Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 1: Bajak Laut Bajak Sawah


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


 


Tampak seorang lelaki separuh baya kurang tujuh bulan berpenampilan busikit di bawah panggangan sang surya. Dia hanya bercawat warna kuning, sehingga dari jauh saja warna cawatnya yang lebih menonjol daripada warna kulit hitamnya yang bercahaya karena keringat.


Lelaki bercambang ala Elvy Sukaesi itu tidak sedang mau berbuat mesum di tengah sawah dengan kerbau besar di depannya, tetapi memang seperti itu style-nya jika sedang membajak sawah. Dia berdiri di atas bajak sambil memegang pecut penyemangat di belakang kerbau yang membokonginya.


“Gembur-gemburlaaah! Subur-suburlaaah!” teriaknya bernada syair. “Dewi Centing, taburkanlah kasih dan sayangmu, agar semangat Kakanda semakin menggebu, tanahku subur menjadi ibu, padiku tumbuh cantik merayu!”


Lelaki berotot besar dan keras itu memang suka bersyair sambil menikmati angin sejuk yang membelai hamparan petak-petak sawah yang sedang masa pembajakan. Dialah orang ternama di lautan tapi tidak di daratan, yaitu Genggam Garam, Ketua Bajak Laut Malam.


Genggam Garam tidak seorang diri dalam membajak sawah, ada beberapa lelaki lain di petakan lain yang juga membajak bersama kerbau, bukan bersama pasangan sejenisnya. Para lelaki itupun profesi sebenarnya adalah bajak laut.


Di sebuah dangau sederhana, terlihat ada dua wanita yang sedang sibuk menata lauk pauk dengan sebakul nasi hangat. Uniknya, kedua wanita berkulit hitam itu berpenampilan tidak seperti wanita desa biasa. Keduanya berpenampilan seperti pendekar. Keduanya mengenakan kalung mutiara asli. Ada beberapa pedang yang menggantung di tiang-tiang dangau.


Wanita berwajah codet tapi berdada menantang, memiliki nama Segaris Ayu. Sementara rekannya yang lebih hitam tapi lebih manis dan dadanya tidak menantang bertarung, memiliki nama Sayup Desah.


Kata anggota lelaki Bajak Laut Malam yang pernah berskandal badan dengan Sayup Desah, wanita itu tidak berisik saat bercinta. Namun, Genggam Garam tidak berminat untuk mencicipi keheningan asmara Sayup Desah, karena dia tipe lelaki pelaut setia, setiap pelabuhan cukup satu wanita.


“Lalala …!” Segaris Ayu tiba-tiba memekik berlala-lala dengan kencang seperti penyanyi Boliboli.


Suara lengkingan tralala Segaris Ayu terdengar sampai kepada keenam lelaki yang sedang membajak sawah, membuat para batangan itu tersenyum, seolah mendengar kabar gembira.


“Terima kasih, wahai Dewi Centing. Di saat perut sudah kosong, di saat peluh banjir bandang, kau berikan kabar riang dengan sajian yang akan membuat kenyang,” ucap Genggam Garam sambil memandang ke langit terang.


Sekedar bocoran. Genggam Garam adalah pemuja Dewi Centing, dewi yang dia yakini pemberi kemakmuran kepada kaum keras seperti dirinya dan para bajak laut di manapun berada. Tafsir lainnya, Dewi Centing adalah Dewi Sri-nya para orang berdosa.


Genggam Garam sangat sadar dan tahu bahwa dirinya dan kelompoknya adalah seorang pendosa. Tidak perlu dijelaskan macam mana orang yang disebut pendosa itu.


“Jangan ke mana-mana, Kakanda!” kata Genggam Garam sambil menepak bokong kerbau besarnya yang hanya menengok dan berkedip, tapi tidak genit.

__ADS_1


Genggam Garam lalu berlari kecil menuju dangau, seolah-olah aroma semur jengkol rasa ayam bakar sudah sampai ke penciumannya.


“Waaah, puji Dewi Centing!” desah Genggam Garam terbeliak ketika tiba dan melihat sajian makan siang yang digelar. “Bebek asap belimbing wuluh!”


“Barong! Keong! Buruan! Hahaha!” panggil Genggam Garam dengan menyebut dua nama anak buahnya yang selembing dua lembing lagi sampai.


Tanpa rasa sungkan atau malu, Genggam Garam yang busikit enak saja naik dan duduk bersila di sisi sajian di depan mata kedua anak buat wanitanya.


“Terpaksa sambalnya cabai jurig, Ketua. Cabai lainnya sedang habis,” kata Segaris Ayu.


“Aaah, tidak apa-apa. Meski harus mencret-mencret, yang penting lezat dan nikmatnya pantas di mulut. Bukan begitu, Sayup?” kata Genggam Garam santai.


“Benar, Ketua. Yang penting penyuguhnya tetap kami berdua, menjadi pemanis bagi lidah yang lain. Hihihi!” kata Sayup Desah berseloroh.


“Hahaha!” tawa lepas Genggam Garam tanpa beban utang.


“Hahaha!” tawa Barong, Keong Gelap, dan tiga lelaki lainnya yang baru tiba. Empat orang bertelanjang dada dan satu lelaki berpakaian lengkap.


“Asal jangan kepadaku benihmu kau semburkan!” kata Segaris Ayu ketus.


“Hahaha!” tawa mereka.


Suasananya terlihat penuh rasa kekeluargaan, seperti keluarga besar yang harmonis. Suara tawa sering kali pecah dalam santapan mereka. Segaris Ayu dan Sayup Desah menjadi pelayan yang telaten seperti istri setia melayani para suaminya.


Di saat mereka sedang bersantap, ada dua lelaki lain yang datang ke tempat itu. Orang pertama seorang pemuda berambut merah kering bertubuh besar dengan otot perkasa. Dia berbaju biru gelap tanpa lengan. Selain memamerkan otot lengan besarnya yang berhias ukiran luka-luka sayatan lama, juga memperlihatkan rambut ketiaknya yang subur dan lebat. Pemuda berusia kepala tiga itu bersenjatakan tombak besi yang memiliki mata seperti bila keris. Dia bernama Raga Ombak dan merupakan tangan kiri Genggam Garam.


Raga Ombak datang bersama lelaki yang tidak lebih muda. Kulit wajahnya belang, hitam dan putih kemerahan. Belang itu tercipta karena sisa luka bakar yang pernah dialaminya di masa kecil. Perawakannya sedang-sedang saja. Ia menyandang pedang di pinggang kanan dan kiri. Dia bernama Arik Bengal.


“Wah, waktu yang tepat, Ketua. Hahaha!” kata Raga Ombak sambil naik di pinggiran sambil mendorong-dorong rekannya dengan badan besarnya, membuat suasana dangau terkesan sesak padat.


Sementara Arik Bengal sudah tidak kebagian tempat. Ia pun hanya berdiri. Jika Raga Ombak menciduk nasi sendiri ke piring, maka Arik Bengal mendapat pelayanan istimewa dari Sayup Desah. Dia akhirnya makan sambil berdiri dengan tangan kanan menadah piring dan tangan kiri menyuap nasi.

__ADS_1


“Belum ada kabar dari Tangan Kanan?” tanya Genggam Garam sambil memandang kepada Raga Ombak.


“Belum, Ketua. Aku berfirasat, terjadi sesuatu dengan mereka,” jawab Raga Ombak dengan ekspresi serius.


“Benar, kepergian mereka sudah di luar waktu dari biasanya. Jika terjadi sesuatu terhadap Tangan Kanan, aku tidak terlalu masalah. Yang aku khawatirkan adalah Bintang Hitam. Bagaimana jika dia rusak atau diambil bajak laut lain?” kata Genggam Garam.


“Lalu bagaimana, Ketua?” tanya Keong Gelap.


“Nanti senja kita pergi mencari mereka,” jawab Genggam Garam.


“Apakah kita akan memakai Kapal Bintang Emas?” tanya Barong dengan pipi yang bergelembung penuh oleh makanan.


“Hanya itu yang kita punya selain Kapal Bintang Hitam,” jawab Genggam Garam.


“Ke mana kita akan mencarinya, Ketua?” tanya Segaris Ayu.


“Katanya dia pergi ke barat,” jawab Genggam Garam.


Singkat cerita, setelah acara santap siang selesai dan tidak ada babak sedot asap sigaretek, Genggam Garam kembali melanjutkan kerja membajaknya. Sebagai bajak laut sejati, ia bersemboyan “Tiada hari tanpa membajak”. Jika tidak sedang membajak laut, ya membajak sawah. Jika sawah pun sudah bukan masa bajak, maka membajak janda kampung.


Sebenarnya Genggam Garam punya kekasih terang, seorang janda tanpa anak. Fungsi si janda khusus untuk dibajak di saat Genggam Garam tidak membajak. Pokoknya urusan dengan Ketua Bajak Laut Malam pokoknya beres, yaitu anti punya anak dan harta benda tercukupi. Dalam berhubungan badan, Genggam Garam punya pil antihamil. Bukan dia yang makan pilnya, tetapi si perempuan yang harus makan. Pokoknya dijamin aman.


Ketika matahari tinggal seperempat jarak menuju tenggelam, kerja membajak pun selesai. Genggam Garam dan para anak buahnya pulang. Genggam Garam menuntun sendiri Kakanda menuju ke kandangnya.


Bajak Laut Malam tinggal di sebuah kompleks yang semua rumahnya dihuni oleh anggota dan anak istrinya. Genggam Garam tidak punya anak dan istri. Dia hanya punya janda.


Ia akan pergi melaut bersama separuh dari anggotanya yang tinggal di Desa Garam Asin itu.


Sebelum melaut, Genggam Garam punya ritual mandi wajib dengan air tujuh muara. Jadi di rumahnya itu ada tujuh gentong besar yang berisi air dari tujuh muara. Ia meyakini bahwa ritual itu bisa memberi keberuntungan dan kejayaan di lautan. Dan terbukti, hingga saat ini, Bajak Laut Malam menjadi bajak laut yang disegani, ditakuti, meski bukan yang terkuat. Karena bajak laut terkuat adalah Bajak Laut Kepiting Batu yang diketuai oleh pendekar wanita berjuluk Ratu Kepiting.


Dan ketika Genggam Garam keluar dari rumahnya, ia sudah bukan lagi seorang petani yang busikit, tapi terlihat mirip sekali sebagai seorang bajak laut. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut diikat pita hitam yang agak panjang, semata-mata agar terlihat keren ketika ditiup angin. Di pinggang kanan-kirinya ada golok kembar berwarna hijau gelap. Senjata cambuk hitamnya justru dipasang di punggung dengan gagang yang timbul di belakang pundak seperti gagang pedang. Selain dua jenis senjata itu, Genggam Garam masih memiliki senjata lain yang disembunyikan di balik pakaian. Semoga dia tidak lupa menggunakannya di kala bertarung.

__ADS_1


Oh iya, hampir lupa. Setiap akan berangkat, Genggam Garam selalu mengolesi wajahnya dengan rendaman arang, seperti wajah pasukan khusus. Meski ketika terkena air laut atau air kobokan warna itu luntur. (RH)


__ADS_2