Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 20: Bertemu Pembunuh Kakak


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Kini tinggallah Anik Remas, Bagang Kala, Gelisa dan Kelakar dalam rombongan itu.


Kemarahan yang muncul karena kehilangan banyak pengawal, sedikit banyaknya teredakan oleh rasa berbunga-bunga yang tiada henti tumbuh berkembang di dalam hati Anik Remas. Tatapannya selalu memandang kepada Bagang Kala, meski pemuda yang duduk di sisi Kelakar itu memunggunginya.


Sementara Gelisa sesekali melirik kepada junjungannya yang selalu dalam ketermanguan memandang kepada Bagang Kala. Gelisa tidak perlu bertanya, ia sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi dengan Anik Remas.


“Ketua Empat!” panggil Gelisa yang berkuda di sisi kereta kuda.


“Ya?” sahut Anik Remas yang terkejut halus oleh panggilan pengawalnya.


“Ada rombongan Ketua Lima,” ujar Gelisa memberi tahu.


Anik Remas segera menengok ke kanan.


Di jalan yang lain, terlihat rombongan sebuah kereta kuda berwarna biru sedang menuju ke titik pertigaan. Menurut perhitungan, rombongan itu akan bertemu dengan rombongan Anik Remas di pertigaan jalan.


Rombongan kereta kuda berwarna biru dikawal oleh sepuluh lelaki berseragam biru dan seorang wanita muda yang juga berpakaian warna biru. Mereka semua berbekal senjata cambuk di pinggangnya, baik itu dililitkan ataupun sekedar digantung dalam gulungan, yang pasti tidak ada yang dililitkan di leher.


Yang paling menonjol dan paling menarik perhatian dalam rombongan itu adalah sosok wanita berkuda karena dia memiliki kecantikan high quality, kelas impor. Mata lebar dan hidung mancung berbatang lurus, membuatnya memiliki warna wajah yang berbeda dari rekan-rekan serombongannya. Gadis berambut lurus sepunggung itu adalah putri dari Ketua Lima. Sekedar bocoran, namanya Lirih Lambai.


Adapun sosok yang duduk di kereta kuda terbuka tanpa atap itu adalah sepasang suami istri yang sudah berusia sekitar separuh abad atau lebih-lebih sedikitlah. Sosok lelaki berkumis yang juga berpakaian warna biru tapi lebih mewah, bernama Sarang Asugara, Ketua Lima Perguruan Cambuk Neraka.


Adapun istri Sarang Asugara yang bertubuh cukup gemuk, tapi tidak seperti Guna Wetong, bernama Ayuting Palasa. Model matanya juga lebar dan hidungnya mancung, sepertinya ia mewarisi model muka putrinya.


Ayuting Palasa bukan sekedar istri, tetapi kedudukannya begitu mempengaruhi karir suaminya. Sarang Asugara pun adalah tipe yang tidak egois, ia selalu meminta pertimbangan dari mantan pacarnya itu sebelum mengambil suatu keputusan penting.


Memang benar, akhirnya kedua rombongan itu bertemu di titik pertigaan.

__ADS_1


“Hormatku kepada Ketua Empat!” seru Sarang Asugara sambil berdiri dari duduknya dan menjura hormat kepada Anik Remas.


“Hormatku kepada Ketua Empat!” ucap Ayuting Palasa pula sambil berdiri menghormat.


“Hormat kami kepada Ketua Empat!” ucap Lirih Lambai dan rekan-rekannya secara bersamaan, menghormat tanpa turun dari kuda mereka.


“Hormatku pula kepada Ketua Lima!” seru Anik Remas balas menghormat yang diikuti oleh ketiga pengawalnya.


“Dewa berkehendak kita dipertemukan di jalanan ini. Namun, kenapa Ketua Empat membawa begitu sedikit pengawal?” tanya Sarang Asugara penasaran, tanpa mau menanyakan kondisi mereka yang tidak begitu rapi.


Anik Remas, Bagang Kala dan Gelisa memang menyisakan sisa-sisa pertarungan pada penampilan mereka, yaitu penampilan yang tidak serapi waktu meninggalkan kediaman.


“Ada kelompok yang sengaja menargetkan aku dan para pengawalku. Tujuh orangku mati terbunuh di tengah jalan,” jawab Anik Remas dingin.


Melebar mata pasangan suami istri itu mendengar jawaban janda cantik itu.


“Siapa?” tanya Ayuting Palasa cepat.


Ketua Lima dan istrinya, serta para pengawalnya langsung memusatkan perhatian kepada sosok Bagang Kala. Mereka semua mengenal Gelisa dan Kelakar sebagai keluarga besar dan tahu tingkat kesaktian kedua orang itu. Tentunya “pengawal hebat” yang Anik Remas maksud adalah sosok pemuda asing di sisi kusir.


Ketika dirinya menjadi pusat tatapan dari rombongan Ketua Lima, maka gagap tingkahlah Bagang Kala. Ia jadi bingung harus bersikap apa. Namun, ketika ia bertemu pandang dengan Lirih Lambai, gadis cantik bermata lebar itu tersenyum kecil kepadanya. Senyuman kecil tapi kuat menusuk ke hati. Jika Bagang Kala karakter tukang gombal, mungkin dia akan pura-pura mati lemas saat ditembak dengan senyuman secantik itu.


Senyuman Lirih Lambai ternyata tertangkap mata oleh lelaki dewasa 40 plus yang posisi kudanya tepat di sisi kiri kuda si gadis. Lelaki berambut keriting itu merasa terusik perasaannya saat melihat Lirih Lambai tersenyum ketika memandang Bagang Kala.


Pemuda menuju tua itu lalu menyentuhkan kaki kanannya ke betis kiri Lirih Lambai, membuat gadis cantik itu menengok kepadanya.


“Ada apa, Kakang Gadra?” tanya Lirih Lambai.


“Kau mengaguminya?” tanya pemuda yang bernama Gadra itu. Cemburu.


“Tidak!” bantah Lirih Lambai dengan tatapan tidak senang kepada Gadra.

__ADS_1


Gadra jadi berubah menatap tidak senang kepada Bagang Kala.


Sebaliknya, Bagang Kala tiba-tiba tersentak halus saat bertemu pandang beberapa detik dengan Gadra. Sentakan halus pada wajah Bagang Kala membuat Gadra tersenyum sinis, karena menduga Bagang Kala kena mental hanya dengan tatapan saja.


Namun, berbeda dengan yang dialami Bagang Kala sebenarnya. Ia tersentak kecil karena jantungnya terkejut. Wajah Gadra yang berhias rambut keriting mengingatkannya kepada salah satu pemuda yang melecehkan kakaknya yang bernama Juminah.


Bayangan wajah-wajah keenam orang yang bertanggung jawab atas kematian Juminah tidak akan mudah dilupakan oleh Bagang Kala, meski telah berlalu masa 15 tahun lamanya. Hal itu bisa terjadi karena kejadian yang membunuh kedua orangtua dan kakak perempuan Bagang Kala selalu terbayang hingga beberapa tahun. Bahkan Bagang Kala sempat mengalami trauma seperti sulit tidur dan selalu mimpi buruk tentang keluarganya sekitar setengah tahun, saat ia mulai berguru kepada Bolong Jungkal.


Tiba-tiba rasa dendam muncul di dalam dada Bagang Kala. Namun, buru-buru Bagang Kala merundukkan wajahnya, seolah tidak mau beradu tatap dengan Gadra.


“Aku harus menunggu waktu yang tepat, tidak boleh terbawa kemarahan. Aku harus mengikuti nasihat Guru,” batin Bagang Kala.


“Silakan, yang tua lebih dulu,” kata Anik Remas mempersilakan Sarang Asugara.


“Baiklah,” kata Sarang Asugara seraya tersenyum.


Tanpa diperintah, kusir kembali menjalankan kereta kuda Sarang Asugara. Pengawal berkuda juga menjalankan kudanya.


Gadra sengaja mendekatkan jalan kudanya kepada posisi Bagang Kala.


“Kisanak, jangan coba-coba kau merayu kekasihku dengan pandanganmu itu!” ancam Gadra kepada Bagang Kala.


Bagang Kala hanya mengangkat sebentar wajahnya dan balas menatap Gadra dengan tajam. Ingin rasanya dia langsung mengeksekusi mati lelaki berambut keriting itu.


“Gadra, apa yang kau lakukan?!” bentak Anik Remas mendadak gusar melihat kelakuan Gadra.


“Aku hanya memperingatkan pengawalmu agar tidak mengusik calon menantu Ketua Dua,” jawab Gadra.


“Heh! Jika kau sudah berurusan dengan pengawalku, kau akan tidak bisa lagi menyombongkan diri,” dengus Anik Remas.


“Aku ingin lihat nanti saat tiba di perguruan!” desis Gadra. Ia lalu meninggalkan kereta kuda milik Anik Remas.

__ADS_1


Anik Remas dan Bagang Kala hanya menatap tajam kepada kepergian Gadra yang segera berkuda di sisi kuda Lirih Lambai. Putri Ketua Lima itu memang kekasih Gadra yang merupakan putra dari Ketua Dua Tolak Berang. (RH)


__ADS_2