
*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*
Namanya adalah Gandala Moi. Pangkatnya di Angkatan Laut Kerajaan Karang Hijau adalah Laksamana Muda. Sosoknya juga masih terbilang muda tanpa kumis dan jenggot, tetapi dia memiliki sepasang alis yang tebal.
Gandala Moi mengenakan jubah tebal warna biru terang yang model kerahnya tebal berdiri. Bahu jubahnya juga tebal dan keras. Pada bahu jubah itu ada rumbai-rumbai benang perak. Rumbai benang perak itulah yang menunjukkan apa pangkatnya. Ada sebilah pedang kurus warna hitam menggantung di pinggang kirinya.
Dia didampingi oleh dua orang prajurit berseragam biru terang bersenjata panah. Seragamnya berbahan tebal lengan pendek. Kedua lengannya terlihat sempit, sehingga ototnya tidak memiliki ruang untuk bernapas. Namun, pada bagian badan tidak sempit.
Mereka bertiga berjalan menelusuri koridor yang tidak jauh pada sisi kanannya adalah tebing batu, yang berbatasan langsung dengan laut. Dari koridor itu masih bisa melihat keberadaan belasan kapal perang yang bersauh tidak jauh dari Pelabuhan Pintu Kabut, pelabuhan utama pulau.
Suara para pekerja yang sedang membangun sistem pertahanan di pelabuhan utama dan sekitarnya menjadi kebisingan tersendiri.
Meski hari ini cerah, tetapi masih banyak kabut yang menyelimuti pinggiran pulau besar yang tidak memiliki gunung tersebut. Anehnya, kabut itu seakan tidak buyar oleh angin laut. Keberadaan kabut itulah yang membuat pulau tersebut dinamai Pulau Kabut.
Pulau ini jarang terlihat dari jauh karena tertutupi oleh kabut. Hanya para pelaut ulung yang berpengalaman yang bisa dengan jeli melihat keberadaan pulau.
Gandala Moi telah berbelok dan menuju ke sebuah pintu bangunan besar bergenting hijau gelap. Pintu itu dijaga oleh beberapa prajurit yang berseragam biasa warna kuning. Para prajurit itu bersenjatakan panah, tidak seperti prajurit jaga pada umumnya yang bersenjata pedang atau tombak.
Dang dang dang …!
Di dalam bangunan permanen yang memiliki posisi cukup tinggi dari permukaan laut itu, Gandala Moi dan kedua prajurit anak buahnya melihat seorang lelaki bertubuh besar berbahu lebar tanpa baju, tapi masih memakai celana, sedang menonjoki sebatang besi besar berdiameter badan seorang istri. Lelaki berusia separuh abad lebih tiga bulan itu sudah bermandi keringat. Sepertinya tangannya tidak apa-apa menonjoki tiang besi yang semakin kempot.
Tidak begitu jauh dari aksi tinju-tinju seperti petinju profesional itu, ada sekitar sebelas orang berperawakan pendekar sedang duduk santai sambil berbincang, tidur-tidur manuk, bahkan ada yang berdandan meski dia seorang lelaki.
Sementara kedua prajurit yang mengawalnya berhenti, Laksamana Muda Gandala Moi terus berjalan mendekati lelaki besar yang sedang berlatih.
“Hormat hamba, Laksamana!” ucap Gandala Moi sambil menjura hormat dengan berlutut satu kaki dan telapak tangan kanan berdiri di depan dahi.
Penghormatan itu membuat lelaki berotot keras tersebut berhenti dari aksinya. Ia beralih menghadap kepada Gandala Moi dengan badan yang basah oleh keringat.
__ADS_1
“Ada hal penting apa, Laksamana Muda?” tanya lelaki yang ternyata seorang Laksamana Utama. Nama lengkapnya adalah Galala Lio.
“Telik sandi telah melihat keberadaan Pangeran Bewe Sereng di Pulau Gunung Dua, Laksamana,” jawab Gandala Moi.
“Siapa yang dia bawa bersama?” tanya Galala Lio.
“Sejumlah pendekar yang dipimpin oleh seorang wanita yang begitu dihormati,” jawab Gandala Moi.
“Aku jadi penasaran, kepada siapa Pangeran Bewe Sereng meminta bantuan,” ucap Galala Lio.
Dia lalu berjalan sedikit dan membungkuk mengambil sehelai kain dari tumpukan pakaiannya sendiri. Ia menyeka badannya dengan kain yang menyerap keringat. Sepertinya di masa itu, klasifikasi kain penyerap keringat sudah tersedia.
“Sepetinya mereka bersekutu dengan Bajak Laut Malam karena mereka menggunakan kapal hitam milik Bajak Laut Malam,” tambah Gandala Moi.
“Karena Pangeran Bewe Sereng sudah sampai di Pulau Gunung Dua, dia pasti akan datang ke pulau ini. Bawa Armada Bintang Tujuh untuk menghadang di Selat Gurita!” perintah Galala Lio.
“Baik, Laksamana,” ucap Gandala Moi.
“Apakah belum ada kabar tentang Putri Mahkota?” tanya Galala Lio.
“Baiklah. Pergilah lebih cepat ke Selat Gurita, jangan sampai kau didahului oleh rombongan Pangeran Bewe Sereng!” perintah Galala Lio.
“Baik, Laksamana,” ucap Gandala Moi.
Laksana Muda itu lalu menjura hormat kembali dan berbalik pergi. Ia memandang sejenak kepada kesebelas pendekar yang terdiri dari lima lelaki dan enam wanita yang sedang bersantai.
Sekedar bocoran meski tidak ada yang bocor. Mereka bersebelas dikenal dengan nama Enam Pasang Kekasih Laut, yaitu enam pasang suami istri. Pasangan lelaki pertamanya adalah Galala Lio, sehingga genap enam pasang.
Merekalah yang bertanggung jawab atas keamanan Negeri Pulau Kabut yang telah mereka kuasai. Sementara orang yang mengendalikan Istana Kabut Kuning yang menjadi pusat pemerintahan negeri itu adalah Pangeran Tololo Coi.
Gandala Moi terus berjalan pulang menuju pelabuhan utama bersama kedua pengawal kepercayaannya. Cukup jauh jarak yang mereka tempuh untuk turun sampai ke area pelabuhan. Sebenarnya, sebagai seorang berkesaktian, mudah bagi Gandala Moi untuk sampai ke pelabuhan dalam beberapa kali lompat saja.
__ADS_1
Di Pelabuhan Pintu Kabut itu, ramai oleh para pekerja bertelanjang dada. Tangan-tangan pekerja itu dibelenggu oleh borgol besi yang memiliki rantai yang panjang, sehingga selain terbelenggu, tangan para pekerja itu juga bisa bekerja meski menanggung berat belenggu.
Ada yang bekerja mengangkut batu-batu besar, ada yang bertugas memukuli pasak besi yang besar, ada yang bertugas menarik derek untuk mengangkat material dari bawah ke atas. Para pekerja itu ramai bekerja dengan garis pantai yang lebih panjang dari panjang pelabuhan.
Ada sebagian dari proyek itu telah selesai, terutama di bagian pelabuhan sendiri. Adapun yang ke arah kanan dan kiri jauh pelabuhan masih dalam tahap pembangunan, baik tahap penyelesaian atau baru memulai. Delapan puluh persen pantai Pulau Kabut adalah batu dan karang. Pantai berpasir hanya sedikit dan letaknya ada di sisi lain dari pulau.
Pada bagian yang sudah selesai bisa dilihat wujud dari proyek yang dibangun, yaitu benteng yang pada bagian atasnya dipasang mesin-mesin panah besar yang berteknologi canggih untuk ukuran di masa itu. Baik Negeri Pulau Kabut ataupun Negeri Karang Hijau yang menguasainya, terkenal dengan industri, keahlian dan kesaktian panahan.
Pasukan keamanan kedua negeri itu lebih mengandalkan senjata panah daripada pedang dan tombak, meski mereka juga dibekali senjata pedang. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya prajurit berseragam warna biru gelap yang mengawasi kerja para pekerja. Prajurit-prajurit itu selalu menggenggam busurnya dan tabung di punggungnya sarat oleh anak panah. Para prajurit pengawas itu adalah pasukan darat Pulau Karang Hijau yang ditugaskan di Negeri Pulau Kabut.
Laksamana Muda Gandala Moi telah naik ke kapal perangnya yang merapat di dermaga. Warna kapal itu identik warna hijau, warna yang sewarna dengan kapal perang Pulau Karang Hijau pada umumnya. Namun, selain ukurannya yang lebih besar, ada corak-corak tertentu yang menunjukkan bahwa kapal itu adalah kapal Laksamana Muda Gandala Moi.
“Pasang bendera Armada Bintang Tujuh!” perintah Gandala Moi kepada anak buahnya.
“Baik, Laksamana Muda!” ucap anak buahnya patuh.
Prajurit laut itu lalu segera berlari masuk ke anjungan. Sebentar kemudian keluar membawa sehelai kain warna merah terang.
Ia terus berlari. Bahkan ketika menaiki tangga tali yang menuju ke pucuk tiang utama yang telah memiliki bendera hijau bergambar gunung bersinar. Bendera hijau itu adalah bendera Kerajaan Puncak Samudera, kerajaan yang menguasai Negeri Karang Hijau.
Setelah bendera kain merah dipasang di bawah bendera kerajaan, maka berkibarlah bendera yang bergambar tujuh bintang hijau.
Fooong!
Tiba-tiba terdengar suara tiupan terompet cangkang kerang besar yang dilakukan oleh seorang prajurit di kapal Laksamana Muda yang bernama Kapal Karang Jago. Memang setiap kapal perang dan kapal bajak laut memiliki nama. Prajurit itu berposisi di atas atap anjungan.
Tiupan terompet seketika menarik perhatian semua awak kapal perang yang merapat di dermaga dan kapal yang bersauh agak terpisah dari pelabuhan. Mereka segera memandang mencari tanda-tanda.
Tanda yang mereka lihat adalah prajurit peniup trompet di atas Kapal Karang Jago dan bendera merah bergambar tujuh bintang hijau yang berkibar di bawah bendera kerajaan.
Maka, para prajurit angkatan laut yang termasuk awak dari tujuh kapal Armada Bintang Tujuh segera bergerak. Mereka yang sedang turun ke pelabuhan segera naik ke kapalnya masing-masing. Mereka yang tetap ada di kapal, segera mempersiapkan kapal untuk berlayar.
__ADS_1
Singkat cerita, Kapal Karang Jago bergerak lebih dulu meninggalkan Pelabuhan Pintu Kabut, kemudian diikuti oleh tujuh kapal perang lainnya yang tentunya berukuran lebih kecil. Kapal Karang Jago memuat seratus lima puluh prajurit. Sementara tujuh kapal lainnya masing-masing seratus prajurit, sudah termasuk kapten di setiap kapal.
Tujuan Armada Bintang Tujuh itu adalah Selat Gurita. (RH)