
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Suara hiruk pikuk kepanikan di atas kapal terdengar begitu memilukan.
“Bagang, kenapa kapalnya menjauh?” tanya Anik Remas terkejut ketika menyadari bahwa posisi kapal telah menjauhi perahu yang mereka naiki.
Bagang Kala cepat menengok. Ia pun terkejut melihat kapal besar yang tadi mereka tumpangi telah mengecil karena semakin jauh.
“Apa yang harus kita lakukan, Sayang?” tanya Bagang Kala sambil buru-buru mengenakan celananya. Gelap malam dan terbawa panik membuat kedua kakinya masuk ke satu lubang, seolah-olah tidak masuk akal.
“Aaak!” pekik Bagang Kala ketika ombak besar membuat perahu agak melompat, melempar tubuh pemuda yang baru semenit lalu membuka segel keperjakaannya itu.
“Bagang!” pekik Anik Remas terkejut sambil refleks tangannya menyambar tangan suaminya.
Jbur!
Tetap saja Bagang Kala jatuh ke air laut, tetapi tangannya tertangkap oleh tangan Anik Remas. Anik Remas sempat ikut tertarik sehingga separuh badannya yang bugil keluar dari perahu dengan perut tersangkut di tepian, sementara bokong indahnya menungging.
Namun sayang, pemandangan indah pada situasi buruk itu tidak tervisualisasi. Kondisinya gelap gulita.
Biarkanlah pasangan pengantin baru itu melanjutkan perjuangannya.
Sementara itu, kondisi kapal penumpang sudah miring karena air laut sudah banyak yang masuk ke perut kapal.
“Semua merapat ke sisi kiri!” teriak sang nahkoda mencoba memobilisasi para penumpang yang sudah ketakutan.
Para wanita dan anak-anak yang bukan pendekar sudah ramai meratap sebelum kematian. Sementara nahkoda dan para pendekar dalam kondisi tegang. Mereka bingung harus berbuat apa. Jika bertahan, tentunya akan ikut tenggelam bersama kapal. Jika mereka nekat melompat ke laut yang gelap dan berombak tinggi, itu sama saja bunuh diri.
“Di mana perahu penyelamat? Di mana perahu penyelamat?” tanya nahkoda yang bernama Dayung Karat.
“Perahu penyelamatnya hilang, Nahkoda!” teriak awak kapal.
“Siapa yang tega mencuri perahu di saat kita mau mati?!” teriak Dayung Karat gusar, tapi tidak berbuat apa-apa.
“Tenang semua!” teriak Bewe Sereng yang sedikit mengandung tenaga dalam.
Seketika suara tangis dan teriakan kepanikan berhenti serentak. Seketika suasana berubah hening, kecuali suara angin dan ombak laut.
“Jangan panik dan jangan melompat ke laut. Cepat cari benda yang bisa membuat kalian terapung jika kapal ini tenggelam!” seru Bewe Sereng lagi.
“Iya, benar! Cari benda yang bisa mengapung! Cepat, cepat, cepat!” teriak Nahkoda pula.
“Oeee! Oeee!”
Ketika para orang dewasa buru-buru mencari benda-benda yang bisa mengapung di air, para bayi dan anak kecil melanjutkan tangisnya.
__ADS_1
Secara perlahan, kapal penumpang itu semakin miring.
Dewi Ara sudah keluar dan berjalan tenang dengan dikawal oleh Tikam Ginting. Ia pergi naik ke atap anjungan, di mana di sana sudah ada Mimi Mama dan kakeknya yang bernama Serak Gelegar, juga bersama beberapa penumpang. Mereka menduga bahwa anjungan itulah yang terakhir akan tenggelam.
“Bagaimana, Dewi?” tanya Bewe Sereng dari dek depan anjungan.
“Tidak ada untungnya bajak laut hanya menenggelamkan kapal ini tanpa mengambil harta benda. Kita tunggu saja. Kalian urus mereka, biar aku yang mengurus semua penumpang yang tidak berdaya,” kata Dewi Ara datar.
“Baik, Dewi,” ucap Bewe Sereng, di mana Setya Gogol, Lentera Pyar dan Bong Bong Dut mengangguk bersamaan tanda mengerti.
“Coba kalian cari di mana pengantin baru berada!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Dewi,” ucap mereka patuh.
“Kakang pengantin baru?” tanya Mimi Mama tiba-tiba. Sebelum ada yang menjawab, dia lebih dulu memberi kabar, “Tadi dia muntah-muntah mabuk laut. Tidak berapa lama, mereka membangunkan Kakang gendut itu, lalu mereka turun bersama perahu. Mungkin mau pulang ke Bandakawen.”
“Jika seperti itu, biarkan saja. Kita hadapi saja bajak laut ini,” kata Dewi Ara datar.
Dan memang, kapal Bajak Laut Malam semakin mendekat. Terlihat para anggota bajak laut yang ternyata berjumlah dua puluh orang, sudah berdiri berkumpul di pinggiran dengan tangan menggenggam senjata masing-masing.
Set set set!
Bewe Sereng lalu memanah tiga kali tanpa busur ke sembarang arah. Sementara yang lain bersiap menyambut kedatangan Bajak Laut Malam.
Tangan Kanan, pemimpin Bajak Laut Malam, tidak mau harta berharga dan para wanita muda lagi cantik ikut tenggelam bersama kapal begitu saja. Karena itulah, mereka akan menyerang sebelum kapal penumpang itu benar-benar tenggelam.
Para penumpang semakin ketakutan melihat kegarangan anggota bajak laut yang sebentar lagi akan merapat dengan kapal mereka.
“Barang siapa yang tidak ingin dibunuh, serahkan harta benda kalian dan berserah dirilah, wahai wanita muda yang cantik!” teriak Perkosa Ombak.
“Tenaaang! Tenang semua, wahai saudara-saudaraku yang aku sayangi dan cintai! Kakang Bong Bong Dut akan melindungi kalian dari para bajak laut itu!” seru Bong Bong Dut sambil mengangkat tinggi kedua tangan berlemaknya, berusaha memberi ketenangan kepada penumpang kapal yang jelas-jelas terlihat ketakutan, meski sebagian dari mereka telah memegang drum kayu, balok kayu besar, papan lebar, hingga penutup gentong.
Ctas!
Bong Bong Dut melecutkan cambuk kuningnya sampai-sampai ada percikan api yang timbul. Hal itu dia lakukan untuk meyakinkan para penumpang bahwa dirinya adalah pendekar sakti, meski sebenarnya tidak sakti-sakti amat.
Dewi Ara dan yang lainnya membiarkan Bong Bong Dut berkoar-koar.
“Gusti Juragan, lihat wanita di atas anjungan itu, cuantik sekali, Gusti Juragan!” kata Perkosa Ombak sumringah kepada Tangan Kanan. Ia menunjuk Dewi Ara yang terlihat remang-remang kecantikannya.
“Hei, kalian semua!” seru Tangan Kanan kepada anak buahnya yang sudah bersiap-siap.
Para anak buah itu serentak menengok ke atas anjungan di mana Tangan Kanan dan Perkosa Ombak berdiri.
“Ketika kalian menyeberang, langsung tangkap wanita cantik di atas anjungan itu. Wanita itu harus ditangkap hidup-hidup. Kulitnya tidak boleh tergores sedikit pun!” perintah Tangan Kanan.
__ADS_1
“Siap, Gusti Juragaaan!” sahut para anak buah itu kompak tapi agak lebay.
Set set set!
Ceb ceb ceb!
“Aak! Ak! Ak!”
Setelah para Bajak Laut kembali menghadapkan wajahnya ke arah kapal yang sudah mulai sangat miring, tiga anggota langsung memanah. Tiga anak panah melesat dan menusuk tubuh dua orang awak kapal penumpang dan seorang penumpang lelaki.
“Kenapa kalian tidak melindungi mereka?” tanya Dewi Ara agak membentak orang-orangnya.
“Maafkan kami, Gusti. Mereka tidak bilang-bilang jika ingin memanah,” ucap Setya Gogol merasa bersalah.
Akhirnya, dua bibir kapal saling berdekatan hendak berciuman. Namun, sebelum kedua bibir kapal saling beradu, para anggota bajak laut sudah berteriak sambil ramai-ramai berlompatan.
“Seraaang!” teriak mereka ramai-ramai sambil berlompatan naik ke kapal penumpang.
Ada yang melompat biasa, ada yang menunjukkan ilmu peringan tubuhnya dengan berlari di udara. Ada pula yang melemparkan tali jangkar jauh ke atas tiang, lalu mereka melompat berayun dengang berpegangan pada tambang, persis bajak laut sejati.
“Langsung tangkap wanita cantik ituuu!” teriak Perkosa Ombak mengingatkan rekan-rekannya.
Set set set!
“Akk! Akh! Akk!” jerit tiga anggota bajak laut.
Tiba-tiba ada dari dalam kegelapan, muncul melesat tiga anak panah yang menancap dalam pada tubuh tiga orang bajak laut yang sedang melompat. Serangan dari tiga anak panah milik Bewe Sereng itu membuat ketiganya langsung jatuh terjun ke dalam laut. Sudah bisa dipastikan nasib nyawanya.
“Hah! Siapa yang melakukannya?” kejut Tangan Kanan sambil melihat ke sekeliling, tetapi dia tidak menemukan pihak lain selain kegelapan. Ketika Bewe Sereng melepas tiga anak panahnya, Tangan Kanan memang tidak melihat.
“Pertahankan kapal kita meski harus tenggelam!” teriak Dayung Karat kepada seluruh anak buahnya yang juga sudah berbekal senjata.
“Siaaap!” teriak para awak kapal yang sudah siap mati demi membela kapal tercinta.
Dayung Karat dan semua anak buahnya serentak maju menyambut datangnya para bajak laut yang datang berlompatan menyerbu.
Tang ting ting! Tang ting ting!
Seperti itulah kira-kira bunyi peraduan kapak, pedang, golok, tombak besi, hingga batangan besi dan senjata lainnya.
Set set suk! Set set suk!
Kira-kira seperti itulah bunyinya ketika ada sayatan, tebasan dan tusukan yang terjadi.
Satu demi satu anak buah Dayung Karat bertumbangan, apakah itu terbunuh atau masih sebatas menderita luka.
__ADS_1
Sebelum hal kian buruk menimpa Dayung Karat dan anak buahnya, Bewe Sereng, Tikam Ginting, Setya Gogol, Lentera Pyar, dan Bong Bong Dut segera berkelebatan menyambut serbuan belasan anggota Bajak Laut Malam. (RH)