
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Dengan dikawal oleh empat pelayan wanita nan cantik dan enam orang centeng lelaki berbadan besar bertampang sangar, termasuk Sangar Weteng, Domba Hidung Merah mendatangi rumah makan.
Ketika dia berjalan, semua orang yang tidak memiliki ikatan cinta kepada si kakek kekar itu, menjura hormat, layaknya yang lewat adalah orang besar, tapi dia memang berbadan besar.
Namun, kesepuluh pengawal itu hanya mengantar sampai depan tangga dan membiarkan Domba Hidung Merah naik sendiri, mungkin pikir mereka bahwa junjungan mereka itu sudah besar.
Domba Hidung Merah berjalan gagah menuju ke depan meja Dewi Ara. Ia turun berlutut di depan meja Dewi Ara seraya menghormat layaknya seorang rakyat kelas bawah.
“Sembah hormat hamba, Gusti Permaisuri Geger Jagad,” ucap Domba Hidung Merah.
Dewi Ara mengangguk.
“Sembah hormat hamba, Gusti Ratu,” ucap Domba Hidung Merah sambil menghormat kepada Ratu Wilasin dengan sedikit mengubah arah tubuhnya.
Ia mengenal Ratu Wilasin, tetapi sang ratu yang tidak mengenalnya. Maklum, sang ratu hanya mengenal para pejabat daerah setingkat adipati, karena para adipati sering datang ke Istana. Untuk pejabat yang tingkatannya lebih rendah, dia tidak kenal satu pun, apalagi hanya sekelas pemimpin desa.
“Iya iya iya. Hihihi!” ucap Ratu Wilasin lalu tertawa rendah.
Domba Hidung Merah kembali menghadap kepada Dewi Ara, yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding Wilasin yang adalah ratu di Kerajaan Baturaharja itu.
“Domba Hidung Merah, apakah kau bersedia mendapat tugas dariku? Tugas dariku juga adalah tugas dari Gusti Ratu,” ujar Dewi Ara memberi tawaran lebih dulu.
“Sebenarnya aku sungkan meninggalkan kesenanganku menikmati adu domba setiap hari. Namun, karena Gusti Permaisuri Sanggana Kecil dan Gusti Ratu yang memberi perintah, pastinya aku akan kualat sebagai pendekar tua jika menolak,” jawab Domba Hidung Merah.
“Kau akan aku tugaskan membawa pesan kepada Gusti Prabu Dira Pratakarsa Diwana,” kata Dewi Ara.
“Oh tidak, Gusti,” tolak Domba Hidung Merah cepat. “Dulu aku pernah memberontak terhadap Baturaharja. Gusti Prabu dan para permaisurinya yang menumpas kelompokku. Jika aku datang ke Istana Sanggana Kecil, itu sama saja aku tidak punya malu.”
“Ada pemberontak di Istana Baturaharja. Karena itulah Gusti Ratu Wilasin bisa pergi jauh meninggalkan Istana tanpa pengawalan. Jasamu akan menghapus tuntas jejak dosa masa lalumu itu,” tandas Dewi Ara.
“Siapa yang berani memberontak?” tanya Domba Hidung Merah jadi lebih serius.
“Mungkin hanya Gusti Ratu yang tahu siapa pemberontaknya, tanpa diketahui oleh Prabu Banggarin dan para pejabat lainnya. Jadi, kau tinggal menyebut nama Komandan Kumbang Draga dan Komandan Bengal Banok kepada Gusti Prabu Dira,” kata Dewi Ara.
__ADS_1
“Baiklah, Gusti Permaisuri. Aku menerima perintah,” jawab Domba Hidung Merah.
“Sebagai kata sandi bahwa kau diutus olehku, sebut saja kata uyut-uyut,” kata Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Domba Hidung Merah.
“Silakan kau selesaikan dulu adu dombamu. Setelah itu, jangan tunda waktu. Ingat, ini tugas rahasia,” tandas Dewi Ara.
“Aku sangat mengerti, Gusti,” jawab si kakek gagah lagi.
“Kau boleh pergi!” perintah Dewi Ara.
Tanpa berkata lagi, Domba Hidung Merah menjura hormat kepada Dewi Ara dan Ratu Wilasin. Setelah itu dia harus beringsut mundur beberapa kaki, satu gerakan yang sebenarnya tidak disukainya.
“Kita lanjutkan perjalanan!” perintah Dewi Ara kepada rombongannya yang kini semakin ramai.
Mereka pun bangkit berdiri setelah Dewi Ara bangkit lebih dulu. Ia melangkah biasa menuju tangga rumah makan. Khusus Anik Remas, ia bangkit setelah Bagang Kala memegang tangannya. Anik Remas tidak manja, tetapi kondisinya memang dalam masa terluka. Ketika berjalan pun, ia dituntun oleh berondong miliknya, seperti pengantin sunat.
Mau tidak mau, Ratu Wilasin naik di kereta kuda, satu kendaraan dengan Anik Remas, Pangeran Bewe Sereng, Arda Handara dengan Bagang Kala sebagai kusir. Pendekar Angin Barat itu sudah mulai lihai mengarahkan kuda.
“Eh, ada mayat!” kejut Ratu Wilasin saat melihat keberadaan Bewe Sereng di kereta kuda, sebelum ia naik ke kereta.
“Oooh, ada ya?” ucap Ratu Wilasin.
“Ada, Kakak Ratu. Ya itu orangnya. Hahaha!” kata Arda Handara lalu tertawa karena menilai lucu ratu cantik bersuara anak kecil itu.
“Tapi dia kenapa?” tanya Ratu Wilasin.
“Bewe Sereng sedang patah hati, Gusti,” kata Anik Remas mencoba mencandai sang ratu.
“Hah! Apakah sudah dibawa ke tabib?” tanya Ratu Wilasin serius.
“Hihihi …!” tertawa kencanglah Anik Remas mendengar reaksi dari Ratu Wilasin.
“Jangan terlalu membodohi seorang ratu, Anik. Jangan sampai kesialan menerpamu,” tegur Dewi Ara datar.
“Maafkan aku, Dewi,” ucap Anik Remas cepat, segera menyadari kesalahannya yang termasuk lancang, karena dengan sengaja membodohi Ratu Wilasin.
__ADS_1
Ratu Wilasin hanya mendelik diam mendengar perkataan Dewi Ara.
“Maafkan hamba, Gusti Ratu,” ucap Anik Remas sambil menjura hormat kepada Ratu Wilasin.
“Hihihi!” tawa ratu muda itu pelan.
“Hahahak!” tawa kencang Arda Handara tiba-tiba.
Arda Handara tidak menertawakan Ratu Wilasin yang dikerjai oleh Anik Remas barusan, tetapi dia menertawakan Bong Bong Dut yang dua kali gagal naik ke punggung kudanya. Itu terjadi karena faktor gendut dan faktor kondisinya belum fit seratus persen usai disetrum rantai.
“Kakang Bagang, bantu Gejrot naik kuda. Hahaha!” kata Arda Handara kepada pemuda di sisinya.
“Baik, Gusti,” ucap Bagang Kala.
Pemuda yang masih tampan itu segera turun dari tempat duduknya. Ia pergi menghampiri Bong Bong Dut untuk naik ke punggung kudanya.
Meski Bagang Kala belum kursus berkuda kepada Anik Remas, tetapi jika hanya membantu rekan naik kuda, ia masih bisa.
“Terima kasih, Pendekar,” ucap Bong Bong Dut kepada Bagang Kala.
“Panggil saja aku Bagang Kala, Kakang Gejrot,” kata Bagang Kala kepada pemuda gemuk yang usianya memang lebih banyak.
“Tapi namaku ….”
“Iya, Kakang. Aku sudah tahu, nama Kakang adalah Gejrot,” pangkas Bagang Kala.
“Hehehe! Iya iya,” ucap Bong Bong Dut sambil cengengesan pasrah. Apalagi nama itu pemberian Pangeran Kerajaan Sanggana Kecil.
Dewi Ara menggebah kudanya tanpa teriakan, yang disusul oleh Tikam Ginting dan kedua pemomong Arda Handara.
Agar tidak ketinggalan, Bong Bong Dut cepat menggebah kudanya. Saking semangatnya, pemuda itu sampai sempat oleng nyaris jatuh ke samping. Namun Tuhan masih menyelamatkannya dari kejatuhan diri dan harganya, meski tidak selamat dari tertawaan Arda Handara.
“Hahaha! Jangan tidur Kakang Gejrot!” teriak Arda Handara usai tertawa kencang.
Kereta segera menyusul para kuda.
Domba Hidung Merah dan para pengawalnya menjura hormat ketika rombongan tersebut berlalu di dekat mereka.
__ADS_1
“Kita lanjutkan Arena Domba Pendekar!” teriak Domba Hidung Merah kepada khalayak ramai, setelah rombongan Dewi Ara berlalu agak jauh.
“Yeee!” sorak gembira apara peminat adu domba di atas panggung. (RH)