Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 27: Suara Kakek Setan


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


“Aaa …!” jerit Arda Handara dan Barada bersamaan dengan tubuh meluncur jatuh.


Awalnya keduanya melucur seperti orang main perosotan di dinding jurang yang penuh tumbuhan rambat, tapi kemudian mereka bergulingan dan berputar-putar posisi. Hal itu membuat pandangan mereka pun jadi kacau tidak menentu.


Tiba-tiba keduanya merasakan ada sesuatu yang melilit tubuh mereka tanpa bisa mereka ketahui secara jelas. Namun, jika melilit, kemungkinan besar itu adalah ular.


Bung! Bung!


Keduanya merasakan tubuh mereka menghantam sesuatu, tapi bersifat empuk dan membal. Sekilas Barada melihat ada benda warna hitam yang melingkari tubuhnya.


Jbur!


Pada akhirnya, tubuh Arda Handara dan Barada masuk ke dalam aliran air sungai yang ada di dasar jurang. Seketika keduanya gelagapan. Dan beruntungnya, aliran air itu tidak deras.


“Huaah!” pekik Barada sambil timbul dengan mulut menganga lebar menarik napas banyak-banyak.


Wanita tanggung itu langsung ingat Arda Handara yang disebutnya “Anak Monyet” dan “Anak Ganteng”.


“Anak Monyet, di mana kau?!” teriak Barada kencang. Suara panggilannya menggema beberapa kali.


“Tolep! Tolep!” teriak Arda Handara sambil menggapai-gapai di permukaan air, kepalanya timbul tenggelam seperti orang kelelep.


Barada terkejut. Buru-buru dia berenang ke posisi si bocah yang tidak jauh.


Setelah mencapainya, Barada segera menarik baju Arda Handara dan membawanya berenang ke pinggir sungai yang sedikit berkabut.


“Uhhuk uhhuk!” batuk Arda Handara yang mengeluarkan sedikit air dari dalam tenggorokannya.


“Aku belum mati, Bi? Uhhuk!” tanya Arda Handara.


“Memangnya kau mau mati?” tanya Barada yang kondisi tubuhnya kuyup, sama seperti Arda Handara.


“Ya nanti saja kalau sudah waktunya mati,” jawab Arda Handara yang hitam pada wajahnya memudar banyak, kian memperlihatkan wajah aslinya yang menjengkelkan banyak orang Istana.


“Rupanya panggilanku manjur juga. Gara-gara aku memanggilmu Anak Ganteng, kau jadi ganteng benaran,” kata Barada.


“Aku memang ganteng, Bi. Sebelum aku dilahirkan, aku sudah ganteng,” tandas Arda Handara ngotot sambil bangun dari berbaringnya.


“Hihihi!” tawa Barada. “Hei, Anak Monyet, apakah kau terluka?”


“Tidak,” jawab Arda Handara.


“Jangan bohong. Coba aku lihat!” hardik Barada lalu meraih kepala si bocah dan memeriksanya.


Barada khawatir jika anak itu menderita luka benturan atau lainnya, sebab mereka jatuh dari tempat yang tinggi, yang mustahil jika baik-baik saja.


“Iiih, apaan ini!” pekik Barada terkejut dan sontak terlompat menjauhi Arda Handara.


Ketika melihat bagian tengkuk si bocah, Barada melihat sekumpulan ulat bulu warna-warni.


“Wah, Bodong!” pekik Arda Handara terkejut pula, seolah menyadari sesuatu.


Arda Handara buru-buru meraba bagian tengkuknya dan meraup sekumpulan ulat bulu yang berkumpul.


“Haaa …! Bodong matiiii!” teriak Arda Handara kencang dan menangis, benar-benar menangis, karena matanya dengan cepat mengeluarkan air mata.


Terkejut Barada melihat bocah itu benar-benar menangis seperti ditinggal mati bapak emaknya.

__ADS_1


“Haaa …! Bodong mati mudaaa! Bodong mati mudaaa! Uyut-uyutku mati semuaaa!”


Suara tangis Arda Handara terdengar keras dan menggema sampai ke atas jurang.


“Hei hei hei! Kenapa kau menangis? Apa yang kau tangisi?” tanya Barada heran sambil mendekati si bocah.


“Bodong matiii. Uyut-uyutku mati semuaaaa. Haaa …!” jawab Arda Handara meratap sambil menunjukkan telapak tangannya yang di atasnya tergeletak diam enam ekor ulat bulu, salah satunya adalah Bodong, ulat bulu yang berwarna merah bergaris-garis biru gelap.


“Itu ulat bulu piaraanmu?” tanya Barada lembut.


“Iya. Uyut-uyutku matinya pasti karena tenggelam. Huuu …!” jawab Arda Handara dengan tangis yang mulai memelan.


“Itu beracun?” tanya Barada.


“Iya. Coba saja Bibi pegang,” kata Arda Handara sambil menyodorkan tangannya kepada Barada.


“Tidak, tidak. Aku geli. Nanti aku gatal-gatal!” tolak Barada sambil mundur setindak.


“Hiyya!” pekik Arda Handara sambil melemparkan bangkai ulat-ulat di tangannya kepada Barada.


“Anak Monyet!” maki Barada terkejut sambil melompat mundur seperti kodok takut, membuat bangkai-bangkai itu tercecer di tanah yang lembab.


“Hahahak!” tawa Arda Handara melihat reaksi Barada.


“Jadi kau ke Hutan Timur ini untuk mencari ulat bulu?” terka Barada.


“Betul, Bibi pintar. Aku ke sini untuk mencari uyut-uyut,” tandas Arda Handara.


“Hei, jangan menyebutku Bibi, aku masih semuda daun mangga,” kata Barada.


“Tapi Bibi juga jangan menyebutku Anak Monyet. Bagaimana?”


“Iya, iya, iya,” kata Barada setuju. “Panggil aku Kakak Barada. Aku adalah gadis ternama di Ibu Kota. Hihihi!”


“Pangeran? Pangeran Ulat Bulu?” tanya Barada, menyangka anak itu berkelakar.


“Ah, iya iya iya. Itu saja, Pangeran Ulat Bulu!” seru Arda Handara sangat setuju.


“Hah kau ini memang nakal. Baiklah, aku akan memanggilmu Bulu, jangan marah, kau sendiri yang minta!” tandas Barada.


“Hahaha!” Arda Handara justru tertawa.


“Bulu, kita harus keluar dari sini, di sini dingin sekali,” kata Barada sambil memeluk dirinya sendiri. Ia memandang ke atas dan melihat-lihat tebing, siapa tahu ada jalan yang bisa dilalui untuk naik.


“Tidak mau. Aku mau mencari uyut-uyut dulu!” tandas Arda Handara lalu berjalan pergi di pinggir sungai yang kalem.


“Hei, Pangeran Bulu!” panggil Barada sambil berjalan mengikuti. “Apakah kau tidak aneh?”


“Aku hanya aneh kepada Kakak. Kenapa mengejar-ngejarku? Ibuku bukan, pemomongku bukan, pelayanku bukan, tapi mengejar-ngejar,” jawab Arda Handara sambil matanya mencari-cari di dedaunan tumbuhan yang ditemuinya.


“Kau tidak aneh, kita jatuh dari setinggi itu, tapi tidak terluka?” tanya Barada.


“Karena aku sakti. Hahaha!” jawab Arda Handara asal.


“Tidak. Waktu kita jatuh, Kakak merasa ada ular hitam yang melilit kita. Aku juga melihatnya sekilas waktu kita jatuh di air,” kata Barada.


“Ah, Kakak pasti bermimpi waktu jatuh,” kata Arda Handara.


“Hahaha!”

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara tawa kakek-kakek yang menggema luas.


Arda Handara terkejut mendengar suara tawa itu dan menengok memandang Barada.


“Tertawa Kakak Barada kenapa seperti itu?” tanya Arda Handara heran.


“Itu bukan suara tawaku!” bisik Barada dengan bulu kuduk yang merinding.


“Lalu suara tawa siapa, Kak?” tanya Arda Handara berbisik juga.


“Pasti hantu hutan ini,” terka Barada.


“Bukaaan. Hantu hutan ini namanya Cumi Hutan. Kakak pernah lihat cumi?” kata Arda Handara masih bernada berbisik.


“Tidak.”


“Hahahak!” tawa Arda Handara. “Kakak sudah setua ini, tapi tidak tahu yang namanya cumi? Hahahak!”


“Hahahak …!” Suara tawa kakek-kakek yang menggema jelas kembali terdengar jelas, seolah meliputi di atas mereka.


Kedua anak manusia itu kembali terkejut dan tegang, sambil pandangannya mengitari area atas jurang.


Karena tidak menemukan siapa-siapa, Arda Handara lalu mencari batu di tanah dan memungutnya. Secara sembarang, Arda Handara melempar batu ke area atas.


“Kakek Setan! Keluarlah! Aku mau bertanya!” teriak Arda Handara setelah melempar.


“Hahahak! Bertanyalah!” sahut suara kakek-kakek itu, masih tetap tertawa.


“Aku mencari uyut-uyut. Apa kau tahu di mana rumahnya?!” teriak Arda Handara, sudah tidak memendam rasa takut karena sepertinya Kakek Setan orangnya bersahabat.


“Uyut-uyut? Apa itu uyut-uyut?” tanya suara tersebut, tanpa tawa lagi.


“Ulat bulu, Kek!” jawab Arda Handara.


“Ulat bulu? Hahahak …!” tawa terbahak suara tersebut.


Sementara Barada tidak berani berkata-kata. Ia masih tegang dan memendam rasa takut.


“Aaah, Kakek Setan payah,” ejek Arda Handara dengan ekspresi kecewa. “Aku datang ke sini hanya untuk mencari uyut-uyut!”


“Tentu saja aku punya uyut-uyut yang banyak, sebanyak dedaunan yang ada di hutan ini. Ayo ikuti aku!”


“Ikuti Kakek? Tapi Kakek Setan di mana?” tanya Arda Handara, masih mencari-cari di sisi atas.


“Lihatlah di pinggir sungai!” perintah suara kakek itu.


Arda Handara dan Barada segera melihat dan mencari di pinggir sungai.


“Apa itu?” tanya Barada terkejut, ketika dia melihat dua ekor makhluk hitam panjang seperti ular, tapi tidak berkepala.


Dua makhluk itu tepatnya seperti potongan belalai yang ujungnya lancip dan pangkalnya tebal. Kedua makhluk itu memberdirikan anggota tubuhnya yang lancip seperti ular yang berdiri dengan lehernya. Ujungnya itu bergerak-gerak, seolah-olah sedang memanggil Arda Handara dan Barada.


“Waaah, Cumi Hutaaan!” pekik Arda Handara girang lalu hendak berlari ke arah kedua makhluk itu.


“Eeeh!” pekik Barada sambil buru-buru mencekal tangan si bocah. “Jangan sembarangan, Bulu! Makhluk itu berbahaya!”


“Kakak Barada jangan sembarangan menuduh. Cumi Hutan itu lucu!” bantah Arda Handara.


Anak itu lalu melepaskan tangannya dari cekalan Barada dan berjalan pergi menghampiri dua makhluk yang pernah membunuh tiga orang pendekar. Mau tidak mau, Barada mengikuti Arda Handara.

__ADS_1


Ketika Arda Handara dan Barada mendekat, kedua Cumi Hutan itu bergerak berbalik dan merayap pelan. Sepertinya keduanya ingin menuntun Arda Handara dan Barada ke suatu tempat.


“Lihat, mereka tidak jahat!” kata Arda Handara kepada Barada. (RH)


__ADS_2