima Bidar Bintang. Apa yang dikatakan oleh Panglima Pasukan Ular Gunung ia akui kebenarannya. Jika pasukan Kerajaan Baturaharja melawan pasukan Sanggana Kecil, itu sama dengan memberontak.
“Jika aku membangkang, itu sama saja aku membawa seluruh Baturaharja memberontak. Jika melawan pun, rasanya mustahil untuk menang,” pikir Panglima Tarikurat. Ia pun teringat dengan pesan Penasihat Ranggasewa kepadanya. Ia lalu memberi perintah kepada pasukan panahnya, “Mundur!”
__ADS_1
“Munduuur!” perintah komandan pasukan panah.
Pasukan panah Baturaharja serentak bangkit dan bergerak teratur berjalan ke belakang. Sebentar kemudian, Panglima Tarikurat tinggal sendiri di depan, berhadapan langsung dengan pasukan panah jauh dari Pasukan Ular Gunung.
Sementara itu, pergerakan pasukan yang menjadi ekor ular, terus mengalir melakukan pengepungan terhadap Ibu Kota.
“Aku tidak ingin membawa Baturaharja memberontak. Namun, aku harus tahu maksud pasukan Sanggana Kecil datang dengan kekuatan besar ke Ibu Kota!” seru Panglima Tarikurat.
“Mahapatih Duri Manggala!” panggil Permaisuri Ginari yang membuat heran Panglima Tarikurat.
Dari belakang pasukan berkuda pihak Sanggana Kecil muncul seekor kuda yang keluar dari kawanan. Ketika melihat siapa penunggangnya, terkejutlah Panglima Tarikurat dan para komandan pasukan Baturaharja. Ternyata penunggang kuda itu adalah Mahapatih Duri Manggala.
Mahapatih Duri Manggala menjalankan kudanya maju mendekati kuda kedua permaisuri.
“Hamba, Gusti Permaisuri,” ucap Mahapatih Duri Manggala.
“Jinakkan panglima Paman itu!” perintah Permaisuri Ginari.
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Mahapatih Duri Manggala patuh.
Sang mahapatih lalu menjalankan kudanya maju. Beberapa prajurit panah jauh bergeser memberi jalan kepada kuda Mahapatih Duri Manggala.
Tidak berapa lama, kuda Mahapatih Duri Manggala telah berhadapan dengan kuda Panglima Tarikurat.
“Gusti Mahapatih, apakah kau menentang perintah Gusti Prabu?” tanya Panglima Tarikurat.
“Tidak. Aku melakukan yang semestinya. Aku dan pasukanku memilih menyerah karena kami memang tidak bisa menang melawan pasukan Sanggana Kecil, seperti apa yang Panglima saksikan pagi ini. Pasukan Ibu Kota pun tidak bisa menang melawan pasukan Sanggana Kecil,” jawab Mahapatih Duri Manggala.
Di saat sedang berbincang itu, perhatian Mahapatih Duri Manggala tercuri oleh satu pergerakan seorang prajurit berkuda Baturaharja yang meninggalkan barisan.
“Tangkap prajurit itu!” teriak Mahapatih Duri Manggala keras sambil menunjuk jauh ke arah prajurit berkuda tersebut.
Terkejutlah prajurit berkuda karena diteriaki oleh Mahapatih.
“Heah heah!” gebah prajurit itu keras, membuat sang kuda pun berlari kencang hendak masuk ke dalam Ibu Kota.
Namun, lari kuda harus terhalang olah barisan prajurit yang masih menumpuk menutup jalan.
Set!
Komandan pasukan panah jauh cepat bertindak. Ia melakukan pemanahan dengan panah jauh seperti yang ia lakukan terhadap prajurit di atas bukit.
Satu anak panah besar melesat jauh dan menancap tepat di bokong kuda. Tak ayal lagi, sang kuda langsung tumbang bersama penunggangnya.
“Itu pasti prajurit pengkhianat!” kata Mahapatih Duri Manggala kepada Panglima Tarikurat.
__ADS_1
“Tangkap prajurit itu!” teriak Panglima Tarikurat kencang memberi perintah kepada pasukannya.
Sejumlah prajurit segera bergerak menodongkan tombaknya ke dekat tubuh prajurit yang jatuh. Prajurit yang ditengarai adalah pengkhianat itu tidak berkutik. (RH)