Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 17: Gadis Cadar Maut


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


“Gadis Cadar Maut!” sebut Kenyot Gaib saat mengenali orang yang menyerangnya dengan tombak terbang.


“Apa yang kau lakukan di sini, Kenyot Gaib?” tanya wanita bercadar kuning yang dikenal luas di dunia persilatan bernama Gadis Cadar Maut, padahal usianya sudah tidak muda lagi, tapi lebih muda dari Adipati Siluman Merah.


“Aku ingin mengacaukan Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Kenyot Gaib yang kini mengabaikan sang adipati yang sedang berusaha dipapah oleh Bening Mengalir.


“Terlalu nekat jika alasanmu hanya ingin mengacaukan kerajaan kuat ini, Kenyot Gaib. Kau memang bisa mengalahkan satu pasukan dan seorang adipati, tapi apakah kau bisa mengalahkan orang-orang sakti di lingkungan Istana. Ingat, di kerajaan ini ada pendekar yang tidak terkalahkan,” kata Gadis Cadar Maut. “Apa alasanmu berbuat nekat seperti ini, Kenyot Gaib?”


“Dendam,” jawab Kenyot Gaib singkat. “Jangan ikut campur dengan urussanku, Cadar Maut!”


“Hihihi!” tawa Gadis Cadar Maut pendek. “Aku sekarang adalah bagian dari Kerajaan Sanggana Kecil. Di sini aku dipercaya sebagai Jagoan Kadipaten Jalur Bukit. Jika aku tadi lebih awal kembali dari urusanku, orang pertama yang seharusnya kau hadapi adalah aku.”


“Oooh, seperti itu,” ucap Kenyot Gaib, lalu memandang tajam dengan bibir yang mengenyot-ngenyot.


“Dendam siapa yang ingin kau balaskan. Mungkin kau salah menaruh dendam?” tanya Gadis Cadar Maut.


“Ki Bandel Perawan, adikku,” jawab Kenyot Gaib.


“Kau sudah tahu siapa pembunuhnya?” tanya Gadis Cadar Maut lagi.


“Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol,” jawab Kenyot Gaib. “Jangan banyak tanya kau, Gadis Cadar Maut, biar kau merasakan kehebatan kenyotanku!”


“Hihihi! Kenyotanmu hanya berlaku terhadap orang-orang model prajurit itu,” kata Gadis Cadar Maut setelah menertawakan si nenek.


“Kau mau bukti kehebatan Kenyotan Makhluk Gaib-ku? Rasakan ini!” teriak Kenyot Gaib gusar.


Kenyot Gaib lalu menarik napas panjang hingga dada tuanya membusung.


Nyot nyot nyot …!


Selanjutnya, bibir tua imut Kenyot Gaib mengenyot cepat, seolah uber setoran. Samar-samar bibir itu menghitam warnanya, bahkan terdengar suara kenyotan. Jika bukan dalam rangka pertarungan, mungkin Gadis Cadar Maut akan tertawa mendengarnya.


Namun, itu bukan kenyotan biasa, tapi kenyotan yang bernama Kenyotan Makhluk Gaib. Namun, bukan berarti si nenek adalah makhluk gaib.

__ADS_1


Gadis Cadar Maut langsung bisa merasakan kekuatan dari ilmu Kenyot Makhluk Gaib. Ia merasakan darahnya mengalir dengan cepat naik ke atas kepala. Tidak hanya itu, mendadak pandangannya menghitam gelap seperti orang buta. Selain itu, ia merasakan darahnya secara halus keluar dari pori-pori kulit wajah dan kedua mata.


Bak!


Gadis Cadar Maut menghentakkan kaki kanannya ke bumi dengan kuat. Bersama hentakan itu, satu kekuatan tenaga sakti tingkat tinggi menutupi seluruh kulit tubuh Gadis Cadar Maut. Jika lapisan tenaga sakti itu bisa terlihat, maka mungkin tubuh wanita bercadar itu seperti pisang mau digoreng, berlumur tepung kental.


Ilmu Hentakan Lumpur Perisai itu terbukti memangkas serangan ilmu Kenyot Makhluk Gaib. Benar kata Gadis Cadar Maut sebelumnya, meski ilmu kenyot itu berpengaruh, tetapi bisa dengan mudah diatasi oleh pendekar bertongkat itu.


Pandangan Gadis Cadar Maut kembali terang dan dia sudah tidak merasakan darahnya tersedot ke luar tubuh.


Melihat ilmu Kenyot Makhluk Gaib-nya tidak bekerja sebagaimana harapan, Kenyot Gaib pun maju menyerang dengan tongkat hitam yang bersinar hijau gelap.


Tak tak tak …!


Peraduan dua batang kayu pun terjadi masif berulang-ulang dalam ritme yang begitu cepat. Setiap peraduan yang juga mengadu dua tenaga dalam tingkat tinggi itu, ternyata membuat Kenyot Gaib mundur setindak demi setindak, seolah menjadi tanda bahwa posisinya berada di bawah daun.


Pada satu waktu, Gadis Cadar Maut menusukkan tombak kayunya. Kenyot Gaib bisa dengan cepat mengelak. Namun, tombak kayu itu tidak ditarik lagi, tapi terus melesat terbang lepas dari genggaman Gadis Cadar Maut. Tombak itu terbang seperti sapu nenek sihir, bisa berbelok ke kanan dan ke kiri, mungkin juga bisa berjoged.


Di saat tombak kayunya terbang, Gadis Cadar Maut menyerang dengan tangan kosong, tetapi bertenaga dalam tinggi. Sementara Kenyot Gaib tetap mengandalkan tongkatnya.


Set!


Tiba-tiba tombak terbang Gadis Cadar Maut datang dari samping menyerang Kenyot Gaib. Si nenek yang sudah siaga, cepat melompat mundur.


Wess! Pak!


“Hekh!” keluh Kenyot Gaib saat dia melompat mundur menghindari lintasan tombak terbang. Ternyata, Gadis Cadar Maut langsung melesat memburu dengan hantaman pukulan telapak tangan.


Meski Kenyot Gaib menangkis dengan batang tongkatnya, tetap saja tenaga besar pukulan Gadis Cadar Maut menghantam dadanya. Si nenek hanya terjajar beberapa tindak.


Dak dak!


Ketika Gadis Cadar Maut hendak memburunya lagi, Kenyot Gaib segera mengibaskan tangan kirinya dua kali seperti memukul angin.


Gadis Cadar Maut refleks menangkis sesuatu yang tidak terlihat dari tempat berdirinya, tetapi terdengar suara seperti pertemuan dua tulang tangan.


Kenyot Gaib memang memiliki kemampuan menghajar seseorang dari jarak sejauh dua tombak tanpa menyentuh. Namun, lawannya bukanlah pendekar baru jadi sakti, tetapi pendekar wanita yang kesaktiannya pilih tanding dan disegani lawan.

__ADS_1


Dari jarak kurang dari dua tombak itu, Kenyot Gaib memainkan tangan kirinya yang mengandung tenaga dalam tinggi. Gadis Cadar Maut pun melakukan gerakan-gerakan yang menangkis serangan-serangan tenaga dalam yang tidak tampak tapi terasa sekali.


Karena pukulan jarak jauhnya tidak kunjung berguna, Kenyot Gaib menancapkan ujung tongkatnya ke tanah, yang kemudian dikelilingi banyak sinar-sinar putih kecil kelap-kelip seperti lampu kunang-kunang di kala malam.


Bruss!


Ketika Kenyot Gaib menghentakkecilkan telapak tangan kirinya, maka sinar-sinar putih kecil itu melesat terbang seperti sepasukan tawon pembunuh.


Wuss!


Gadis Cadar Maut menggerakkan kedua telapak tangannya yang mengandung tenaga dalam tinggi, menciptakan angin terbatas, tapi sangat kuat. Angin itu menggulung semua sinar putih kecil-kecil kemudian dibawanya berputar di udara, lalu menyerang balik kepada Kenyot Gaib.


Si nenek terkejut melihat serangan Kunang-Kunang Mayat-nya justru dibalikkan. Ia cepat melompat menjauhi kesaktiannya sendiri.


Set! Tak!


Di saat berada di udara dalam lompatannya, tombak terbang Gadis Cadar Maut datang melintas yang menargetkan si nenek. Dengan menggunakan tongkatnya, dia menangkis yang membuat tombak kayu berbelok arah, tetapi tetap terus terbang.


Jleg!


Tepat ketika Kenyot Gaib mendarat dari lompatannya, Gadis Cadar Maut sudah melesat sambil tinju bersinar kuning maju dengan cepat. Tidak banyak pilihan, Kenyot Gaib juga menusukkan tepala tongkat hitamnya yang bersinar.


Blarr!


Ketika tinju sinar kuning dan kepala tongkat bersinar hijau bertemu, satu ledakan tenaga tercipta. Ternyata pertemuan itu menghancurkan kepala tongkat hitam, menunjukkan tinju bersinar kuning itu bukan ilmu tingkat menengah karena bisa menghancurkan tongkat sakti Kenyot Gaib.


Bukg!


“Hukr!”


Tidak itu saja, Kenyot Gaib sendiri harus terjengkang bebas. Untung bercelana panjang.


“Celeng busuk!” maki Kenyot Gaib saat dari atas melesat menghujam tombak kayu terbang Gadis Cadar Maut.


Teb!


Masih beruntung Kenyot Gaib. Gerakan berguling ke sampingnya membuatnya selamat. Tombak kayu menancap dalam di tanah tepat di sisi badannya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2