Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 2: Bertempur Sendirian


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Blar!


Samar-samar Dewi Ara dan yang lainnya mendengar suara ledakan di kejauhan, sepertinya berasal dari laut.


Clap clap clap!


Bagi mereka yang bisa melesat seperti menghilang, langsung menghilang. Bagi mereka yang bisa melesat seperti kijang berlari dikejar predator, segera melesat menuju ke pantai. Bagi mereka yang hanya bisa berlari apa adanya, buru-buru berusaha menyusul. Orang itu tidak lain adalah Bong Bong Dut dan Nahkoda Dayung Karat.


Pada akhirnya, mereka semua berkumpul di pinggir laut, termasuk Tetua Pulau dan para lelaki pulau.


Mereka melihat sebuah kapal perang berwarna hijau kehijau-hijauan yang memiliki dua sumber asap hitam padanya.


Mereka melihat pasukan di atas kapal sedang memanah ke langit secara bergantian. Mereka sedang membidik seekor burung besar yang terbang berputar-putar di langit. Eh, itu bukan burung, melainkan seorang bocil lelaki yang tidak lain adalah Arda Handara.


Ketika terbang meninggalkan pertemuan pembahasan strategi yang dipimpin oleh ibundanya, Arda Handara yang berposisi di udara tinggi bisa melihat dengan jelas kedatangan sebuah kapal perang mendekati pantai Pulau Botak.


“Wah, itu seperti kapal yang menghadang di Selat Gurita,” kata Arda Handara kepada dirinya sendiri. Ia mengenali kapal itu dari kesaamaan warnanya dengan tiga kapal yang ditenggelamkan di dekat Selat Gurita yang tidak ada guritanya.


Arda Handara lebih dulu turun untuk memasang ketapel Ki Ageng Naga miliknya di bagian kepala tongkat. Pada bagian kepala Tongkat Kerbau Merah telah dimodifikasi, sehingga Ki Ageng Naga bisa dipasang dengan mudah dan kuat di bagian kepala tongkat.


Setelah memasang senjatanya, barulah kemudian Arda Handara melesat terbang lagi. Dia langsung terbang ke laut, menuju atas kapal perang yang merupakan satu kapal Kerajaan Puncak Samudera.


“Kapten! Ada yang datang!” teriak seorang prajurit yang pertama melihat kedatangan Arda Handara yang terbang dengan tongkat bersayap warna merah.


Kapten Kapal Pemangsa Laut segera melemparkan pandangannya ke langit. Benar, ada makhluk yang sedang terbang sepeti burung, tapi bukan burung, melainkan pemilik burung. Saat memastikan bahwa itu adalah pemilik burung, maka Kapten Kapal Pemangsa Laut segera memberi perintah.


“Panah!”


Maka pasukan panah di kapal itu segera melakukan bidikan ke langit dari posisinya masing-masing. Tidak peduli bahwa yang terbang adalah anak kecil, mereka merasa senang karena menjadi tantangan seperti membidik burung lewat.


Set set set …!


Panah-panah bersusulan melesat naik ke langit mencoba mengenai Arda Handara.


Namun, saat itu posisi ketinggian Arda Handara masih terlalu tinggi, sehingga panah-panah itu tidak menjangkau si bocil.


“Uyut-uyut bunuh diriii!” teriak Arda Handara seperti jagoan anime yang sedang bertarung. Dia melepaskan satu peluru ulat bulu lurus ke bawah.


Seeet!


Menakjubkan. Tidak seperti biasanya, kali ini peluru ulat bulu itu berubah menjadi bola api besar dalam lesatannya. Jangan ditanya kenapa itu bisa terjadi.


“Menghindaaar!” teriak seorang prajurit memperingatkan rekan-rekannya.


Beberapa prajurit di atas kapal itu buru-buru menjauhi titik target bola api.

__ADS_1


Broaks!


Bola api itu akhirnya menghantam lantai kapal yang langsung jebol dan terbakar.


Setelah menembak, Arda Handara segera terbang menjauh. Ia kembali memasang satu ulat bulu yang akan dia jadikan sebagai bomber bunuh diri.


Setelah terbang menjauh dari atas kapal, Arda Handara kembali berputar dan menukik mendekati kapal.


Untuk menyambut serangan Arda Handara, kali ini Kapten Kapal Pemangsa Laut telah menarik senar busur, siap membidik Arda Handara yang terbang cepat


Sesss! Set!


Bersamaan dengan Arda Handara melepaskan peluru ketapelnya, Kapten Kapal Pemangsa Laut juga melepaskan anak panahnya. Ternyata anak panah sang kapten jadi bersinar merah ketika melesat.


Namun ternyata pula, peluru yang dilepas oleh Ki Ageng Naga berubah menjadi tiga bola api yang terpisah, lebih hebat dari sebelumnya.


Blar!


Panah bersinar Kapten Kapal Pemangsa Laut beradu dengan salah satu bola api tembakan Arda Handara, menimbulkan ledakan nyaring di udara. sementara itu, dua bola api lainnya jatuh menjebol lantai buritan dan dinding anjungan.


Broaks! Broaks!


Sama seperti bola api sebelumnya, dua bola api milik Arda Handara mengjebol dan membakar bagian kapal yang dikenainya.


“Tembak dengan panah besar!” teriak Kapten Kapal Pemangsa Laut.


Di kapal itu ada tiga mesin pemanah besar jarak jauh. Satu di haluan, satu di buritan dan satu lagi di atap anjungan. Mesin panah jarak jauh itu bersifat fleksibel, bisa diputar dan diarahkan ke arah mana saja, kecuali lurus ke bawah.


Tiga panah besar itu jelas akan memiliki jarak jangkau yang lebih jauh.


Melihat persiapan yang dilakukan oleh para prajurit marinir itu, Arda Handara merasa lebih tertantang.


Ia lalu terbang tinggi. Tidak lupa peluru ulat bulu dipasang. Setelah itu dia terbang menukik mendekati kapal. itu jelas target empuk bagi para pemanah. Kecepatan stabil target membuat pemanah bisa hitung-hitungan, kecepatan rata-rata sama dengan perpindahan waktu dibagi perubahan waktu.


Ketika para prajurit itu sudah menghitung dengan rumus yang dihafalnya, tiba-tiba Arda Handara melakukan manuver lebih ekstrem dari burung.


Tiba-tiba Arda Handara terbang datar menjauhi kapal, lalu mendadak naik, kemudian berbelok-belok zigzag dengan ukuran liukan yang tidak menentu.


Manuver Arda Handara itu membuat para operator mesin panah jauh itu bergerak cepat merubah arah bidikannya. Sebentar digeser ke kanan, sebentar lagi ke kiri, lalu kemudian ke atas. Manuver Arda Handara membuat para penembak itu tidak kunjung menembak.


Set!


“Hahaha!” tawa Arda Handara ketika akhirnya satu prajurit yang tidak sabar menembak lebih dulu. Panah yang ukurannya dua kali lipat dari panah biasa itu teralalu jauh dari target.


Saat itu, di pantai telah bermunculan Dewi Ara dan para abdinya.


Set set set …!


Akhirnya panah-panah besar itu dilepaskan. Bukan hanya panah besar, tetapi juga panah-panah biasa dari pasukan panah.

__ADS_1


Namun, tidak ada satu pun anak panah yang beruntung bisa mengenai Arda Handara. Posisi sang pangeran yang tidak menentu, membuatnya sulit dibidik.


Sesss!


Giliran Arda Handara kembali menembak seperti pesawat tempur.


“Hah!” kejut Kapten Kapal Pemangsa Laut melihat tembakan Arda Handara.


Uyut-uyut yang melesat dari ketapel Ki Ageng Naga, dalam perjalanannya berubah menjadi lima bola api. Kali ini Kapten tidak balas memanah karena merasa akan percuma saja jika hanya bisa menghancurkan satu bola api.


Broaks broaks broaks …!


Lima bola api menghujani Kapal Pemangsa Laut. Menjebol dan membakar kapal tersebut. Dua di antaranya mengenai layar kapal dan api pun cepat membesar, seiring angin laut yang menunjang untuk memperbesar api.


Sementara itu, Kapten Kapal sedang memikirkan siasat baru untuk menaklukkan Arda Handara.


“Bibi Permaisurui, izinkan aku turun membantu Pangeran,” kata Mimi Mama kepada Dewi Ara di pantai.


“Tidak usah. Simpan dulu kesaktianmu untuk di Pulau Kabut,” kata Dewi Ara.


“Baiklah, Bibi,” ucap Mimi Mama patuh.


Asap semakin banyak yang membumbung ke langit. Sejumlah prajurit kapal juga harus bergotong royong untuk memadamkan api agar tidak membesar.


“Kau harus kena, Bocah!” desis Kapten Kapal Pemangsa Laut.


Dia tiba-tiba berkelebat di udara dan mendarat di atas tumpukan tambang jangkar, kemudian dia naik memanjat tiang kapal dengan gerakan seperti monyet.


Pergerakan Kapten Kapal Pemangsa Laut terjadi di saat Arda Handara terbang hendak melintas jauh di atas kapal.


Seiring Arda Handara akan melintas, Kampten Kapal Pemangsa Laut sampai di pucuk tiang. Dia lalu melompat tinggi ke udara sambil menghentakkan kedua tangannya.


Prass!


Ternyata ada dua jaring sinar hijau melesat dari kedua tangan sang kapten, bermaksud menjaring Arda Handara yang melintas.


Seet! Ceklek! Bdak!


Kedua jaring sinar itu memang menghadang laju terbang Arda Handara. Namun, bocah itu semakin ahli dalam terbang. Tiba-tiba Arda Handara berbelok sedikit menghindari dua jaring sinar. Seiring itu, Arda Handara menekan kedua bola mata kepala tongkatnya.


Hasilnya. Arda Handara tiba-tiba melesat dengan kecepatan dua kali lebih cepat, Ia langsung menabrak tubuh Kapten Kapal Pemangsa Laut yang masih melayang di udara. Kecepatan yang tiba-tiba itu membuat sang kapten gagal bereaksi.


“Aaak!” jerit sang kapten dengan tubuh terlempar keras lalu menukik lurus jatuh ke laut.


“Kapteeen!” teriak pasukan di atas kapal.


Sesss!


 Setelah itu, Arda Handara kembali menembakkan lima bola api dari Ki Ageng Naga. Kelima bola api membuat kapal semakin terbakar, meski tidak menuju karam. (RH)

__ADS_1


__ADS_2