
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Pagi di Kota Bandakawen selalu menjadi waktu yang ramai. Orang yang berkarakter malas akan ditinggal oleh rezeki, orang yang kuper akan tergilas oleh budaya hidup di kota komersial itu.
Para pekerja keras di pelelangan dan pelabuhan sibuk oleh aktivitas pelabuhannya, baik itu bongkar muat komoditi perdagangan, naik turunnya penumpang kapal, dan perdagangan ikan di pelelangan yang selalu ramai di kala pagi dan petang.
Jika para pekerja pelabuhan sibuk dengan dunianya, maka para pemuja cinta dan kasih sayang juga sibuk dengan hari bahagianya, yaitu menikah.
Istana Dua Satu Hati. Para turis menyebutnya Two in One Heart Palace. Itulah nama wisma tempat pernikahan dilaksanakan setiap hari. Sebuah bangunan megah semi permanen yang bagian atasnya berunsur kayu nan kuat. Bagian depannya selalu indah dengan dekorasi janur dan kain warna-warni yang dianyam sedemikian rupa.
Warga Kota Bandakawen yang tidak punya pekerjaan di saat-saat ada acara nikahan, mereka sering memilih datang ke sana sekedar ikut menikmati kebahagiaan dan juga menikmati sajian yang disiapkan panitia. Bahkan ada warga yang memilih tidak pulang setelah acara nikahan selesai karena ada acara nikahan berikutnya dari pasangan yang lain. Jadi dia pun bisa makan dua kali.
Salah satu orang yang pagi ini memilih datang ke Istana Dua Satu Hati adalah Mimi Mama. Dia seorang gadis kecil yang berwajah cantik nan indah. Terlihat berwarna dengan pakaian kuning cerahnya. Kulit wajahnya yang putih bersih seolah menandakan bahwa dia adalah anak seorang kaya atau bangsawan. Rambutnya yang tidak terlalu panjang dikuncir tiga dengan pita kecil warna merah muda. Dua kunciran di kanan dan kiri kepala, satu di puncak kepala. Model rambut itu membuatnya selain terlihat cantik, juga terlihat lucu. Hidungnya yang mungil mancung tanpa lendir.
Cara berjalannya yang seperti lari jogging anak domba, menjadi sinyal bahwa ia anak yang berhati ceria, meski tidak ada senyum yang mengembang di bibirnya.
Ia berjalan lewat di antara orang-orang yang bergerak masuk ke dalam Istana Dua Satu Hati.
“Eh eh eh, Adik Cantik!” panggil seorang penjaga Istana dari sisi samping.
Panggilan itu membuat Mimi Mama berhenti berjalan dan menengok ke samping. Ia memandang dengan mimik bertanya kepada pemuda yang berjaga di pintu masuk Istana.
“Kau datang dengan siapa, Adik Cantik?” tanya si pemuda santun.
“Aku datang bersama Kakek,” jawab gadis kecil yang usianya sekitar tiga belas tahun.
“Lalu mana kakekmu?” tanya si pemuda penjaga lagi.
“Sudah ada di dalam, Kakang,” jawab Mimi Mama lagi dengan tenang sambil tersenyum kecil. “Tadi aku tertarik untuk memetik bunga mawar, eh, Kakek malah meninggalkanku.”
Mimi Mama memperlihatkan segenggam bunga mawar merah di tangan kanannya. Padahal, tadi ia tidak terlihat membawa bunga apa pun. Entah dari mana bunga itu ia keluarkan.
“Oooh. Jika demikian, cepatlah temukan kakekmu. Anak secantik kau ini suka jadi sasaran penculikan orang jahat,” kata si pemuda.
“Hihihik!” tawa Mimi Mama nyaring.
Lalu tanpa berkata lagi, Mimi Mama segera berjalan melompat-lompat masuk ke dalam ruang pernikahan yang megah dan ramai.
“Bunga mawar. Setahuku di sini tidak ada pohon mawar …,” pikir si penjaga baru tersadar.
“Saaah! Hahaha!”
Tiba-tiba terdengar suara orang ramai berucap kencang yang disusul tawa ramai bernuansa bahagia, bukan bernuansa puas.
Rupanya pernikahan pasangan pertama sudah berlangsung dan sah. Tinggal acara hiburan dan makan-makan. Setelah nanti pasangan pertama diarak keluar menuju ke penginapan, barulah pasangan berikutnya akan dinikahkan.
__ADS_1
Biasanya, separuh dari tamu pernikahan akan ikut mengiringi arakan pengantin sampai ke penginapan. Salah satu alasannya, di penginapan ada jamuan makan khusus untuk pengantar. Sementara pengantin akan masuk ke kamar asmara.
Mimi Mama memilih untuk menikmati makanan yang tersaji di prasmanan, sambil menikmati hiburan tarian yang tergelar dengan iringan gamelan.
Mimi Mama memilih untuk menikmati makanan yang tersaji di prasmanan, sambil menikmati hiburan tarian yang tergelar dengan iringan gamelan.
Mimi Mama terus menikmati suasana. Dia berjalan acak ke sana dan ke sini. Namun, tidak terlihat ia menunjukkan mencari seseorang.
“Calon pengantin berikutnyaaa!” teriak seorang juru bicara pernikahan di atas sebuah panggung pendek yang berbalut kain biru terang.
Ting nong ting nong …!
Irama gamelan yang khas segera di mainkan setelah aksi panggung para penari berakhir.
Dari salah satu pintu samping ruangan pernikahan itu, muncul berjalan sepasang pria dan wanita dalam balutan busana pengantin warna kuning-kuning, berpadu warna putih dan berhias untaian bunga melati, secantik telur rebus dibelah.
Seiring harum tubuh yang menyeruak ke segala sisi ruangan, sambil bergandengan tangan, kedua pasangan yang sangat tampan dan cantik itu berjalan menuju panggung, di mana di sana telah tersedia dua kursi mewah yang diset berhadapan. Di atas panggung juga telah berdiri seorang lelaki tua berjubah putih tanpa warna kuning. Ia mengenakan mahkota emas tapi imitasi. Dia adalah penghulu.
Di belakang kedua calon pengantin berjalan mengiringi Ratu Wilasin, Lentera Pyar, Setya Gogol, dan Bong Bong Dut. Mereka tidak berhias, biasa saja. Maklum bukan mereka yang mau menikah, tetapi Bagang Kala dan Anik Remas.
Lalu di mana Permaisuri Dewi Ara?
Dewi Ara sudah berdiri tidak jauh dari panggung pernikahan. Ia didampingi oleh Bewe Sereng dan Tikam Ginting.
“Pengantin baru, siang malam bersatu. Pengantin baru, siang malam bersatu!” ucap Bong Bong Dut bernyanyi ala anak-anak.
Sementara kedua calon pengantin hanya tersenyum-senyum.
“Tampaaan!” teriak seseorang di antara para tamu pesta. Entah siapa. Namun, itu sering diucapkan sebagai bentuk pengakuan terhadap pengantin lelaki.
“Tampaaan!” sorak hampir semua hadirin.
“Cantiiik!” teriak orang yang sama.
“Cantiiik!” teriak para hadirin lagi.
Semakin tersiput-siput Bagang Kala dan Anik Remas mendapat sambutan seperti itu dari para hadirin yang sebenarnya tidak mereka kenal, tapi memberi rasa kekeluargaan yang kental.
Akhirnya kedua calon pengantin naik ke panggung.
“Pengantar jangan ikut naik ke panggung, nanti dikira calon pengantin juga,” cegah juru bicara pernikahan kepada para pengiring pasangan calon pengantin.
“Hihihi!” tawa cekikik Ratu Wilasin.
“Hihihi!” tawa Lentera Pyar sambil melirik Setya Gogol yang juga tersenyum.
__ADS_1
Keempat pengiring itupun akhirnya berdiri di samping panggung. Sementara Bagang Kala dan Anik Remas sudah duduk berhadapan di kursi mewah. Tidak adanya meja, membuat lutut mereka saling berciuman. Sebelum bibir yang berciuman, maka lutut mengawali pun tidak apa-apa.
Penghulu berdiri di sisi keduanya.
“Syahbandar tibaaa!”
Tiba-tiba terdengar teriakan dari penjaga di pintu depan.
Seketika para hadirin cukup riuh dan kompak menengok ke belakang. Mereka yang berkerumun di tengah ruangan segera bergerak membuka jalan.
Dengan dikawal oleh Jago Jantan dan Jampang Kawe, plus dua anggota Penendang Delapan, Syahbandar Santra Buna datang dengan ketampanan dan kegagahannya sebagai penguasa kota itu. Santra Buna berjalan dengan senyum yang mengembang manis, semanis gula aren.
“Hormat kepada Gusti Syahbandar!” teriak juru bicarana pernikahan.
“Hormat kami, Gusti Syahbandar!” seru orang banyak sambil serentak membungkuk dan telapak tangan saling bertemu di depan dahi.
“Bangunlah kalian semua. Semoga Pencipta Alam selalu memberi kalian kebahagiaan!” seru Santra Buna.
Para hadirin pun menghentikan perhormatannya.
Sambil berjalan, Santra Buna mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Sebentar kemudian, pandangannya terpaku pada sosok cantik Dewi Ara, bukan pada pengantin. Ia kemudian agak berbelok arah berjalan menuju ke posisi Dewi Ara berdiri.
“Hormat sembahku, Gusti Permaisuri!” ucap Santra Buna sambil berlutut menghormat ketika tiba di depan Dewi Ara.
“Hormat sembahku, Gusti Permaisuri!” ucap segenap hadirin sambil ikut turun berlutut menghormat di tempatnya masing-masing, setelah sejenak mereka terkejut karena baru tahu ada seorang permaisuri di ruangan tersebut.
Namun, pada saat itu, Mimi Mama tiba-tiba melambungkan sekuntum bunga mawar yang dibawanya ke udara. Di udara, kelopak-kelopak bunga mawar itu berlepasan dan melesat seperti benda keras menyerang ke arah Ratu Wilasin.
“Aaaa!” jerit kencang Ratu Wilasin saat sudut pandangnya jeli melihat pergerakan aneh di udara ke arahnya.
Jeritan kencang Ratu Wilasin mengejutkan semua orang, termasuk Syahbandar. Mereka sontak menengok ke arah Ratu Wilasin dalam kondisi masih berlutut.
Setya Gogol, Bong Bong Dut dan Lentera Pyar yang sedang bersama Ratu Wilasin juga terkejut. Namun, mereka tidak siap melakukan sesuatu.
“Hah!” pekik Mimi Mama saat melihat beberapa kelopak bunga merahnya terhenti dan diam melayang di udara.
“Bangunlah kalian semua!” perintah Dewi Ara.
Syahbandar dan semua orang yang berlutut segera bangun.
Mimi Mama yang serangannya tertahan oleh kekuatan lain, cepat menengok memandang kepada Dewi Ara.
Bdak!
“Aw!” jerit Mimi Mama saat tiba-tiba dia terjengkang, tapi tidak kencang. Belakang kepalanya membentur lantai. (RH)
__ADS_1