
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Ketegangan tercipta ketika Cempaka fix duduk berhadapan berseberangan meja dengan Permaisuri Dewi Ara. Kedua wanita itu saling tatap dalam keheningan.
Dewi Ara menatap pembunuh bayaran di depannya dengan tatapan datar dan ketenangan. Sementara Cempaka menatap tajam kepada Dewi Ara dengan air hujan dari rambutnya masih menetes membasahi wajahnya dan lantai tempatnya duduk. Kondisi tegang itu sampai-sampai membuat Cempaka tidak mau mengusap wajah basahnya, demi menjaga image-nya sebagai pembunuh bayaran kelas elite.
Sementara itu, Tikam Ginting menyodorkan gelas tanah liat di meja depan Cempaka, lalu menuangkan wedang jahe yang airnya mengepulkan asap tipis.
Cempaka sejenak melirik tuangan air wedang yang aroma jahenya begitu harum di kala cuaca sedingin itu.
Di sisi lain, Ratu Wilasin, Arda Handara, Anik Remas, Bagang Kala, Lentera Pyar, Setya Gogol, dan Bong Bong Dut berkumpul seperti pengungsi banjir menyaksikan dari jarak beberapa tombak adegan minum-minum itu.
Para karyawan penginapan sudah tidak bergerombol di ambang pintu. Mereka sudah diusir oleh Niring Kuwikuwi agar kembali ke tugasnya masing-masing.
“Diminum, Cempaka!” kata Dewi Ara lalu lebih dulu meraih gelas dan menyeruput minumannya.
Sambil tetap menatap tajam kepada Dewi Ara, Cempaka mengulurkan tangan kirinya meraih gelasnya. Ia lalu minum dengan tangan kiri tanpa sediit pun melirik gelasnya.
“Preeet!”
Ketika lidahnya merasakan air wedang jahe itu, Cempaka terkejut dan sontak menyemburkan minuman yang belum sempat ia teguk itu. Sampai-sampai semburannya berniat menjangkau wajah Dewi Ara.
Namun, sebelum satu pun percikan semburan mengenai wajah dan pakaiannya, terlihat jelas bahwa air wedang itu terhenti diam melayang di udara.
“Wedang apa ini? Tidak ada gula ….”
Makian Cempaka terputus karena ia disusul keterkejutan, ia melihat air jahe yang dia semburkan tertahan di udara, seolah waktu berhenti berputar.
Melihat Dewi Ara telah mengerahkan kesaktiannya, Cempaka menyimpulkan bahwa inilah waktunya untuk menyerang.
Sing! Cprac!
“Akk!”
__ADS_1
Saat melihat Dewi Ara telah memainkan kesaktiannya, tangan kanan Cempaka bergerak secepat kilat mencabut pedang di punggungnya. Saking cepatnya gerakannya, sampai-sampai gerakan pedang sulit terlihat jelas.
Namun, sebelum pedang keunguan Cempaka sampai ke leher Dewi Ara, kepala wanita berpakaian merah terang itu telah tersentak ke belakang, karena air-air jahe yang mengambang di udara melesat lebih dulu menghantam wajah dan matanya.
Cempaka pun menjerit dengan mata yang terpejam kuat, menahan perih sebab air jahe yang pedas. Sementara pedangnya batal melanjutkan misinya.
“Jangan berani menyerang di saat aku tidak bisa melihat!” teriak Cempaka seperti orang buta sambil mengacungkan ujung pedangnya ke depan Dewi Ara, tinggal sejangkauan maka Dewi Ara bisa kena.
Sang permaisuri tetap diam dengan tenang. Dia membiarkan Cempaka sibuk dengan kepanikannya karena menderita keperihan pada matanya. Tikam Ginting pun hanya memandangi, tidak melakukan serangan.
“Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu dalam kondisi tidak melihat. Kau pastinya akan malu besar jika pembunuh bayaran tingkat tinggi mati terlalu cepat,” kata Dewi Ara.
Setelah menahan perih lebih dari sepuluh tarikan napas, Cempaka berusaha membuka kelopak matanya yang berair banyak. Ia mulai bisa melihat secara perlahan. Kelopak matanya ia kerjap-kerjapkan. Hingga akhirnya dia bisa melihat kembali. Tidak lupa ia mengelap matanya agar tidak seperti wanita cengeng.
“Jadi, apa yang kau inginkan selanjutnya, Cempaka?” tanya Dewi Ara, setelah melihat Cempaka sudah bisa melihatnya kembali.
Dewi Ara meraup segenggaman kacang rebus di bakul kecil yang mulai dingin. Kacang raupannya ia tumpahkan begitu saja di sisi gelasnya. Ia ambil satu lalu ia pecahkan kulitnya, kemudian menggigit kacang pada kulit yang ditempeli dengan tetap mempertahankan kulitnya dalam pegangan jari. Seperti itulah tutorial makan kacang rebus.
“Aku tetap ingin membunuhmu. Aku harus menukar kepalamu dengan bayaranku,” jawab Cempaka.
“Kau mengancamku?” tanya Cempaka dengan mata merah yang mendelik.
“Jika kau mati, apakah masih ada pembunuh bayaran yang akan mengejar Ratu Wilasin?” tanya Dewi Ara sambil terus memakan kacang yang terserak di depannya.
“Pasti. Ada aturan di dalam Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas. Semua anggota harus tahu tugas yang diberikan oleh dalang. Jika sampai terjadi kegagalan dalam misi, maka pembunuh yang lain wajib meneruskan misi dan menyelesaikannya,” jelas Cempaka.
“Jadi kau melanjutkan misi membunuh yang diemban oleh Penembak Bambu?” tanya Dewi Ara. Jumlah kacangnya kian sedikit.
“Benar,” jawab Cempaka.
“Jadi kau bisa tenang walaupun kau malam ini mati, karena ada orang yang akan melanjutkan tugasmu,” kata Dewi Ara sambil memecah kacang terakhir.
Sing! Tak!
Sebelum biji kacang terakhir masuk ke mulut Dewi Ara, Cempaka yang sudah memegang pedangnya di tangan kanan cepat mengelebatkan senjatanya itu. Pada saat yang bersamaan, Dewi Ara menepak halus permukaan meja dengan jari telunjuk kanannya.
__ADS_1
Tak! Cprac!
Gelas kendi milik Dewi Ara yang masih berisi air wedang terlempar kalem ke atas menangkis pedang milik Cempaka. Dalam durasi waktu yang sangat singkat, kurang dari satu tarikan napas, beberapa insiden terjadi.
Ketika gelas pecah bersama airnya yang terciprat, kepingan gelas dan semua air langsung melesat menyerang Cempaka.
Sis! Sreeet!
Ternyata Cempaka sudah siap. Ketika serpihan gelas dan air jahe menyerangnya, tangan kirinya cepat mengibas yang menimbulkan selapis sinar kuning menangkis serangan. Setelah itu, dia cepat mendorong mundur tubuhnya dalam posisi berlutut satu kaki dengan tatapan tajam dan tangan mengembang, seperti gaya pendekar.
Tak! Sreeet!
Dewi Ara kembali memukul pelan atas meja dengan jari telunjuknya. Kumpulan kulit kacang yang sebelumnya dikumpulkan oleh sang permaisuri, ramai-ramai melompat naik mengudara, lalu kekuatan mata Dewi Ara membuat mereka melesat cepat menyerang Cempaka.
Sebelum kumpulan kulit kacang itu sampai kepadanya, Cempaka cepat menusukkan pedangnya lalu ujung pedang digerakkan berputar cepat, menciptakan pusaran angin kecil yang menahan laju kulit kacang.
Kumpulan kulit kacang itu lalu dibawa oleh gerakan pedang dan dilempar balik menyerang Dewi Ara.
Set set set …!
Tak tak tak …!
Kacang rebus yang masih banyak di bakul, satu per satu tiba-tiba melesat meninggalkan bakul dan menabrak semua kulit yang sedang melesat menyerang Dewi Ara. Satu kacang lawan satu kulit kacang itu membuat semuanya berguguran dan berserakan di lantai.
“Hiaaat!” pekik Cempaka sambil menolakkan kakinya yang membuat tubuhnya melesat nyaris tidak terlihat menyerang Dewi Ara dengan pedang menusuk.
Set set set …!
Tang ting ting …!
Namun, lagi-lagi sebelum pedang itu sampai kepada Dewi Ara, Cempaka terpaksa melempar tubuhnya ke samping sambil pedangnya bermain cepat menangkis serangan kacang-kacang rebus yang melesat dari bakulnya.
Kecepatan gerakan pedang ungu Cempaka membuatnya bisa menangkis semua kacang yang menyerangnya.
Dan ketika serangan kacang itu berhenti, Cempaka langsung melancarkan serangan baru yang levelnya lebih berbahaya. (RH)
__ADS_1