
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Selain kemunculan sepuluh orang pemanah di bubungan atap, dari dalam sisi bawah bangunan kayu itu bermunculan lebih dua puluh prajurit berseragam biru-biru, yang keluar dari sisi kanan dan kiri lorong lalu menempatkan diri di belakang gerbang teralis. Mereka juga bersenjatakan panah sinar merah yang siap lepas.
Semua anak panah bersinar merah itu diarahkan kepada Bewe Sereng dan kelima rekannya.
“Itu Panah Cakrawala Timur, panahnya bisa berbelok-belok!” seru Bewe Sereng memperingatkan rekan-rekannya.
“Selamat datang lagi, Pangeran Bewe Sereng!” seru satu suara wanita yang lain, tiba-tiba dari belakang mereka.
Seruan itu mengejutkan mereka berenam dan cepat menengok dengan tetap mewaspadai pasukan yang siap memanah.
Mereka melihat satu siluet yang pastinya seorang wanita. Dari jenis suaranya tadi, kemudian model rambut dan model bodinya, sudah pasti itu adalah wanita. Bisa diterka juga bahwa wanita itu bukanlah seorang gadis. Dari mana tahunya? Pokoknya ada saja perbedaan lekukan tubuh yang masih gadis dengan yang sudah mulai berlumut.
Dan benar. Ketika siluet wanita itu maju sejauh satu tombak, sehingga sosok depannya agak tersinari cahaya obor, terlihat bahwa wanita itu bisa diterka berusia separuh baya lebih beberapa tahun. Wanita itu memiliki model wajah yang lebar dengan model mata yang tajam. Alis panjangnya setidaknya masih menyisakan kecantikan yang sudah banyak memudar.
“Siapa kau?” tanya Bewe Sereng datar, berusaha untuk tidak tegang. Meski ia berkesaktian tinggi, tapi kali ini kondisi mereka cukup mengintimidasi.
“Aku Laksamana Muda Kamboja Hua, orang yang bertanggung jawab di Pelabuhan Kepeng dan Gerbang Kepeng. Lebih baik menyerahlah,” kata wanita berpakaian biru gelap itu dengan tenang.
“Jika jatuh perintah, langsung menyebar,” bisik Bewe Sereng kepada rekannya.
Ia lalu beralih kembali kepada Kamboja Hua, sang laksamana muda wanita.
“Tidak ada niat kami untuk menyerah. Mati atau menang, itulah aturan mainnya!” tandas Bewe Sereng.
“Baiklah, sungguh disayangkan,” ucap Kamboja Hua. Lalu serunya kepada pasukannya yang ada di sisi lain, “Panah!”
Set tetes …!
“Akk! Akk! Akk …!”
Set set set …!
Seiring perintah Laksamana Muda, satu lesatan sinar biru datang dari kegelapan yang langsung menusuk tembus kesepuluh leher prajurit panah yang ada di atas bubungan atap. Seperti menusuk sate saja.
Itu adalah panah sinar biru Bewe Sereng yang sebelum kemunculan para prajurit telah dia lepaskan bertamasya ria keliling Pulau Kabut. Dengan kemunculan panah itu, berarti dua panah sinar biru lagi yang belum datang.
Pada saat yang sama, para prajurit di balik Gerbang Kepeng juga melepaskan panah-panah sinar merahnya.
Namun, sesuai instruksi Bewe Sereng, kelima rekannya langsung melesat berpencar ke berbagai arah, membuat dua puluh anak panah sinar merah itu kehilangan target.
__ADS_1
Tidak perlu kecewa bagi para prajurit itu, sebab ilmu Panah Cakrawala Timur memiliki sifat khusus. Panah-panah itu kemudian melesat berbelok menyebar, masing-masing mengejar target yang mereka inginkan.
Bagi prajurit yang suka dengan yang masih gadis, maka panahnya diarahkan mengejar Tikam Ginting dan Lentera Pyar. Bagi prajurit yang suka mantan janda, maka panahnya diarahkan mengejar Anik Remas. Bagi prajurit yang memiliki benih-benih suka sesama jenis, maka mereka akan mengarahkan panahnya mengejar Setya Gogol dan Bagang Kala.
Bagi mereka yang tidak suka tua, maka mereka akan tetap menargetkan Bewe Sereng. Sebab, Bewe Sereng tidak ke mana-mana.
Tidak seperti rekan-rekannya yang melesat menyebar, Bewe Sereng tetap di tempat. Dia langsung mengurung dirinya dengan kurangan sinar merah bening dari ilmu Bulan Sebening Merah.
Ces ces ces …!
Ada sepuluh anak panah sinar merah yang menyerang Bewe Sereng, bukan karena mereka benci orang tua, tetapi karena pangeran itu tidak ke mana-mana.
Namun, kemunculan ilmu perisai itu membuat kesepuluh anak panah harus musnah dengan sendirinya.
Adapun kesepuluh panah lainnya hanya mengejar Setya Gogol dan Bagang Kala, tidak mengikuti rumus siapa yang disuka, itu yang dikejar. Ternyata rumus yang berlaku, siapa yang disuka, itu yang tidak dikejar panah. Terbukti, Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Anik Remas tidak dikejar panah.
Bdugk bdugk!
Sepuluh prajurit yang berposisi di bubungan atap jatuh berjemaah dengan kondisi leher yang semuanya bolong.
Kejatuhan mereka mengejutkan pasukan panah yang berposisi di belakang gerbang.
Wuss!
Serangkum angin kencang menderu menyergap lesatan lima panah sinar merah, membuat serangan itu terganggu dalam lesatannya.
Jos jos jos …!
Hingga akhirnya, kelima anak panah itu dibuat menancap di beberapa batang pohon. Kelimanya hancur meninggalkan jejak lubang hangus pada batang pohon.
Di sisi lain, Setya Gogol dengan gesit melompat menghindari lima panah sinar merah lainnya. Dia harus melompat berulang-ulang karena panah-panah itu bisa berbelok seperti memiliki mata.
Ctas ctas ctas! Ctar ctar!
Akhirnya Anik Remas datang dengan lecutan cambuk putihnya menghancurkan tiga panah sekaligus.
Tikam Ginting juga datang dengan ilmu perisai Pertahanan Keutuhan Cinta. Dia muncul menghadang dua panah sinar kemudian menangkisnya dengan perisai sinar hijau yang dimunculkan tangannya. Tercipta dua ledakan nyaring yang tidak berefek kepada Tikam Ginting.
Setya Gogol yang mendapat bantuan dari dua wanita cantik, hanya tersenyum.
Pasukan di belakang Gerbang Kepeng kembali mengisi ulang busurnya, siap melepas Panah Cakrawala Timur lagi. Namun ….
Set set!
__ADS_1
Tetes tetes …!
“Ak! Akh! Akk …!”
Tiba-tiba dari dua arah samping posisi pasukan, muncul dua sinar biru yang melesat cepat dan menusuki leher-leher para prajurit itu. Kejadian itu sama dengan yang terjadi di bubungan atap sebelumnya.
Sinar biru yang bisa menembus banyak batang leher sekaligus itu adalah dua panah sinar Bewe Sereng. Tidak semua dari kedua puluh prajurit itu tewas, masih tersisa tujuh prajurit.
Menyaksikan tumbangnya sebagian besar prajurit, Bagang Kala lebih dulu yang berlari di udara dan mendarat di depan gerbang.
Set set …! Ting ting ting …!
“Akk! Akk! Akk …!”
Dengan ilmu Angin Setajam Lidah, Bagang Kala menyerbu Gerbang Kepeng. Angin-angin setajam pedang berlesatan bersusulan, menciptakan percikan-percikan kembang api ketika angin-angin itu mengenai batang-batang teralis besi gerbang.
Tidak semua angin tajam itu mengenai besi-besi teralis, tetapi ada juga yang lolos dan menyayat anggota tubuh prajurit yang tersisa, karena itulah para prajurit itu berjeritan.
Laksamana Muda Kamboja Hua hanya manggut-manggut melihat pasukannya yang habis.
“Pangeran, biar aku yang mengatasi laksamana muda ini. Kurang elok jika seorang pangeran harus melawan seorang perempuan,” ujar Tikam Ginting sambil menghampiri Bewe Sereng yang sudah tidak mengurung diri di dalam ilmu perisainya.
Bewe Sereng memandang sejenak kepada Tikam Ginting. Selama perjalanan dari Kerajaan Sanggana Kecil, dia sudah sering melihat Tikam Ginting bertarung. Kesaktian Pendekar Bola Cinta itu tidak perlu diragukan lagi sebagai seorang Pengawal Dewi Bunga yang dipilih oleh permaisurinya daripada yang lain.
“Pangeran lanjutkan menuju ke Istana,” tambah Tikam Ginting.
“Baiklah,” ucap Bewe Sereng setuju.
Pangeran Bewe Sereng lalu berbalik dan mengajak empat rekannya melanjutkan penyerbuan. Mereka meninggalkan Tikam Ginting yang masih berhadapan santai dengan Kamboja Hua.
Brakr!
Terdengan suara keras gerbang yang hancur berpatahan ketika Bewe Sereng menghantamkan kedua tinjunya yang bersinar merah. Itu adalah ilmu Tinju Pemarah. Besi-besi yang sudah mengalami sejumlah sayatan Angin Setajam Lidah, membuat teralis lebih mudah dipatahkan.
“Siapa kau, Nisanak? Kau pasti bukan pendekar dari pulau-pulau terdekat,” tanya Kamboja Hua kepada calon lawannya.
“Aku dari daratan. Ingatlah, namaku Tikam Ginting, Pendekar Bola Cinta. Aku pendekar pengawal Permaisuri Kerajaan Sanggana. Semoga kau mengetahui sesuatu, Laksamana Muda,” kata Tikam Ginting.
“Oh. Aku pernah mendengar kemasyhuran nama Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil. Namun, kemasyhuran bukanlah pembuktian bahwa orang daratan lebih hebat dari orang lautan. Percuma saja apa yang kalian lakukan. Jikapun kalian berhasil membebaskan pulau ini dari kami, tidak lama lagi kalian akan ditenggelamkan bersama pulau ini oleh armada raksasa Kerajaan Puncak Samudera,” kata Kamboja Hua.
“Aku juga mendengar kabar ikan bahwa perwira Kerajaan Puncak Samudera memiliki kesaktian yang tinggi-tinggi. Aku jadi penasaran ingin membuktikan,” kata Tikam Ginting.
“Aku akan memuaskan rasa penasaranmu, Pendekar Bola,” kata Kamboja Hua pula.
__ADS_1
“Silakan, Laksamana.” (RH)