Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 19: Mengeroyok Adipati Rugi


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


“Opooor!” teriak seorang prajurit menghadap kepada Adipati Rugi Segila, membuat sang adipati yang sedang memandikan burungnya mengerutkan kening.


“Opor?” tanya Adipati Rugi Segila tidak paham.


“Maaf, Gusti,” ucap prajurit itu sambil menepak dahinya saat sadar akan kesalahannya. Lalu teriaknya meralat, “Lapooor!”


“Prajurit tomat!” rutuk Adipati Rugi Segila pelan karena menahan kesal.


“Siap, hamba memang tomat, Gusti!” teriak si Prajurit Tomat dengan wajah tegang tidak sewajarnya.


“Ada apa?” tanya Adipati.


“Ribuan pasukan Ibu Kota sudah menyerang di pos pertama, Gusti!”


“Appua!” pekik Adipati Rugi Segila begitu terkejut. “Kenapa … kenapa tidak ada yang melapor ketika pasukan itu masih di luar kadipaten?”


Seketika itu juga sang adipati berubah panik tingkat orang gila, membuatnya stress karena seharusnya tidak mungkin pasukan dari Ibu Kota tahu-tahu sudah menyerang di pos pertama. Jangan lupa, untuk sampai ke kediaman Adipati Rugi Segila perlu melewati lima pos pemeriksaan.


“Siapkan kudaaa!” teriak Adipati Rugi Segila kepada prajuritnya sambil buru-buru memasukkan burungnya ke dalam sangkar peraknya. Maklum orang kaya, sangkar burung bukan lagi dari kain, tapi dari perak.


Setelah itu, dia sendiri cepat berlari masuk ke dalam rumah mewahnya.


“Bagaimana mungkin aku bisa ketahuan? Apakah ada yang berkhianat? Kenapa juga bisa pasukan kerajaan tahu-tahu sudah sampai di pos pertama?” tanya Adipati Rugi Segila kepada dirinya sendiri seperti orang gila, sambil berjalan cepat di dalam rumah luasnya.


Ketenangan sikapnya selama ini sebagai dalang pemberontak mendadak sirna entah kabur ke mana.


“Cepat kosongkan rumah ini, kita diserang!” perinta Adipati kepada beberapa prajurit utama yang menjadi pengawal pribadinya.


“Apa?!” pekik para prajurit itu terkejut.


“Akk! Akk! Aak …!”


Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang bersusul-susulan di luar rumah. Keributan itu sontak membuat Adipati Rugi Segila dan para prajuritnya yang ada di dalam rumah jadi terdiam menyimak, seperti ayam jago sedang tersedak karet gelang.


“Ampun, ampuuun! Aaak!”


Kembali terdengar jerit ketakutan seorang lelaki, lalu kejab berikutnya menjerit histeris, seolah menikmati sensasi menuju kematian.


“Hahaha!”


“Hihihi!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak dari jenis suara yang sebelumnya sang adipati tidak pernah dengar. Ditambah suara tawa wanita. Di kediaman besar itu memang ada sejumlah pelayan wanita, tetapi mereka tidak mungkin berani tertawa sebebas itu.


Karena penasaran, Adipati Rugi Segila segera berlari ke jendela yang tanpa kaca dan daun. Ia melongokkan wajahnya untuk melihat dengan leluasa ke halaman rumah. Demikian pula dengan keempat prajuritnya.


Terkejutlah Adipati dan para prajuritnya. Mereka melihat pemandangan di mana belasan prajurit sudah bergelimpangan di tanah halaman, padahal baru saja Adipati masuk. Melihat dari ekspresinya yang tidak bahagia atau serius, menunjukkan bahwa mereka benar-benar telah mati. Beberapa di antaranya harus bermandi darah. Sementara senjata pedang dan tombak mereka berserakan.


Bukan hanya itu yang membuat kaget, tetapi keberadaan sembilan lelaki dan wanita berperawakan pendekar yang tertawa bersama prajurit yang tadi melapor.


Kesembilan pendekar yang tampaknya baru saja membunuhi para prajurit rumah itu, di antaranya: Nyi Mut, Pendekar Kerikil Api, Bayu Pratama, Sayap Perak Semai Lena, Legam Pora, Gendang Tepuk Jongkok Sumi, Gebuk Bertabuh, Gemara, dan Hantam Buta. Sementara pemuda yang berpakaian prajurit kadipaten yang tadi melapor, tidak lain adalah Tangpa Sanding yang menyamar.

__ADS_1


Kesepuluh Pendekar Pasukan Pengawal Bunga itu tertawa-tawa, seolah-olah mayat-mayat yang bergelimpangan di depan mereka adalah lakon teater yang sedang mendemo pemerintah yang hilang hati nuraninya. Padahal bukan. Sumpah. Itu bukan teaterikal, tapi benar-benar pertunjukan kematian.


“Lihat, Adipati Rugi mengintip aku!” seru Nyi Mut sambil menunjuk ke arah jendela tempat wajah tampan Adipati Rugi Segila nongol.


“Kau pikir hanya kau sendiri yang sedang berdiri di sini,” timpal Gemara ketus, lalu melakukan putaran tubuh dengan satu kaki, sementar kaki yang lain terangkat mengibas, membuka pemandangan lembah yang indah karena ia memakai rok yang belahan kanan kirinya setinggi paha atas.


“Waaaw!” desah para lelaki mata tercemar ketika melihat pemandangan yang menggoda itu.


Tidak perlu heran kalau Gemara memiliki kelakuan seperti itu, karena ia memiliki motto hidup “Dilihat tidak bayar, disentuh masuk kubur”.


Dak! Set!


Kaki kanan Gemara yang terangkat mengibas berputar setinggi dada, menendang sebatang tombak yang tergeletak di tanah. Ajaib. Kaki menendang di atas, tetapi benda di tanah yang terkena.


Tidak perlu heran. Itu bukan karomah atau sihir dari keseksian Gemara, tetapi karena dia memiliki ilmu Sentuh Sini Desah Sana. Jika kepala lawan yang terkena tendangan, bisa jadi yang terasa terhantam justru di bawah perut. Seperti itulah kira-kira penjelasannya.


Tombak itu melesat cepat ke jendela. Adipati buru-buru menarik kepalanya ke dalam.


Set!


“Hekrr!” pekik tertahan seorang prajurit yang juga dengan sengaja memasang kepalanya di jendela. Jika junjungannya bisa menghindar lalu berlari kabur, maka si prajurit harus meregang nyawa dengan kondisi yang tidak menggembirakan karena lehernya tertusuk tombak.


“Nyi Mut, apakah kau berani berbuat seperti Gemara?” tanya Bayu Pratama, pemuda tampan berambut keriting gondrong dikuncir.


“Aku tidak akan melakukannya, karena aku bukan wanita murahan!” jawab Nyi Mut dengan ketus.


“Eh, kau menyebutku apa, Nyi Mut?” tanya Gemara mendelik marah kepada wanita pesolek tebal bersenjata dua pedang pendek kembar.


“Wanita murahan!” tandas Nyi Mut tanpa gentar.


Namun, kali ini tidak ada lelaki yang menonton pemandangan itu, karena pendekar yang lain sudah berkelebatan mengejar Adipati Rugi Segila.


Broakr!


Adipati Rugi Segila yang sedang berlari di lorong rumahnya, dikejutkan oleh dinding samping yang hancur dijebol. Bersamaan dengan itu, satu tubuh besar melesat langsung menabraknya dan mendorongnya ke dinding rumah yang lain dengan sangat keras. Mirip aksi karakter super hero berkulit hijau bertubuh raksasa.


“Aaak!”


Orang yang menyerang Adipati Rugi Segila dari luar tembok tidak lain adalah Hantam Buta, pendekar yang selalu bermain kasar dan main hantam tanpa pertimbangan.


Buk!


“Hukh!” keluh Hantam Buta dengan tubuh terdorong mundur, setelah Adipati Rugi Segila menendangnya dengan sepakan bertenaga dalam tinggi.


Dalam kondisi kening sudah mengucurkan darah karena benturan di tembok, Adipati Rugi Segila cepat mencabut keris hitamnya yang berukir timbul dari emas.


Sreeek! Tset!


“Aak!”


Namun, belum juga kerisnya sampai kepada Hantam Buta, seutas rantai berbandul mata kail besar melesat dari sisi lain. Ternyata Bayu Pratama yang punya senjata itu telah masuk pula ke dalam rumah.


Ujung rantai itu melilit pergelangan tangan Adipati Rugi Segila dan menahan tusukan kerisnya, sehingga batal sampai ke kulit perut Hantam Buta. Apesnya sang adipati, kail besar pada ujung rantai mengait pada pergelangan tangannya. Ketika ditarik, justru tambah menikam nadi.


Adipati Rugi Segila menjerit sakit dan darah mengucur deras dari pergelangan tangan itu.

__ADS_1


Bdak!


Kondisi itu cepat dimanfaatkan oleh Hantam Buta dengan meninju dada bidang sang adipati, membuat penguasa itu tersentak di tempat.


Sret! Bdak!


“Akk!”


Bayu Pratama menarik hentak rantainya, membua tubuh Adipati Rugi Segila terpelintir dengan daging pergelangan tangan tercongkel. Sang adipati terbanting.


Belum habis. Hantam Buta yang bertubuh besar berotot besar, meraih tubuh pemimpin pemberontak itu, lalu ia lempar lewat lubang dinding yang tadi dia jebol.


Adipati jatuh terhempas di tanah samping rumah. Namun, ia masih bisa cepat bangun dan langsung berbekal kesaktian di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sulit berfungsi setelah luka besar di pergelangan tangan.


Di tangan kiri Adipati Rugi Segila telah bercokol sinar merah berpendar-pendar, yang kemudian dia lesatkan menyerang Hantam Buta.


Suss! Sreets! Bluar!


Namun, belum lagi sinar merah itu setengah jalan, tiba-tiba ada sinar perak berwujud bentangan sayap burung yang melesat menebas sinar merah. Ledakan keras terjadi yang mendorong Adipati beberapa tindak.


Sinar perak tadi berasal dari kesaktian Semai Lena, gadis tomboi berdada tipis yang berjuluk Sayap Perak.


“Giliranku!” teriak seorang pemuda berambut gondrong separuh, berjubah hijau. Dia tidak ganteng, tapi manis dengan lesung pipinya. Dia adalah Pendekar Kerikil Api yang menyembunyikan nama aslinya untuk orang lain.


Set set!


Pendekar Kerikil Api melesatkan dua butir kerikil kecil tapi terlihat jelas dua senjatanya itu membara merah seperti bara api.


Tus tus!


“Ak ak!” jerit Adipati Rugi Segila dua ketukan.


Posisi Adipati Rugi Segila yang saat itu sedang terdorong mundur, membuatnya tidak bisa menghindari serangan dua kerikil panas. Jangankan untuk menghindari, melihatnya saja tidak sempat.


Dua lubang hangus, tapi tetap mengalirkan darah, tercipta di dada kanan dan lambung kiri Adipati Rugi Segila. Ia tumbang.


“Beri aku bagiaaan!” teriak Gebuk Bertabuh yang telah meluncur di udara dengan dua toya yang ujungnya ada bola besinya.


Adipati Rugi Segila yang sudah tidak berdaya, hanya bisa mendelik dan membayangkan kematiannya lebih awal.


Bakr!


“Hakr!”


Tanpa hambatan, Gebuk Bertabuh menggebukkan dua bola besi di toyanya ke dada Adipati Rugi Segila. Tulang dada itu seketika remuk redam, bersamaan dengan semburan darah yang banyak dari mulut.


Setelah itu, tidak ada keselamatan bagi sang duda, sang adipati dan sang pengkhianat.


Kematian Adipati Rugi Segila disaksikan langsung oleh Permaisuri Kerling Sukma dan Mahapatih Duri Manggala yang ternyata telah tiba di rumah mewah itu. Rumah itu telah dikepung oleh ribuan pasukan Kerajaan Baturaharja.


Dengan kematian sang adipati, berarti berakhirlah upaya pemberontakan di dalam wilayah Kerajaan Baturaharja.


Namun, ada yang belum berakhir, yaitu pertarungan antra Nyi Mut dengan Gemara. Dan pertarungan itu kini menjadi tontonan yang sangat diminati oleh kaum batangan, setelah kematian Adipati.


Namun, keasikan kaum batangan itu harus terputus oleh intervensi Permaisuri Kerling Sukma. (RH)

__ADS_1


__ADS_2