Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 17: Rencana Penculikan


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Bong Bong Dut atau Gejrot menjadi utusan bagi Permaisuri Dewi Ara pagi itu. Kecantikan Dewi Ara membuat pemuda gemuk itu siap setia dan mau jika diperintahkan apa saja. Terjun ke dalam sumur pun mungkin akan dia lakukan jika itu memang perintah dari Dewi Ara yang cantik jelita.


Pagi-pagi dia memang sudah mengantarkan penganan untuk para tamu di rumah tamu. Atas perintah dari istri Ketua Dua, Bong Bong Dut ditugaskan untuk melayani segala keperluan tamu-tamu yang belum sempat ditemui oleh pemimpin perguruan. Lunar Maya, istri Ketua Dua pun baru sekedar mendapat laporan, ia pun belum menyempatkan diri menemui para tamu.


Pagi itu, Dewi Ara memanggil Garda Tadapan agar datang menemuinya. Maka Bong Bong Dut yang menjadi dutanya.


Tidak berapa lama, Garda Tadapan datang bersama Bong Bong Dut. Ia saat itu menggunakan tongkat penyanggah dalam berjalan karena lukanya seacara fisik masih mengganggu kekuatan kakinya.


Garda Tadapan dan Bong Bong Dut menghadap kepada Dewi Ara, Bewe Sereng dan Pendekar Bola Cinta.


Dewi Ara menyodorkan sebatang bambu kecil dan pendek kepada Garda Tadapan.


“Apa ini, Dewi?” tanya pemuda tampan itu.


“Anakku Arda semalam mendapatkan dari penyusup yang tewas terbakar di perbatasan kampung, tapi itu diambil sebelum orang tersebut terbakar. Bong Bong Dut yang jadi saksinya,” jawab Dewi Ara.


Garda Tadapan lalu membuka salah satu ujung bambu yang merupakan bagian penutup. Di dalam lubangnya ada segulung kain putih kecil. Pemuda itu menariknya dengan ujung kukunya. Ia kemudian membuka kain dan ternyata ada dua kalimat tulisan.


“Hari pertemuan ketua tidak diundur, serang semua ketua besok pagi. Jangan menyerang ke perguruan pusat.”


Itulah bunyi isi surat kain putih itu.


“Kurang ajar. Rupanya ada pengkhianat di dalam perguruan!” desis Garda Tadapan gusar. “Berarti dia juga yang bertanggung jawab atas kematian Paman Cambuk Enam dan murid-murid perguruan.”


Sejenak Garda Tadapan terdiam, seolah sedang berusaha mengendalikan amarahnya yang seketika naik ke jakun leher.


“Tapi, siapa orang yang telah memberikan surat ini kepada penyusup itu?” tanya Garda Tadapan.

__ADS_1


“Arda dan Suling memergoki dua orang mencurigakan. Arda mengikuti penyusup yang mati terbakar dan Suling mengikuti lelaki satunya lagi yang adalah orang Perguruan Cambuk Neraka. Orang itu bernama Tulang Karang,” jawab Dewi Ara.


“Tulang Karang!” sebut ulang Garda Tadapan terkejut dengan gigi saling menekan dan mata mendelik, tapi tidak mendelik kepada Dewi Ara, nanti malah jantungnya yang berdebar-debar.


Tiba-tiba Garda Tadapan bergerak bangkit.


“Eh, kau mau ke mana?” tanya Bewe Sereng cepat menahan.


“Aku ingin buat perhitungan kepada Tulang Karang. Aku akan membunuhnya!” jawab Garda Tadapan.


“Jangan terburu-buru seperti itu yang justru bisa mengacaukan suasana. Kalian harus tahu lebih dulu siapa pemimpin dari pengkhianat itu. Sangat jelas mereka memiliki rencana bersama kelompok kapak itu pada hari ini,” kata Bewe Sereng.


“Apa kedudukan orang yang bernama Tulang Karang itu?” tanya Dewi Ara.


“Salah satu pelatih murid tingkat bawah,” jawab Garda Tadapan yang kembali turun duduk di lantai papan tersebut.


“Itu berarti dia bukan seorang pengambil keputusan,” kata Bewe Sereng.


“Surat itu berisi pesan atau perintah yang seharusnya disampaikan kepada pemimpin kelompok kapak. Namun, karena penyusup itu mati dan suratnya tidak sampai, berarti perintah itu jelas tidak sampai dan tidak akan terlaksana pada hari ini. Namun, itu juga berarti ada rencana lain dari kelompok kapak terhadap perguruan ini sebelumnya,” kata Dewi Ara.


“Jika surat ini memerintahkan untuk menyerang semua ketua, berarti sekutu dari kelompok kapak itu adalah Ketua Dua sendiri,” terka Garda Tadapan pula.


“Jika Ketua Dua adalah calon terkuat untuk jabatan Ketua Satu, untuk apa dia melakukannya?” kata Dewi Ara. “Justru aku menduga akan ada serangan ke perguruan hari ini. Untuk apa surat itu melarang serangan hari ini jika tidak ada rencana menyerang sebelumnya?”


“Lalu apa yang harus kita lakukan, Dewi?” tanya Garda Tadapan.


“Sebenarnya aku tidak suka memilih jalan yang berkelok-kelok, aku lebih suka cara seperti yang ingin kau lakukan, Garda. Itu jika aku punya kuasa di sini, tapi saat ini tidak. Aku kira Bewe Sereng lebih suka berpikir daripada main potong rumput,” kata Dewi Ara.


“Karena kita hanya seorang tamu di sini, kita tidak bisa bertindak bebas. Adakah salah satu ketua yang bisa kau yakini benar-benar tidak terlibat dalam siasat busuk ini? Atau orang berpengaruh di dalam perguruan yang benar-benar bisa dipercaya?” usul Bewe Sereng.


“Orang yang paling aku percaya adalah Paman Suwirak, tetapi dia tidak memiliki pengaruh kuat di kalangan atas Perguruan Cambuk Neraka. Namun, aku masih memiliki kepercayaan kepada Ketua Lima, Paman Sarang Asugara. Perguruan Cambuk Neraka dikenal sebagai bagian dari aliran putih karena sepak terjang Paman Sarang Asugara, yang suka membantu rakyat kecil,” jawab Garda Tadapan.

__ADS_1


“Apakah hari ini dia akan datang ke perguruan ini?” tanya Bewe Sereng.


“Menurut sepengetahuanku, semua ketua dan orang penting Perguruan Cambuk Neraka yang berada di luar perguruan pusat akan datang hari ini. Biasanya, untuk acara-acara penting, Istana juga akan mengirim utusan,” kata Garda Tadapan.


“Kita culik saja orang yang bernama Tulang Karang itu. Karena dia adalah seorang pelatih, orang yang menculiknya harus memiliki kesaktian lebih tinggi darinya,” kata Dewi Ara.


“Aku akan meminta bantuan kepada Paman Suwirak atau kepada Kepala Dapur Mak Guna Wetong. Mereka berdua bisa dipercaya jika demi kebaikan perguruan,” kata Garda Tadapan.


“Kau atur penculikan itu. Jika mereka berdua menolak, suruh keduanya menghadap kepadaku secara diam-diam. Setelah Tulang Karang mengaku, barulah dia dihadapkan ke tengah-tengah pertemuan, dengan syarat Ketua Lima sudah hadir,” kata Dewi Ara.


“Baik, Dewi,” ucap Garda Tadapan patuh.


“Ingat, jangan sampai rencana ini bocor, Bong Bong Dut,” kata Dewi Ara kepada pemuda gemuk yang sejak tadi begitu alim.


“Eh, i-i-iya, Dewi!” jawab Bong Bong Dut tergagap karena terkejut diajak bicara.


“Sekarang kalian boleh pergi,” kata Dewi Ara.


“Baik, Dewi!” ucap Garda Tadapan dan Bong Bong Dut bersamaan.


Mereka berdua lalu beranjak pergi.


“Jika Perguruan Cambuk Neraka ini adalah perguruan aliran putih, kenapa Garda Tadapan hanya percaya kepada beberapa orang saja? Aku rasa perguruan ini banyak menghidupi orang-orang licik,” kata Bewe Sereng.


Dari ruang dalam, berjalan gontai Arda Handara dalam kondisi yang kusut. Ia baru terbangun dari tidurnya.


“Ibunda, kapan kita melanjutkan perjalanan ke Negeri Pulau Kabut?” tanya Arda Handara.


“Kita harus membunuh banyak orang dulu baru melanjutkan perjalanan. Pergilah ke belakang, Lentera Pyar sudah memanaskan air untukmu mandi,” kata sang ibu.


“Sepertinya aku perlu mengajak Brojol mandi bersama. Aku mau lihat, apakah dia lelaki atau wanita,” kata Arda Handara.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Bewe Sereng.


“Hihihi!” tawa Tikam Ginting pula. (RH)


__ADS_2