Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 1: Domba Tiba di Ibu Kota


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


 


Di Gerbang Macan Langit di utara ibu kota Sanggara.


Seorang prajurit datang dengan tergesa-gesa menghadap Perwira Basahan yang sedang berada di barak.


“Gusti, ada seorang pendekar tua bernama Domba Hidung Merah ingin masuk ke Ibu Kota. Katanya ingin bertemu Gusti Prabu,” lapor si prajurit.


“Domba Hidung Merah?” sebut ulang Perwira Basahan. Ia lalu memandang ke atas, menunjukkan mimik sedang berpikir, padahal dia bukanlah seorang pemikir. “Domba Hidung Merah, Domba Hidung Merah.”


Tiba-tiba Perwira Basahan bangun dengan gerakan cepat, sepertinya dia sudah ingat sesuatu. Namun, dia tidak langsung menuju ke arah Gerbang Macan Langit, tapi justru masuk ke dalam barak. Si prajurit bingung dan memilih menunggu.


Perwira Basahan masuk ke dalam ruang kerjanya. Anggaplah itu ruang kantornya. Ia langsung ke pojok ruangan, di mana ada tumpukan sejumlah peti kayu.


Perwira Basahan membuka salah satu peti dan mengambil segulung ikatan lontar. Dibukanya ikatan lontar dan dibacanya serangkaian tulisan yang ada.


“Domba Hidung Merah,” ucap Perwira Basahan sambil membaca dalam hati mencari nama yang disebutnya. Jari telunjuknya menunjuki daftar nama yang tercantum satu per satu. “Ini dia, Domba Hidung Merah. Dia termasuk dalam daftar hitam Kerajaan.”


Perwira Basahan segera merapikan lontar dan peti itu kembali. Setelahnya, dia bergegas berjalan keluar.


Sekeluarnya dari barak.


“Pasukan!” teriak Perwira Basahan dengan berwibawa.


Puluhan prajurit yang sedang mode santai karena memang sedang masa-masa istirahat, segera berbangkitan. Mereka bergerak buru-buru meraih tombak dan tameng milik masing-masing.


Tidak sampai tiga puluh detik, puluhan prajurit Penjaga Gerbang Macan Langit telah berbaris. Mereka segera berjalan bersama mengikuti komandan mereka, meski langkah kaki mereka tidak seirama, yang penting tidak saling tabrak.


Jarak barak dengan gerbang utara tidak begitu jauh, jadi tidak lama untuk sampai di sana. Lewat pintu kecil yang ada di sisi pintu gerbang yang besar, mereka keluar ke depan gerbang.


Di depan gerbang, selain kesibukan orang-orang yang mengurus administrasi keluar dan masuk Ibu Kota, ada satu orang dan seekor hewan sedang dalam masa menunggu. Sosok lelaki besar yang duduk menunggangi seekor domba yang besar pula.


Sosok kakek kekar berhidung garis merah itu tidak lain adalah Domba Hidung Merah, Kepala Desa Bulukempis dari Kerajaan Baturaharja.


Perwira Basahan berjalan gagah dan berhenti beberapa tombak di depan kedua domba itu. Sementara lebih dua puluh prajurit bertombak dan bertameng membentuk dua saf di belakang sang perwira.


Domba Hidung Merah lalu turun dari tunggangannya.


“Tetua Domba Hidung Merah, apa maksud Tetua datang ke Ibu Kota?” tanya Perwira Basahan.


“Aku ingin menyampaikan pesan kepada Gusti Prabu Dira Pratakarsa. Aku membawa pesan dari Gusti Permaisuri Geger Jagad,” jawab Domba Hidung Merah.

__ADS_1


“Tetua adalah salah seorang yang termasuk dalam daftar hitam Kerajaan Sanggana Kecil. Mungkin Tetua pun tahu, bahwa semua perkataan Tetua tidak akan dipercaya oleh Istana. Dan itu berlaku bagi para prajurit Sanggana Kecil,” tandas Perwira Basahan.


“Aku tahu. Namun, aku memiliki kata sandi yang bisa menunjukkan bahwa aku memang diutus oleh Gusti Permaisuri Geger Jagad. Bukankah Gusti Permaisuri sedang tidak berada di Istana dan sedang berada dalam perjalanan bersama putranya?” kata Domba Hidung Merah tidak kehabisan akal.


Terdiamlah Perwira Basahan sejenak. Ia membenarkan pertanyaan pendekar tua itu.


“Apa kata sandi yang Tetua maksud?” tanya Perwira Basahan.


“Pesan yang aku bawa adalah pesan sangat rahasia. Kau sangat tidak berhak mengetahui kata sandi tersebut,” kata Domba Hidung Merah.


“Lalu apa mau Tetua?” tanya Perwira Basahan.


“Jika aku memang dilarang masuk, setidaknya kau sampaikan kedatanganku kepada Gusti Prabu. Aku membawa pesan yang tidak boleh terlambat aku sampaikan. Ini tentang perkara yang sangat besar,” kata Domba Hidung Merah. “Jika sampai perkara buruk itu terjadi hanya karena keterlambatanmu menyampaikan kedatanganku, maka kaulah yang menjadi penyebabnya.”


Terbeliak mata Perwira Basahan mendengar perkataan Domba Hidung Merah.


“Sial, dia memojokkan aku. Bagaimana jika dia memang membawa perkara yang sangat penting?” batin Perwira Basahan.


Lalu katanya kepada Domba Hidung Merah.


“Baik, aku akan menyampaikan kehadiran Tetua di sini. Aku tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu yang buruk. Jangan salahkan aku jika memang Istana menolak kehadiran dan perkataan Tetua,” kata Perwira Basahan.


“Baik, aku akan menunggu di sini. Jika sampai pagi menjelang tidak ada orang Istana yang menjemputku, maka aku menganggap diriku ditolak dan aku tidak bertanggung jawab atas perkara buruk besar yang terjadi,” kata Domba Hidung Merah.


Perwira Basahan lalu berbalik menghadap kepada pasukannya.


“Mengerti, Perwira!” sahut pasukan itu lantang dan serentak, memberi suasana tegang di depan Gerbang Macan Langit.


Perwira Basahan lalu pergi untuk mengambil kuda yang ada tersedia di dekat pos pemeriksaan.


Sementara itu, Domba Hidung Merah memilih pergi ke tanah yang lebih berumput dan teduh, agar dia bisa beradem ria dan dombanya bisa merumput.


“Jika bukan prajurit Sanggana Kecil, sudah aku benturkan kalian ke tembok gerbang,” ucap Domba Hidung Merah lirih, tanpa di dengar oleh siapa pun.


Singkat cerita, Perwira Basahan siang itu pergi masuk ke Istana untuk melapor tentang kedatangan Domba Hidung Merah. Namun, Perwira Basahan kali ini kurang beruntung, dia diterima langsung oleh Prabu Dira, padahal dia sangat berharap diterima oleh Ratu Tirana atau salah satu permaisuri yang kecantikannya selalu menjadi buah bibir di kalangan prajurit.


“Telik sandi telah menyampaikan perihal kedatangan Tetua Domba Hidung Merah.”


Itu komentar pertama Prabu Dira Pratakarsa Diwana atas laporan Perwira Basahan.


“Hah, jika Gusti Prabu sudah tahu lebih dulu, lalu untuk apa aku datang melapor?” ucap Perwira Basahan, tetapi itu hanya di dalam hati.


“Namun, perkara apa yang Tetua Domba sampaikan kepadamu untuk disampaikan kepadaku?” tanya Prabu Dira.

__ADS_1


“Eee itu, Gusti. Tetua Domba mengatakan, dia diutus oleh Gusti Permaisuri Geger Jagad dan dia katanya memiliki kata sandi sebagai bukti bahwa dia diutus oleh Gusti Permaisuri. Dia juga mengatakan, membawa pesan yang sangat rahasia dan tidak boleh terlambat menyampaikannya,” lapor Perwira Basahan.


“Jika demikian, biar aku yang langsung datang menemuinya di Gerbang Macan Langit, agar pesan yang dibawanya tidak terlambat disampaikan kepadaku,” kata Prabu Dira yang membuat Perwira Basahan terkesiap.


Clap!


Jadi bingunglah Perwira Basahan karena dia ditinggal sendirian begitu saja. Prabu Dira tahu-tahu menghilang seperti setan dari tempat duduknya.


Setelah celingak-celinguk memandang kepada para prajurit jaga di sekitar tempat itu, akhirnya Perwira Basahan memutuskan bangkit dan melangkah pergi dengan ragu.


Lebih cepat dari larinya seekor kuda balap, itulah kecepatan waktu tempuh Prabu Dira sampai di Gerbang Macan Langit. Ia datang tanpa pengawalan seorang pun prajurit atau pendekar.


Clap!


Agak terkejut Domba Hidung Merah melihat kemunculan seorang pemuda tampan berpakaian mewah dan berbibir merah.


“Tetua Domba Hidung Merah,” sapa Prabu Dira yang tiba-tiba muncul dua tombak dari posisi kakek besar itu.


Domba Hidung Merah tidak langsung menjawab. Ia serius menatap kepada Prabu Dira. Ia sedang menebak-nebak siapa adanya pemuda gagah berwajah seperti perempuan cantik itu.


Domba Hidung Merah memang tidak pernah bertemu dengan Prabu Dira Pratakarsa Diwana yang memiliki nama pendekar dunia persilatan Joko Tenang. Namun, dia pernah mendengar bahwa Prabu Dira adalah lelaki berbibir merah.


“Apakah dia Prabu Dira? Bibirnya berwarna merah. Namun, mana mungkin Prabu Dira datang menemuiku langsung di gerbang yang jauh dari gerbang Istana?” pikir Domba Hidung Merah.


Melihat Domba Hidung Merah hanya memandanginya dengan wajah tampak bimbang, Prabu Dira kembali menyapanya dengan pertanyaan.


“Bukankah Tetua Domba Hidung Merah ingin bertemu denganku?”


“Eh, i-i-iya,” jawab Domba Hidung Merah mendadak gagap. Lalu batinnya, “Kharisma pemuda ini sangat tinggi, sampai-sampai membuatku tergagap tolol seperti ini.”


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” teriak seorang pemimpin prajurit dari jarak yang agak jauh, sambil turun bersujud di tanah.


“Sembah hormat kami, Gusti Prabu!” teriak seluruh prajurit pasukan yang sedang berbaris berjaga di depan gerbang. Mereka semua turun bersujud, termasuk prajurit di pos pemeriksaan yang posisinya agak jauh dari Prabu Dira.


Melihat hal itu, maka yakinlah Domba Hidung Merah bahwa pemuda tampan itu adalah Prabu Dira adanya.


“Hormat sembah hamba, Gusti Prabu!” ucap Domba Hidung Merah sambil turun berlutut.


“Bangunlah kalian semua!” seru Prabu Dira kepada para prajurit. Lalu katanya kepada Domba Hidung Merah, “Bangunlah, Tetua. Sepertinya aku membutuhkan pesan rahasia yang Tetua bawa.”


Domba Hidung Merah segera bangkit berdiri.


“Apa kata sandi yang Tetua miliki sebagai bukti bahwa Tetua diutus oleh permaisuriku?” tanya Prabu Dira.

__ADS_1


“Uyut-Uyut,” jawab Domba Hidung Merah.


“Hahaha!” tawa Prabu Dira mendengar kata sandi tersebut. (RH)


__ADS_2