
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Arda Handara mencabut ketapel Ki Ageng Naga dan memasang peluru seekor ulat bulu. Sang uyut-uyut hanya bisa pasrah, terlihat dari ekspresi wajahnya yang begitu mengenaskan.
Target bidikan Arda Handara adalah Brojol, bajing miliknya yang kabur memasuki kampung yang bernama Perguruan Cambuk Neraka. Setelah berlari cukup jauh, Brojol berhenti sejenak karena di depan sana ada keramaian orang-orang berseragam kuning yang sedang bekerja, sebagian bahkan tidak berbaju, tapi masih bercelana.
Brojol berhenti bukan untuk mengopi sejenak, tetapi mencari jalan terbaik untuk hidupnya. Namun ….
Set! Puk!
Kepala Brojol lebih dulu terkena hantaman tubuh seekor ulat bulu, membuatnya langsung berdiri kejang dengan satu kaki dan ekornya tegang tegak berdiri seperti mengibarkan bendera putih. Pandangan Brojol mendadak gelap dan ada animasi bintang kecil berputar-putar mengelilingi kepalanya. Setelah mengejang, Brojol pun oleng lalu tumbang tidak sadarkan diri.
“Hahahak!” tawa Arda Handara sambil berlari ke tempat Brojol tumbang.
Setibanya di TKP, Arda Handara meraih tubuh Brojol dan dia selipkan ke balik baju, sehingga tinggal ekornya yang terlihat terjuntai lemas. Uniknya, si ulat bulu tidak mati. Dia dipisahkan dan disimpan kembali di area belakang tubuh Arda Handara.
Saat melihat suasana tempat itu, Arda Handara berdiri diam memerhatikan.
“Ramai sekali sore-sore seperti ini. Sepertinya ada yang mau menikah,” ucap Arda Handara seorang diri seperti bocah bintang sinetron.
Ada terpasang banyak umbul-umbul warna kuning. Beberapa ada bendera kuning bergambar dua utas cambuk yang saling melilit.
Orang-orang sekitar bekerja sedang membuat dan membangun sesuatu. Ada pula yang memandori sambil mengarahkan bawahannya. Ada pula sejumlah wanita berseragam kuning bekerja menata tanaman hias agar tercipta lingkungan yang canti secantik riasan wajah mereka.
Di salah satu sudut, terlihat asap dapur membumbung cukup tebal, menunjukkan ada aktifitas memasak besar-besaran. Tentunya itu bisa dihubungkan dengan orang-orang yang sibuk bekerja. Mereka butuh minum dan makan sebagai kalori untuk tubuh.
“Itu anaknya!” teriak seorang lelaki tiba-tiba.
Arda Handara yang terkejut cepat menengok ke belakang. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat dua orang penjaga berseragam kuning sedang berlari ke arahnya.
Tanpa ba bi bu lagi, Arda Handara cepat berlari menyelamatkan diri. Jelas ia tidak mau ditangkap lalu digantung terbalik, kemudian digelitiki.
Arda Handara berlari ke tempat orang-orang yang sibuk bekerja. Ia berlari ke arah gapura bambu yang sedang dihias dengan kerajinan janur dan daun teratai.
“Tangkap anak kecil itu!” teriak salah satu pemuda pengejar kepada orang-orang yang sedang bergotong royong, yang notabene adalah rekan-rekan seperguruan.
Teriakan itu mengejutkan orang-orang yang sedang bekerja di beberapa bagian. Serentak mereka menengok ke sumber teriakan, bukan kepada Arda Handara yang berlari sudah mencapai tempat mereka.
Brak! Bdak!
“Aaak!”
__ADS_1
Arda Handara yang berlari seperti di jalan tol, tahu-tahu sudah lewat di antara para lelaki dewasa yang sedang bergotong-royong membuat gapura kecil. Dengan jahilnya, tangan kanannya menyambar tarik tangga bambu yang di atasnya sedang berdiri seorang pemuda memasang rangkaian janur.
“Hahaha …!” tawa Arda Handara yang menunjukkan bahwa ia sengaja menarik tangga tersebut.
Pemuda yang di atas jatuh bersama tangga. Suara jerit kesakitan terdengar keras, tapi bukan yang jatuh yang menjerit, melainkan lelaki yang kepalanya tertimpa tangga.
“Anak Setan!” maki salah seorang dari mereka.
“Tangkap anak itu!” teriak yang lain berkomando.
Sebanyak lima lelaki cepat berlari ikut mengejar Arda Handara, dua sisanya melanjutkan pekerjaannya pada gapura.
Warga perguruan yang lain hanya diam memandangi terjadinya kejar-kejaran, seperti permainan “Perampok dan Polisi”. Mereka tidak tahu jelas apa duduk permasalahannya, sehingga mereka hanya bertanya-tanya, “Ada apa? Ada apa?”
“Entahlah,” jawab rekannya yang sama-sama buta soal.
Namun, ada satu orang, yang tidak mengerti apa masalahnya, tapi turun tangan ikut ingin menangkap Arda Handara.
Lelaki bertubuh gemuk itu bernama Bong Bong Dut. Sebenarnya namanya sebatas Bong Bong, tapi karena genre musik kesukaannya adalah dang dut, jadi namanya ditambah Dut. Namun, kata dukun beranak yang pernah membantunya memperbesar miliknya, nama Dut ditambahkan karena dia berperut gendut. Terserah Anda mau percaya alasan yang mana.
“Hayyo, mau lari ke mana?!” teriak Bong Bong Dut sambil melompat menghadang ke depan jalur lari Arda Handara. Ia mendelikkan matanya dengan lengan berlemak direntangkan, seperti mau menangkap ayam betina.
“Awas, Kakang!” teriak Arda Handara setelah sejenak melihat ke atas sambil berlari ke arah Bong Bong Dut.
Puk!
“Hekhhr!” pekik tertahan Bong Bong Dut tiba-tiba. Seolah-olah hari itu tiba-tiba kiamat sugra.
Arda Handara menyeruduk area bawah perut gendut Bong Bong Dut dengan sekencang-kencangnya. Atas izin Tuhan, tinggi kepala Arda Handara sangat pas dengan tinggi area bawah perut pemuda gemuk itu.
“Hahahak …!”
Bukan hanya Arda Handara yang tertawa terpingkal-pingkal, tetapi juga rekan-rekan seperguruannya yang menyaksikan adegan kejar-kejaran tanpa trofi itu, termasuk orang-orang yang sedang mengejar.
Bong Bong Dut bukangnya langsung menangkap Arda Handara, tetapi justru langsung menangkap burungnya sendiri yang mungkin tewas di dalam sangkarnya.
Bluk!
Bong Bong Dut tumbang jatuh dengan posisi tangan menyatu di bawah perutnya. Sepasang matanya yang menangis hanya bisa memandang kosong. Seolah-olah nyawanya benar-benar raib saat itu juga.
“Seandainya Bong Bong kecilku tidak diperbesar, pasti tidak sakit jika diserudukrrr!” ucap Bong Bong Dut lirih kepada dirinya sendiri, menyesali keputusannya di masa kelam dulu, di saat dia tidak memiliki kepercayaan diri jika berhadapan dengan seorang wanita.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Arda Handara sambil terus berlari tanpa jelas mau ke mana.
Namun, sepertinya Arda Handara berlari menuju ke area dapur umum perguruan. Ia kemudian hilang di balik bangunan rumah. Ketujuh orang yang mengejarnya cepat menyusul ke arah dapur umum.
“Di mana anak sialan itu?”
“Dia sembunyi.”
“Kurang asin!”
“Ikan asin busuk!”
“Ayo cari terus, dia pasti sembunyi di dekat sini!”
Itulah sejumlah kata dari para pengejar yang berhenti sejenak di perempatan gang. Mereka kehilangan Arda Handara.
Ketujuh orang itupun menyebar. Ada yang mencari ke balik-balik rumah, ada yang mencari di balik tumpukan kayu bakar, di dalam sumur belakang, di sekitar kandang ternak yang tidak jauh lokasinya, ke kolong beberapa rumah panggung berlantai setinggi lutut, dan hingga ke dalam dapur umum.
Di dapur umum yang cukup luas, ada banyak wanita sedang sibuk memasak, memotong olahan, dan menyiapkan sajian. Hawanya cukup panas.
Kemunculan dua lelaki di pintu dapur menarik perhatian para wanita yang notabene kaum emak-emak.
“Ada apa, Galian?” tanya seorang ibu yang sedang mengaduk masakan di atas tungku yang paling dekat dengan pintu.
“Kami mencari anak kecil lelaki, Mak,” jawab pemuda yang bernama Galian, sambil tersenyum santun, maklum, selain emak-emak, di tempat itu juga ada para gadis murid perguruan.
“Buat apa mencari anak kecil? Biarkan saja bermain. Anak-anak itu adalah masa bermain,” kata si Emak justru menasihati.
“Iya, Mak. Tapi yang ini anaknya ….”
“Anaknya siapa? Nanti Emak yang beri tahu ke ibunya,” kata Emak memangkas perkataan Galian.
“Eh, Galian! Bukankah tempat tugasmu di batas luar perguruan? Kenapa kau justru ada di sini?” hardik seorang wanita bertubuh gemuk dan bertampang bengis. Bahkan jika dia tersenyum pun lebih terlihat seperti menyeringai. Ia bernama Guna Wetong, Kepala Dapur Perguruan Cambuk Neraka.
Dihardik seperti itu, ciutlah Galian dan rekannya. Guna Wetong bukan sekedar kepala koki biasa, tetapi ia juga seorang pelatih di dalam perguruan itu.
“I-i-iya, Mak Guna,” ucap Galian tergagap. Ia lalu mencolek rekannya untuk memilih pergi daripada berurusan dengan Guna Wetong.
Kedua pemuda itu lalu berbalik pergi. Mereka pun kemudian meneriaki rekan-rekannya yang lain, yang turut mencari Arda Handara, agar berhenti.
“Terima kasih, Bibi!” ucap Arda Handara yang mendadak sudah berdiri di samping Guna Wetong, membuat wanita separuh baya itu terkejut.
__ADS_1
Guna Wetong menengok dan tajam memandangi Arda Handara yang berdiri cengengesan. (RH)